
"Langsung aku rebut atau biarkan mereka bertarung dulu? " Chacha mengetuk dagunya, tanda ia sedang berpikir.
"Ah, biarkan mereka bertarung dulu, anggap saja sedang menonton film action"
"Sebagai junior aku hanya bisa menonton" Chacha terkikik setelah mengatakan ini.
Bagaimana tidak, tiga peserta lainnya sedang bertarung memperebutkan lencana terakhir. Bahkan mereka melupakan satu peserta lagi yang sedang duduk malas menonton mereka.
"Ya hajar terus"
"Jangan dulu, nanti kau akan dibanting"
"Tuh kan bener"
"Tendang oi tendang"
Chacha bahkan heboh sendiri melihat pertarungan tiga peserta lainnya. Mereka yang bertarung segera tersadar saat mendengar suara asing di tempat itu. Lalu mereka menoleh ke tempat yang sama.
Chacha yang sudah diketahui oleh mereka bertiga hanya bisa berdiri dengan wajah dinginnya. Lupakan sikap konyolnya tadi. Kali ini dirinya benar-benar dalam mode serius. Tak ada lagi ide hantu di kepalanya, yang ada hanya dirinya harus menang kali ini. Meyakinkan hatinya untuk kembali ke keluarga besarnya.
Chacha melihat ketiga lawannya yang sudah berdiri di depannya dengan wajah menantang. Semua lawannya menggunakan rompi anti peluru. Apa pistol ini tak berguna sekarang? Kita lihat saja nanti.
Chacha langsung maju menyerang salah satu dari mereka. Dua lainnya memilih menepi, karena mereka tak mungkin keroyokan jika melawan seorang gadis. Namun satu hal yang tak mereka antisipasi, jika musuh mereka kali ini adalah gadis nakal nan icik, dengan berbagai ide hantu di otaknya.
Chacha yang masih bertarung hanya mengerucut sebal. Jika seperti ini terus dirinya akan kalah, secara tenaga saja dirinya sudah kalah. Apalagi soal fisik, dirinya masih termasuk mungil untuk seukuran gadis diluaran sana.
Tak membuang waktu lama, Chacha melihat adanya celah dari pertarungannya kali ini. Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk menendang. Kaki kirinya dia posisikan untuk menendang perut, namun siapa sangka gerakannya diketahui musuh, hingga pergelangan kaki kirinya di tangkap. Tampak musuh menyeringai ke arahnya.
Namun bukan Chacha namanya jika dia menyerah. Dia tersenyum cantik, lalu mengangkat kaki kanannya, langsung diarahkan ke rusuk musuh hingga terdengar patahan. Meskipun dirinya harus terjatuh, ia puas karena musuhnya juga terjatuh. Langsung mengambil pistol, lalu menembak salah satu pahanya. Musuhnya menjerit Chacha langsung mengambil jarum dan melemparnya tepat di pusat gerak manusia.
Dua lainnya hanya menatap gadis ini heran. Lalu tanpa basa-basi mereka mengeluarkan pistol dan menyerang Chacha. Melihat keduanya menyerang bersamaan dan membawa pistol Chacha hanya menggeleng pelan. Menaruh kembali pistol pada tempatnya, meraba rambutnya mengambil dua jarum lagi. Lalu dengan kecepatan tak terlihat dia melemparkan pada lengan keduanya. Hingga pistol mereka terjatuh.
Lalu mengambil pistolnya kembali dan menembak kedua paha mereka. Chacha maju mendekati mereka yang mengerang kesakitan akibat ulahnya.
"Aku lagi tak minat untuk membunuh, jadi serahkan saja padaku lencana itu"
"Kau pikir aku akan memberikan pada gadis ingusan seperti mu, heh" jawabnya dengan nada remeh, meskipun paha mengeluarkan darah dan lengan yang tak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Ish, Om aku itu udah jadi gadis dewasa jadi gak ingusan lagi, ada-ada aja deh" Chacha mengerucut sebal ketika diolok gadis ingusan.
"Heh kau kan memang masih kecil"
"Udah gak usah bahas kecil apa besar sekarang. Cepat serahin lencana itu mumpung aku lagi baik hati"
"Tidak akan pernah" jawab satunya lagi.
"Ayolah aku sedang baik hati hari ini, masa gak dimanfaatin sih"
Bukannya bertarung habis-habisan mereka malah melakukan negosiasi. Chacha memang aneh dalam menaklukkan musuh.
"Baiklah kalian yang meminta" Chacha berseru sambil memegang kedua pistol ditangannya.
"Sekedar info ya. Peluru dalam pistol ini adalah buatanku sendiri, aku juga sudah pernah merasakan bagaimana cara kerjanya. Jadi aku sarankan kalian bersiap-siap"
"Ah, tidak-tidak jika kalian memiliki permintaan terakhir katakanlah"
Kenapa mereka berdua tak bergerak? Karena jarum yang Chacha lemparkan memiliki racun pelumpuh, kecuali jarum tersebut dicabut efeknya akan hilang dalam lima menit. Namun, mereka terlalu menganggap remeh jarum kecil yang menancap di lengan mereka.
Chacha tak lekas menembak bukan karena ingin bernegosiasi dengan mereka berdua, karena dirinya sedang menunggu informasi detail tentang keduanya. Hingga bunyi ponselnya menandakan pesan masuk. Chacha meletakkan pistolnya dan mengambil ponselnya.
"Jangan sentuh keluarga ku" teriaknya marah namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Diam dulu. Aku sedang membaca om" deliknya sinis.
"Jika kau sampai menyentuh keluargaku, aku pastikan kau akan membayar semuanya"
"Bukankah disini jelas siapa yang akan memimpin siapa? Lalu kenapa kau sekarang berlagak mengancam ku, menggerakkan badan saja tidak bisa" ucap Chacha meremehkan.
"Ah, anak kecil yang manis"
"Jangan sentuh putriku"
"Sayang kau menikah dengan penghianat"
"Itu masalah pribadiku, tak ada hubungannya denganmu"
__ADS_1
"Ada dong, putrimu menarik perhatian ku"
"Jangan pernah sentuh putriku" teriaknya.
"Aku tak akan menyentuh mereka semua jika kalian menyerahkan lencana itu"
"Sampai mati pun aku tak akan menyerahkan"
"Baiklah aku akan membuat dirimu menemui raja neraka terlebih dahulu, setelah itu anak dan istrimu akan menyusul, bagaimana? "
"Sialan"
"Baiklah aku tunggu jawabannya dalam hitungan ke lima"
"Kau... "
"5... 4... 3... 2... 1... Oke, waktu habis serahkan" Chacha menyodorkan tangannya. "Ck, aku lupa jika kalian tak bisa bergerak"
Chacha langsung menggeledah keduanya. Mencari lencana yang dia inginkan. Dan, ketemu.
"Terima kasih" ucapnya dengan tersenyum.
"Kenapa kau tak membunuh kami? " tanya salah satunya saat Chacha berbalik hendak meninggalkan tempat itu.
"Jika tanpa pertumpahan darah aku bisa berada di puncak, lalu untuk apa menumpahkan darah jika kita bisa bekerja sama untuk tetap berada di puncak" jawaban Chacha membuat mereka terbengong.
"Lagi aku jarang sekali menundukkan kelompok mafia dengan membantai habis, bukan pertempuran yang penting, namun bagaimana cara kalian membuat musuh tunduk dibawah kaki kalian tanpa mengorbankan anak buah kalian. Itu poinnya" perkataan Chacha kali ini membuat mereka melongo. Seorang pemimpin besar, yang bertarung hidup dan mati selama lima tahun ini, berkata seperti itu.
"Mungkin kalian tak percaya, kalian bisa cek setiap kelompok mafia yang berada dalam naunganku, apa aku melukai mereka. Kecuali untuk mereka yang melewati batas wajar ku, aku tak segan lagi bertamu dengan bom mini buatanku"
Chacha berjalan meninggalkan mereka, sekitar sepuluh langkah dirinya berhenti. Lalu dirinya melemparkan tiga botol kecil tanpa berbalik.
"Obat untuk kalian"
"Kenapa tiga? "
"Kau lupa dengan dia yang terbaring kaku disana. Obati dia juga. Urus luka kalian secepatnya. Satu minggu dari sekarang aku akan mengadakan pertemuan dengan dua puluh peserta lainnya. Kita akan membahas pembagian wilayah dan lainnya. Aku harap bisa mempercayai kalian bertiga sebagai tangan kananku disini. Aku tak berniat membubarkan kelompok kalian seperti yang kalian pikirkan selama ini" setelah mengatakan itu Chacha langsung meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Chacha terus berjalan keluar, disana dirinya sudah ditunggu oleh ayah angkat dan suaminya dengan wajah khawatir, tak lupa pula beberapa anak buah ayah angkatnya. Karena sang ayah angkat juga merupakan pemimpin mafia, namun dirinya tak ikut andil dalam perebutan kali ini, karena Chacha sudah mengikutinya.