Call Me Queen

Call Me Queen
Sugar Daddy


__ADS_3

Satu bulan berlalu begitu cepat. Chacha dengan sikapnya yang semakin dingin tak tersentuh. Levy yang masih dengan amnesia nya.


Setelah kembalinya Chacha dari laboratorium nya, Chacha berhasil membuat obat yang Levy butuhkan untuk mempercepat masa pemulihannya. Chacha hanya berharap obat itu bekerja dengan baik pada suaminya. Dia cukup gerah melihat tingkah Angel pada suaminya itu.


Chacha lebih sibuk mengurus para sahabatnya yang lebih bersemangat untuk menghajar Angel, daripada rasa jengkel nya sendiri. Apalagi ditambah Chiara yang setiap waktu siap memberi perintah pada anak buahnya untuk menargetkan kepala Angel, semakin membuat Chacha pusing.


Namun, bukan Karin namanya jika tak bisa membuat mereka bersatu dalam satu tempat, membatasi pergerakan Angel untuk menggoda Levy lebih jauh. Angel sang player, sayang sekali harus bertemu dengan Karin sang sniper yang kerjaannya mengintip musuh dari jarak jauh itu. Jadi tak heran jika Karin mudah menebak apa yang ada dalam otak Angel.


Seperti saat ini contohnya, dengan menggunakan popularitasnya sebagai aktris sekaligus model, Karin dibuatkan acara khusus untuk dirinya dan para sahabatnya. Dengan bertajuk lebih dekat dengan Karin, membuat mereka bisa bertemu setiap minggunya untuk melakukan kegiatan apapun. Mulai dari berkumpul, belanja, makan bersama ataupun olahraga bersama. Semua semata-mata Karin dan lainnya lakukan hanya untuk mengingatkan Levy pada sang istri.


Kali ini mereka memilih gym sebagai tempat tongkrongan. Karin langsung menghubungi Chacha jika akan menggunakan gym miliknya. Chacha hanya mengiyakan, dia tahu semua tingkah sahabatnya pada Levy. Namun, dirinya selama ini tidak muncul karena tak ingin Levy memaksa untuk mengingatnya sementara waktu. Itu akan berdampak buruk pada kesehatannya nanti. Setidaknya, Chacha harus bertemu di waktu yang tepat agar mengurangi rasa sakit yang akan Levy derita nanti.


Sepertinya takdir menyayangi keduanya. Chacha yang bersiap untuk ke gym bersama Chiara seakan lupa jika hari ini gym miliknya akan digunakan oleh Karin dan lainnya.


Sedangkan di tempat gym, para sahabatnya sudah berkumpul. Mereka hanya menunggu Angel dan para kamera man yang sedang bersiap.


"Lev lo gak inget apa gitu? " Tanya Putra penasaran, jujur awalnya dia kaget saat mendengar Levy amnesia, terlebih hanya mengingat Angel dan melupakan Chacha. Namun, dia yang merupakan pengamat cukup jeli dengan perubahan sikap Levy yang semakin dingin pada Angel. Levy seakan menjaga jaraknya kali ini.


"Gue kemarin iseng scroll ig, disitu gue nyanyi tapi ada bahu cewek, ada gambar mahkota di punggungnya. Gue tanya Angel dia bilang punya, tapi masa iya hubungan gue sampek ranjang. Gue tau kalau itu di ranjang, kalian tahu lah gue gak sebrengsek itu"


Semuanya tampak melipat bibirnya rapat, menyembunyikan kebahagiaan mereka. Bukankah ini sebuah peningkatan untuk mengembalikan ingatan Levy?


"Terus? "


"Gue ngerasa kayak familiar banget sama itu tanda. Kayak gak asing gitu" Tambah Levy.


Tiap malem lo kelonin yang punya tanda, ya kali lo bilang gak familiar. Batin Karin.


Kira-kira kalau digetok langsung inget nggak ya ini anak?. Batin Zeze bertanya.


Tau ah, otak gue travelling. Batin Elang sambil memalingkan wajahnya dari Levy.


"Lo udah pernah liat yang dipunggung Angel? " Tanya Fany.


"Kan yang pas minggu kemarin kita belanja dia pakai baju yang terbuka. Kan keliatan, tapi gue ngerasa aneh aja. Gambarnya mirip, tapi kok kayak aneh aja gitu" Ucap Levy memaparkan kebingungan nya.


"Bahas nanti lagi, itu Angel sudah datang. Acaranya juga mau mulai, hostnya kali ini siapa? " Tanya Karin pada staff yang ada di sana.


Setelah mendapat informasi siapa yang akan menemani mereka kali ini, mereka langsung memulai kegiatan mereka di selingi beberapa pertanyaan seperti biasanya.


"Pertanyaan ini cukup lama kita simpan karena memikirkan banyak kemungkinan. Dan sekarang kita coba tanyakan, boleh? " Tanya sang host dengan ramahnya. Karin hanya mengangguk.

__ADS_1


Para wanita masih duduk dengan santai, sedangkan para pria sudah memulai aktivitasnya.


"Seperti yang kita tahu jika kalian berempat adalah pengusaha ternama di negara ini. Dengan satu nama namun berbeda bidang" Karin dan lainnya menganggukkan kepala mereka.


"Apa yang membuat kalian memberikan nama yang sama, dan jika dilihat dari tanggal dibukanya usaha kalian itu harusnya semasa kalian masih duduk di bangku SMA"


"Oke, FF itu adalah singkatan dari Fantastic Five, kita semua ada lima member. Dan yang selalu tidak hadir bisa dibilang leader kami. FF sendiri dibagi menjadi dua, yaitu FF Girls dan FF Boys. Kapan-kapan kita akan memakai outfit milik FF" Ucap Karin.


"Wow, ada outfitnya juga? "


"Itu sudah berlangsung sejak SMA, dan setiap tahun kita selalu membuat outfit untuk tim kita" Jawab Nena dengan santai.


"Apakah mbak leader ini juga memiliki usaha yang diberi nama FF? "


"Emang ada nama FF lagi selain usaha kita berempat ya? " Tanya Fany menatap ketiga sahabatnya. Ketiganya kompak mengangkat bahunya tak tahu.


Angel yang juga berada di sana jelas sekali terabaikan, meskipun dalam satu frame. Namun, Angel seolah-olah hanya pajangan di situ. Jangan lupakan tatapan Karin yang masih tak bersahabat dengan Angel. Dunia infotainment sudah tidak asing lagi dengan perangai dingin keduanya.


"Setahu kami, FF hanya bergerak di 4 bidang saja" Sanggah Zeze.


"Jadi jika ada usaha atas nama FF itu bukan kalian ya? "


"Untuk sekarang masih 1 nama FF di 4 bidang, tapi kita tak pernah tahu kedepannya" Jelas Fany.


"Haha tidak seperti itu ceritanya. Ah, biarkan aku flashback sedikit ke masa lalu" Ucap Karin.


"Ah baiklah-baiklah"


"Kami berempat memang bersahabat, itu berawal dari orang tua kita pada awalnya. Hingga memperkenalkan kita dan kita dekat. Perusahaan ayah-ayah kita terjalin kerjasama yang cukup erat sejak dulu. Namun, suatu ketika ujian menyapa kami berempat secara langsung. Berawal dari kehancuran perusahaan keluarga ku, lalu disusul dengan keluarga si kembar dan terakhir keluarga Nena. Itu masa tersulit kita" Karin menarik nafas panjang, sedangkan yang lainnya hanya menunduk.


"Bukan bermaksud sombong ataupun apa ya saya disini, kami masuk ke sekolah favorit dengan beasiswa. Kali ini kami bersekolah benar-benar mengandalkan otak kami, karena kami tahu finansial keluarga kami sedang tidak baik. Layaknya seorang anak pada umumnya, kami berusaha tegar meskipun bullying itu datang pada kami. Kami berusaha kuat agar orang tua kami juga kuat"


"Entah takdir yang begitu menyayangi kita atau kita sedang bernasib baik saja, kita dipertemukan dengan seorang malaikat berwujud manusia. Awalnya kita mengira dia di golongan yang sama dengan kami. Namun siapa sangka jika dia pemilik sekolah" Karin terkekeh saat mengatakan tentang ini.


"Singkat cerita saat itu kita duduk di bangku kelas 2 SMA, kita diajak bermain ke rumahnya. Orang-orang menyebut kita berempat adalah genius, tapi saat melihat sahabat kita yang satu ini, dia adalah genius yang sesungguhnya. Kepintarannya tak dia gunakan dengan sia-sia"


"Saat kami berkunjung ke rumahnya, kami kaget saat melihat piagam dan trophy kemenangan yang berjejer rapi. Yang lebih kaget lagi, itu trophy kemenangan lombanya di luar negeri. Di usianya yang begitu belia saat itu, selain mampu memenangkan banyak penghargaan dan meraih kemenangan. Dia juga sudah mampu mengurus bisnis keluarganya"


"Bahkan cabang perusahaan ayahnya yang hampir gulung tikar bisa dia buat kembali berjalan dengan baik dalam waktu satu bulan" Ucap Karin dengan nada bangga. Host dan para staff dibuat melongo tak percaya.


"Jika kalian menganggap ini lelucon, aku berharap juga begitu. Tapi sayang, itu adalah kenyataan. Dan kami menemaninya tumbuh. Saat itu dia menyerahkan dokumen perusahaan pada kita. Dia mempercayakan satu per satu usahanya pada kita, dengan alasan dia ingin fokus pada cabang perusahaan ayahnya"

__ADS_1


"Apa tanggapan kalian saat itu? "


"Kaget dan kita langsung menolaknya" Jawab Nena cepat.


"Lalu apa yang terjadi? "


"Dia memohon agar kami membantunya. Dan saat ini kami sadar jika kami dibodohi. Dia hanya ingin mengajarkan kita bagaimana caranya berbisnis, alih-alih teori dia lebih mendorong kita untuk terjun langsung"


"Jadi usaha kalian itu milik mbak leader? "


"Bisa dibilang begitu, tapi tepat ulang tahun kita yang 20. Kita didatangi oleh notaris dan sekertaris pribadinya. Awalnya kita kaget dan tak percaya, dia memberikan kepemilikan usaha yang kita kembangkan menjadi milik kita. Mau protes juga gak bisa karena saat itu dia sedang tidak di negara ini"


"Oh iya kah? "


"Dan itu bukan konsumsi publik" Tambah Fany.


"Ah saya mengerti"


"Wohoho yang lagi dibahas datang" Teriak Karin membuat semuanya menatap satu titik.


Sedangkan yang ditatap masih terdiam mematung dengan mata yang berkedip polos. Namun, sedetik kemudian dirinya mampu mengembalikan ekspresi datarnya.


Chacha yang baru datang langsung dikagetkan dengan teriakan Karin hanya bisa menghela napasnya pelan. Rupanya dia melupakan jika Karin akan memakai studionya saat ini. Nasi semudah menjadi bubur bukan? Jadi terobos sajalah.


"Jadi ini mbak leader yang sejak tadi kita bahas? "


"Kalian gosipin gue? " Tanya Chacha dengan wajah datarnya. Para sahabatnya hanya nyengir.


"Lo bareng siapa? " Tanya Nena mengalihkan pembicaraan.


"Si cengeng, gue geret tuh anak dari apartemennya"


"Sekarang mana tuh anak? "


"Beli makan, lapar katanya. Gue olahraga dulu" Pamit Chacha pada lainnya.


Chacha berjalan ke arah mesin treadmill dan sialnya malah berpapasan dengan sang suami.


"Nge-gym biar bisa puasin sugar daddynya? " Tanya Levy dengan senyum miring nya.


Chacha menghentikan langkahnya dan menatap Levy lekat. Levy cukup kaget saat melihat Chacha yang menatap nya dengan lekat.

__ADS_1


"Kan sugar daddy gue itu lo" Chacha berkata dengan sedikit berbisik, lalu mengedipkan sebelah matanya genit sambil melakukan lip bite. Lalu berlalu dari hadapan Levy begitu saja.


__ADS_2