Call Me Queen

Call Me Queen
Jika gue kalah, gue milik lo


__ADS_3

Sesuai kesepakatan yang diambil saat di hotel tadi, mereka akan pergi ke club selepas acara. Mereka mengendarai mobil masing-masing. Levy bersama dengan Angel. Elang, Kinos dan Putra dalam satu mobil. Karin dan Nena, dan si kembar bersama dengan Fany di depan kemudi. Chacha juga mengendarai mobilnya sendiri.


Mobil mereka membelah jalanan cukup cepat karena waktu yang mulai menunjukkan tengah malam membuat jalanan cukup sepi. Jika dilihat mereka sudah seperti orang balapan karena terlihat saling mengejar, hanya Chacha yang santai mengendarai mobilnya.


Kira-kira kurang tiga kilometer dari tempat tujuan, Levy membanting setir membuat yang lain mau tak mau harus mengerem mendadak.


"Si Levy cari mati kali" gerutu Zeze yang dahinya tanpa sengaja mencium dashboard mobil.


"Apa pula Si Levy ini. Bisa tabrakan beruntun ini" Nena juga menggerutu.


Berbeda dengan para wanita yang menggerutu, para laki-laki langsung turun menghampiri mobil Levy.


"Kenapa, Lev? "


"Sorry, kalo gue bikin kalian panik"


"Ada apa? "


"Kayaknya ada peluru barusan deh, nyaris kena. Makanya gue banting setir" setelah mengatakan itu benar saja beberapa orang berwajah preman muncul.


"Tetap diam dalam mobil" titah Levy pada Angel yang sudah ketakutan.


"Lama gak olahraga" kekeh Levy pada ketiganya yang disambut senyum manis tapi menyeramkan.


"Ada berapa orang? " tanya Kinos dengan konyolnya saat mereka berhadapan dengan musuhnya.


"Bentar bentar gue itung dulu" Putra menimpali dengan serius menghitungnya. "Dua puluh jadi satu orang lima, oke"


"Tinggalin mobil dan barang berharga kalian" ucap lantang salah satu dihadapan mereka berempat.


"Yak, ternyata begal" seru Kinos.


"Ya ampun kita dibegal tolong" Putra dengan gaya alaynya. Bukannya takut mereka malah membuat lelucon, membuat para begal itu marah.


Tanpa babibu empat orang maju untuk melawan mereka. Mendapat undangan keempatnya meladeni dengan suka rela. Adu bogeman, tendangan tak terelakkan lagi. Mereka berempat berpikir kali ini benar-benar berolahraga.

__ADS_1


Karin dan yang lainnya turun menghampiri Angel. Bukan karena khawatir atau apa. Tapi tak ingin itu anak, mati berdiri melihat adegan didepannya. Mungkin baru baku hantam, takutnya malah naik tingkat jadi penuh darah. Dan ketika sampai di mobil Levy, Karin mengetuk kaca mobilnya dan menyuruh Angel keluar. Angel keluar dengan badan gemetar dan menatap lainnya. Angel melihat tak ada ketakutan dalam wajah mereka.


"Pindah ke mobil yang dibelakang. Gue gak yakin mobil Levy aman" perintah Karin. Angel hanya mengangguk, tak bisa suara karena terlalu takut.


Para begal yang melihat empat wanita langsung tertawa dengan keras membuat adegan baku hantam terhenti sejenak.


"Wow empat gadis cantik. Kita akan bersenang-senang malam ini" ucap salah satunya.


"Hahahaha mari sini gadis-gadis mendekat pada Kakak" mendengar itu membuat keempatnya tersenyum sinis.


Mereka merobek gaun yang mereka pakai hingga lutut. Agar membuat pergerakan mereka lebih bebas. Karena mereka menggunakan gaun malam saat menghadiri acara tadi. Mereka mendekat secara bersamaan dengan wajah datar seakan pasrah. Dengan liciknya para begal tersebut mengunci pergerakan Elang, Levi, Kinos dan Putra. Mereka berempat hanya dapat memaki dan berteriak kala melihat keempatnya pasrah saat pistol ditodongkan jika tak mendekat.


Tapi sejurus kemudian keempatnya dibuat melongo dengan apa yang dilakukan si kembar dan dua sahabatnya itu. Mereka mengamuk dengan membabi buta. Membuat para begal kewalahan sendiri. Tak peduli dengan memar karena pukulan. Tak peduli dengan darah yang keluar dari tubuh mereka, mereka tetap bergerak untuk melumpuhkan lawan.


Dorr...


Satu peluru melesat membuat mereka kaget. Levy terdiam seketika saat peluru masuk kedalam dagingnya, tepat bagian punggung. Kali ini mereka tak diuntungkan. Mereka tanpa senjata. Meskipun dilatih sekeras mungkin si kembar dan yang lainnya sadar. Penembak cukup jauh dari mereka. Maju kali ini akan mengantarkan nyawa. Mereka memilih diam mengawasi pergerakan untuk menemukan celah. Dengan nafas tak teratur mereka mulai menyusun strategi.


"Bermain tak mengajakku, kalian tak asik" ucap seorang gadis yang bersandar pada mobil Levy.


Chacha maju mendekati mereka. "Kembalilah keadaan kalian cukup membuatku kecewa" ucap Chacha membuat keempatnya menunduk. Sedangkan para laki-laki melongo tak percaya.


"Masuk kedalam mobil kalian masing-masing. Gue gak suka dibantah" tegas Chacha membuat Fany dan yang lain bergegas masuk ke mobil mereka.


"Kalian juga. Lepaskan mereka mari kita bermain" ucap Chacha pada orang-orang yang menahan Levy dan lainnya.


"Satu orang gadis melawan kita semua. Jangan bermimpi gadis"


"Mari kita bertaruh. Jika gue kalah gue milik lo"


"Baik" ucap salah satu mereka. Kemungkinan dia adalah ketuanya.


"Kalau kalian kalah, kalian harus tunduk dibawah perintah gue tanpa syarat"


"Deal" setelah kesepakatan itu mereka menyerang Chacha dengan membabi buta.

__ADS_1


Chacha yang diserang sedemikian rupa langsung bersorak girang. Dirinya tak ada kesusahan saat melawan, karena dia sudah mengganti pakaiannya di mobil saat tau didepan ada perkelahian. Dengan menggunakan nama hotpants dan kaos hitam Chacha bergerak dengan lincah membantai habis para begal itu.


Para sahabatnya tak jadi masuk ke mobil. Mereka hanya menjaga jarak aman menyaksikan Chacha yang sedang bertarung. Mereka tak menyangka Chacha begitu gesit dan lincah. Pelatihan macam apa yang dia lakukan selama lima tahun ini.


Sembilan belas orang lainnya sudah tumbang menubruk kerasnya aspal, tapi Chacha tak membuatnya pingsan. Hanya sedikit patah tulang dibagian tertentu. Tinggal satu orang lagi. Dia masih ingin bermain-main.


"Apa mau merubah kesepakatan"


"Hah? " Begal itu melongo dengan ucapan Chacha.


"Misalnya lo nyerah gitu"


"Dalam mimpi lo" orang itu langsung menyerang Chacha tanpa ampun. Chacha juga meladeni nya dengan santai. Bahkan kali ini Chacha seakan tak ingin membalasnya. Hanya menahan saja.


"Cha" mereka berdelapan berteriak serempak saat tubuh Chacha mendadak oleng. Lalu mereka bernapas lega saat Chacha mengacungkan jempolnya.


"Gue kasih hati lo minta jantung" Chacha langsung memberikan pukulan telak hingga membuat lawannya pingsan tanpa perlawanan.


"Luka kalian harus diobati. Ke rumah sakit sekarang? " tanya Chacha setelah sampai didepan para sahabatnya yang mematung.


"Woi" Chacha berteriak menyadarkan mereka dari keterkejutan.


"Apa? " tanya Elang.


"Ke rumah sakit atau kemana? " Chacha mendengus sebal.


"Kalau ke rumah sakit gue pastikan geger besok. Secara jabatan Elang bukan main-main. Apalagi Levy, Karin sebagai publik figur. Jangan deh gue masih mau hidup tenang" ucap Nena.


"Ke apartemen gue" putus Chacha.


"Hah? " mereka serempak.


"Ke apartemen gue. Obati luka kalian di sana, gak mungkin kalian pulang dengan keadaan babak belur kayak gini. Bisa syok orang rumah" mereka mengangguk dan mulai meninggalkan lokasi tersebut.


Chacha melaju dengan cepat memimpin para sahabatnya menuju apartemennya. Tanpa peduli sahabatnya yang akan menggerutu karena harus berkendara layaknya angin tengah malam seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2