
"Thank's Lev" Levy masih bingung ketika Chacha memeluk dirinya erat, dia dibuat blank seketika dengan tingkahnya.
"Tunggu deh, lo bilang thank's maksud lo?" setelah memulihkan kesadarannya.
"Makasih Lev makasih karena lo udah mau peduli sama gue" ucap Chacha melepas pelukannya.
"Gue gak ngerti, Queen" ucap Levy bingung.
"Gue udah tau siapa Kevin sore tadi bahkan biasanya dia lebih dari di club tadi" ucapnya seraya tersenyum.
Levy melotot tak percaya dengan jawaban Chacha bahkan dirinya terlihat tanpa beban namun sorot matanya berkata lain.
"Queen"
Chacha menoleh dan tersenyum "gue tau lo bingung sama sikap gue kan?" Levy mengangguk.
"Inilah gue Lev, gue tak terlalu sibuk dengan hubungan percintaan yang membuat hidup rumit. Gue gadis bebas namun kebebasan gue terenggut saat gue harus pindah kesini" tanpa sadar dirinya mulai terbuka pada Levy.
"Satu hal yang gue gak paham disini" Chacha menoleh ke arah Levy.
"Lo gak sakit hati sama sekali? Dan kenapa Kevin seakan tak tau kalau lo dari keluarga Effendy?" tanya Levy dengan rasa penasaran yang menggebu.
"Gue gak sakit hati. Laki-laki sepertinya bahkan tak pantas mendapatkan rasa itu dari gue, berharap gue menangis melihatnya. Hah. itu hal terbodoh yang gue lakuin kalau sampek terjadi" jawabnya seraya terkekeh.
"Dan soal marga belakang gue, gue tak suka jika memakai marga dibelakang nama gue. Alasannya simple gue mau orang-orang tau gue dengan usaha gue bukan karena marga gue" tambahnya.
"Gue salut sama lo, Queen. Lo beda dari yang lain" ucapnya penuh kekaguman meskipun aneh dengan sikapnya.
"Kenapa lo bisa pacaran dengannya?" tanyanya lagi.
"Gue terpaksa Lev. Bayangin aja dia nembak gue didepan banyak orang dan orang-orang tau kalo dia anak pengusaha terkenal bayangin kalo gue buat dia malu bisa dibully gue"
"Lo cuma takut dibully doang?"
"Bedalah kalo gue sampek dibully bisa panas nih kuping gara-gara di ceramahin nenek bikin malu anak orang" jawabnya sambil tersenyum.
Levy terkekeh mendengar alasan Chacha yang menurutnya konyol. "Jadi lo nerima dia cuma karena kasihan?"
"Yep. Tepat sekali" dan meledaklah tawa Levy di sana yang menular pada Chacha.
__ADS_1
"Queen" panggil Levy lagi. Mata mereka beradu pandang cukup lama hingga Levy kembali bersuara.
"Ada apa?"
"Maksud lo?" tanya Chacha bingung.
"Lo ada masalah?" Chacha terhenyak kaget saat Levy mampu menebak dirinya hanya dari sorot matanya.
"Tak ada" jawabnya sambil menunduk. Levy memegang dagu Chacha lalu mengangkat wajahnya. "Mata lo mengatakan itu semua, Queen. Maaf kalo gue lancang"
Tanpa aba-aba Chacha memeluk Levy lagi kali ini lebih erat. Levy yang kaget hanya diam tak merespon. Namun, tak lama ia merasakan kaos yang dipakainya basah dia yakin kalo Chacha menangis ia merengkuh tubuh Chacha mengelus pundaknya pelan.
Chacha bercerita tentang kakaknya yang membuatnya gelisah beberapa jam terakhir ini. Biasanya dia selalu mampu tegar dan kuat. Tapi entah kali ini dia tak kuat dan mengeluarkan semuanya. Pelukan Levy terasa familiar baginya.
Mendengar cerita Chacha dengan isak tangisnya membuat Levy memeluknya erat. Seakan-akan dia memberi kekuatan pada Chacha untuk tenang. Setelah dirasa sedikit tenang Levy melonggarkan pelukannya Chacha menarik tubuhnya dan tertawa membuat Levy bingung.
"Are you okay?" tanya Levy khawatir.
"I'm okay" jawabnya seraya menghapus air matanya.
"Terus kenapa lo ketawa?"
"Gue lelah Lev, gue capek. Gue juga butuh kasih sayang, gue bukan gadis kuat dan tangguh. Gue berpura-pura bahwa gue bahagia. Gue tak mau buat bunda Khawatir. Gu... Gue.." Chacha kembali menangis dengan sigap Levy kembali menarik Chacha kedalam pelukannya untuk menenangkan.
Chacha tak menolak perlakuan Levy padanya melainkan dia merasa tenang dan aman saat dalam dekapan Levy. Namun matanya menangkap benda berkilau dipergelangan tangan Levy. Dirinya menarik diri dari pelukan Levy membuat Levy bingung.
Levy mengernyit bingung. Chacha menarik pergelangan tangan Levy untuk memastikan. Disana terdapat kunci mini yang tergantung digelang Levy.
Mata Chacha kembali berkaca-kaca. Levy bingung dengan tindakan Chacha. Dan, tiba-tiba Chacha mendekap tubuhnya kuat. Levy makin bingung dibuatnya.
"Lele" satu kata lolos dari bibir mungilnya membuat Levy membatu.
"Lele" Chacha mendongak karena tak ada respon dari Levy.
Levy menunduk menatap Chacha. Chacha melepas pelukannya, dirinya mengeluarkan kalung yang tersembunyi dibalik bajunya. Levy terkejut bukan main melihat bandul yang bertengger disana. Gembok mini cantik berwarna putih sangat mini. Dirinya langsung mendekap Chacha lagi.
"Icha. Oh No akhirnya kita ketemu lagi" Chacha hanya terkekeh melihat respon yang Levy berikan.
"Gue gak nyangka lo masih mau pake gelang itu"
__ADS_1
"Stop. Ichanya aku tak pernah ngomong lo gue sama lele" ucap Levy.
Chacha kembali terkekeh. "My prince"
"My princess"
Itulah panggilan masa kecil mereka. Levy dan Chacha sempat menjadi tetangga saat dirinya tinggal bersama kakek dan neneknya. Cukup lama mereka bersama hingga akhirnya mereka berpisah karena orang tua Levy harus mengembangkan usahanya. Dan seperti biasa pasti ada drama anak kecil sebelum mereka berpisah.
"Lele" ucapnya lirih.
"Ada apa?"
"Aku bukan lah Icha yang dulu. Ak.. aku.."
"Aku tau kau masih belum siap untuk bercerita, sweety. Aku akan bersabar menunggu" ucapnya seraya mengelus kepala Chacha lembut.
"Aku rindu panggilan manis ini" ucapnya malu sambil menyembunyikan wajahnya didada bidang Levy.
Levy terkekeh mendengar ucapan Chacha dirinya juga merindukan kekasih masa kecilnya ini.
"Aku juga rindu gadis mungil ini. Kekasih masa kecilku" Chacha tersentak kaget saat Levy menyebut dirinya kekasih masa kecilnya.
"Jadi kau menyukai ku sejak kecil" ucapnya menggoda Levy.
"Eh... kata siapa" Levy mengelak wajahnya memerah.
Chacha tertawa puas berhasil mengerjai Levy. Namun, tawanya terhenti saat dirinya melihat tatapan sendu Levy.
"My prince, ada apa?" tanyanya.
"Kau milik orang lain. Bagaimana mungkin kekasih masa kecilku ini jadi milik orang lain saat aku masih menunggu waktu untuk mempertemukan dengannya bahkan aku menjaga hatiku" jawabnya panjang lebar dengan nada kesal.
Chacha tersenyum. "Kau cemburu?" Levy tak menjawab.
"Aku juga menjaga hatiku Lele. Bahkan kau tau alasan kenapa menerimanya. Apa kau tau saat kau pindah meninggalkan aku sendiri, aku seperti mayat hidup kata nenek tak memiliki gairah sama sekali untung saja ayah mengirim bang Rey padaku hingga aku bangkit dan yakin untuk mencarimu. Kau benar-benar menyebalkan bahkan kau tak menghubungi ku sama sekali" ucapnya kesal.
"Eh.. kok jadi balik ngambek?" melihat Chacha yang cemberut.
Levy mengeratkan pelukannya pada Chacha. "I'm sorry my princess. Tapi satu hal yang harus kau tau. Aku merindukan dirimu" bisiknya pada Chacha.
__ADS_1