Call Me Queen

Call Me Queen
Ulang Tahun Bunda


__ADS_3

Malam ini rumah Keluarga Effendy sudah terlihat ramai dengan undangan yang datang, Bu Ratu terlihat cantik dan anggun menggunakan gaun pemberian Chacha.


Disisi lain Audy menyapa teman-temannya. Tak lupa dengan sang tunangan. Kevin Pandey. Mantan adiknya. Tentunya Audy tak mengetahui hal itu.


Acara tiup lilin akan dimulai tapi Bu Ratu seperti menunggu seseorang.


"Bunda" seru Ayah Gun.


"Chacha belum turun, Ayah"


"Karin" panggil Ayah Gun pada Karin yang kebetulan lewat.


"Iya Yah"


"Panggil Chacha di kamarnya"


"Belum turun tuh anak. Pantes kita muter-muter nyari tuh anak gak ketemu"


"Kita? " tanya Bu Ratu, pasalnya Karin hanya sendiri saat ini.


"Kita mencar Bunda. Zeze, Fany, Nena, Kinos, Putra sama Elang juga lagi cari Chacha"


"Chacha belum turun"


"Lah itu dia turun bareng si kembar"


Terlihat Chacha turun diapit oleh si kembar. Udah kayak pengantin aja. Chacha turun menggunakan gaun berwarna hitam. Tampil tanpa make-up membuat dirinya tampak seperti anak-anak. Flatshoes berwarna senada asal ambil karena diingatkan Fany, kalau tidak dirinya yakin ia pasti akan turun menggunakan sendal jepit.


"Chacha kenapa lama nak? " tanya Bu Ratu dengan wajah khawatir.


"Bunda tenang. Chacha gak papa. Tadi ketiduran terus bangun-bangun udah gelap, jadi mandi buru-buru. Untungnya baju udah disiapin" jelas Chacha yang melihat raut khawatir sang bunda.


"Belum mulai kan? " tanya Fany.


"Belum lah. Nungguin lo doang. Gak penting banget" sinis Audy pada adiknya.


Chacha memasang wajah tanpa dosa menanggapi perkataan sinis Audy. "Mulai aja acaranya kan Chacha udah disini. " Yang lain hanya mengangguk setuju.


Acara dimulai. Chacha tak main-main membuatkan pesta untuk sang bunda. Kue ulang tahun berukuran besar didorong masuk adalah mahakarya handmade dirinya bergelung di dapur sejak pagi. sebagian bertajuk happy birthday bunda dan sebagian lagi happy birthday Audy Salsa.


Para tamu mendecak kagum. Dari dekor ruangan, penataan tempat, dan bentuk kue susun dua. mereka takjub dengan kemewahan tapi tak meninggalkan sisi elegan. Penataan tempat dibuat sedemikian rupa agar ruangan tersebut terlihat sangat luas. Chacha pandai mengolah semuanya.


Acara tiup lilin selesai. Dilanjutkan dengan acara potong kue. Bu Ratu dan Audy memotong bersamaan dibagian masing-masing. Potongan kue pertama Audy diberikan kepada sang tunangan. Dengan wajah malu-maluvAudy menyuapi Kevin. Kevin sempat melirik Chacha sebentar. Berharap melihat kilas cemburu di matanya. Namun, yang ditatap sedang memasang wajah acuh tak acuh.


Giliran Bu Ratu memberikan potongan kue pertamanya. Semuanya menebak pasti diberikan pada Ayah Gun. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, senyum Bu Ratu memberikan isyarat lain. Dirinya berjalan pada kerumunan para remaja. Menghampiri gadisnya. Bungsunya. Anak ragi si trouble maker. Chacha. Tak menyangka jika tahun ini Bu Ratu akan memberikan potongan kue pertamanya pada si bungsu.


"Chacha? " tanya Chacha sebelum Bu Ratu menyuapinya.


Bu Ratu mengangguk mantap. "Terimakasih kejutan pestanya. Terima kasih untuk semuanya nak" jawab Bu Ratu dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda tak perlu berterima kasih. Aku yang harusnya berterima kasih pada Tuhan karena dilahirkan dari rahim Bunda. Chacha sayang Bunda. Happy birthday, mom. Wish you all the best" Chacha menghamburkan dirinya kedalam pelukan sang Bunda. Bu Ratu membalas pelukan Chacha tak kalah erat.


Para tamu undangan tak henti menatap kagum pada bungsu Keluarga Effendy ini. Chacha gadis dari kalangan atas namun gak serta merta bersikap layaknya gadis kalangan atas lainnya. Ia hadir dengan segala yang ada dalam dirinya. Beda dengan Audy yang menatap Chacha dengan tatapan tajam. Namun sekilas kemudian tersenyum miring. Pasti ada sesuatu.

__ADS_1


Acara inti selesai. Sekarang tuan rumah tinggal menjamu para tamu. Salah satu rekan bisnis Ayah Gun menyinggung dekorasi ruangan.


"Ini ide Chacha dan para sahabatnya" Bu Ratu menjawab rasa penasaran tamunya.


"Tak hanya berparas cantik berotak jenius. Dia juga paham arti sebuah seni rupanya" komentar satunya.


"Dia gadis yang selalu penuh kejutan dan misteri" tambah Ayah Gun sambil menatap Chacha yang tertawa lepas bersama para sahabatnya.


Di sudut ruangan Chacha bersama lainnya berkumpul dengan topik bahasan yang berbeda-beda.


"Cha, Bang Rey kok gak keliatan? " tanya Nena yang sejak kemarin mereka berada di rumah ini tak nampak bayangan Rey sedikit pun.


"Kemari Abang lembur, jam delapan baru sampek rumah. Sekarang mungkin rapat bareng Kak Shaldon" jawabnya sambil memasukkan potongan kue ke mulutnya.


"Wow, dia orang QI Company kan? " Putra memastikan.


Chacha mengangguk. "Jangan keras-keras dodol" ucap Chacha setelah menelan makanannya.


"Gue lupa" cengirnya.


Tiba-tiba mereka mendengar teriakan teman-teman Audy.


"Apa pula itu" Kinos yang penasaran langsung beranjak dari duduknya untuk mencari tau apa yg terjadi. Tapi, tak lama kemudian dirinya sudah kembali.


"Ada apa? " tanya Chacha.


"Ada cowok ganteng. Biasalah betina alay ketemu yang begituan" jawabnya santai. "Padahal kata mama gue. Gue itu ganteng tapi kok gak pernah diteriaki gitu ya" lanjutnya.


"Beda orang beda pula pesonanya, cumi" sambar Zeze.


Zeze mendelik sinis sedangkan yang lainnya hanya tertawa melihat perdebatan keduanya.


"Cha lo kenapa? " Karin bertanya karena heran dengan diamnya Chacha sambil mengawasi keributan yang terjadi karena ulah teman-teman alay Audy.


"Abang" satu kata. Lalu beranjak meninggalkan para sahabatnya yang termangu dengan jawabannya.


Chacha berjalan menuju keramaian. Tampak di tengah-tengah Bu Ratu dan Ayah Gun seorang pria tampan bercakap-cakap dengan beberapa pengusaha lainnya.


Bruuk...


Chacha langsung memeluk pria tersebut. Seketika Chacha menjadi pusat perhatian karena kelakuannya. Para tamu menahan nafas melihat sikap Chacha yang berani memeluk pria dingin tersebut. Mereka tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Maaf Tuan King... " Ayah Gun bermaksud meminta maaf atas perilaku anak bungsunya. Tapi tertahan saat pria yang dipeluk Chacha mengangkat sebelah tangannya. Isyarat agar tak melanjutkan perkataannya.


Tak disangka pria tersebut membalas pelukan Chacha seraya tersenyum. Senyum yang lagi-lagi membuat kaum hawa menjerit tertahan.


Chacha mendongak demi menatap wajah tampan yang beberapa hati ini ia rindukan. "Kangen" satu kata lolos dari bibir mungilnya dengan mata berkaca-kaca.


King. Tamu itu adalah direktur pengganti Izhaka Corp. Ia tertawa kecil melihat tingkah Chacha yang menggemaskan.


"Manja banget sih" ucapnya sambil menarik hidung Chacha.


"Sakit ih" King hanya tertawa melihat wajah cemburu Chacha.

__ADS_1


Tak pernah terbersit dibenak para tamu lainnya bahwa seorang King yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu bisa bersikap lembut dan memanjakan.


Tak ada yang menyadari atau belum sadar saja. Coba perhatikan King lebih dalam. Tatap ia lebih lama. Maka akan nampak perpaduan antara Ayah Gun dan Bu Ratu pada wajahnya. Hanya kebetulan atau ada hal lain.


...****************...


Setelah tamu undangan bubar, yang tersisa hanyalah keluarga inti Effendy, King, Kevin, dan sahabat Chacha. Mereka duduk santai ditemani cemilan ringan.


"Tuan King, mari tehnya" kata Ayah Gun sopan, King hanya mengangguk.


"Abang nginep dimana? Hotel? " tanya Chacha.


"Apartemen Abang kan ada"


"Lupa" cengirnya.


Semua masih bertanya-tanya tentang kedekatan King dan Chacha ini. Hubungan apa yang dimiliki keduanya. Dua kali mereka menyaksikan adegan seperti ini. Dua kali pula tanda tanya tegak dipikiran mereka.


Tak lama setelahnya King berpamitan pulang. Tak lupa pula drama Chacha merayu King agar menginap. Tapi dengan lembut dirinya menolak.


"Kita boleh nginep sini gak? males balik, capek" rengek Karin. Yang lain hanya mengangguk setuju.


"Tidur diluar yok. Gue ambil tenda bentar" jawab Chacha cepat.


"Nanti-nanti, Cha. Gak ada tidur-tidur diluar. Nanti yang kalian malah sakit. Tidur didalam semua" Bu Ratu mengeluarkan Ultimatumnya.


"Tak ada bantahan" Bu Ratu berucap lagi setelah melihat Chacha membuka mulut ingin bicara.


Chacha mencebik pada bundanya, lalu berjalan ke kamarnya. Yang lain hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi kesal namun tak berdaya Chacha.


"Bang Rey gak pulang ya Bunda? " tanya Elang tiba-tiba.


Jangan tanya Audy kenapa tak bersuara. Dirinya sibuk bersama dengan tunangannya, Serasa dunia milik berdua. Padahal di ruangan itu masih ada manusia lainnya.


"Entah Rey begitu bekerja keras untuk melanjutkan perusahaan peninggalan papanya. Tadi pagi sebelum berangkat kerja dia minta maaf karena tak bisa hadir malam ini" jawab Bu Ratu.


"Ke ruang keluarga yok. Kita tidur di sana" Chacha muncul mengagetkan semuanya. Pasalnya ia datang tanpa suara sedikitpun.


Chacha melemparkan sebuah kotak persegi panjang pada Audy. "Kado gue buat lo" terangnya.


"Yang ini buat Bunda" Chacha menyerahkan kotak persegi yang lebih besar pada Bu Ratu.


"Yok kalian bawa baju ganti kan? " mereka mengangguk serempak. "Niat banget mau nginep nih kayaknya. Ambillah, habis itu ganti baju di kamar tamu. Gue tunggu di ruang keluarga. Kalian berempat ke kamar gue bajunya udah gue siapin di atas kasur". Mereka langsung berpencar melakukan sesuai ucapan Chacha. Mereka terlalu lelah untuk sekedar bicara.


" Buka dong kadonya Ayah penasaran nih" kata Ayah Gun memandang Bu Ratu dan Audy bergantian.


Karena penasaran Audy langsung membuka kado yang dilemparkan tadi. Meskipun jengkel setengah mati pada sang adik, akan tetapi dirinya tetap menerima kado itu. Setalah membuka kado dari Chacha, rasa jengkelnya dikalahkan dengan rasa tak percaya.Kalung berlian yang lama ia idam-idamkan sekarang jadi miliknya. Kalung yang hanya di buat beberapa buah ini kini berada di genggamannya. Semuanya takjub. Tak percaya.


"Punya Bunda dong"


"Ayah kepo, padahal yang dikasih kado kan Bunda" Bu Ratu menggoda suaminya.


Mereka dibuat menahan nafas saat melihat isi kado milik Bu Ratu. Jika Audy hanya dapat sebuah kalung berlian, maka Bu Ratu dapat satu set berlian. Bukan karena tak memiliki koleksi berlian di kamarnya. Namun, yang di pangkuannya ini termasuk berlian langka dengan harga fantastis.

__ADS_1


Dalam pikiran mereka tertulis pertanyaan yang sama. Dari mana Chacha mendapatkan uang sebanyak itu?


__ADS_2