Call Me Queen

Call Me Queen
Restu


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga besar, baik Effendy maupun Izhaka kaget saat melihat Rey menggandeng orang terpenting kedua di QI Company setelah Chacha itu. Mereka tidak menyangka jika Rey memiliki selera yang begitu tinggi pada perempuan. Cantik, mandiri, pintar dan berkelas, gambaran yang cocok untuk seorang Shaldon.


Shaldon menyapa mereka dengan sopan. Berbincang ringan dengan semua orang yang ada di sana.


"Kak Shaldon udah selesai keliling dunianya? " Tanya Karin pada Shaldon yang berbincang dengan Rey.


"Kenapa, mau ikut? " Shaldon termasuk salah satu wanita yang humble.


"Kalau jalan-jalan sih boleh lah" Jawab Karin.


"Keliling dunia juga jalan-jalan, tapi isi tas berkas perusahaan semua. Masih mau ikut? " Tanya Shaldon lagi.


"Gak jadi. Mabok angka sama huruf yang ada. Bukannya jalan-jalan malah baca berkas nantinya"


"Itu tau, tapi setelah selesai kita jalan-jalan kok"


"Gak jadi, Kak. Nanti ajak pak suami aja kalau mau keliling" Ucap Karin mantap.


"Nanti aku bawa keliling mall, Ay" Jawab Elang dengan wajah tanpa dosanya. Yang lain langsung tergelak mendengar ucapan Elang.


"Eropa kek Ay. Masa keliling mall, bareng mereka juga udah sering keliling mall" Jawab Karin sambil menunjuk ketiga sahabatnya.


"Kamu kan bilangnya keliling doang. Gak bilang keliling Eropa kan? "


"Ribet ya ngomong sama laki, gak peka gitu" Karin memandang sinis ke arah suaminya.


"Nggak kok, Rin. Rey peka kok sama apa yang Kakak mau" Shaldon mulai menggoda Karin.


"Definisi bucin yang sesungguhnya" Cibir Karin yang langsung dihadiahi tawa oleh Shaldon.


"Gimana Bun, gak nyangka ya kalau Kak Shaldon aslinya sama kayak kita, rame" Ucap Nena sambil tertawa.


"Ya Bunda taunya Shaldon gak jauh beda sama Chacha yang kayak kulkas lima pintu" Jawab Bu Ratu.


"Itu hanya image yang dibangun untuk keperluan bisnis. Jika dengan orang terdekat itu beda lagi" Jelas Shaldon.


"King kesini gak sih, Bun? " Tanya Rey.


"Kesini, tadi Bunda telfon bisa katanya dia kesini" Jawab Bu Ratu.


"Jadi gimana kelanjutannya hubungan kamu, Rey? " Tanya Ayah Gun.

__ADS_1


"Tunggu semuanya kumpul aja deh, Yah. Baru Rey jelasin nanti maksud Rey bawa Shaldon kesini" Jelas Rey.


"Bunda ke belakang dulu ya" Pamit Bu Ratu pada semuanya.


"Salah satu dari kalian bangunkan Chacha, gak enak semuanya sudah kumpul tuan rumahnya malah tidur" Ucap Tuan Ibra.


"Biar Ratih aja, Pa" Ratih langsung berdiri dari tempat duduknya menuju ruang tengah.


Beberapa kali bertandang bahkan menginap di rumah Chacha, namun Ratih tak berhenti berdecak kagum pada rumah besar dan mewah ini. Chacha mampu membuat rumahnya begitu nyaman untuk ditempati. Cara penataan dan pemilihan perabot sepertinya benar-benar begitu dipikirkan. Desain unik yang selalu menjadi ciri khas tersendiri dari Chacha.


Ratih menghela napas ringan saat sampai di ruang tengah.


"Semprul emang kalian ini" Monolog Ratih. "Emak bapaknya enak pelukan, anak-anak nya di tinggal tidur berantakan"


"Udah bangun Chacha loh, Mi" Chacha bersuara dengan mata terpejam.


"Buka matanya, yang lain udah pada ngumpul di depan. Tuan rumahnya gak ada, Mami ke ruang tamu lagi" Chacha hanya mengangguk saat Ratih mengatakan itu.


Setelah kepergian Ratih, barulah Chacha bangun dari tidurnya. Chacha duduk terlebih dahulu, saat akan berdiri Chacha merasa tertahan saat tangan sang suami masih bertengger manis di pinggangnya. Chacha melepaskan belitan tangan sang suami secara perlahan. Setelahnya barulah dia menoleh kearah anak-anak nya yang sedang tertidur.


"Kapan Mahavir tidur disini? " Tanya Chacha entah pada siapa. Karena penghuni ruang tengah sedang tertidur semua, hanya dirinya yang terjaga saat ini.


Di ruang tamu mereka masih dengan bercandaan receh mereka. Suara tawa lebih mendominasi ruang tamu untuk saat ini. Apalagi ditambah tingkah menggemaskan Geffie yang merangkak ke sana kemari di atas karpet bulu. Hingga mereka dikagetkan dengan kedatangan King yang juga menggandeng seorang wanita. Mereka memilih diam dan tidak menginterogasi King saat melihat siapa wanita yang digandeng oleh putra pertama pasangan Bu Ratu dan Ayah Gun itu.


"Dimana adikku? " Tanya King sambil mendudukkan dirinya di sofa kosong.


"Masih di ruang tengah, bentar lagi kesini" Jawab Ratih. King hanya mengangguk sambil menatap Geffie yang terus aktif ke sana kemari.


"Putri ku? " Tanya King lagi.


"Tidur di ruang tengah" Ratih lagi-lagi menjawab pertanyaan King.


"Aku akan melihat mereka dulu" King langsung beranjak dari duduknya untuk ke ruang tengah, namun langkahnya terhenti saat melihat sang adik melangkah mendekat ke ruang tamu.


"Mau kemana? " Tanya Chacha dengan wajah datarnya.


Chacha sudah terlihat segar setelah mencuci mukanya. Rupanya ibu tiga anak itu juga sudah mengganti bajunya, dengan rambut di cepol asal dia melangkah dan melemparkan tubuhnya di sofa. Chacha langsung meletakkan kepalanya di paha Audy.


"Pijitin dong, pening gue" Ucap Chacha pada Audy. Tanpa menjawab, Audy pun langsung menuruti kemauan adiknya.


"Levy belum bangun, nak? " Tanya Lena pada menantunya.

__ADS_1


"Belum, Ma. Biarin dia istirahat dulu, Aleta pasti gak bakal lepas nanti dari papanya kalau sudah bangun" Jawab Chacha.


"Berita kamu juga langsung tranding, ini beneran sudah go public? " Tanya Gunadya Effendy.


"Iya, Kek. Sebenarnya gak kepikiran cara ini, maunya Chacha awalnya kita langsung adain resepsi sambil undang wartawan gitu. Tapi ada problem ya mau gimana lagi" Jelas Chacha.


"Nasib artis yang kamu pecat di depan kamera itu gimana? "


"Mau gimana lagi? Ya malu lah, itupun kalau dia punya urat malu" Chacha menjawab pertanyaan nenek Effendy.


"Gimana ya, Cha. Mami kayak kurang setuju gitu sama cara kamu" Ratih mulai mengeluarkan pendapatnya.


"Usahakan lihat videonya sampai selesai baru menghakimi Chacha. Lagian kalian juga tahu bagaimana itu anak melanggar perjanjian yang kita buat" Nada bicara Chacha mulai mendingin.


Yang lain langsung terdiam, ini topik sensitif yang tidak seharusnya disebut saat ini. Harusnya topik ini mulai ditenggelamkan dalam pembahasan keluarga.


"Maaf Cha, maksud Mami bukan gitu" Ratih merasa tidak enak pada pemimpin Izhaka yang baru itu. Chacha mengalihkan pandangannya pada Shaldon dan Rey.


"Siap melangkah ke jenjang selanjutnya? " Tanya Chacha langsung pada dua tersangka yang duduk di sofa panjang itu.


"Duduk dulu kalau mau ngomong sama Abang, kalau pusing sini senderan sama Kakak" ucap Audy pelan. Chacha menurut dan bangkit dari duduknya. Namun dia memilih bersandar pada sofa daripada pada Audy, karena Chacha yakin jika Audy tidak akan mampu membawa beban tubuh Chacha yang cukup membengkak akhir-akhir ini.


"Gimana? " Rey mengangguk pada Chacha.


"Pertama-tama Rey minta maaf, karena Rey jarang ada waktu buat keluarga. Rey hanya pulang ketika sempat, dan maaf juga karena Rey dengan lancang meminta kalian untuk berkumpul" Ucap Rey memulai perkataannya.


"Ayah, Bunda, sebagai pengganti Mama dan Papa Rey yang sudah tiada, disini Rey hadir dengan calon istri Rey untuk meminta restu. Rey ingin membina rumah tangga dengan wanita pilihan Rey" Ucap Rey sambil menundukkan kepalanya.


Bu Ratu yang baru sampai bahkan tidak duduk saat mendengar perkataan Rey. Air matanya jatuh begitu saja, Rey sudah menjadi putranya sendiri. Sama dengan King, Bu Ratu tahu bagaimana pemuda itu bekerja siang malam untuk memajukan perusahaan keluarga almarhum papanya. Dan bisa dibuktikan jika Rey mampu.


"Jika kamu sudah merasa siap untuk berumahtangga, kami sebagai orang tua hanya mengikuti keinginan kalian. Umur kalian juga sudah cukup matang untuk membina rumah tangga" Ucap Tuan Ibra.


"Jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab, nak. Jaga dan lindungi istrimu. Jangan sekalipun kamu meninggikan suaramu pada istri mu kelak" Tambah Gunadya Effendy.


"Apapun masalah yang kalian hadapi nanti, selesaikan dengan kepala dingin. Bangun komunikasi yang baik diantara kalian, kalian sama-sama dua orang dengan kesibukan super padat. Jika salah satu dari kalian tidak bisa bertemu, maka salah satunya harus menghampiri" Richard Anderson juga memberikan wejangannya.


"Berarti para orang tua ini tinggal merembukkan tanggal saja. Oh iya kita harus berkunjung ke keluarga calon menantu kita ini" Seru Ratih.


"Itu sudah Chacha lakukan, atur jadwal untuk pertemuan dua keluarga. Itu hanya sebagai formalitas saja, jangan lupa Bang Rey juga kenalkan Kak Shaldon ke keluarga Pratama. Bagaimanapun mereka juga keluarga Abang, jika ada kendala di sana langsung hubungi Chacha" Ucap Chacha pada Rey.


"Ada yang mau Abang jelaskan? " Tanya Chacha dengan pandangan menusuk pada sang kakak kandung, nada suara nya juga begitu dingin. Ada kilat kemarahan di pancaran matanya. Namun, pancaran rindu lebih mendominasi.

__ADS_1


__ADS_2