Call Me Queen

Call Me Queen
Ja*ang Halal


__ADS_3

Lima orang bawahan Chacha memancing keributan sesuai instruksi. Perkiraan tak meleset sedikitpun, separuh penjagaan di bagian belakang berkurang dan berpindah ke bagian kanan. Memudahkan kelompok satu perakit bom menyusup tanpa ketahuan.


Setelah pancingan keributan berhasil memicu keadaan, Chacha menambahkan sedikit demi sedikit anak buahnya untuk menyerang. Setelah dirasa cukup, Chacha langsung menyerbu ke arah kiri. Tempat dia akan masuk ke dalam dan menolong Chiara.


Penjagaan di bagian kiri hanya ada dua orang, karena yang lainnya sibuk dengan penyerangan besar-besaran yang terjadi dari arah depan dan kanan. Anak buah Pandu langsung melumpuhkan keduanya tanpa suara.


Chacha langsung masuk bersama Levy dengan mendobrak pintu samping. Berjalan santai menuju lantai dua tanpa hambatan. Saat sampai di lantai dua Chacha langsung menuju ruangan Chiara. Anak buah Pandu langsung menyebar untuk bersembunyi setelah mendapat kode dari Chacha.


Chacha berdiri di salah satu pintu yang ada di lantai dua. Dia masih enggan masuk, begitupun Levy yang masih santai berdiri di sampingnya. Sayup-sayup terdengar suara tawa dan tamparan dari dalam.


"Lo pikir, dengan nyulik gue bisa buat Queen menunduk pada kalian. Mimpi" ini suara Chiara. Chacha sangat hafal dengan gadis yang biasa dipanggil cengeng olehnya.


"Tak ada yang tahu bukan, gimana kalo gue jual lo ke om-om hidung belang, pasti dia bakal nolong lo kan. Secara lo anak buah kesayangan dia" Chacha sedikit membeku mendengar suara ini. Sedikit tak asing di telinganya.


"Sekalipun lo bunuh gue, dia tetap tak akan tunduk. Lo pikir dengan kemampuan lo yang cuma segini bisa ngalahin Queen. Jangan membuat lelucon" Chiara terkekeh.


Plak...


"Cih, lo nantangin gue. Gue kira gue gak bisa bunuh lo"


"Hahaha, kalo lo emang berani. Kenapa gak dari dulu, bukannya lo benci banget sama gue"


"Gue emang benci banget sama lo, lo tau kenapa gue benci lo? Karena lo cuma anak haram di keluarga Narendra"


"Gue anak haram? Lo kali"


Plak...


"Gue anak sah ya. Bukan kayak nyokap lo yang ja*ang, lagi jangan-jangan lo hasil keroyokan lagi. Hahaha"


"Shut up your Fu*king mouth"


"Hahahaha. Emang lo bisa apa hah, dengan keadaan lo yang seperti ini mau lawan gue. Mimpi"


Dorr...


Cukup, Chacha sudah cukup geram mendengar semuanya. Dia tau persis bagaimana cerita dalam kehidupan Chiara dan keluarganya. Bagaimana Pandu sengaja dititipkan untuk dibesarkan oleh bidan yang membantu persalinan nya karena tak memiliki anak. Namun tujuan sebenarnya adalah, keluarga Narendra menginginkan seorang penerus laki-laki. Itu kenapa Chiara tak begitu di pedulikan.


"Halo nona Angel Narendra" Chacha langsung masuk setelah menembak tempat kunci pintu itu.


Tebakan Chacha tak meleset sedikitpun, benar saja yang didalam ruangan bersama Chiara adalah Angel, dan yang menjadi dalang penculikan juga Angel.


Sedangkan Angel sendiri terdiam kaget saat melihat Chacha, dirinya tak sadar jika diluar anak buahnya sedang adu tembak dengan anak buah Chacha. Karena saking seriusnya menyiksa dan menghina Chiara. Namun ke kagetan Angel berubah menjadi senyum ejekan saat melihat perut Chacha yang membuncit.


"Hahaha, yang sok suci ternyata tak lebih dari seorang ja*ang"


Chacha langsung menangkap maksud dari perkataan Angel. Menyindir dirinya? Tak melihat atau buta, jika suaminya sedang berdiri bersandar pada pintu.


"Gue ja*ang? " tanya Chacha sambil berjalan mendekat.


"Iya lo ja*ang"


Chacha melempar belati ke pangkuan Chiara, melihat itu Chiara langsung tersenyum meskipun seluruh wajahnya sudah lebam bahkan tampak ada darah yang sudah mengering di pelipis dan sudut bibirnya.


"Tepat sekali. Gue ja*ang halal suami gue"


"Suami, heh emang ada yang mau sama lo? "


"Banyak dong"


"Cih, kalo lo emang nikah ngapain lo ngejar-ngejar tunangan gue, hah? " bentak Angel.


"What tunangan? Siapa? " Chacha bertanya sambil melirik Chiara yang sedang memotong tali yang mengikat dirinya.


"Levy Rahardian"

__ADS_1


"Hahahaha, kalo mimpi nanti malam dong jangan sekarang, halu lo ketinggian. Dia suami gue bego"


"Suami? Hahaha lo kesambet bilang Levy suami lo, hahaha"


"Dia memang istri gue"


Angel membeku mendengar suara berat yang begitu familiar di telinganya. Matanya langsung mencari sumber suara, benar saja Levy berdiri menjulang dengan bersandar santai pada pintu.


"Ka-kak Levy" Angel gagap seketika melihat Levy yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Jangan buat masalah sama istri gue Angel, cukup selama ini gue baik sama lo. Sekali lagi lo buat masalah, gue sendiri yang turun tangan" nada suara Levy dingin dan dalam, membuat Angel merinding dan gemetar takut.


"Akh... " Angel berteriak tertahan, memekik sakit saat merasakan darah segar menetes dari lehernya. Tubuhnya berada dalam dekapan Chiara dengan belati yang menempel di lehernya.


"Bukannya lo tadi jumawa mau bunuh gue? Lo belum tau siapa gue Angel, lo belum kenal baik siapa gue. Jangan pikir dengan kekuasaan lo, lo bisa berbuat sesuka hati. Lo cuma kekasih dari pemimpin mafia ini, bukan pemimpin aslinya. Apa yang akan dilakukan kekasih lo ketika tau lo menyinggung orang yang tak seharusnya lo singgung"


"Halo? " ucap suara di ujung telepon Chacha. Angel langsung merinding mendengar suara itu.


"Halo, Dav"


"Ya Queen, ada perintah atau butuh sesuatu? "


"Tak ada hanya ingin bertanya. Kau sibuk? "


"No, everything for you, Queen"


"Sure, i like it"


"So..? "


"Angel Narendra"


"Kekasih ku, kau kenal dengannya? "


"Sure"


"Kau tau siapa dia? "


"Mantan tunangan Levy Rahardian bukan? "


"Ya"


"Aku masih menuruti perkataan mu untuk tak menyinggung seorang Levy Rahardian, Queen"


"Good. Jika aku memerintahkan kau untuk meninggalkan Angel, kau mau? "


"Berikan aku alasan, maka aku akan meninggalkan nya meskipun alasan itu tak masuk akal"


"Kau yang terbaik, Dav"


"Kau selalu berkata seperti itu. Ada apa sebenarnya? "


"Kau ingin berbicara dengan Angel? "


"Maksudnya? Angel bersama mu? Kau tak macam-macam dengannya bukan, Queen? "


"Tidak"


"Queen? "


"Kau kenal Chiara? "


"Ketua utama tim elit 3, sniper kesayangan sekaligus tangan kanan andalan mu kan"


"Ya. Dia kakak tiri Angel, dan kau tau apa yang dilakukannya padanya? "

__ADS_1


"Apa? "


"Menyuruh anak buah mu menculiknya"


"Hah? "


"Kau paling tau siapa aku, Dav. Sekalipun kau bawahan kepercayaan aku, jika orang terdekatmu mencari masalah dengan orang terdekat ku maka akan aku atasi semuanya"


Hening sesaat.


"Aku akan meninggalkan dirinya"


"Tidak, Dav. Kau tak boleh meninggalkan aku" Angel berteriak.


"Maaf Angel, aku sudah memperingatkan kamu bukan, jangan pernah menyinggung seseorang ketika aku tak bersama mu. Kau melanggar. Hubungan kita berakhir sampai disini"


"Tidak, Dav. Tidak emphh... " Chiara langsung membekap mulut Angel dengan tangannya.


"Berisik bego" ucap Chiara.


"Kau menerima hukumannya, Dav? "


"Ya, aku terima"


"Temui aku ketika kau kembali"


"Baik, Queen"


"Aku tak menyangka jika ini markas mu, Dav. Tapi kau tau siapa aku"


"Aku menerima semua hukumannya. Aku minta maaf atas nama anak buah ku yang menangkap nona Chiara. Jangan hukum mereka, biarkan aku yang menanggungnya"


"Kembalilah dulu, Dav"


"Baik, Queen"


Tut...


"Loser" Chacha menatap Angel dengan tatapan mengejek. Angel meronta dalam dekapan Chiara, namun bukan Chiara namanya jika tak bisa mengatasi hal sepele seperti ini.


"Bawa dia keluar, langsung ke apartemen lo aja, Chia"


"Baik Queen"


Chacha keluar lebih dulu dengan menggandeng lengan suaminya. Diikuti Chiara yang menyeret Angel yang terus meronta dan berteriak. Dibelakangnya anak buah Pandu yang sejak tadi sengaja bersembunyi untuk menjaga kemungkinan terburuk terjadi. Namun siapa sangka, jika mereka malah bertamu kerumah kawan, bukan lawan.


Angel melotot saat sampai dilantai bawah bukannya melihat adu tembak dan adegan berdarah-darah, dia malah tercengang saat mereka berbaris rapi menyambut Chacha.


Memang pada awalnya mereka terlibat perkelahian dan adu tembak. Namun saat Pandu masuk ke tengah-tengah mereka. Pihak yang awalnya dikira lawan langsung mengangkat tangannya, dan menyambut Pandu dengan hormat. Maka dari itu mereka menghentikan acara baku hantam dan baku tembak.


"Ke markas Death Rose" satu kalimat yang mampu menggerakkan semua orang yang ada di sana.


Setelah semuanya berkumpul diluar dan siap untuk berangkat, mereka melihat Chacha yang menghela napas berkali-kali.


"Bergerak"


Mereka bergerak perlahan meninggalkan markas menuju markas Death Rose. Setelah kira-kira berjarak lima ratus meter mereka mendengar suara ledakan beruntun. Mereka menghentikan mobilnya, terbelalak kaget saat melihat markas mereka meledak dan hancur begitu saja.


"Siapa yang menyuruh kalian berhenti? "


Mereka melanjutkan perjalanan tanpa menoleh lagi ke belakang. Chacha lebih menyeramkan daripada meratapi markas yang sudah dilahap si jago merah itu.


...****************...


Maaf ya telat up. Tadi siang terjadi hujan badai angin ribut halilintar 🤣 tak dung tarak tak dung. Malemnya langsung kena pemadaman, alhasil seperti ini lah jadinya.

__ADS_1


Happy Reading Allā¤


__ADS_2