Call Me Queen

Call Me Queen
Maaf


__ADS_3

"Sayang" panggil Levy setelah menyelesaikan acara mandinya selepas pulang kerja tadi.


"Di meja makan, Mas" Sahut Chacha sedikit berteriak.


Mendengar suara istrinya, Levy langsung menghampiri asal suara.


"Ayo makan" ajak Chacha pada Levy.


"Udah bisa makan nasi, sayang? " tanya Levy.


Akhir-akhir ini Levy sering mendapat telfon dari istrinya ketika bekerja di siang hari. Apalagi jika bukan sang istri lemas, tak bisa makan nasi. Hingga Chacha setiap siang hanya akan memakan buah atau makanan manis.


"Kan ditemani papa, siapa tau dedek mau makan kalau sama papa"


Levy tersenyum mendengar Chacha menyebut dirinya papa. Levy duduk mensejajarkan wajahnya dengan perut Chacha yang sudah membuncit. Mungkin efek hamil kembar.


"Anak-anak papa, mau ya makan nasi. Kasihan mama loh, jangan nakal-nakal di perut mama. Sekarang kita makan malam bareng"


Cup...


Levy memberikan ciuman di perut istrinya. Chacha tersenyum sambil mengelus kepala Levy. Chacha tak menyangka jika Levy akan seantusias ini memiliki anak. Bahkan setiap akan berangkat dan pulang kerja Levy akan menyempatkan diri untuk berbicara dengan calon anak mereka.


"Yuk sekarang makan" Levy mendudukkan dirinya di kursi.


Chacha mulai melayani suaminya dengan menyiapkan makanan yang akan di makan oleh suaminya.


"Kak Audy mana, Yang. Biasanya kan kita makan bertiga? "


"Lagi pengen soto, mau aku buatin gak mau"


"Terus? "


"Beli, diantar Kak Ardan" Levy hanya mengangguk.


Mereka meneruskan acara makan malam diiringi dengan obrolan ringan ala mereka. Seputar pekerjaan, kegiatan Chacha yang tak ada habisnya membuat suaminya menggelengkan kepala.


Setelah selesai makan malam, seperti biasa Chacha mencuci piring dan Levy yang akan membersihkan meja makan. Kegiatan rutin ketika Levy tak lembur, karena Levy memang mengusahakan dirinya untuk tidak lembur kecuali sedang urgent. Itu pun atas seijin istrinya jika ingin lembur.


"Sayang" panggil Levy setelah mereka menyelesaikan kegiatan mereka di dapur, dan kini beralih ke ruang tengah.


"Hmmm" jawab yang berbaring di sofa dengan berbantalkan paha Levy.


"Lusa aku ke luar kota" Levy tak lupa meminta ijin pada istri cantiknya ini. Dapat dilihat Chacha langsung cemberut. Levy sebenarnya tak ingin pergi, namun cabang perusahaannya ada masalah mengharuskan dirinya sendiri yang turun tangan untuk mengeceknya.


"Berapa lama? "


"Belum tahu, paling lama seminggu paling cepet tiga hari"


"Lama"

__ADS_1


"Kamu ikut aja ya. Mas gak tenang ninggalin kamu sendirian di rumah"


"Biasanya aku juga sendiri, Mas. Alasan aja kamu takut kangen aku" Levy hanya nyengir.


"Itu tau. Ikut ya" mohon Levy.


"Kenapa maksa banget aku ikut? " tanya Chacha, tak seperti biasa Levy akan seperti ini. Biasanya jika Chacha tak ikut Levy akan menyuruhnya untuk menyusul, jangankan di luar kota, di luar negeri saja Chacha susul. Ini tak biasa, Chacha melihat ada kilat khawatir dan gelisah di sorot mata Levy.


Levy hanya menyandarkan punggungnya lesu.


"Cerita sama aku, kenapa? Kamu ada masalah? " Levy hanya menggeleng. "Terus? "


"Ya masa cuma berdua sama sekertaris aku, asisten pribadi aku, aku tugasin ke cabang yang dua"


Chacha menemukan titik masalahnya, Levy merasa risih jika hanya berdua dengan sekertaris nya. Meskipun Levy akan bekerja secara profesional tapi tak menutup kemungkinan untuk sekertaris nya. Bisa saja sang sekertaris sedang di sapa setan, lalu khilaf menggoda Levy. Meskipun Chacha yakin Levy tak akan tergoda, namun bagaimana dengan obat? Chacha menghembuskan napasnya pelan.


"Kasian Audy kalau aku tinggal, sayang"


"Terus, gimana? Masa iya aku cuma berdua sih, Yang"


"Kamu takut banget sih, Mas. Tumben? "


"Gimana jelasinnya, intinya tuh sekertaris aku itu agresif banget. Kalau gak percaya tanya sama David sana, dia selalu jadi korban kalau sekertaris aku sudah berulah"


"Anak buah kamu dimana-mana, sayang"


"Tapi mereka gak bisa masuk ke wilayah privat, sayang"


"Ceritalah aku istrimu" Chacha bangun dan duduk di samping suaminya.


"Dia anak rekam kerja aku" Chacha mengangguk, dia menemukan garis besar kekhawatiran suaminya.


"Nanti aku akan menyusul, aku akan mengantarkan Audy ke rumah bunda. Kamu berangkat terlebih dahulu"


"Berangkat bareng aja, ya? "


"Kita berangkat terpisah, kamu udah lacak masalah cabang perusahaan kamu, yakin ini bukan tipuan" Levy mengangguk.


"Ini cukup berdampak ke perusahaan pusat, makanya aku langsung ninjau ke cabang, dan nyuruh David langsung ke cabang yang lainnya" Chacha mengangguk.


"Urus masalah perusahaan kamu saja, sekertaris kamu biarkan aku yang urus"


"Kamu menyadari jika ada yang tak beres dengan sekertaris aku? " Chacha mengangguk tipis.


...****************...


"Kita makan disini saja nona? " Audy hanya mengangguk.


Setelah memastikan Audy mendapatkan tempat duduk yang nyaman, Ardan langsung memesan makanan yang Audy mau. Setelahnya dirinya kembali berdiri di samping Audy, layaknya seorang bodyguard.

__ADS_1


"Duduklah, Ar"


"Tidak, nona. Saya berdiri saja"


"Ar, please call me Audy, just Audy"


"Maaf nona, saya tidak bisa" Audy menghela napas pelan.


"Baiklah, aku akan mengatakan untuk mengganti mu dengan orang lain. Aku rasa kamu tak terlalu nyaman menjaga ku" ucap Audy dengan suara rendah.


"Jangan, nona"


"Duduk lah, Ar" Ardan menuruti keinginan Audy.


"Permisi, ini pesanannya Mbak"


"Satu lagi ya Mas, untuk teman saya"


"Ditunggu ya, Mbak" Audy hanya mengangguk saat pelayanan itu pergi.


Audy tak langsung makan, tetapi menunggu pesanan Ardan datang terlebih dahulu. Setelah pesanan Ardan datang barulah dirinya makan. Mereka makan dalam keadaan hening, tak sedikitpun baik Audy ataupun Ardan yang berniat mengisi dengan obrolan ringan.


Setelah selesai Ardan langsung menuju kasir dan membayar pesanan yang dirinya dan Audy makan, setelahnya langsung mengajak Audy untuk pergi dari tempat itu.


"Ar? " panggil Audy pada Ardan yang sedang mengemudi.


"Hmm? "


"Maaf"


"Maaf? Untuk apa? "


"Tak usah berpura-pura bodoh atau lupa. Aku minta maaf, karena telah memilih Kevin daripada kamu, dan sekarang aku mendapat karmanya"


"Itu sudah berlalu, dek. Tak usah dibahas lagi"


Ardan dan Audy memang saling mengenal dulunya. Bahkan mereka dulu adalah sepasang kekasih. Ardan yang memang mengurusi salah satu usaha Chacha saat itu memang tak bisa dibandingkan dengan Kevin yang memang terlahir sebagai anak orang kaya. Sedangkan Ardan hanya anak jalanan yang bernasib baik bertemu dengan Chacha.


Mereka bertemu saat Audy sedang kecopetan, tanpa berpikir panjang Ardan langsung menolongnya, dari situlah hubungan mereka berkembang. Namun, saat itu Audy memilih ke luar negeri dan melanjutkan studinya. Mereka menjalin hubungan jarak jauh, Audy yang terlena dengan kemewahan perlahan mulai mengabaikan Ardan.


Puncaknya saat kembali dari luar negeri, Audy langsung memutuskan Ardan tanpa memberikan alasan yang jelas. Ardan yang sudah tahu bahwa Audy menjalin kasih dengan mantan pacar atasannya hanya bisa menghela napas pelan. Ingin memberitahu yang sebenarnya pada Audy juga tak mungkin dia akan di dengarkan. Apalagi Audy meninggalkan dirinya dengan arogan.


"Tak aku masih merasa bersalah"


"Kamu tak salah, kita memang tak sebanding. Kamu terlahir dari keluarga terhormat, sedangkan aku apa? Hanya anak jalanan yang beruntung bertemu orang baik dan menjadi seperti sekarang"


"Maaf"


"berhentilah meminta maaf, aku sudah maafkan"

__ADS_1


Brakk...


"Aw"


__ADS_2