
"Tolong jauhkan tangan sialan mu itu dari malaikat ku"
Suara yang mereka kenali menyapa indera pendengaran mereka. Nafas yang tadinya tercekat kini tampak lega. Dengan adanya Chacha mereka bisa berharap lebih banyak pada wanita yang satu ini. Tak dipungkiri, sudah beberapa kali Chacha membalik keadaan genting sekalipun.
Orang yang sejak tadi meraba pipi Bu Ratu itu seketika terdiam mematung melihat siapa yang datang dari arah pintu. Chacha dengan senyum miring andalannya membuat siapapun bergidik ngeri melihatnya.
Namun, yang menjadi fokus mereka bukan itu. Melainkan tangannya yang tengah menarik rambut panjang kebanggaan seorang wanita itu. Bahkan wanita paruh baya seumuran Bu Ratu itu sudah mengumpat Chacha berkali-kali.
"Tina"
"Mami"
Pekikan dan teriakan menggema saat Chacha menyeret Tina, istri dari Tony Rahardian dengan cara yang tidak wajar. Chacha menjambak rambut wanita paruh baya itu dan menyeretnya dengan cukup cepat. Hingga Chacha membuatnya berhadapan langsung dengan Bu Ratu yang tengah ditodong itu.
Masih dengan tarikan keras dirambut Tina, Chacha menarik pistol yang terletak dipahanya. Menodongkan tepat dibelakang kepala Tina. Senyum miringnya semakin menyeramkan.
Jangan tanyakan dimana Levy, pria bergelar hot papa itu tengah asik duduk di tengah-tengah tangga menyaksikan kegilaan sang istri. Kegilaan Chacha adalah hiburan tersendiri bagi Levy. Bahkan karena kegilaan Chacha lah, Levy semakin bucin pada istrinya itu.
"Mau barter? " Tanya Chacha dengan wajah datarnya.
"Lepaskan Tina, maka akan aku lepaskan bunda mu" Tampaknya musuh tak ingin bernegosiasi.
"Siapa yang akan kau bodohi? Trik mu terlalu mudah ditebak pak tua" Chacha mulai memainkan perannya menjadi musuh yang menjengkelkan.
"Aku serius dengan ucapan ku"
"Waktu itu kau juga berkata seperti itu, dan berakhir aku membakar habis bar milik mu itu. Sekarang apa yang menjadi jaminan jika kau mengingkari ucapan mu? " Chacha memiringkan kepalanya, tampak menyebalkan sekali dimata musuh.
"Kali ini aku serius"
"Baiklah karena kau serius maka aku juga akan serius. Disini aku tak bisa bertaruh apapun. Karena keselamatan bunda ku ada ditangan mu" Musuh tampak tersenyum tipis karena Chacha bersikap pasrah.
__ADS_1
Chacha menyarungkan kembali pistolnya dan menarik belati dipinggangnya. Menempelkan kepala Tina pada tubuhnya dengan leher yang ditodong oleh belati kesayangan Chacha itu. Sebelah tangannya meletakkan pistol di kepala nya sendiri.
"Jika aku gagal melindungi bunda, maka aku juga gagal menjaga nyawaku. Begitu juga dengan nyawa wanita ini. Pilihan bukan ditangan ku. Melainkan ditangan mu, dude" Perkataan Chacha membuat yang lain gemetar.
Mereka bahkan tak bisa bersuara karena lagi-lagi Levy memberi kode untuk diam. Diantara mereka semua, bisa dikatakan Levy lah yang paling percaya akan setiap keputusan yang selalu Chacha ambil. Setiap langkah dan tindakan yang diambilnya pasti dan penuh pertimbangan, tidak ada keraguan didalamnya. Karena Levy tahu, Chacha tidak pernah sembarangan mengambil keputusan.
"Jika kali ini aku gagal, maka biarkan aku menjadi penyampai pesan untuk kalian, pembuka kebenaran yang selama ini tertutup begitu rapat" Chacha berucap dengan begitu tenang.
"Jangan salahkan aku, jika lehermu tergores. Itu karena ulah mu sendiri yang tak bisa diam" Chacha benar-benar menempelkan belatinya pada leher Tina saat ini. Tak memperdulikan tatapan tajam dari Tony dan Tiara.
"Audy, ini wajah orang yang mengandung dan melahirkan lo. Dia juga orang yang bertahun-tahun merusak mental lo dengan teror tak bermutunya, dan bodohnya lagi lo termakan semuanya. Dan orang ini juga yang buat lo harus memiliki masa lalu yang begitu kelam" Chacha berucap santai.
Tina menatap Audy begitu lekat. Anak yang dulunya dia jadikan alat untuk menghancurkan Ayah Gun untuk membalas sakit hatinya, kini tumbuh begitu cantik dengan pembawaan yang begitu anggun. Padahal dia masih ingat betul bagaimana saat dirinya merubah Audy menjadi bonekanya. Audy jauh dari kata anggun. Tiba-tiba perasan bersalah menghampiri benak Tina saat melihat tatapan datar yang Audy tunjukkan.
"Lo mau ngomong sesuatu, Audy? " Tanya Chacha pada Audy yang tampak mematung.
"Terimakasih. Terimakasih karena anda telah mempertahankan saya, meskipun niat awal anda mempertahankan saya hanya untuk menghancurkan keluarga ayah saya. Terimakasih karena telah bertaruh nyawa untuk melahirkan saya ke dunia ini" Tidak ada emosi yang tampak saat Audy mengatakan itu.
Audy bahkan merasa begitu asing dengan Tina yang notabenenya adalah ibu kandungnya sendiri. Mungkin selama ini Audy penasaran dengan siapa ibu kandungnya, namun melihatnya kini bahkan tak membuat sedikit rasa iba nya muncul karena Tina disandera oleh adik tirinya itu.
"Aku tahu kamu banyak berubah, dan aku menyukai itu. Teruslah seperti itu, anggap saja itu bekal kamu keluar dari keluarga Rahardian" Kata-kata Chacha membuat seluruh anggota keluarga Rahardian saling pandang. Tiara hanya memasang wajah bingungnya.
"Tiara, kamu bukan anak dari Tony Rahardian. Melainkan kamu adalah anak dari pria yang sedang menyandera bunda ku"
Tiara mematung ditempatnya. Air matanya lolos begitu saja. Kepalanya menggeleng dengan begitu cepat, dirinya tak mempercayai fakta ini.
"Kak Chacha pasti bohong kan? " Tanya Tiara dengan suara bergetar.
"Tidak ada gunanya berbohong, kita sudah berada di puncak permainan. Aku akan mengakhiri semua permainan yang menganggu keluarga ku. Kamu bisa tanyakan pada mami tercinta mu ini Tiara. Ah atau biar aku saja yang jelaskan" Chacha dengan santainya terkekeh.
"Lepas dari ayah ku, mami mu ini tak sengaja bertemu dengan Om Tony. Seperti biasa, berlagak menjadi gadis lugu dihadapan Om Tony hingga membuatnya jatuh cinta. Ingin menjebak dengan cara yang sama dengan yang dilakukannya pada ayah ku, dan aku acungi jempol untuk Om tampan ku karena tak tergoda dengan ONS"
__ADS_1
"Namun, mami mu ini malah jatuh dalam pesona Om Tony. Namun, dilain sisi dia memiliki na*su yang cukup besar. Bisa kau tanyakan pada pria itu, bagaimana mami mu ini menyerukan nama Om Tony ketika bercinta dengannya" Chacha tersenyum miring sambil menatap orang yang menyandera Bu Ratu.
"Di luar rencana, mami mu hamil kamu Tiara. Dengan berani dia menanyakan kapan Om Tony akan menikahinya. Dengan senang hati Om Tony menikahi mami mu ini. Hingga banyak kejanggalan saat kehamilan kamu. Namun, dia pemain lakon yang bagus. Bisa meyakinkan seluruh keluarga Rahardian akan kehamilannya"
"Kau tau Tiara, kenapa kamu dibesarkan oleh nenek mu? " Tiara menggeleng saat Chacha bertanya padanya.
"Karena kamu tidak mirip dengan keluarga Rahardian, oma sempat mencurigai itu dan akan melakukan tes DNA. Lagi-lagi dia berhasil membawa kamu jauh dari jangkauan keluarga Rahardian"
"Tidak itu tidak benar, akh" Tina tampak berteriak saat belati Chacha benar-benar menggores lehernya.
"Sedikit saja darah keluar dari tubuh bunda ku, maka kau akan melihat bagaimana aku membuat dirinya memilih mati daripada hidup dibawah siksaan ku" Chacha lagi-lagi tersenyum miring, mata birunya benar-benar menggelap sekarang.
Tiara tak mampu berkata-kata lagi, dia hanya bisa menangis saat ini. Bahkan para keluarga Rahardian tampak shock dengan berita besar ini.
"Lepaskan Tina sialan" Teriak pria itu.
"Ohohoho, lepaskan? Tidak. Karena dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan siapapun tidak ada yang bisa menghalangi ku" Ucap Chacha tegas.
"Maka kau siap melihat bunda mu mati ditangan ku' Bu Ratu memejamkan matanya saat pisau itu benar-benar menyentuh kulit lehernya.
" Gores saja jika kau berani, ku pastikan setelah kematian bunda ku. Kau akan melihat bagaimana wanita mu ini aku kuliti di depan mata mu sendiri. Jangan lupa satu hal, kau masih harus bertemu Chiara" Pria itu melotot saat mendengar nama Chiara.
Chiara saat ini menjadi momok menakutkan baginya. Bagaimana tidak, setelah berhasil membawa kabur sang ibu dari genggaman nya. Rupanya gadis itu masih memiliki dendam yang begitu besar padanya. Hingga Chiara dengan santainya mengirim teror, bahkan lebih parahnya gadis itu selalu menekan setiap usaha yang dibangunnya.
"Halo" Chiara tampak benar-benar muncul dengan senyum manisnya. "Lepaskan bunda, maka kau ku biarkan bebas" Ucap Chiara santai.
Chacha hanya mencibir dengan tingkah Chiara. Namun, tampaknya musuh tak membaca ekspresi Chacha. Hingga dengan mudah melepaskan Bu Ratu, tentu saja itu tidak disia-siakan. Karin yang sejak tadi siap dengan sigap menopang Bu Ratu dan membawanya menjauh.
Dorr...
Pria itu tampak ingin berlari, namun Chiara bukan gadis bodoh yang tak tau apa-apa. Chiara langsung menembak kedua betis pria itu tanpa ekspresi diwajahnya.
__ADS_1
"Lo urus dia, gue urus wanita ini. Dia harus meminta maaf sebelum membayar semua dosa-dosanya" Ucap Chacha yang diangguki Chiara.
Jika ditanya kemana para anak buah yang pria itu bawa tadi. Jawabannya adalah mereka sebenarnya bawahan Chacha yang menyamar menjadi anak buah pria itu.