
"Apa yang kalian dapatkan? "
"Ini alur chat yang menyebabkan bunda anda diculik Queen"
"Salin lalu kirimkan ke email ku"
"Baik Queen"
"Yang lainnya menemukan sesuatu yang janggal? "
"Boleh bertanya Queen? "
"Silahkan"
"Audy itu siapa? "
"Kakak ku"
"Mereka merencanakan penculikan Audy setelah ini"
"Oke, kirimkan data lengkapnya pada ku"
"Siap Queen"
Chacha langsung menggerakkan jemarinya di atas keyboard dengan lincah saat email dari anak buahnya masuk ke akunnya.
"Blue hubungkan pada Kak Ardan"
"Siap Queen"
Chacha menunggu sedikit lama. Karena Ardan tak kunjung menjawab panggilannya.
"Ya Queen"
"Dimana? " tanya Chacha dengan nada dinginnya.
Mati gue. Batinnya bergetar.
"Di apartemen Queen"
"Ke tempat Audy, kawal dia kemanapun dia pergi. Menginap lah di rumah Audy"
"Siap Queen"
"Hubungi Karin untuk menugaskan anak buahnya untuk memantau keadaan dari jarak jauh"
"Baik Queen"
Setelah panggilannya terputus dengan Ardan Chacha masih menggerakkan jemarinya di atas keyboard dengan mata menatap tajam ke arah layar monitor di depannya.
"Ya Chila"
"Aku mendapatkan peta birunya Kak"
"Kirim pada anak buah mu Chila. Suruh mereka pasang bom waktu. Kirim kode pengendali nya padaku"
"Baik Kak"
Chacha menghela napasnya panjang. Andai dirinya tak sedang dalam keadaan hamil, mungkin kini dia sudah memipin pasukannya untuk berperang melawan musuh.
"Queen, pasukan Blavk Rose mendekat sekitar 1 kilometer"
"Hubungi Chila, untuk menarik mundur pasukannya"
"Baik Queen"
"Blue hubungkan pada Fany"
"Baik Queen"
"Cha lo... "
"Ke kediaman Effendy. Tenangkan keluarga gue" di ujung sana Fany mendadak terdiam saat Chacha langsung memberi perintah. Dirinya kira Chacha masih belum mendapatkan kabar.
"Fan? "
"Gue di sini"
"Suruh Pandu ngawal Ayah di perusahaannya"
"Oke"
"Lo dan Zeze langsung ke kediaman Effendy, disana ada kakek dan nenek"
__ADS_1
"Gue bersiap"
"Kirim Nena ke keluarga Izhaka, sambungkan dengan Chiara"
"Baik"
"Bergerak cepat"
"Laksanakan"
Chacha memejamkan matanya pelan. Ini di luar dari prediksinya. Chacha kira mereka akan menyerang paling tidak hingga dirinya melahirkan, namun rupanya para musuh sudah tak sabar bermain dengannya.
...****************...
"Ma Ratu Ma" ucap Ratih berkali-kali saat mendengar sang adik di culik.
"Tenang lah Ratih, Ratu perempuan cerdas. Dia akan baik-baik saja" ucap Tuan Ibra menenangkan.
"Tapi pa.."
"Ratih apa kamu lupa, kalian ini keturunan dari siapa? "
"Ma? "
"Jangan panik. Ratu tak pernah lepas dari yang namanya perhiasan. Kamu tahu, setiap perhiasan yang dipakai Ratu ada chip khusus yang Chacha pasang kan di di dalamnya"
"Benarkah pa? "
"Benar, papa sendiri yang melihatnya jika Chacha selalu mengawasi bunda nya meskipun dari jarak jauh"
"Aku lebih tenang sekarang"
"Misi penyelamatan dipimpin oleh Danial. Karena tak mungkin bumil yang memimpin, bisa ngamuk suaminya itu" tambah Tuan Ibra.
...****************...
"Caesar kau melihat semuanya? " tanya Chiara yang sejak tadi terhubung dengan Caesar.
"Ya, tapi aku butuh tempat yang lebih tinggi"
"Hei, itu sudah gedung tertinggi"
"Hahaha, aku tak bisa melihat sisi yang kau jaga, Chia"
"Kau bisa melihat nyonya Ratu? "
"Ya, Bu Ratu sedang terbaring di ranjang. Entah dia pingsan atau masih pura-pura pingsan"
"Apa kau tak bisa menembus kaca jendela itu"
"Blur"
"Kau menggunakan senjata terbaru mu? "
"Ya"
"Aku kirimkan sistemnya sekarang, aku harap sudah terpasang sebelum perang di mulai"
"Kita hanya bermain, bukan berperang. Karena bukan Queen yang memimpin"
"Terserah kau saja"
...****************...
Chacha memeriksa satu persatu email masuk tentang rencana penculikan terhadap orang-orang terdekatnya. Rupanya target mereka hanya sang bunda dan Audy. Entah apa yang melatarbelakangi kejadian ini. Kenapa bukan dirinya yang jelas-jelas anak kandung Bu Ratu, kenapa malah Audy.
"Aku mau kalian menemukan orang yang menggunakan nomor itu"
"Siap Queen"
"Kirimkan padaku data lengkapnya"
"Baik Queen"
"Salah satu dari kalian retas CCTV dengan data yang sudah aku kirim kan"
"C1 ambil alih" ucapnya seseorang diseberang sana.
"Bagus"
Chacha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menunggu hasil kerja anak buahnya. Tak lama salah satu layar monitornya menampilkan beberapa tayangan sekaligus. Salah satunya adalah sang bunda yang terbaring di atas ranjang.
Chacha memejamkan matanya sejenak. Batinnya bergejolak, sesuatu bangkit dalam dirinya. Chacha hanau tersenyum pelan menanggapinya.
__ADS_1
"Kendalikan emosi mu, Bang" lirih nya.
Beberapa tahun terakhir Chacha sering merasakan kontak batin dengan orang-orang terdekatnya. Seperti saat ini, bahkan dirinya dapat mengetahui jika sang abang sedang di landa emosi yang memuncak. Dia dapat merasakan detak jantung abangnya yang berdetak kencang tak beraturan.
Anugerah apalagi yang kau turunkan padaku, Tuhan. Aku anggap ini baik. Terimakasih. Batinnya bermonolog.
...****************...
"Siapa kalian? "
"Kalian tak perlu tau siapa kita. Cepat serahkan wanita yang kalian sandera" ucap King penuh emosi.
"Hahahaha, memangnya kalian siapa. Wanita itu terlalu berharga untuk bos kita"
"Brengsek"
Bugh...
Bugh...
Akh..
Bugh..
Krak..
Akh..
Duk...
Dor..
"Kalian hanya tikus rendahan di hadapan gue" ucap King angkuh sambil menginjak dada orang yang meremehkan dirinya tadi.
Tanpa di sadari dirinya telah di kepung oleh musuh. Dia hanya tersenyum sinis. King memang sengaja masuk seorang diri. Dia akan memancing musuhnya keluar dari sarangnya terlebih dahulu sebelum berperang.
"Menyerah atau aku tembak kepala mu" teriak salah satunya.
Kilatan kejam terpancar jelas dalam sorot tajam mata elangnya. Tak taukah mereka jika saat ini iblis dalam tubuhnya perlahan bangkit. Seringai kejam terpasang di wajah tampannya. Bersamaan dengan berbalik tubuhnya, dia juga melepaskan tembakan cepat ke arah musuhnya. Bahkan gerakannya saat menarik pistol sangat cepat, bahkan tak terlihat.
Keributan di luar membuat semua penjaga yang menjaga tempat ini mau tidak mau keluar. Bahkan penjaga bayangan juga keluar dari sarangnya. King awalnya terkejut saat kelompok ini memiliki pengawal bayangan. Hanya kelompok mafia kuat yang memiliki penjaga bayangan.
King menarik dirinya menjauh dari pintu masuk. Dengan setia menembaki musuhnya, tanpa sadar musuhnya mengikuti langkahnya menjauh dari tempat Bu Ratu di sekap.
Dikira jarak aman untuk bertarung, King menggelengkan kepalanya. Tak lupa senyum meremehkan di wajah tampannya. King menembak udara kosong diatasnya. Musuhnya berhenti menatap King heran. Namun, sedetik kemudian mereka melotot massal saat banyak orang muncul dengan senjata ditangannya.
Adegan adu tembak tak terelakkan. Bahkan beberapa dari mereka sudah tumbang, mati mengenaskan. Anggota Black Rose yang dibawa kali ini merupakan didikan langsung sang Queen. Jadi tak heran jika kekejaman mereka tak jauh berbeda dengan sang pemimpin.
King hanya diam menatap pertarungan didepannya. Matanya awas menatap manusia-manusia yang sedang beradu kekuatan dan senjata itu. King akan menolong anak buahnya yang akan tertembak atau kalah. Dia tak akan menghilangkan nyawa anak buah milik adiknya, atau dirinya akan menjadi bulan-bulanan sang adik.
Setelah musuh berkurang separuhnya barulah King meninggalkan pertempuran di depan dan masuk lagi kedalam tempat yang ia perkirakan tempat Bu Ratu di sekap. Lantai dua sudut kiri, hanya itu informasi yang King dapatkan dari sang adik.
Cklek...
"Bunda" King langsung berlari saat melihat Bu Ratu terbaring lemah di ranjang.
"Sialan" umpat nya.
"Bang" Suara lembut sang adik bergema di earpiece yang dia kenakan.
"Dek, Bunda"
"Racun pelumpuh. Bawa ke markas, aku yang akan mengatasinya"
"Baiklah"
"Sampai di mobil, berikan bunda sedikit air Bang. Perlahan saja, tolong jaga kondisi bunda tetap seperti itu"
"Baik"
"Abang bisa membawa Bunda dengan tenang. Anak buah ku mendekat untuk melindungi abang dari jarak aman"
"Hmm"
King langsung menggendong Bu Ratu dan membawanya keluar. Benar apa yang dikatakan adiknya, jika anak buahnya mendekat untuk melindunginya. Tak hanay itu rupanya Chacha juga mengerahkan sniper kesayangannya. Terbukti saat musuh akan menyelinap menyerang diam-diam langsung tumbang tanpa suara. Rupanya tertembak dari jarak jauh.
Kini king berhasil sampai di mobilnya tanpa hambatan. King langsung meninggalkan lokasi setelah memastikan kemenangan berada di tangannya. Membiarkan anak buahnya bersenang-senang dulu sebelum meninggalkan musuh yang akan mengenal organisasinya nanti. Tanpa King tahu jika Chacha meminta anak buahnya memasang bom waktu di tempat itu.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak cintaa š„°
Happy Reading Allā¤
__ADS_1