
Chacha yang dalam dekapan abangnya mulai mengatur napasnya untuk meredakan amarahnya.
"Kan lo sendiri yang nawarin buat cari gedung buat acara gue"
"Gue emang nawarin tapi bukan berarti lo seenaknya sama gue. Gue mau yang terbaik buat lo karena lo masih gue anggap kakak gue"
"Maksud lo apa?"
"Gak usah gak ngerti lo. Lo yang buat gue harus balik kesini lagi. Apalagi sekarang hah" bentak Chacha.
"Lo ngomong apa sih"
"Lo kan yang ngirim foto sama video gue di club ke Ayah. Lo tau nggak itu dimana? Itu dikamar gue sendiri yang gue buat layaknya club dan lo seenak jidat lo ngefitnah gue" Ayah Gun dan Bu Ratu hanya diam melihat bungsunya marah.
"Kalo emang itu gue lo mau apa"
"Cih trik murahan cocok buat lo yang murahan" cibirnya.
Plakkk
Satu tamparan mendarat manis di pipinya. Di pipi Chacha lebih tepatnya. Ayah Gun menatap kosong tangan kanannya yang dibuat menampar bungsunya itu Bu Ratu bahkan tak percaya dengan apa yang suaminya perbuat.
"Pahlawan lo belain tuh seneng dong" ucap Chacha dengan pipi yang mulai memerah.
"Ayah" Kata Audy tak percaya.
"Dia kakak kamu Cha, apa maksud kamu sebut dia murahan. Hah?" bentak Ayah Gun. Chacha hanya menampilkan senyum sinis pada ayahnya.
"Lalu dimana Ayah saat dia menyebutku j****g?" tanya Chacha balik membuat ayahnya bungkam.
Chacha berlari ke kamarnya lalu turun lagi melemparkan beberapa berkas ditangannya ke meja.
"Berkas yang selama ini saya urus saya kembalikan. Silahkan urus sendiri perusahaan anda" Setelah mengatakan itu Chacha berlari lagi ke kamarnya.
"Bunda gak nyangka Ayah bakalan tega nampar Chacha"
"Dia ngatain Audy murahan bunda" jawabnya lemah.
__ADS_1
"Lalu saat Audy beberapa kali sebut dia j****g apa pembelaan Ayah. Selama ini Bunda gak pernah beda-bedain kasih sayang, Ayah. Tapi ayah tak pernah sedikitpun bersikap hangat pada Chacha" ucap Bu Ratu terisak. Rey yang melihat itu hanya diam karena belum saatnya dia membongkar siapa adiknya sebenarnya.
Tak lama Chacha turun dengan baju yang sudah berganti. Hot pants dibalut dengan baju kebesaran ditambah sandal jepit kesayangannya dan ransel dipunggungnya.
"Nanti orangku bakal ambil mobil Chacha yang ada disini. Samping tangga kodenya tanggal lahir bunda keluarkan semua mobil Chacha"
"Kamu mau kemana nak?" tanya Bu Ratu menghampiri Chacha.
"Gak kemana-mana kok Bun, cuma nenangin pikiran aja" jawabnya sambil tersenyum.
"Chacha keluar dulu ya Bunda. Chacha sayang Bunda" sambil memeluk bundanya erat. Lalu melepaskan dan melangkah keluar.
"Lewat dari pintu itu kamu bukan keluarga Effendy lagi" seru Ayah Gun lantang.
"Ayah" bentak Bu Ratu.
"Ayah kasian adek kalo ayah bilang gitu" ucap Audy.
"Gue gak perlu dikasihani lo, mending lo kasihani nyawa kecil lo itu dan berhenti ngusik gue" ucapnya penuh penekanan.
"Wajarlah orang gak pernah ada yang ngajarin. Eh ada kakek dan nenek ya lupa aku tuh" sambil terkekeh pelan.
"Ini kartu dan kunci mobil yang pernah anda berikan pada saya. Saya kembalikan" sambil menyerahlan beberapa kartu dan kunci mobil.
"Mau makan apa kamu sok ngembalikan itu semua"
"Saya bukan putri kebanggaan anda yang manja tuan. Otak cantik saya mampu menghasilkan uang dengan saya hanya duduk cantik saja"
"Susul adek di mansion utama" Rey tertegun mendengar ucapan Chacha. Pertama kalinya dia memanggil dirinya adek secara tak langsung dia menganggap kalau Rey adalah abang kandungnya.
Chacha melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju mansion utama atau bisa disebut mansion pribadi dirinya.
Sedangkan di kediaman Effendy ketegangan belum usai dimana Bu Ratu masih menatap sang suami tajam.
"Puas sekarang?" sinis Bu Ratu.
"Maksud Bunda apa?"
__ADS_1
"Buat Chacha keluar lagi dari rumah ini setelah Audy ada disini. Itu bukan yang kamu harapkan Audy?"
"Bukan begitu Bunda" lirih Audy.
"Kamu ingin semua harta keluarga Effendy bukan? Ambil semuanya nak Bunda yakin adikmu gak bakalan tertarik dengan harta keluarga Effendy yang tak seberapa"
"Maksud Bunda apa?" kali ini Ayah Gun bertanya dengan heran.
"Tanyakan pada anak tersayang mu itu. Ingat Audy, Bunda selama ini diam atas apa yang kamu lakuin ke adik kamu tapi tidak untuk kedepannya" tekan Bu Ratu dengan suara dingin.
"Bunda, maksud Bunda apa Ayah gak ngerti"
"Sudahlah Yah jangan diperpanjang Rey mau cari adek dulu. Apa pula yang dia bawa kenapa cuma bawa ransel" sambung Rey.
Tok... tok... tok...
"Maaf tuan dan Nyonya kami yang disuruh Nona Queen untuk menjemput mobilnya" ucap orang itu langsung karena pintu memang tak ditutup sejak Chacha keluar. Rey menghampiri mereka. Lalu orang itu menunjukkan tanda pengenalnya.
"Ikuti saya"
Tak hanya Rey ternyata Bu Ratu dan yang lainnya juga ikut ke garasi.
"Samping tangga kode tanggal lahir Bunda" gumam Rey mengingat-ingat ucapan adiknya.
Rey menemukan sebuah tombol menempel didinding samping tangga tanpa berpikir panjang dirinya langsung memasukkan kodenya. Dinding yang awalnya diam kini bergerak ke atas terbuka seperti pintu.
Semua orang di sana menganga tak percaya kecuali Rey, melihat isi dibalik dinding itu. Bagaimana tidak lima buah mobil sport edisi terbatas terparkir rapi disana.
"Lakukan tugas dari Queen" ucap Rey menyadarkan mereka. Mereka langsung memasuki satu persatu mobil yang ada dan membawanya keluar dari kediaman Effendy.
"Rey susulin adek dulu Bunda" ucapnya langsung mencium pipi Bu Ratu.
"Kamu tau dimana adikmu rey?" tanya Bu Ratu.
Rey mengangguk dan langsung menaiki mobilnya keluar dari kediaman Effendy menuju mansiom utama sang adik.
"Anakmu penuh kejutan bukan? Jika kau lupa ingat aku keturunan dari siapa dan siapa anakmu itu" sarkas Bu Ratu. Ayah Gun hanya menunduk melihat perubahan sikap istrinya itu.
__ADS_1