
Chacha berjalan sambil tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi membuat dirinya geli sendiri. Pikirnya.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri" tanya Nena setelah Chacha sampai dikelasnya.
"Masih waras kan Cha?" timpal Karin.
"Lo kira gue gila"
"Ya kali" mereka hanya terkekeh melihat respon Chacha.
Lalu Chacha menceritakan kejadian yang terjadi di parkiran. Sontak saja membuat keempat sahabatnya tertawa kencang membuat beberapa siswa menoleh ke arah mereka.
"Gila sih tuh anak" komentar Fany.
"Halu tingkat tinggi" cibir Zeze.
Tak lama setelahnya bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai. Bertepatan dengan itu Chiara dkk masuk ke dalam kelas dengan watadosnya membuat Chacha dan yang lainnya menahan tawa.
Jam pelajaran baru dimulai setengah jam yang lalu tapi Chacha sudah mulai bosan dengan materi yang disampaikan guru hingga akhirnya dia membenamkan kepalanya diantara lipatan tangannya diatas meja.
Levy yang melihat kelakuan Chacha hanya geleng-geleng kepala. Tak berubah. Pikirnya.
Hingga bel istirahat berbunyi Chacha masih enggan untuk membuka matanya. Hingga Fany menyadari kalau Chacha belum membuka suara untuk ikut ke kantin.
"Ya ampun tidur" Fany menepuk jidatnya melihat Chacha yang tidur dengan damainya.
"Pantes dia gak bikin ulah mulai tadi ternyata tidur tho" tambah Nena.
"Bangunin, gue ke kantin duluan" ucap Levy pada mereka berempat.
Mereka hanya mengangguk merespon ucapan Levy. Lalu mereka mencoba membangunkan putri tidur yang satu ini, untung saja tanpa banyak usaha Chacha langsung terbangun.
Mereka berempat langsung menuju kantin karena Chacha memisahkan diri untuk ke kamar mandi guna mencuci muka bantalnya.
"Udah pesen?" tanya Chacha membuat mereka kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.
"Lo bisa gak sih jalan tuh ada suaranya? Kalo gue jantungan gimana?" ucap Karin kesal.
"Alay lo" respon Chacha jengah.
Karin hanya mencebik kesal dengan respon yang Chacha lontarkan.
"Pulang sekolah main ke mansion gue ya" ucap Chacha memohon dengan puppy eyes andalannya.
Mereka hanya memutar bola matanya malas melihat Chacha dalam mode merayu.
Levy yang duduk disamping Chacha hanya mengelus pelan rambut Chacha membuat sang empu menoleh.
"Ada apa?" tanya Levy lembut.
"Sepi" jawabnya sambil menunduk.
"Fix main kita disana" putus Kinos tanpa bantahan membuay Chacha tersenyum manis.
__ADS_1
"Jangan senyum" bisik Levy.
"Kenapa?"
"Bikin diabetes karena kelewat manis" perkataan Levy sukses membuat Chacha merona dan langsung mencubit perut Levy.
"Kalian bisa nggak sih gak romantisan depan kita ini" ucap Putra yang diangguki lainnya.
"Jadian aja lah kalian. Geregetan gue" tambah Karin.
Yang jadi topik pembicaraan hanya mengangkat bahunya acuh membuat yang lain benar-benar kesal dengan sikap keduanya.
"Cha lo kenapa gak balik lagi aja sih ke rumah orang tua lo biar lo gak kesepian" Tanya Kinos dengan hati-hati.
"Males ribut sama Audy" jawabnya santai.
"Itu doang?" Chacha hanya mengangguk.
"Gila lu"
"Lo juga gila, mana ada orang gila punya temen kecuali sesama gila" ucapan Chacha telak membuat mereka bungkam.
Tak lama setelahnya bel masuk berbunyi, mereka membubarkan diri dari kantin menuju kelas masing-masing.
Sepenjang perjalanan ke kelas mereka tak luput dari pandangan beberapa siswa bahkan ada yang bisik-bisik melihat kedekatan Levy dan Chacha.
Bagaimana tidak Levy berjalan sambil merangkul pundak Chacha membuat beberapa siswa iri.
"Kapan tinggi sih" ucap Levy mulai usil.
Levy hanya tersenyum menanggapi respon Chacha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah mereka memasuki mobil masing-masing untuk menuju mansion Chacha. Hingga ide gila terlintas dipikiran Karin untuk melakukan balapan. Mereka semua menolak karena mobil mereka pasti kalah cepat dengan mobil Chacha dan Levy. Namun Karin menjelaskan bahwa yang akan balapan hanya Levy dan Chacha hingga mereka setuju.
Levy hanya mengumpat kesal pada teman-temannya. Dirinya paham betul bagaimana cara Chacha mengendalikan arena balapan saat diluar negeri dulu.
Hingga balapan dimulai mobil keduanya melaju kencang membuat yang lain tertinggal dibelakang. Mereka mencoba menyusul keduanya dengan keahlian mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka tiba di mansion Chacha melihat dua mobil terparkir apik didepan mansion.
"Gak bakalan mau gue kalo disuruh balapan sama tuh anak"
"Padahal menurut gue tadi waktu tercepat kita buat sampai di mansion Chacha udah. Tapi liat dua mobil ini terparkir kok gue jadi ngeri ya"
"Eh.. ayo masuk non den ngapain diluar" sapa kepala pelayan kepada mereka.
Mereka hanya mengangguk menanggapi kepala pelatan mansiom ini. Mereka masuk langsung disuguhkan dengan keromantisan dua sejoli itu lagi.
Dimana Chacha tiduran disofa dengan paha Levy sebagai bantalnya sedangkan Levy mengelus lembut kepala Chacha. Entah apa yang mereka bicarakan tapi melihat tatapan lembut Levy membuat ide hantu muncul dikepala mereka untuk menyatukan kedua sahabatnya itu.
"Capek. Gila ya kalian" ucap Kinos langsung melemparkan dirinya ke sofa, disusul yang lainnya.
"Lama kali kalian gue dah lumutan nungguinnya" jawab Chacha.
__ADS_1
"Gak yakin selamet gue kalo ngikutin kegilaan lo"
"Yang nantangin siapa?" Chacha menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa yang menang?" tanya Karin penasaran.
"Sweety" jawab Levy singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Chacha.
"Ganti baju dikamar tamu sekalian tunggu gue disana" ucapnya pada keempat sahabatnya.
Mereka hanya mengangguk patuh pada ucapan Chacha.
"Sorry gue gak punya baju cowok yang pas buat kalian bertiga" ucap Chacha.
"Lah itu si Levy bisa ganti baju dapet dari mana?" tanya Putra heran.
"Di mobil ada baju gue yang ketinggalan ternyata" jawab Levy.
"Aku susulin mereka dulu ya" pamitnya pada Levy yang dijawab anggukan olehnya.
"Padahal cuma kesitu doang pake pamitan segala" cibir Kinos.
Chacha tak langsung menuju kamar tamu melainkan dirinya naik ke lantai dua mengambil sesuatu lalu turun lagi menuju kamar tamu.
Cklek...
Chacha membuka pintu kamar tamu membuat keempatnya menoleh secara bersamaan. Dirinya melangkahkan kakinya duduk di single bed yang ada di kamar itu.
"Gue cuma mau kalian tau siapa gue sebenernya karena menurut gue gak adil gue tahu semua tentang kalian tapi kalian tentang siapa gue. Kali ini gue mau minta tolong lagi sama kalian gue harap kalian mau" ucap Chacha serius membuat mereka juga merespon dengan ekspresi serius.
"Gue tahu latar belakang keluarga kalian semua. Kalian bukan dari golongan menengah kebawah dari awal tapi kalian dari orang-orang kelas atas" Chacha menjeda ucapannya membuat mereka menahan nafas mendengar ucapan Chacha.
"Gue juga tahu dibalik kehancuran keluarga kalian karena penghianatan satu orang saja kan?"
"Papa kalian difitnah hingga susah merintis usaha lagi membuat kalian merubah sifat kalian dari gadis manja menjadi gadis mandiri. Belajar sekuat tenaga untuk mendapatlan beasiswa disekolah ternama agar membuat keluarga kalian bangga"
"Gue bangga memiliki sahabat layaknya kalian. Gue tahu siapa dalang dibalik kehancuran keluarga kalian, dia juga mulai melancarkan aksinya di perusahaan gue"
"Hubungannya sama kita apa Cha. Lo tahu bahkan papa kita kerja serabutan sebelum lo nyerahin tanggung jawab FF sama kita" ucap Fany diangguki yang lainnya.
"Maka dari itu gue butuh bantuan bokap kalian buat ngejebak dia"
"Caranya?"
Chacha membagikan tiga file berbeda pada. mereka semua membuat mereka bingung.
"Jatuhnya perusahaan kalian tak membuat bokap kalian melupakan apa itu bisnis kan? Gue mau bokap kalian mimpin ketiga perusahaan gue. Balesin dendam kalian buat usahan turun secara perlahan"
"Tapi Cha?"
"Gue pemimpin QI Corp dan Izhaka Company masih ada perusahaan gue yang belum saat gue ekspos. Gue tahu kalian ragu tapi itu bener-bener perusahaan milik gue pemimpinnya ketiganya gue pindahin ke luar negeri jadi tempat itu kosong"
"Lo sebenernya siapa kenapa begitu banyak rahasia Cha?" tanya Zeze.
__ADS_1
"Kali ini gue bakal jujur sejujurnya sama kalian gue harap kalian gak bakal ngejauhin gue" Chacha membuang nafasnya kasar.