
Tak...
Tak..
Tak...
Levy tampak menuruni anak tangga dengan sedikit cepat. Kini tampilannya begitu segar dengan pakaian casualnya.
Melihat kedatangan sang papa si montok langsung bergerak heboh di pangkuan Pandu. Bahkan dirinya merangkak cepat menuju Levy. Levy tersenyum melihat putrinya mencoba menghampirinya.
"Anak cantik Papa. Maaf ya, Papa telat bangun" Levy mencium pipi bulat sangat putri berkali-kali, hingga membuat si montok tertawa geli.
Levy menghampiri kedua jagoannya, tak lupa juga dirinya mencium kening kedua putranya itu.
"Mama sama Bunda udah lama? " Tanya Levy bergabung duduk dibawah dengan memangku si montok.
"Tadi barengan sama Karin" Jawab Bu Ratu.
"Anak lo mana, Rin? "
"Tidur, noh dibelakang Bunda" Tunjuk Karin menggunakan dagunya.
"Tidurin di kamar aja kenapa sih, guling nanti kalau ditidurin di sofa" Ucap Levy dengan nada khawatirnya.
"Nanti malah gak kedengaran kalau nangis"
"Mbak ambilin kasurnya si kembar kalau tidur di sini" Pinta Levy. "Mahavir gak ikut, bun? " Belum juga Bu Ratu menjawab pertanyaan sang menantu. Tampak suara menjawab pertanyaan Levy itu.
"Abang disini, Papa" Jawab Audy menirukan suara anak kecil.
Levy dan lainnya menoleh ke arah Audy yang menggendong Mahavir diikuti Ardan di belakangnya. Audy mendekat ke arah mereka, dia juga membiarkan Mahavir bermain bersama si kembar. Kecuali si montok yang anteng dalam pangkuan sang Papa.
"Tumben kamu bangun kesiangan, Lev? " Tanya Lena pada putra sulungnya itu.
"Gak tau, semalem kita gak bisa tidur, Ma. Semalem aja diakalin sampai tidur di balkon biar kita merem kalau kedinginan" Jawab Levy sekenanya.
"Kalian ini ada-ada aja, di kamar kalian kan ada AC"
"Beda, Ma. Kalau kena angin diluar itu dinginnya sampai masuk ke tilang, tapi seger buat kita"
"Kalian berdua memang aneh, penyakit kok dicari" Gerutu Lena saat melihat tingkah anak dan menantunya itu.
"Leon gak ikut, Ma? " Tanya Levy karena tak melihat adiknya, biasanya Leon akan ricuh jika berada di rumahnya. "Eit, Kakak gak boleh. Jangan gigit-gigit nak, kasian abangnya dong. Mbak ambilkan mainan apa itu namanya yang biasa dia gigit"
"Mahavir belum digigit aja lo panik. Noh si montok yang udah digigit malah gelud mereka tadi" Ucap Karin.
Levy menoleh ke arah Karin yang mengangguk. Menoleh ke arah lainnya untuk mencari kepastian, namun semuanya malah mengangguk.
"Kakak sini" Panggil Levy pada putra keduanya itu. Tampak Baby Atha mendekat saat Levy melambaikan tangannya. Dengan gaya patuh ala balita itu dia duduk menghadap sang Papa dengan tatapan polosnya.
"Kakak anak pintar, gak boleh gigit. Kasihan nanti mereka bisa nangis kalau digigit, kakak. Adik Al ini adiknya kakak, Abang Mahavir itu abangnya kakak sama kayak Abang Akmal. Jadi anak pintar Papa gak boleh nakal, ya" Levy mengelus pelan kepala anaknya itu. Tampak Baby Atha mengangguk lucu. Membuat Levy gemas sendiri. Berbeda dengan si montok yang langsung menggeplak si kakak. Namun dengan sigap Leby menjauhkan keduanya.
__ADS_1
"Tuan ini kasurnya"
"Letakkan di samping sofa itu aja, Mbak. Itu akan ada celahnya"
Tak...
Tak...
Tak..
Levy langsung memberikan si montok pada Lena yang kebetulan berada di sampingnya. Dirinya langsung berlari ke arah tangga saat melihat Chacha turun dengan sedikit sempoyongan. Tampak sekali jika Chacha hanya mencuci mukanya, memakai daster seadanya.
"Kenapa, Yang? " Levy mendekap Chacha dari samping. Bukannya menjawab Chacha langsung merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Sayang" Panggil Levy lagi.
"Lemes, Mas. Kayaknya masuk angin deh" Jawabnya pelan.
Mereka masih tak beranjak dari anak tangga yang sedang mereka pijaki.
"Iyalah masuk angin, semalam tidur di balkon kamu gak pakai baju. Ini ngapain turun kalau pusing, hmm? Kalau jatuh gimana, cinta" Levy gemas sendiri melihat kelakuan istrinya ini.
"Mau nyusuin si kembar, semalem mereka kan gak nyusu"
"Diperah aja ya, habis itu kamu bisa istirahat. Di perah di kamar, sekalian Mas suapin yok"
"Aku pengen lihat si kembar dulu"
"Gak kuat jalan, Mas" Chacha mengeratkan pelukannya pada suaminya itu.
Yang paling Chacha benci adalah ketika dirinya masuk angin disusul dengan tekanan darahnya yang menurun.
Dengan sigap Levy langsung menggendong Chacha ala bridal style, membawanya kembali ke dalam kamar mereka. Levy tak mungkin membawanya ke bawah, yang ada istrinya akan semakin keras kepala.
"Loh, kok dibawa ke atas lagi Chacha? " Zeze heran saat Levy malah menggendong Chacha kembali ke kamarnya.
"Daripada menebak-nebak yang tidak penting, mending nunggu Levy aja"
Tak lama setelahnya, Levy turun kembali dengan sedikit tergesa.
"Pan, tolong hubungi Kak Shiro dulu. Suruh telfon gue gitu. Mbak sarapan masih di meja makan? "
"Masih tuan"
"Bunda, Ma. Levy titip anak-anak ya, mau ngurusi mamanya dulu. Kayaknya masuk angin deh, beberapa hari ini juga sering begadang"
"Mama bilang juga apa, jangan aneh-aneh. Kalian memang cari penyakit. Sana balik ke kamar aja, sebentar lagi Mama antar sarapan buat kalian"
Levy tidak menjawab pertanyaan sang mama. Dia langsung kembali ke kamarnya menemui sang istri yang sedang terpejam, tapi Levy tahu jika istrinya tidak tidur.
"Cinta? " Panggil Levy lembut.
__ADS_1
"Hmm" Chacha hanya menjawab seadanya, jujur badannya terasa sangat lemas.
"Maaf, kamu pasti kecapekan gara-gara semalam" Ucap Levy penuh rasa bersalah. Karena semalam dirinya benar-benar menggempur sang istri.
"Ndak loh, Mas. Akunya aja yang kurang istirahat"
"Ya harusnya semalam kita istirahat, gara-gara aku.. "Ucapan Levy terpotong kala Chacha menyela ucapannya.
" Udah gak usah dibahas lagi, ini pening loh, Mas. Pijet dikit kepalanya Mas" Pinta Chacha pada sang suami. Dengan senang hati Levy melakukan keinginan istrinya itu.
Tok... Tok... Tok..
"Itu siapa, Mas? "
"Mama mungkin, ngantar sarapan" Levy bangkit dan menghentikan acara pijatannya untuk membuka pintu.
Lena langsung masuk ke dalam, meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk keduanya di meja yang ada di dalam ruangan itu. Lena merasa iba saat melihat wajah pucat menantunya.
"Istirahat yang cukup, nak. Sekarang sarapan dulu, si kembar kayaknya sudah mulai lapar. Stok susunya sudah habis" Chacha hanya mengangguk menanggapi ucapan ibu mertuanya itu. "Mama keluar dulu, nanti kalau sudah panggil Mama, Lev"
"Ma minta tolong boleh? "
"Bilang aja, Lev"
"Minta tolong suruh Mbak-Mbaknya anak-anak nganterin pompa asi milik Chacha" Lena mengangguk dan mulai meninggalkan kamar mewah itu.
"Sarapan dulu yuk, sayang"
"Kamu juga belum sarapan, Mas? "
"Ini, kita sepiring berdua karena porsinya di atas jumbo. Jadi Mas suapin sekalian. Bisa kan dibawa duduk, senderan ya" Chacha mengangguk, dirinya memang butuh asupan.
Levy membangunkan tubuh sang istri perlahan. Menyangga tubuhnya dengan beberapa bantal yang diletakkan dibelakang tubuh Chacha.
"Gimana, nyaman posisinya? " Tanya Levy pasalnya sang istri langsung terpejam.
"Hmm" Chacha sepertinya enggan membuka matanya.
Levy mulai menyuapi sang istri dengan telaten. Sesekali dirinya juga menyuapkan ke mulutnya sendiri. Karena tidak hanya Chacha yang lapar, dirinya juga merasa kelaparan. Setelah selesai Levy langsung membereskan alat makan yang mereka gunakan.
"Mas ke dapur dulu ya"
"Ikut ya, mau ketemu anak-anak" Chacha membuka sedikit matanya.
"Nanti sayang. Kamu istirahat aja dulu sampai ada tenaga baru ketemu anak-anak,Mas ambil pompa asi kamu dulu. Selagi kamu istirahat biar anak-anak pakai dot dulu. Kuatkan kalau cuma mompa asi? " Chacha mengangguk lemah.
"Mas bawain buah ya dari dapur" Pinta Chacha.
"Iya sayang, tunggu ya" Levy mengecup kening Chacha sekilas lalu pergi meninggalkan kamarnya.
?-
__ADS_1