
Dor...
"Akh"
Srett...
"Sial"
"Oh ****" Umpat Chiara saat terkena serempet peluru. "Dasar peluru kurang ajar, lewat kagak bilang permisi"
Musuh di depannya mematung beberapa saat mendengar ucapan Chiara yang memarahi sang peluru. Terlambat menyadari hingga dirinya mampu dilukai dengan mudah oleh Chiara.
"Fokus lo kemana? Gue segeda gini malah dianggurin. Ngebug kok pas tempur, elit banget lo" Omel Chiara.
Fany dan Zeze mematung di tempatnya melihat Chiara malah mengomel dengan santai. Segila itukah jika seorang master bertempur.
Ting...
Chacha tampak keluar dari lift, matanya menatap tajam pertempuran yang terjadi. Banyak dari pihak musuh yang bergelimpangan, sebagian tidak bergerak. Sebagian lagi mengerang kesakitan. Fokusnya naik melihat siapa yang tengah bertarung dengan gila ditengah arena.
Chacha melihat jika gadis yang kerap bermain dengan senjata runduk itu dengan lihai menggerakkan katana di tangannya. Para musuh mengangkat senjatanya untuk menembak Chiara bersamaan. Chacha menggelengkan kepalanya. Menekan satu tombol di jam tangan miliknya.
Setelah dipastikan kode sampai pada Chiara, tampak gadis itu langsung melempar katana ditangannya. Dirinya maju dengan tangan kosong dan menghajar musuh di depannya hingga babak belur.
Chacha masih melihat sekitar dengan tajam. Dirinya baru melompat saat ada yang ingin membokong Chiara. Chacha memberinya hadiah dengan tendangan di bagian dadanya. Bisa dipastikan orang itu akan sesak nafas.
Masuknya Chacha ke dalam arena pertarungan, membuat kericuhan itu terhenti. Chacha berdiri di tengah dengan aura kepemimpinan yang kental. Netral birunya yang biasa memberi kedamaian kini mampu menenggelamkan siapapun yang menatapnya. Tatapan tajam adalah hal yang paling ditakuti musuh ketika berhadapan dengannya. Apalagi ketika netra biru itu sudah mulai menggelap, maka jangan berpikir untuk lari dari medan perang. Karena ketika hal itu sudah terjadi, iblis dalam tubuhnya sudah bangkit sepenuhnya. Tanpa bantuan pun dia bisa meratakan seluruh musuhnya. Sayangnya Chacha tidak ingin banyak menjatuhkan korban disini. Lagi-lagi kebaikan hatinya mengalahkan egonya untuk menumpas habis musuhnya.
Pandu dan anak buah yang tersisa langsung mengepung ballroom itu dari dalam. Menutup setiap ruang bisa membuat musuh kabur. Siap dengan senjata lengkap. Pandu berjalan menuju sang saudara kembar yang berada di samping Chacha. Pandu juga berdiri di samping sang Queen.
"Keluarlah" Satu kata dari Chacha menuju intinya.
Semua bawahan Chacha siap di tempatnya. Mereka dalam mode siaga. Semua tangan siap pada senjata masing-masing.
Tanpa mereka ketahui, dibalik ballroom tersebut anggota Black Rose juga mengepung lantai tersebut. Dibawah pimpinan Rey secara langsung anak buah Chacha merapatkan diri membantu sang Queen. Mereka cukup menyayangkan saat Chacha tak memakai Black Rose, melainkan Death Rose. Mereka juga mengakui jika Death Rose jauh di atas mereka. Namun, dengan tekad yang kuat mereka akan membela sang ratu apapun yang terjadi.
Rey yang mendapat kabar jika akan ada penyerangan saat pengangkatan sang adik, saat itu juga meninggalkan rapat penting dan langsung terbang ke tanah air untuk membantu sang adik.
King, jangan ditanya. Dia sudah dalam posisi di atas gedung. Karena King memang lebih lihai menggunakan senjata runduk. Menyaksikan seluruh pertempuran dari jarak aman. Dia sengaja menjadi sniper agar mampu melindungi sang adik ketika musuh ingin melakukan hal curang. King yang tak banyak bicara langsung menyuruh anak buahnya untuk bergerak ketika penyerangan terjadi. Ditambah datangnya Rey membuat King bernafas sedikit lega.
"Tuan muda, ada beberapa pergerakan dari arah barat" Ucap salah satunya.
__ADS_1
"Tingkatkan kepekaan kalian. Pastikan dia lawan atau kawan. Tunggu instruksi selanjutnya" King memberi perintah tanpa melepaskan kegiatannya yang memantau ballroom dalam jarak jauh.
...****************...
"Masuklah" Perintah Nena pada semua orang yang sudah dirinya evakuasi ke kediaman mewah Chacha.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu. Langsung menuju ruang tengah, karena sesuai kesepakatan jika mereka akan berkumpul di sana. Namun, Nena, Karin dan Elang langsung berlari saat mendengar teriakan di dalam. Bahkan ketiganya sudah siap dengan senjatanya masing-masing.
"Ya ampun, Karin kira ada apa, Mi" Gerutu Karin yang melihat semuanya diam membatu menatap objek di depannya.
Bagaimana mereka tidak shock, di hadapan mereka si kembar bersama dua kucing besar. Tampak ketiganya begitu santai bersandar di tubuh besar itu. Si montok bahkan terlihat terlelap dengan di peluk singa besar itu. Sedangkan dua jagoan tampan itu tampak duduk tenang dengan menatap layar televisi yang menampilkan ketegangan itu.
"Kalian sudah kembali" Sapa Bastian saat melihat banyak orang yang berdiri membatu.
Mereka hanya mengangguk ragu, rasa terkejut belum hilang sepenuhnya dari benak mereka. Caesar maju dan mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa. Geffie bahkan langsung berontak minta diturunkan ketika melihat Mahavir memegang mainan.
"I-itu pu-punya si-siapa? " Tanya Ratih dengan suara terbata-bata.
"Itu peliharaan Chacha, Mi" Jawab Karin santai.
Semuanya melotot tak percaya, jika sang nona bungsu Izhaka itu memelihara binatang buas. Pasalnya kedua binatang itu menatap mereka dengan tajam, seakan-akan ingin menerkam kapan saja.
"Siap ketua" Jawab keduanya kompak.
Banyak yang kaget saat melihat dua sahabat Chacha itu menjawab dengan tegas. Sorot matanya tidak melembut seperti biasanya.
Jika dengan Chacha mereka bisa menerima perintah dengan santai. Tidak jika dihadapan Caesar. Saat mereka dibawah didikan Caesar, pemuda tampan itu selalu bersikap tegas dan dingin. Tak ayal jika banyak segan dan enggan untuk melawan dirinya. Dia bahkan sering disebut sebagai pemimpin Death Rose. Dia tidak mengelak, demi melindungi sang Queen dari musuh, dia rela menjadi tameng hidup menjadi incaran setiap peluru yang musuh miliki.
"Nena, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan mereka. Beberapa anak buah Queen akan menuruti perintah mu nantinya"
"Siap ketua"
"Karin, ambil senjata mu dan naik ke atas. Pastikan keamanan tempat ini. Utamakan keselamatan si kembar. Informasi mereka bocor ke pihak musuh"
"Siap ketua"
"Ambil senjata di mobil ku. Berikan mereka masing-masing satu, sebagai keturunan Izhaka mereka tentunya mampu untuk memegang senjata"
"Anda sendiri ketua? "
"Garda terdepan" Jawab Caesar santai lalu melangkahkan kakinya menuju si kembar.
__ADS_1
Caesar berdiri di hadapan dua kucing besar itu, matanya menatap lembut ke arah tiga bocah yang memiliki wajah kedua orang tuanya itu.
Paman harap orang tua kalian selamat. Batin Caesar.
"Koko, cici. Aku serahkan nona dan tuan kecil pada kalian. Apapun yang terjadi lindungi mereka, seperti Queen melindungi kalian"
Mereka dapat mendengar jika kedua kucing besar itu menggeram kecil saat mendengar ucapan Caesar. Setelah itu Caesar langsung melangkahkan kakinya ke luar rumah.
Nena mengikuti langkah Caesar dari belakang. Gadis itu akan mengambil senjata yang Caesar maksud. Bahkan Nena maupun Karin tidak merasa risih dengan banyaknya penjaga yang mengelilingi mereka.
"Karin harap kalian mampu mempertahankan ketenangan kalian apapun yang terjadi" Ucap Karin pelan.
"Om Bastian. Om akan bertugas dengan Nena disini, Karin akan memantau di atas karena memang seharusnya Karin memimpin pasukan Karin di medan perang sana"
Para orang tua dari sahabat Chacha merasa shock saat melihat anak mereka terlibat dalam organisasi mafia. Mereka tidak pernah menyangka jika anak-anaknya menutupi berita besar itu dengan apik.
Nena kembali dengan sebuah tas yang cukup besar. Setelah meletakkan itu di tengah. Tanpa banyak bicara Nena langsung masuk ke dalam kamar tamu untuk mengganti bajunya. Begitu juga Karin yang menyusul Nena ke kamar tamu.
Setelah selesai mereka kembali lagi keluar dan membuka isi tas yang Caesar berikan.
"Rin, senjata lo" Nena memberikan senjata milik Karin yang biasa dirinya gunakan.
Karin menerimanya dan mengecek kesiapan senjatanya.
"Elang, lo yang pertama pilih senjata apa yang lo kuasai, disusul lainnya"
Elang maju dan mengambil pistol yang sedikit mirip dengan miliknya. Menjadi suami Karin, mau tidak mau dirinya harus mahir menggunakan senjata api dan bela diri.
Bu Ratu dan Ratih tampak maju disusul dengan Lenardi dan Lena. Tampak kedua orang tua Rahardian itu juga mengambil senjata dalam tas itu.
"Senjata itu hanya untuk mempertahankan diri kalian. Tidak ada penyerangan atau apapun, itu akan menjadi tugas kami" Ucap Nena.
"Mbak, nanti pindahkan si kembar dan anak-anak lainnya ke kamar si kembar. Tekan mode penyelamatan pada belakang pintu. Karena koko dan cici akan bertarung bersama kami"
"Doakan saja, semoga tidak ada penyerangan ke rumah ini. Kita hanya bersiap"
Roar...
"Aaaaa"
Mereka kaget saat dua kucing besar itu mengaum keras. Matanya menatap tajam ke arah televisi yang menampilkan kejadian di ballroom hotel.
__ADS_1