Call Me Queen

Call Me Queen
Fakta Maya


__ADS_3

"Ka-kau si-siapa, nak? " Tanya Narendra ragu saat melihat tatapan tajam Pandu sama dengan milik Mami Anna.


"Jika aku mengatakan aku anak mu apa kau percaya? " Pandu bertanya dengan nada seolah-olah sedang meremehkan.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Pandu membuat Narendra membeku. Kini banyak pertanyaan yang memasuki pikirannya. Dia melihat ke arah Chiara dan Pandu secara bergantian. Banyak kemiripan diantara keduanya.


Berbeda dengan Narendra, berbeda pula dengan Maya. Dia pucat pasi saat melihat Pandu. Bukan karena takut atau apapun, namun dia hanya kaget saat melihat wajah Pandu begitu mirip Narendra waktu muda. Akankah Anna melahirkan bayi kembar saat itu? Itu yang ada dipikirannya. Jika memang iya maka dirinya bisa didepak oleh keluarga besar Narendra, karena dirinya belum bisa memberikan keturunan laki-laki seperi kemauan mertuanya. Belum lagi dia harus menghadapi sidang keluarga yang akan dilakukan oleh Narendra karena perbuatannya.


"Ma-maksud kamu apa, nak? " Tanya Narendra dengan wajah bingungnya. Namun, tak memungkiri jika hatinya bergetar saat melihat tatapan Pandu.


"Ah, tidak saya hanya bercanda" Rupanya Pandu masih ingin bermain dengan ayah kandungnya ini.


Pandu melirik Maya yang tengah menghembuskan napas leganya. Hingga senyum licik terpatri di wajahnya. Chiara menatap kembarannya dengan penuh selidik.


"Ah kita belum berkenalan dengan sopan. Perkenalkan nama saya Pandu Narendra"


Deg...


Narendra semakin membeku di tempatnya. Dia tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba bibirnya kelu untuk sekedar mengeluarkan kata.


"Anda mungkin tidak kenal dengan saya, bisa lain cerita jika mami saya"


"Bang jangan pakai sikap konyol, malu sama Queen ih" Bisik Chiara yang kini sudah berpindah di samping Pandu.


"Ya udah sana samperin Mami. Kamu mah recokin Abang mulu" Chiara hanya memasang tampang nyinyir untuk menggoda Abangnya.


"Nyenyenye"


"Abang lempar sepatu nih"


"Aduin Mami. Mami... " Chiara sedikit berteriak membuat atensi teralihkan padanya sekarang. Ini memang tujuannya dan Chacha.


Semua tamu melihat kemana arah Chiara pergi. Tampak Chiara sedikit berlari ke arah meja di pojok ruangan. Menghampiri dua wanita cantik beda usia itu. Banyak wanita kalangan atas melotot gak percaya saat melihat siapa yang sedang dipeluk oleh Chiara kali ini.


'Itu bukannya desainer terkenal itu, kan? "


"Ya ampun demi apa, aku mulai tadi gak melihatnya"


"Sama, gila bener-bener bertabur bintang malam ini"


"Ya ampun, aku udah lama ngefans banget sama beliau. Baju-bajunya lagi, ah sold out terus"


"Aku bahkan booking tiga bulan sebelumnya"


"Iya, kalau pesen di desainer Anna Krisdayanti harus jauh-jauh bulan pesennya. Bukan jauh-jauh hari lagi"


Bisik-bisik para wanita kelas atas kini mulai terdengar ditelinga Maya. Benarkah itu istri pertama Narendra? Bagaimana dia bisa lolos dari jeratan mucikari yang begitu memujanya? Hingga perkataan Chacha menghampiri ingatannya 'aku menghanguskan satu barisan ternama karena menolong istri pertama mu'. Maya melotot kaget saat mengingat itu, bagaimana jika itu benar-benar Anna? Maya yang panik tanpa sadar mencengkram lengan Narendra cukup kuat hingga menarik kembali alam sadar Narendra.


"Jangan ditarik-tarik Mami dong, nak. Malu ini banyak tamu" Suara lembut keibuan menyapa pendengaran Narendra. Suara yang selama puluhan tahun ini ia rindukan. Narendra menoleh ke arah samping. Netranya melebar saat melihat Chiara sedang menarik wanita yang begitu terlihat anggun diusianya yang tak muda lagi.


"Abang nih Mi, Chia mau dilempar sepatu" Adu Chiara pada Mami Anna.


"Pandu, jangan goda adiknya mulu dong nak. Gak malu apa ada tunangannya juga"


"Fany udah biasa liat beginian, Mi. Bahkan kalau ketemu mereka lebih parah lagi" Fany menimpali untuk mengadukan kelakuan keduanya.


"Eh ada besan. Maaf saya gak sadar" Mami Anna tampaknya belum sadar jika ada kehadiran orang lain di sana. Dua orang yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Yang satu dengan pandangan lembut penuh rindu. Yang satu lagi dengan tatapam tak terbaca nya.


"Nana" Mami Anna menegang kala mendengar panggilan suaminya dulu, ah ralat mantan suami. Dia mencoba menoleh, tatapan matanya langsung bertabrakan dengan tatapan milik Narendra. Netranya mengembun, kalau bukan karena Chiara yang menarik lengannya mungkin kini dirinya berada dalam pelukan mantan suaminya itu.


Mami Anna mencoba menguasai emosinya kalau melihat tatapan tajam dari kedua anaknya.

__ADS_1


"Loh, jadi anda memiliki besan seorang pela*ur? " Sinis Maya, kini dia bertekad untuk menjatuhkan Mami Anna sebelum dia di serang.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat kedua orang tua si kembar bingung. Namun, saat melihat kode mata dari Fany membuat mereka kembali pada sikap tenangnya. Fany sudah menceritakan segalanya tentang Pandu dan keluarganya. Awalnya orang tuanya begitu shock, namun berubah menjadi simpati pada Mami Anna.


"Pela*ur atau bukan, itu bukan urusan anda Nyonya" Jawab mama si kembar dengan tenang. Mami Anna tampak tersenyum tipis.


"Halo Tuan dan Nyonya Narendra, masih ingat dengan saya? Harusnya iya, maaf jika saya mengecewakan kalian dengan kenyataan bahwa saya bisa sukses. Tak seperti yang anda katakan, bahwa saya hanya bisa mengangkang untuk mendapatkan kekuasaan"


Chacha tampak memberi kode para bawahannya untuk menggiring tamu keluar dari ballroom hotel. Menuju ruang sebelahnya untuk jamuan makannya. Orang tua si kembar juga perlahan memundurkan langkahnya secara perlahan. Yang tertinggal di sana hanya keluarga besar Narendra dan beberapa awak media.


"Mau apa lagi kau sialan, tak cukupkah kau membuat malu keluarga kita. Bahkan putri mu ini sama menjijikkannya dengan mu" Teriak nyonya besar Narendra.


"Rendahkan suaramu saat berbicara pada Mami ku" Peringat Pandu dengan suara rendahnya.


"Chiara juga cucumu nyonya. Anda terlalu sibuk memikirkan dunia hingga lupa mana cucu yang berkualitas dan mana cucu yang tak berkualitas"


"Apa kau mengatakan Angel ku tak berkualitas. Lihat anak mu itu, hanya pengangguran" Balasnya sengit.


Chiara yang sebagai tersangka pengangguran hanya tersenyum tipis. Rencana pertama berjalan mulus, menjebak nyonya besar Narendra untuk membuka jalan agar dia memutus kontrak kerja dengan cabang perusahaan Narendra. Kerjasama dengan cabang perusahaan yang kebetulan di pegang oleh neneknya.


Jika Chiara dibilang pengangguran itu salah besar. Karena Chiara memegang salah satu perusahaan milik Chacha.


"Kirim pemutusan kontrak kerja sama pada perusahaan Narendra sekarang juga" Nada dingin Chiara saat memerintah kini terdengar lagi. Bawahannya langsung memprosesnya dengan cepat.


"Hei, nak. Kalau kamu mau bercanda jangan disini. Kau dan mama mu itu sama saja. Merepotkan dan bikin malu"


"Lebih memalukan mana nyonya dengan menantu kebanggaan yang anda kira wanita baik-baik tak lebih dari seekor ular berbisa" Sarkas Mami Anna.


"Jaga bicara mu Anna"


"Ah, akhirnya anda menyebut namaku juga. Baiklah, karena aku hanya diberi sedikit waktu maka aku akan bercerita. Tolong jangan dipotong. Buka mata dan telinga mu lebar-lebar Narendra" Pandangannya kini menusuk ke arah Narendra. Narendra diam tak menjawab, namun matanya masih fokus pada Mami Anna.


"Aku melahirkan sepasang bayi kembar. Aku terpaksa menitipkan Pandu pada bidan yang membantu persalinan ku, karena aku tahu keluarga mu begitu menginginkan pewaris laki-laki. Itu alasan pertama aku menyembunyikan Pandu. Dengan berat hati aku menyerahkan putri ku pada mu. Ah tidak, lebih tepatnya kau ambil secara paksa"


"Kau bahkan tak menoleh kebelakang setelah membawa putri ku. Satu hal yang aku syukuri saat itu, kau masih percaya jika Chia adalah anak kita meskipun kau murka saat melihat ku dengan laki-laki lain"


"Tahu kah kau, Rendra. Jika aku bahkan harus berlutut memohon ampun agar aku tak dinodai saat mengandung si kembar? Tau kah kau jika malam saat kau memergoki ku, aku hampir kehilangan si kembar karena ulah istri kesayangan mu itu? "


"Aku kira setelah aku melahirkan aku akan bebas, namun ular berwujud wanita terhormat ini malah menjual ku pada teman prianya, partner ranjangnya lebih tepatnya"


"Aku menuruti keinginannya bukan semata-mata aku senang, Rendra. Aku hanya tak ingin dia menyakiti putri ku. Kau tau Rendra apa yang paling membuatku terpukul saat itu. Kehilangan kepercayaan dari mu. Bagaimana bisa kau mengatakan aku wanita murahan saat mendapati kau adalah yang pertama bagiku. Berkali-kali aku menjelaskan kau juga tak percaya"


"Aku terus memberontak, bahkan percobaan bunuh diri berulang kali aku lakukan. Aku tersiksa Rendra, aku tersiksa. Hingga pada kenyataan berikutnya aku mendapati Chiara yang juga digiring masuk ke tempat yang sama saat aku dijual untuk pertama kalinya"


"Aku tau jika dia berniat menjual putri kita. Aku mencari seseorang yang butuh bantuan, aku mendapatkan orang itu. Chiara dibeli untuk bekerja di rumahnya. Namun, sayang kontraknya tak lama, bahkan aku belum bebas dari jeratan Maya"


"Puluhan tahun aku hidup penuh kesengsaraan demi kebahagiaan putri ku. Tapi dia malah hidupnya tak jauh beda dengan ku, ada yang ingin kau jelaskan pada ku, Rendra. Kenapa dulu kau membedakan Chiara dengan Angel? Chiara juga anak mu. Apa kau tak mengakuinya lagi? "


Narendra mematung ditempatnya, bahkan keluarga besarnya juga terdiam mendengar setiap penuturan Mami Anna.


"Kau wanita Maya, jika kau menjual ku mungkin aku maklumi karena obsesi dan keserakahan mu pada Narendra. Tapi, jika kau menjual putri ku sampai mati pun aku mendendam pada mu Maya" Teriak Mami Anna.


"Apa kau tau bagaimana jika Chiara benar-benar berada ditangan selingkuhan mu itu, hah? Apa kau tak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika Angel anakmu yang ada di sana" Mami Anna mulai tak bisa mengendalikan emosinya.


"Sedangkan kau, Rendra, keluarga mu bahkan menutup mata atas apa yang Maya lakukan pada putri ku. Kalian punya hati atau tidak? "


"Cukup Mami, jangan dilanjutkan, itu percuma. Keluarga Papi itu selain keras kepala juga tak bisa membedakan mana yang benar atau tidak, mana baik atau tidak, dia saja tak bisa membedakan mana berlian dan mana batu kali. Jangan heran jika mereka tak sadar jika memelihara ular dalam keluarga mereka" Ucap Chiara.


Tubuh Mami Anna bergetar karena emosi. Pandu langsung memeluk mami nya erat, hingga dia merasakan baju yang dikenakannya basah. Maminya menangis, Pandu mati-matian menahan amarahnya. Pandu akan mudah marah jika melihat wanitanya menangis.


"Haruskah aku memberi salam perkenalan dengan senjata ku pada mereka, Mam? " Tanya Pandu pelan namun masih di dengar oleh semuanya yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Di sudut yang tak jauh dari sana, tampak Chacha terkekeh pelan melihat tingkah Pandu. Sedangkan yang lain hanya bisa menggelengkan kepala.


"Aku tak mengharap untuk diakui oleh mu. Karena tanpa mu dan keluarga angkuh mu itu aku sudah hidup berkecukupan bahkan bisa dibilang mewah. Jadi jika kalian berpikir aku kembali karena ingin mendapatkan warisan, itu tidak akan terjadi. Buang pikiran menjijikkan itu, penghasilan kalian belum tentu setara dengan penghasilan ku" Darah keluarga Narendra memang benar-benar mengalir dalam diri Pandu, lihatlah pemuda tampan yang satu ini. Bersikap angkuh degan mendongakkan wajahnya.


"Hei anak muda jaga bicara mu"


"Haruskah aku memanggil mu nenek? " Tanya Pandu dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau diam Papi" Pandu sengaja menekan kata Papi di akhir kalimatnya. "Dan kau, ah aku tak tau harus memanggilnya mu apa. Ku beritahu satu hal, aku tak sabar untuk memberi salam perkenalan padamu jika mengingat kebaikan dan kerelaan Mami ku di madu, kau balas dengan kejahatan akan keserakahan mu. Apa yang kau dapat, apa anak ja*ang mu ini menduduki posisi penting di perusahaan? Tidak bukan"


"Siapa yang kau sebut ja*ang sialan? " Teriak Angel.


"Jangan meninggikan suara lo pada Abang gue. Lo lupa gue bisa buat apa aja ke lo, Mami lo mungkin kejam, tapi ingat Angel dalam satu kali hembusan nafas gue bisa langsung buat lo bertamu ke pintu neraka" Ucap Chiara menekan Angel.


"Chiara dia adik mu"


"Dan Pandu juga Abang ku, saudara kembar ku, kami lahir dari rahim yang sama. Aku diam karena aku menghormati mu selama ini. Hingga kau rela menjual ku pun aku diam. Tapi, itu sudah selesai, Chiara anak mu yang bisa kau jadikan babu itu sudah mati Nyonya Maya"


Chacha mulai jengah dengan bungkamnya keluarga Narendra. Bahkan mereka seakan tak percaya dengan ucapan Mami Anna dan Chiara. Chacha memberi kode mata pada bawahannya hingga tak lama setelahnya terdengar rekaman suara yang membuat keluarga Narendra shock.


May, kapan kamu akan meninggalkan pria itu'


'Tenanglah baby, aku harus menguasai hartanya dulu. Baru aku akan meninggalkan dirinya, ingat Angel harus menduduki posisi tertinggi di perusahaan. Anggap saja itu kompensasi untukku karena aku melahirkan bayi untuk mereka"


''Haish, menyusahkan sekali. Harusnya dulu kamu tak usah mengejarnya, buat apa kau mengejarnya tapi kau malah mencari kepuasan bersama ku'


'Karena aku tahu, kamu tak akan pernah puas. Bagaimana apakah wanita itu cukup memuaskan'


'Dia wanita baik, May. Aku tak tega merusaknya, aku menjadikannya dia bartender di bar ku'


'Aku menyuruh mu menjadikannya ja*ang bukan malah memberi kelonggaran padanya'


'Tenanglah kenapa kau emosi begitu. Kau kurang apa, hmm? Setiap bulan aku rutin mentransfer uang untuk mu bukan? "


'Kau membuat ku kesal, aku akan menjual anaknya juga, carikan orang yang mau dengan anaknya wanita sialan itu'


'May? '


'Sudah turuti saja, atau aku akan berhenti ke sini'


'Kau selalu memanfaatkan kelemahan ku, Maya'


'Salah sendiri kau begitu mencintai ku'


'Baiklah permintaan mu akan aku setujui. Tapi tidak gratis nyonya'


'Aku akan membayar mu dengan membawa kau terbang mengarungi langit kenikmatan baby"


Rekaman suara dihentikan, tampak wajah Maya pucat pasi di sana. Narendra yang shock dengan kebenaran yang ada, keluarga besarnya juga tak menyangka menantu kebanggaannya adalah wanita yang begitu liar.


Pandu dan Chiara terkekeh bersama melihat reaksi yang ditunjuk oleh keluarga Narendra.


"Bagaimana kejutan ku Nyonya Maya. Atau mau satu kejutan lagi, tapi tolong siapkan jantung kalian dengan baik" Ucap Chiara lagi.


...****************...


Part ini panjang ya gengs πŸ˜… maapkeun kalau bosan, karena kita menyelesaikan satu per satu dulu


Ini juga Terima kasih buat yang selalu kasih amunisi perang buat ngetik, ini moodbooster banget, makasih juga yang udah vote sama nyawer neng montok pakai bunga sekebon, jangan ragu, gas terus gas kenceng-kenceng pokoknya mah πŸ˜‚



Happy Reading AllπŸ’™

__ADS_1


__ADS_2