
Malam bertabur bintang menjadi saksi penyerahan sekaligus pengangkatan ahli waris keluarga Effendy yang selanjutnya. Tak usah ragu karena pasti sang bintang utama yang memenangkan posisi itu. Bukan tanpa alasan dirinya menempati posisi penting, bahkan bisa dibilang posisi tertinggi di keluarga besar. Namun, takdir yang memilihnya langsung untuk memimpin beberapa keluarga sekaligus dalam kendalinya.
Tanda bintang dan bulan di tengkuknya adalah bukti jika Effendy dalam kendalinya. Bahkan sang kakek gemetar melihat tanda yang sudah menghilang selama dua generasi itu. Dirinya saja memiliki tanda bintang, begitupun dengan keturunannya, Gunawan Effendy. Namun, karena dirinya anak tertua di keluarga Effendy mengharuskan dirinya yang memimpin keluarga besar itu sebelum menemukan pewaris yang sebenarnya.
Yang membuat seluruh keluarga Effendy tak percaya adalah saat Chacha menolak mentah-mentah keputusan dirinya untuk menjadi pewaris selanjutnya. Bahkan seluruh keluarga nya dibuat pusing saat Chacha begitu kekeh menolak tawaran itu. Hingga akhirnya mereka setuju saat Chacha meminta King yang mengurusnya sementara. Karena Chacha memegang kendali pusat perusahaan, sedangkan keluarga yang lain Chacha berikan masing-masing satu cabang perusahaan agar di kelola oleh keluarganya.
King sendiri sebelumnya sudah menolak saat diminta untuk menggantikan posisi sang adik, dirinya lebih memilih untuk mengembangkan DD entertainment menjadi lebih besar lagi. Alasan King hanya ingin hidup damai dengan keluarga kecilnya. King beralibi ingin beristirahat dari kegiatan padat tidak ada hentinya itu. Dirinya ingin menikmati waktu santainya kali ini. Anggap saja dirinya sedang meminta cuti pada sang adik.
Media lagi-lagi dibuat heboh dengan berita pengangkatan ahli waris keluarga Effendy ini. Pasalnya berita jika Chacha yang akan memegang kendali keluarga Effendy sudah tersebar luas. Pro dan kontra sempat terjadi, namun mereka tak menggubrisnya sama sekali.
Istri dari Levy Rahardian itu seakan tuli dengan pemberitaan miring tentang dirinya. Hidupnya kini terasa damai karena hatinya yang dipenuhi dengan dendam menahun yang menjadi beban pikirannya selama ini. Dengan memaafkan kesalahan Riko pada keluarga Izhaka membuat dirinya benar-benar plong. Karena selama ini Riko yang menjadi belenggu bagi keluarga Izhaka. Masalah dunia bawah benar-benar berada dalam kendalinya, jangan lupakan jika dirinya saat ini adalah pemimpin tertinggi di dunia bawah. Chacha melakukan perombakan besar-besaran pada dunia bawah, menumpas habis para oknum-oknum yang dirasa memiliki potensi untuk memberontak pada dirinya. Chacha bahkan tak segan untuk membumihanguskan setiap musuhnya kala itu. Kekejamannya memang tak diragukan, apalagi jika sudah bersatu dengan sang suami. Membuat musuh memilih mundur teratur daripada berhadapan dengan sepasang singa tidur itu.
Untuk Tina sendiri, Chacha menjebloskan wanita paruh baya itu kedalam penjara. Chacha mungkin akan memaafkan jika hanya meneror keluarganya dan mengganggu keharmonisan rumah tangga orang tuanya. Namun Tina melakukan hal lebih gila dari itu, menjual darah dagingnya sendiri yaitu Audy. Mengingat itu membuat amarah Chacha seakan meluap, jika saja Levy tak mampu menenangkan dirinya bisa dipastikan jika Tina hanya tinggal nama saat ini.
"Kenapa cinta? " Levy memeluk Chacha dari belakang. Mendekap pinggang ramping sang istri.
"Gak Papa, Mas"
__ADS_1
"Kamu bohong sama siapa sih? " Levy membalik tubuh Chacha untuk berhadapan dengannya. "Aku udah jadi suami kamu, sekecil apapun perubahan kamu aku pasti tau. Seperti sekarang, coba jujur apa yang ganggu pikiran kamu. Jangan tutupi apapun, Sayang" Levy mengelus lembut pipi Chacha.
Chacha tak banyak bicara, dirinya langsung menghambur ke dalam pelukan hangat milik Levy. Pelukan yang dirinya sukai sejak kecil, Karena bagaimanapun dia tumbuh dan berkembang bersama Levy. Tak heran jika Levy adalah cinta pertama baginya, bukan sang ayah yang lebih dulu menorehkan luka padanya.
"Beban aku makin berat kedepannya, Mas. pegang tiga perusahaan besar itu gak gampang. Aku cuma takut anak-anak gak keurus karena pekerjaan. Belum lagi kamu juga pegang dua perusahaan" Chacha tampak mengeluarkan apa yang mengganjal dihatinya.
"Mas hanya menjalankan perusahaan sampai Leon bisa memimpinnya, Sayang. Kalau kamu ngerasa berat, bisa kamu berikan tugas itu sama yang lain. Tanpa kamu bekerja pun, Mas masih sanggup biayai kehidupan kita sekalipun kamu minta dimandikan dengan kemewahan"
"Mereka gak bakalan mau Mas"
"Atau gini aja. QI kamu bisa percayain sama Elang, dia kan selama ini yang pegang perusahaan sama Kak Shaldon. Effendy bisa kasih kepercayaan sama Bang Nial, aku yakin Bang Nial pasti ngerti kemauan kamu. Izhaka kamu boleh pegang sendiri atau mau dikasih ke yang lain terserah kamu. Tapi dengan satu catatan itu semua milik kamu, yang lain cuma kerja sama kamu "
"Kita bicarain nanti lagi ya. Acaranya udah mau mulai, kita cari anak-anak dulu. Yuk semangat, jangan gini dong sayang"
Satu bulan terakhir ini Chacha memang sering terlihat kelelahan berlebihan. Bahkan wajahnya selalu pucat, namun Levy tidak berani bertanya. Dia lebih memilih untuk menjaga kondisi Chacha agar tidak drop saja. Apalagi ditambah Chacha sering berinteraksi dengan si kembar yang mulai aktif karena berumur 3 tahun.
Jangankan Chacha yang akan kelelahan, bahkan ketiga pengasuh mereka sering kewalahan jika si kembar sudah mulai berulah. Hanya dua bayi saja yang sering berbuat ulah, siapa lagi jika bukan Athaya dan Aleta. Akmal adalah kulkas 10 pintu yang sebenarnya.
__ADS_1
Apalagi jika Atha dan Aleta sudah bertengkar, jika Chacha tidak turun tangan untuk melerai maka mereka bisa bertengkar seharian penuh. Namun terlepas dari kenakalan dan keusilan keduanya, Chacha tetap bersyukur karena ketiga malaikat nya adalah moodbooster terbaik untuknya. Semelelahkan apapun kegiatannya diluar sana, saat pulang disambut dengan keceriaan si kembar. Maka rasa lelah yang Chacha rasakan sebelumnya entah akan menguap kemana.
"Mama" teriak dua bocah laki-laki memasuki kamar mereka.
"Papa" suara cempreng si montok tampak mendominasi kali ini. Papanya hanya miliknya, karena Aleta memang sangat dekat dengan sang papa. Namun, jika tidak ada dua saudara kembarnya maka Aleta akan menempel pada Chacha.
"Mama" Aleta memiringkan kepalanya dengan mata berkedip lucu.
"Apa sayang" Chacha mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Aleta.
"Mama cakit? " Tanya Aleta dengan cadel yang khas.
Chacha tersenyum dibuatnya, Aleta memang memiliki perasaan yang paling peka daripada kedua saudaranya. Apalagi jika menyangkut soal sang mama, maka Aleta akan dengan mudah menemukan ketidak beresan yang terjadi.
"Enggak sayang, Mama hanya kecapekan" Chacha mengulas senyum di wajahnya. "Ayo berangkat, oma dan opa sudah pasti menunggu disana" ajak Chacha yang diangguki oleh ketiga buah hatinya.
"Kenapa? " Tanya Levy saat melihat Aleta menunduk tak menggerakkan badannya, padahal kedua saudara nya sudah berlari keluar kamar.
__ADS_1
"Pangku Papa boyeh? " Aleta mendongak dengan wajah menggemaskan. Aleta memang lebih tertarik dengan otomotif daripada dengan boneka atau alat make-up lainnya. Dia lebih senang bermain kotor, bahkan sering kali dirinya bermain dengan para bawahan Chacha jika sedang membenarkan mobil milik Chacha yang bermasalah.
"Boleh, apa yang nggak buat princess Papa ini" Levy langsung menggendong tubuh gempal putrinya itu, membuat Aleta memekik kegirangan.