
Chacha terdiam masih memangku laptop kesayangannya. Duduk sendiri tanpa melakukan apapun. Bilang saja dia melamun, itu pikir orang-orang. Realitanya Chacha sedang bergelut dengan pikirannya tentang Levy. Apa dirinya melakukan kesalahan? Kenapa Levy berubah? Sebesar apa salahnya? Apa hanya karena rumor lima tahun lalu? Jika benar karena rumor itu, Chacha bukan tak ingin mengklarifikasinya tapi dia sedang menunggu momen yang tepat. Membuat si pelaku tak berkutik dan membeberkan alasan memfitnahnya.
"Gue kira berita itu akan tenggelam dengan sendirinya, sekarang malah semakin menjadi" Chacha menghela napas kasar.
"Diamnya gue malah dibuat kesempatan"
"Mau lo apa sih"
"Haish, malah jadi kayak orang gila gue ngomong sendiri"
Chacha menatap ke arah laptopnya, ada yang harus ia mulai lagi saat masalah sebelumnya sudah akan diakhiri. Mencari bukti atas fitnah lima tahun lalu kah? Ah, dia bahkan mendapatkannya malam itu juga. Lalu apa lagi? Mau dibongkar sekarang, nanti tak kan seru.
"Gabut ya Tuhan" Chacha mengacak rambutnya frustasi. Dirinya benar-benar sendiri kali ini. Tanpa keluarga dan sahabat. Jangan tanya kemana para sahabatnya yang biasanya selalu stay didekatnya. Chacha menyuruh mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, sekedar berkumpul dengan keluarga mereka. Keluarga? ?Masih adakah? Tentu ada, kakek yang berada di luar negeri baik pihak ayah maupun bundanya. Abang, juga sedang di luar negeri karena sibuk akan memindahkan perusahaan pusat ke negara ini, itu atas permintaan adik tercintanya. Siapa lagi kalau bukan Chacha.
"Ngapain ya enaknya? " tanya nya pada diri sendiri.
"Club aja kali, lama gak ke sana. Ya iya lah lama, kan lu gak disini selama lima tahun. Oh ya Tuhan, oon ku natural" Chacha tergelak dengan ucapannya sendiri.
Lantas ia bersiap, merapikan kamarnya sebantar lalu turun. Seperti biasa mansion ini akan sepi, para pelayan mungkin sudah tidur atau sedang bercengkrama di belakang. Hah, miris sekali.
Chacha masuk ke garasi, melihat semua koleksi kendaraannya. "Lama-lama ini garasi udah kayak showroom deh" Chacha terkekeh melihat garasinya penuh dengan mobil sport koleksinya.
"Naik motor aja deh, kasian Si Redish lama gak jalan-jalan" Chacha menuju motor sport berwarna merah yang terparkir angkuh itu.
Tak lama kemudian Chacha sudah membelah jalanan ibu kota dengan Redish sebagai teman malam ini. Chacha berkendara dengan santai karena jam masih menunjuk angka delapan. Paling tidak club nya akan ramai saat pukul sebelas ke atas.
Chacha langsung masuk ke parkir pribadi miliknya, lima tahun dia tinggalkan tempat itu. Rasanya aneh, padahal selama lima tahun dirinya juga sering bolak balik masuk club hanya demi tujuannya.
"Malam Queen" sapa seseorang yang memang bawahannya.
"Hmm, saya titip Redish" menyerahkan kunci motornya pada orang tersebut.
"Redish? " wajah bawahannya cengo mendengar perkataannya. Chacha menunjuk ke arah motor miliknya membuat bawahannya terkejut. Yang ada dipikirannya adalah Redish seorang manusia ternyata oh ternyata sebuah motor sport.
Chacha langsung masuk ke ruangannya. Melihat keseluruhan, tak ada yang berubah. Chacha mengangguk puas. Memeriksa setiap laporan yang ada di meja tersebut. Karena bawahan yang mengurus club tersebut akan meletakkan di meja itu.
"Cukup berkembang pesat dan hasilnya cukup buat ATM gue kembung" Chacha manggut-manggut membaca laporan ditangannya.
Setelah selesai Chacha melirik jam diatas mejanya. Ternyata sudah pukul sebelas. Dirinya keluar dari ruangan itu berjalan menuju tempat dimana orang-orang berkumpul. Chacha langsung menuju meja bartender.
"Hai Queen"
"Ya Kak"
__ADS_1
"Kapan sampai? "
"Beberapa hari yang lalu"
"Kau sendiri? " Chacha hanya mengangguk.
"Keempat sahabatmu juga jarang main kesini setelah kepergian mu"
"Mana ada gadis baik-baik mainnya di club" Chacha mendelik mendengar perkataan bartender tersebut.
"Jadi? "
"Mereka penasaran, jadi Chacha temani kesini. Sengaja dibawa kesini biar ada yang ngawasi" bartender tersebut mengangguk puas atas jawaban yang diberikan Chacha.
Chacha melihat lautan manusia di depannya yang sedang melenggak lenggokkan tubuhnya mengikuti irama musik. Hingga netranya menemukan sesuatu yang langka membuat senyumnya mengembang sempurna. Bukan manis seperti biasanya, tapi mengerikan.
"Kak"
"Ya? "
"Dia pelanggan atau baru? " tanya Chacha menunjuk salah satu wanita di sana.
"Dia sering ke sini. Biasanya juga bareng pasangannya"
"Emmm, pengusaha katanya"
Chacha merogoh ponselnya dan mencari sesuatu. "Ini pasangannya? " Chacha menunjukkan sebuah foto.
"Bukan. Ini mah kelewat ganteng, kekasih dia biasa aja"
"Tau darimana itu kekasihnya? "
"Penghuni club ini hampir semuanya tau, siapa kekasihnya itu. Bisa dibilang sugar daddynya wanita itu" Chacha membulatkan matanya tak percaya.
"Jangan bohong"
"Ya ampun ngapain bohong, gak guna juga. Dia sering keluar masuk di ruang VIP jadi gak heran kalo banyak yang kenal dia"
"Kakak gak buat club ini jadi tempat buat orang ngeja**ng kan? "
"Kagak. Mungkin mereka kenalan disini dan berlanjut di hotel. AS you wish, baby tempat ini hanya tempat hiburan"
"Good"
__ADS_1
Chacha kembali menatap ke tempat wanita tadi. "Itu yang kakak maksud sugar daddynya? "
"Bukan. Udah lama gak kesini mungkin lagi ada urusan"
"Terus itu" Chacha menunjuk wanita itu sedang berjoget cukup intim dengan seorang laki-laki
"Biasa selingan. Tunggu dulu kita udah kayak ngegosip ini. Queen kenal dia? "
"Hanya sebatas tau, tapi tak kenal dekat"
"Kau yakin? "
"Seratus persen yakin"
Chacha lalu mengarahkan ponselnya pada wanita itu. Diam-diam merekamnya setelah dirasa cukup, ia menghentikan aksinya. Lalu mengirimkan pada para sahabatnya kecuali para jantan.
"Wah gila, gue kira polos"
"Ya ampun tampang doang manis"
"Jijik gue"
"Levy oon banget milih tuh anak"
"Dia publik figur kayak gue, apapun bisa dilakukan untuk membalik keadaan"
"So hot gengs"
"Viralin kuy"
"Jangan, gak asik kalo kebongkar sekarang tunggu aja dulu"
"Maksud lo apa, Fan?"
"Nanti kalian tau. Biar Chacha yang selesai kan"
"Ya ya kita kan hanya penikmat cerita"
"Wkwkwk"
"Gila depan belakang cowoknya pula. Fix murah ini mah"
Chacha hanya tersenyum tipis melihat respon sahabatnya. Tanpa ia beritahu sahabatnya sudah enggan mengungkapkan kebenarannya. Cha meletakkan Ponselnya ke dalam saku hoodie nya lagi dan berjalan ke tengah-tengah lautan manusia. Tak lupa pula beberapa orang anak buahnya yang sedang mengikuti pergerakannya. Mereka tak ingin sesuatu terjadi pada nonanya itu. Chacha terdiam dalam jarak cukup dekat dengan wanita yang hendak ia hampiri. Memberi kode pada anak buahnya agar menggantikan pria yang ada didepan dan belakangnya itu. Tak menunggu cukup lama. Para pria tadi sudah tergantikan dengan bawahannya, Chacha hanya mengulum senyumnya. Dia melanjutkan langkahnya dan menepuk pundak gadis itu. Membuatnya menoleh dan langsung membulatkan matanya saat itu juga, melihat Chacha yang tersenyum jahil padanya.
__ADS_1
"Halo Angel"