Call Me Queen

Call Me Queen
kondisi Queen 2


__ADS_3

King dan Levy keluar dari ruang operasi Chacha langsung dikagetkan dengan keadaan diluar. Dimana Bu Ratu dan lainnya duduk dilantai seperti orang terpuruk.


"Kalian kenapa?" tanya Levy dengan bingung.


"Levy" seru Karin.


"Gimana keadaan princess nak Levy?" tanya Bu Ratu.


"Alhamdulillah princess berhasil lewati masa kritisnya" jawab Levy tenang.


Semuanya bernapas lega mendengar penuturan Levy. Mereka bersyukur Chacha mampu bertahan sampai akhir.


King menepuk pundak Levy hingga membuat sang empu menoleh.


"Abang keruangan dulu, kamu istirahat lah atau pulanglah ini sudah malam" ucap King.


"Levy disini sampai Chacha dipindahkan ke ruang rawat bang"


"Hubungi oma mu agar tak khawatir" ucap King.


Levy mengangguk langsung menyingkir dari kerumunan tersebut untuk menghubungi omanya.


King hanya melihat kearah Bu Ratu dan Ayah Gun lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu kata apapun.


Ayah Gun dibuat heran sekaligus aneh sejak tadi melihat tingkah laku King terhadap bungsunya. Karena setau dirinya King hanya sebatas rekan kerja yang Chacha tinggalkan dulu.


Bu Ratu menatap kepergian King tanpa ekspresi, dirinya merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya setiap kali melihat King.


Setelah kepergian King, Rey datang dengan tergesa-gesa.


"Gimana keadaan Queen?" tanyanya langsung masih dengan nafas yang terengah-engah.


"Princess sudah melewati masa kritisnya, Rey" jawab Bu Ratu.


"Itu anak yang ayah usir dari rumah" ucap Rey tanpa melihat lawan bicaranya.


Ayah Gun hanya menunduk mendengar sindiran Rey. Dirinya merasa bersalah pada Chacha.


"Dimana putri kesayangan ayah? Adiknya terbaring di rumah sakit loh" sindirnya lagi.


"Sudahlah Rey yang penting sekarang adikmu sudah melewati masa kritisnya" lerai Bu Ratu.


"Bang Rey" sapa Levy yang baru kembali setelah selesai menghubungi oma nya.


"Lev"


"Gimana?"


"Beres. Tinggal tugas King" jawabnya santai.


Levy hanya mengangguk tanda paham apa yang dikatakan oleh Rey.

__ADS_1


Tak selang berapa lama pintu ruang operasi Chacha terbuka. beberapa dokter keluar terlebih dahulu lalu diikuti oleh tubuh Chacha yang terbaring di brankar.


Tubuh Chacha langsung dipindahkan ke ruang rawat miliknya. Lantai teratas, lantai yang sama dengan milik Bu Ratu hanya saja miliknya lebih spesial.


Mereka memasuki ruangan bertuliskan princess Izhaka room. Setelah memasuki ruangan tersebut mereka dibuat takjub dengan keadaan ruangan tersebut. Ruangan yang begitu besar dengan nuansa putih dan pink nampak begitu imut. Dekorasi yang begitu unik tak akan ada yang menyangka jika itu adalah ruang perawatan bukanlah kamar pribadi.


"Nona muda masih dalam pengaruh obat. Ketika sadar nanti tolong beritahu kami" ucap salah satu dokter yang ikut masuk kedalam ruangan Chacha.


"Baik dok" jawab Bu Ratu.


Dokter dan para perawat meninggalkan ruangan mewah tersebut. Meninggalkan mereka dengan pemikirannya masing-masing.


"Kalian pulanglah. Orang tua kalian pasti cemas" seru Rey pada keempat sahabat Chacha.


"Kami sudah ijin bang untuk tetap disini"


"Istirahat lah kalian juga pasti lelah dengan apa yang terjadi bukan" tambah Rey.


mereka hanya mengangguk dan mulai merebahkan tubuh dimana saja. Karena memang separuh ruangan Chacha diberi karpet bulu yang tebal, jadi mereka dapat merebahkan diri dimana saja.


"Bunda sebaiknya istirahat juga. Kondisi bunda belum benar-benar pulih" ucap Rey lembut pada Bu Ratu.


Bu Ratu hanya tersenyum sambil mengangguk pada Rey sebagai jawaban. Lalu dirinya merebahkan tubuhnya di sofa tempatnya duduk. Rey menghampirinya dan menari bagian sofa tersebut dan merubahnya menjadi sebuah kasur yang nyaman.


"Gila. Berita Chacha langsung trending" seru Karin.


"Gimana gak langsung trending ada wartawan di acara itu" jawab Zeze.


Tak lama kemudian ponsel Ayah Gun berdering membuat dirinya menegang dengan ekspresi kaku.


"Mama menelfon" jawabnya lirih.


"Angkatlah"


Ayah Gun sedikit menjauh untuk mengangkat telepon dari sang mama karena dirinya yakin, ia akan menerima amarah mamanya kali ini.


Rey hanya tersenyum melihat ekspresi Ayah Gun yang tak baik.


"Ikut atau disini?" tanya Rey pada Levy.


"Ikut dong" jawabnya lalu berdiri.


Mereka berdua meninggalkan ruangan Chacha menyisakan tanda tanya besar dibenak lainnya. Sejak kapan King, Levy, dan Rey begitu akrab?


Tak selang berapa lama Ayah Gun kembali bergabung dengan lainnya dengan wajah lebih murung dari sebelum menerima telepon.


"Gimana yah?" tanya Bu Ratu.


"Mama akan ke sini malam ini juga" jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di senderan sofa.


"Istirahatlah" ucap Bu Ratu seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


Ayah Gun hanya menoleh, menatap sang istri dengan tatapan rumit. Istrinya baru saja bersikap lembut. Akankah kali ini bersikap dingin lagi?


Di ruangan lain tiga pria tak lain adalah King, Levy, dan Rey sedang mendiskusikan masalah princess mereka.


"Kita harus menutup berita ini secepatnya" ucap King di keheningan.


"Hubungi anggota Death Rose untuk menghapus semua berita dengan kecepatan tertinggi saat ini"


Rey mengangguk dan mulai menekan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kenapa bukan Black Rose?" tanya Levy.


"Kemampuan hacker Black Rose masih kalah dengan Death Rose. Death Rose memiliki satu hacker berbahaya lagi selain princess" jelas King.


"Kenapa berita ini harus dihapus bang?" tanya Levy lagi masih tak puas dengan pertanyaan dibenaknya.


"Jangan sampai kakek Izhaka tau. Kau juga akan menerima konsekuensinya pangeran kecil" seketika tubuh Levy menegang mendengar nama kakek Izhaka dan konsekuensinya. Dirinya masih ingat bagaimana kakek Izhaka menghukum dirinya dan King ketika mereka lalai menjaga Chacha dulu.


"Baiklah aku mengerti"


"Sudah. Wakil Death Rose meminta tawanan kita" jawab Rey seakan mengerti dengan tatapan King dan Levy yang mengarah padanya ketika dirinya selesai menelfon.


King hanya menampilkan smirk. Dia tak habis pikir apa jadinya jika tawanan tersebut sampai di markas Death Rose. King cukup tau bagaimana kekejaman adiknya dalam memimpin sebuah mafia bahkan bawahannya pun tak juga segan-segan pada musuhnya.


"Berikan saja" jawabnya santai.


"Kau sudah tak minat kah dengan tawanan itu?" tanya Rey bingung. Pasalnya yang dia tau King tak akan melepaskan siapapun yang berani menyentuh Chacha dengan niat tak baik.


"Aku yakin anggota Death Rose akan membalas luka yang princess terima dengan bunganya" jawabnya sambil tersenyum.


"Jangan lupa kirim juga hasil pemeriksaan princess pada mereka biar mereka bisa menentukan berapa bunga yang harus dia bayar" tambahnya lagi.


Rey hanya mengangguk dan menggelengkan kepala melihat kelakuan King yang tak jauh beda dengan adiknya.


"Levy keruangan princess dulu bang" pamitnya langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua tanpa menunggu jawaban dari keduanya.


"Ada apa dengan anak itu" tanya Rey entah pada siapa.


"Dia sudah memilih jalannya" jawab King.


"Jalan apa maksudmu?"


"Untuk tetap menjadi tameng princess di masa depan. Dia mengambil jalan itu sekarang, mempersiapkan diri untuk mengambil alih kekuasaan orang tuanya. 5 tahun kedepan dia harus mampu sejajar dengan princess"


"Itu janjinya pada kakek dulu. Jalan yang dia lewati akan cukup susah kedepannya"


"Maksudmu?"


"Blood Rose harus ada dibawah kendalinya atau dia akan gagal. Itu syarat dari kakek"


"Terlalu berbahaya"

__ADS_1


"Aku tau. Tapi pelatihan kita sama, aku yakin dia mampu menaklukkan Blood Rose sebelum princess bertindak"


Rey hanya mengangguk menanggapi pernyataan King, dirinya tak menyangka jika Levy siap mengorbankan masa remajanya untuk mengejar hal yang bahkan para remaja sulit lakukan.


__ADS_2