Call Me Queen

Call Me Queen
Dedek Kangen Papa?


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam kamar Chacha langsung mengirim semua bukti tentang Tiara ke ponsel Tony. Dia hanya menggertak Tiara tadi, bagaimanapun Tony adalah keluarga suaminya. Jika dia benar-benar membuat usaha Tony gulung tikar, apa respon keluarga besar suaminya nanti.


Cukup lama Chacha di dalam kamar, dia sedang menunggu suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Hingga penantiannya berbuah manis, selang berapa lama Levy masuk ke dalam kamar. Masih setia dengan wajah datar dan dinginnya.


"Mas" Chacha menyapa dengan penuh antusias.


"Istirahat di kasur, besok kita pulang subuh. Aku masih harus berangkat ke luar kota besok" Chacha hanya mengangguk patuh, Levy masih menyimpan kekesalan padanya.


Chacha memperhatikan setiap gerak gerik Levy, namun dia mengernyit saat Levy memilih merebahkan tubuhnya di sofa bukan di kasur.


"Mas, kenapa malah tidur di sofa" Chacha menghampiri Levy, namun juga belum sampai langkahnya sudah terhenti.


"Tidurlah, aku akan tidur di sofa malam ini" Chacha terpaku ditempatnya.


Kesalahan apa yang dirinya buat hingga berakibat fatal. Seingatnya Levy hanya marah karena dirinya sibuk dengan ponsel saat di mobil tadi.


Chacha memilih diam dan enggan bersuara, dia menatap lekat suaminya yang memejamkan matanya di sofa.


Jika ada masalah harusnya kamu cerita, Mas. Bukan melampiaskan kekesalan mu pada ku. Batinnya.


Chacha merebahkan tubuhnya meskipun sulit untuk terpejam dirinya tetap berusaha. Hingga saat merasa baru terlelap dia merasa sedikit goncangan di tubuhnya. Rupanya Levy membangunkan dirinya.


"Bersiaplah, kita akan kembali sekarang. Aku harus berangkat jam 6 nanti ke luar kota" Chacha hanya mengangguk patuh. Bibirnya terkunci rapat untuk tidak berbicara.


Chacha masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar terlihat lebih segar, meskipun dia masih merasa kantuk menguasai dirinya. Setelah selesai bersiap Levy langsung mendahului Chacha untuk keluar dari rumah itu. Chacha hanya bisa diam dan mengikuti langkah suaminya.


Sampai di dalam mobil pun mereka berdua masih asik dengan kebungkaman mereka. Chacha masih berpikir apa salah dirinya, meskipun dia bekerja tapi tak sekalipun dia mengabaikan Levy. Bahkan dirinya hanya mengecek beberapa laporan dan tanda tangan saja.

__ADS_1


Hingga mobil yang ditumpanginya berhenti didepan rumahnya. Levy tampak turun begitu saja tanpa bicara. Chacha juga tak mempermasalahkan, mungkin Levy sedang terburu-buru.


Baru juga Chacha sampai di kamarnya dirinya sudah melihat Levy yang siap berangkat.


"Tak usah menyusul. Aku akan selesaikan ini dengan cepat, pergilah ke rumah mama selama aku pergi" Levy berlalu begitu saja tanpa berpamitan.


Chacha menatap kepergian Levy dengan datar. Tak berniat menyusul, dirinya lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Chacha termenung sambil mengusap perutnya. Rumah tangganya kembali mendapat ujian. Entah ujian macam ini, Chacha tak merasa bersalah karena memang tak salah, namun sikap Levy menunjukkan bahwa dirinya bersalah.


"Sabar ya nak, papa lagi buru-buru jadi lupa pamitan. Nanti kalau sudah balik kita getok papa bareng-bareng" Chacha cekikikan sendiri mendengar suaranya.


"Mama pasti masih di rumah opa, panggil Mbak Ida aja kali ya biar gak sepi? "


Chacha langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi kepala pelayan di mansion Izhaka. Setelah mengatakan tujuannya dia langsung mematikan sambungannya.


"Sekarang kita makan, mau ya nak meskipun gak ada papa" Chacha kembali mengusap perutnya.


Chacha turun dari kamarnya langsung membuka kulkas. Mengambil sekotak sedang salah buah yang ada, dirinya sedang malas memasak. Chacha duduk di meja makan seorang diri. Mulai menyuapkan potongan buah segar itu ke dalam mulutnya. Namun, belum juga sampai di tenggorokan Chacha sudah memuntahkannya. Perutnya serasa diaduk-aduk.


"Nanti kita video call papa ya, tapi janji biarin mama makan ya nak. Kalo nggak nanti kalian gak dapat nutrisi sayang" Chacha mengelus perutnya.


Menatap kembali sekotak salad yang menggiurkan, namun apa daya dia tak bisa memakan apapun tanpa suaminya. Hormon kehamilan macam apa ini.


Tak lama berselang Mbak Ida datang sesuai permintaan Chacha.


"Ada yang bisa Mbak bantu, nona kecil? " tanya Mbak Ida setelah mereka duduk di ruang tamu. Memang Mbak Ida cukup dekat dengan Chacha, karena seringnya Chacha bolak balik ke Mansion Izhaka.


"Gak ada sih, Mas Levy lagi keluar kota, aku sendirian"

__ADS_1


Andai Audy gak liburan, pasti gak sepi gini. Batinnya.


"Mau makan apa, Mbak masakin? "


"Percuma Mbak, kalau gak ada Mas Levy se pengen apapun aku makan, tetep gak bakalan masuk" jawabnya sendu.


"Berarti baby nya manja sama papanya ya? " Chacha hanya mengangguk. "Tapi harus tetep makan, mereka butuh nutrisi"


"Buatkan susu aja Mbak, cari di lemari atas. Aku mau rasa coklat"


"Ditunggu ya" Chacha mengangguk patuh.


Tak lama Mbak Ida kembali dengan segelas susu ibu hamil rasabcoklat di atas nampan. Lengkap dengan roti kesukaan sang nona mudanya. Chacha hanya menatap sendu itu semua. Bisakah dirinya menelan itu semua? Ingin rasanya menghubungi Levy saat ini, tapi dia sadar Levy masih di perjalanan.


"Ayo di minum, gak papa meskipun masuk sedikit yang penting ada isinya" Chacha hanya mengangguk, dia mengambil dan mengigit pelan rotinya. Saat dikunyah perutnya mulai bergejolak lagi, dia hanya menahannya dengan menutup matanya. Setelah berhasil ditelan Chacha langsung menyambar susu nya dan meminumnya. Baru setengah gelas dia sudah berlari ke arah wastafel dapur untuk memuntahkan semuanya.


"Duh, non kok gini sih. Ini muka kenapa pucat banget, dari kapan non gak makan? "


Chacha ingat dari semalam dirinya belum makan karena di rumah opa sedang kacau gara-gara Tiara, tak hanya dirinya bahkan semua orang melewatkan makan malam semalam.


"Aku mau ke kamar aja, Mbak. Tolong beresin rumah aku ya. Kalau sudah Mbak istirahat aja di kamar tamu" Mbak Ida hanya mengangguk dan memapah Chacha yang mulai lemas ke kamarnya.


"Besok-besok kamarnya pindah ke bawah aja, non. Semakin hari kehamilan non semakin membesar, Mbak khawatir hal yang tak terduga terjadi. Karena kita tak pernah bisa melihat apa yang akan terjadi kedepannya"


"Kami sedang membangun istana kami, Mbak. Sedikit lagi selesai. Kado buat si kembar"


Setelah sampai di kamar Chacha langsung merebahkan dirinya. Chacha melihat Mbak Ida merawatnya begitu tulus. Memang Mbak Ida yang merawatnya ketika dia berada di luar negeri, Mbak Ida ikut menjadi pelayan kakeknya, Tuan Ibra. Bisa dibilang Mbak Ida anak angkat tak resmi mereka. Sikap jujur dan tanggung jawab Mbak Ida membuat neneknya menyukai gadis polos ini dulunya. Hingga akhirnya dia menikah dan memiliki seorang anak, namun dirinya masih setia mengabdi pada keluarga besar Izhaka. Itu mengapa Mbak Ida dibuatkan paviliun khusus untuk dirinya dan keluarga kecilnya di halaman belakang Mansion Izhaka.

__ADS_1


"Dedek kangen papa ya, baru juga di tinggal beberapa jam nak" lirih Chacha mengelus perut nya. Tak sadar air matanya menetes karena merindukan suaminya.


__ADS_2