
"Keluarlah"
Begitu ucapan Chacha selesai, tampak pasukan musuh memecah menjadi empat lorong. Dari setiap lorong berjalan satu orang yang merupakan pemimpin lima organisasi besar.
Mereka datang dengan senyum miring nya. Sedangkan Chacha hanya dalam mode datar dan tatapan tajamnya.
"Jadi ini anak dari wanita yang begitu digilai oleh Bastian" Ucap salah satunya.
"Dia cantik, ah tidak sangat cantik"
"Dengar-dengar dia masih gadis"
Gadis pala lu peang, buntut gue udah tiga di rumah kampret. Batin Chacha sinis.
"Hahahaha, aku yakin jika Bastian melihat putrinya bersama kita dia akan mengamuk"
"Hahahaha"
Di kediaman mewah Chacha Bastian mengepalkan tangannya erat. Matanya memerah menahan amarah.
"Shut up your fu*king mouth" Ucap Chacha dingin.
"Hahahaha, rupanya dia ganas juga"
Mereka hanya berempat, kemungkinan salah satu dari mereka ada di luar atau sedang menuju ke rumah. Batin Chacha menganalisis.
"Langsung pada intinya, buka tempat harta karun itu atau kau mati ditangan kita, gadis"
"Bukankah seru jika aku mati? "
"No" Teriak si kembar.
"Kau yakin bisa mati? Atau nasib mu akan sama seperti nenek mu? "
"Apa kalian lupa, jika aku juga yang membebaskan nenek ku dari jeratan kalian? "
"Itu karena kau di bantu Bastian sialan itu"
"Ya babah ku memang sialan, tapi lebih sialan kalian lagi yang menyiksa nenek ku"
"Dia memang pantas mendapatkan nya, dan kau selanjutnya"
"Apa dengan berkata seperti itu, kalian kira aku takut? Aku bukan kalian yang menjadi pecundang mengirimkan tangan kanan kalian untuk merebut lencana tertinggi"
__ADS_1
"Jangan bergerak" Perintah Chacha dengan tegas saat anak buah musuh mulai bergerak. Entah mengapa mereka secara spontan berhenti ketika mendengar suara tegas Chacha.
"Aku memiliki penawaran untuk kalian berempat. Harusnya berlima, kalian berbuat curang di belakang ku. Jangan lupakan jika aku adalah wanita licik, tuan tuan"
"Menyentuh keluarga ku, sama saja dengan meminta tiket neraka padaku"
"Kita akan bertarung berempat hingga titik darah penghabisan di sini, anak buah kita hanya akan menonton. Tidak boleh ada yang mengangkat senjata apapun yang terjadi"
Mereka berempat nampak diam, memikirkan ide yang Chacha cetuskan. Chacha hanya tidak ingin menelan banyak korban. Sebagian dari mereka memiliki keluarga, Chacha masih memikirkan bagaimana jika salah satu dari mereka memiliki anak yang masih kecil lalu tanpa sengaja dia meregang nyawa di sini.
"Deal" Jawab mereka serempak.
"Good. Satu hal yang perlu kalian ketahui, sniper kalian sudah tunduk dibawah kendali ku" Ucap Chacha dengan nada santainya.
Mereka berempat kompak melotot kan matanya bagaimana mungkin sniper mereka ditundukkan dengan begitu cepat. Rupanya mereka terlalu meremehkan wanita mungil di depannya ini.
Tanpa basa basi salah satu dari mereka melesat cepat ke arah Chacha, dengan sigap Chiara, Pandu dan si kembar mundur. Memberikan panggung pada sang pemilik acara kali ini.
Tampak yang terlihat ketiganya menaikkan sebelah alisnya melihat kecepatan Chacha dalam menahan setiap serangan yang musuh layangkan. Mereka takjub dengan kekuatan yang dimiliki Chacha. Ketika wanita seusianya menghabiskan waktu dengan berbelanja dan menghabiskan uang orang tuanya, berbeda dengan Chacha yang lebih sibuk menempa fisiknya agar semakin kuat.
Penyerang yang sedang bertarung dengan Chacha saat ini adalah ahli dalam pertarungan jarak dekat, jadi tidak heran jika setiap serangannya begitu cepat dan akurat. Sebagai penyerang jarak dekat, mereka harus segera mungkin menjatuhkan lawan agar memudahkan jalannya untuk masuk menuju kemenangan.
Bugh...
"Dia terlihat anggun ketika diam, namun ketika bergerak layaknya malaikat kematian"
"Jika bukan karena dendam ini menahun, aku lebih baik tidak menyinggung anak ini"
"Dia wanita, tidak mungkin kuat bertarung lebih dari satu jam. Kita jangan memberikan jeda dalam pertarungan kali ini, selain agar ini cepat selesai, kita juga harus menundukkan dia secepat mungkin"
"Itu benar, ayo semangat. Harta karun kita di depan mata"
Brugh..
"Akh"
Tepat di menit ke dua puluh lima, Chacha membanting keras tubuh musuhnya. Bahkan tidak memberi jeda bernafas, dia kembali mengangkat musuhnya dan melemparkan ke arah anak buahnya.
Tepat setelah melempar salah satu musuhnya, Chacha langsung di serang lagi setelah berbalik. Bukannya kaget Chacha malah menampilkan senyum miring andalannya. Musuhnya tertegun sejenak, dengan usilnya Chacha malah menepuk pelan dahi sang musuh.
"Fokus anda kemana? " Tanpa perasaan Chacha langsung membanting musuhnya sembarangan, tidak seperti sebelumnya yang sudah dirinya buat sedikit nyaman sedangkan yang ini malah dirinya jatuhkan begitu saja.
Krak...
__ADS_1
"Akh"
Terdengar suara patah tulang dan teriakan yang membuat Chacha memejamkan mata, menikmati suara yang selama ini tertawa atas penderitaan sang nenek. Kini Chacha harus membuat mereka tunduk di bawahnya dengan di saksikan kakek dan neneknya.
Chacha memegang salah satu tangan sang musuh dan menarik dengan sekuat tenaga. Melemparnya persis seperti melempar rekannya yang pertama.
"Kalian maju sekaligus"
Tanpa banyak bicara keduanya maju dan menyerang Chacha dengan membabi buta. Chacha masih nampak menahan dan terkadang melawan. Sikap tenang yang dimiliki Chacha patut diacungi jempol. Mereka berdua bahkan kewalahan saat menghadapi Chacha yang hanya seorang diri.
Hingga salah satu dari mereka berhasil mengunci Chacha dengan menyatukan kedua tangan Chacha dibelakang tubuhnya.
"Kamu terlalu sombong gadis, menyuruh kita maju sekaligus sama dengan menjemput kekalahan mu sendiri"
"Siapa pemenang diantara kita belum diketahui bukan? Aku masih berdiri disini. Hanya saja teman mu ini rupanya ingin berdekatan dengan ku" Chacha mengedipkan sebelah matanya.
Chiara dan Pandu menahan nafasnya saat melihat Chacha dalam mode centilnya. Ini adalah bahaya sesungguhnya, jika sampai mata biru miliknya menggelap, maka tugas selanjutnya adalah melarikan diri. Karena informasi yang didapat adalah seluruh bom sudah tertanam sempurna, dan kode sudah dikirimkan pada Chacha.
Plak...
Chacha tertoleh ke samping saat tangan itu menyapa pipinya. Bukannya marah Chacha malah tersenyum mendapatkan tamparan itu.
"He is mine"
"Ohh" Chacha terkejut mendengar fakta ini.
Tidak hanya Chacha yang terkejut mendengar fakta ini, bahkan bawahan mereka berdua juga terkejut mengetahui pemimpin mereka berbelok. Chacha begitu pintar mengulik rahasia terdalam seseorang.
Plak...
"Bit*h" Umpat nya.
Brugh...
Brugh...
Chacha menendang musuh yang sudah melayangkan tangannya dua kali menyapa pipinya. Satu tendangan Chacha membuatnya langsung terjengkang ke belakang. Bahkan tanpa perasaan Chacha juga langsung membanting rekannya yang sedang mengunci dirinya.
"Jangan mengumpat ku dengan mulut sialan itu"
Chacha langsung menendang keduanya tanpa perasaan. Cukup selama ini dirinya diam ketika di rendahkan. Kini tidak lagi, dia tidak akan membuat namanya tercemar lagi. Ada perasaan anak-anaknya yang harus dia jaga.
Dorr...
__ADS_1