
"Mama dimana tuan putri ku? "
"Bas, kau disini? "
"Ya, sedang ada pekerjaan disini. Jadi kupikir mampir saja, aku merindukan gadis nakal ku itu, ma" laki-laki itu berjalan menghampiri Nyonya Besar Izhaka. Tanpa memperdulikan tatapan bingung anggota keluarga lainnya, tanpa memperdulikan Ayah Gun yang masih berlutut di depan orang yang ia panggil mama sejak tadi.
"Dia sedang di kamarnya mungkin sebentar lagi akan turun"
"Baiklah, boleh aku menunggunya disini? "
"Tentu"
Semua orang masih bingung dengan siapa dia, kenapa memanggil mama pada Nyonya Besar Izhaka. Apalagi dia terlihat begitu akrab, seperti sepasang ibu dan anak yang sedang melepas rindu.
"Kau tak menyapa ku? " Tuan Ibra bersuara.
"Ah, apa kabar om? "
"Om? " Tuan Ibra menaikkan sebelah alisnya.
"Ya? "
"Setelah memonopoli istriku untuk menjadi mama mu, sekarang kau memanggil ku dengan sebutan om, apa apaan ini" laki-laki yang tadi dipanggil Bas itu tersenyum hangat pada Tuan Ibra.
"Papa" langsung memeluk tubuh renta itu.
Percakapan dua orang itu membuat Ayah Gun dan Bu Ratu bangkit dari berlutut nya, guna melihat siapa yang datang disaat yang tidak tepat itu. Setelah melihatnya, Bu Ratu terbelalak kaget. Dia orang yang pernah menyatakan cinta padanya, namun sayang Bu Ratu dijodohkan dengan Ayah Gun dan harus bersembunyi. Jadi kisah cinta mereka tak berlanjut.
"Kak Bastian" lirih Bu Ratu.
"Ya? " Ayah Gun kaget saat Bu Ratu mengenal laki-laki itu.
Bastian, adalah salah satu penerus dari tujuh pemimpin mafia terkuat dalam kepemimpinan Nyonya Besar Izhaka. Karena alasan ini pula dia tak bisa melamar pujaan hatinya, karena orangtuanya, lebih tepatnya sang ayah sedang berseteru karena memperebutkan harta karun.
"Apa kabar mu, Ratu" tanyanya. Suaranya terdengar lembut.
"Aku baik" Bu Ratu hanya menjawab seadanya saja.
Bastian tak melanjutkan basa-basinya lagi, karena Bu Ratu sudah menikah, dan tak mungkin jika dia berramah tamah di depan suaminya. Dirinya tak ingin membuat retak suatu hubungan. Hingga suara langkah kaki memecah keheningan mereka.
Chacha yang menuruni anak tangga dengan menunduk, sibuk dengan ponselnya. Melihat Chacha yang turun dengan ekspresi dingin, hati Bu Ratu terasa dicubit. Dulu putri kecilnya ini sangat ceria, hangat, manja dan usil. Sekarang saat dewasa, jangankan bersikap manja dia tampak jauh sekali. Layaknya orang asing.
"My naughty girl" seru Bastian saat melihat Chacha turun memijaki setiap anak tangga.
__ADS_1
Chacha mendongakkan kepalanya saat mendengar sapaan yang begitu akrab di telinganya. Hingga netra birunya menatap pria gagah sedang berdiri menyambutnya dengan senyuman.
"Babah" Chacha berteriak dan berlari menuruni sisa anak tangga.
Mereka yang ada di ruangan itu kaget melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat. Bukannya tadi gadis itu berekspresi dingin, lalu kenapa sekarang bersikap manja.
Chacha berlari menuruni sisa anak tangga dan langsung menghambur ke pelukan Bastian. Memeluknya lama, tanpa suara.
"Ada apa? " tanya Bastian setelah mereka melepas pelukannya.
"Hah? " Chacha malah cengo dengan pertanyaan Bastian. "Maksud Babah? "
"Kamu habis nangis? "
"Tidak" jawabnya cepat.
"Siapa yang kau bohongi, hmm"
"Tadi gak sengaja kena sabun waktu mandi, Bah. Kan perih" Chacha berkilah di depan Bastian, membuat Bastian terkekeh pelan.
"My little queen, siapa yang akan kau bohongi. Babah mungkin belum begitu lama kenal dengan mu. Namun Babah tahu jika dirimu sedang tak baik-baik saja. Kamu tahu kenapa? "
"Kenapa? "
"Makasih"
"No, kamu tak boleh berterimakasih pada Babah"
"Kenapa? " Chacha bertanya dengan raut wajah bingung. Itu sangat menggemaskan dimata semua orang.
"Karena membahagiakan anaknya adalah tugas orang tua, sayang" Bastian mengelus kepala Chacha lembut.
"Iya kah? " Chacha melirik ke arah kedua orang tuanya yang sedang menatapnya.
"Ya. Meskipun kamu bukan darah daging Babah, tapi bukannya kamu juga mengetahui satu hal. Kalau Babah sangat menyayangimu"
"Aku tau aku tau. Jangan lakukan itu lagi di masa depan. Itu sama saja membunuhku secara perlahan Babah" Chacha menatap dengan tatapan memohon. Itu membuat Bastian terkekeh.
"Setiap orang tua akan melindungi anaknya apapun caranya, nak. Babah pernah bilang bukan, tak peduli kamu salah atau benar, Babah akan tetap menjadi tameng mu"
"Bagaimana jika aku membuat nama Babah malu? " pertanyaan Chacha secara tak langsung membuat Ayah Gun dan Bu Ratu tersentil.
"Itu berarti kesalahan babah yang kurang memperhatikan mu, karena karakter seorang anak adalah tanggung jawab orang tua dalam membentuknya. Jika kamu karakter kamu dibentuk dengan cara yang lembut, maka kamu akan jadi wanita lembut, begitupun sebaliknya"
__ADS_1
"Aku bukan wanita lembut, karena... "
"Babah tahu bagaimana perkembangan kamu dari kecil hingga menjadi gadis cantik seperti ini. Kita tak bisa menyalahkan takdir, nak"
"Aku tahu"
"Kamu tahu, kamu adalah akan dianggap wanita lembut saat bertemu seseorang yang tepat. Terlepas itu dari kenakalan dan barbarnya kamu" sekali lagi Chacha memeluk Bastian dengan hangat.
Awalnya Chacha juga tak habis pikir menjadikan musuhnya menjadi orang terdekatnya. Saat berulang kali menyatakan niatnya untuk menjadikan dirinya putri angkat. Berulang kali pula dirinya menolak dengan keras, bahkan tak luput dari kata-kata kasar yang dirinya berikan. Hingga Chacha akan berangkat menjalankan misi terakhir, dia tak sengaja melihat Bastian terduduk rapuh, memejamkan mata dan menangis. Chacha kaget melihat hal itu, hingga kata penyesalan meluncur dari sela tangisnya membuat Chacha tersentuh. Dirinya berjanji akan mengatakan bahwa dia setuju untuk menjadi putri nya saat pulang nanti. Namun, siapa sangka jika Bastian akan melindungi dirinya dari timah panas karena dirinya lengah saat itu.
Melihat kedekatan putrinya dengan ayah angkatnya membuat sudut hati Ayah Gun sakit. Itu putrinya putri kandungnya, namun kenapa dirinya tak bisa dekat dengannya.
Bastian menatap lekat kearah putri angkatnya itu. Ada bekas merah pudar di pipinya.
"Ini kenapa? " tanyanya lembut sambil menyentuh pipi Chacha.
"Ah, ini jatuh dikamar mandi, kan aku habis mandi. Nih masih basah rambutnya" Chacha berkilah, namun Bastian malah menggeleng.
"Jangan berbohong pada Babah nak. Kamu paling tahu seperti apa Babah"
"Aku tak berbohong Babah"
"Itu bekas tamparan, Babah belum buta untuk kamu kelabui" Chacha menunduk melihat ayah angkatnya berbicara dengan nada tegas.
"Ya, ini bekas tamparan. Aku mendapatkannya karena salahku"
"Kesalahan apa? Kamu bukan tipe orang yang bertindak sebelum berpikir"
"Eh iya ya salah ku dimana? " Chacha malah memasang ekspresi bingung membuat yang lain gemas sendiri.
Lagi, Ayah Gun dan Bu Ratu tertegun. Sedekat apa Chacha dengan ayah angkatnya, sampai dia mengetahui kebiasaan cara Chacha bertindak. Bahkan mereka yang orang tuanya tak begitu mengetahuinya.
"Sesuai kesepakatan saat kamu akan kembali kesini, nak. Kamu tak boleh terluka atau Babah akan membawa paksa kamu"
"Aku tak terluka. Oh ayolah, bah. Ini hanya sebuah tamparan"
"Tidak ada bantahan, Queen. Bagi setiap orang tua, tamparan yang diterima anaknya adalah luka. Siapa yang berani menampar berlian Babah, katakan. Di Manhattan kamu dijaga layaknya berlian oleh kami. Bahkan kami rela mempertaruhkan nyawa kami demi melindungi mu. Apalagi nak? "
"Tapi duniaku disini, Bah"
"Orang yang bahkan tak menyayangi mu, itu yang kau sebut duniamu nak? "
"Tapi, bah" Chacha dengan tatapan memohon untuk jangan dilanjutkan lagi atau dirinya akan menangis. Sungguh kali ini kepalanya benar-benar pusing karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
"Oh jadi ini om om yang bantu lo buat ngejebak gue"