
"Ah, kalian menyusul ku" Ucap Chacha lalu bangkit dari dalam sel.
Roar...
"Emmm gemes banget sih kalian"
Tampak dua kucing besar itu sedang menggesekkan kepalanya pada paha dan betis Chacha. Sedangkan dua tawanan yang tadi Chacha interogasi sudah gemetar ketakutan melihat peliharaannya.
Cantik sih, tapi kenapa melihara begituan. Batin salah satunya.
"Yuk ke halaman samping aja, Chacha kangen kalian" Tanpa banyak bicara tampak cici merendahkan badannya agar Chacha bisa naik ke punggungnya. Dengan senyum manisnya Chacha menunggangi harimau putih itu.
Sedangkan koko, sang singa jantan itu berjalan di sisi cici. Cici dan koko sudah Chacha rawat sejak bayi. Saat menyusup ke markas musuh yang berada di sekitar hutan tanpa sengaja Chacha menemukan koko bayi waktu itu. Sedangkan sang induk tewas tak jauh dari tempatnya. Jika dilihat dari luka yang diterima induk koko, kemungkinan dia tewas tertembak. Namun, alasan ditembaknya Chacha juga tidak tahu. Karena setelah dipastikan induk koko mati, bangkainya dibiarkan begitu saja. Chacha yang melihat pancaran kesedihan di mata kecil koko membuat dirinya iba dan membawanya pulang. Mengurus segala ijinnya untuk mengurus bayi singa itu. Bahkan saat awal koko beradaptasi dengan lingkungan barunya, dia tidak mau pada petugas yang Chacha tugaskan untuk merawatnya. Koko selalu mengikuti kemanapun Chacha pergi.
Lain koko, lain pula dengan cici. Cici tak sengaja Chacha temukan di tempat musuhnya. Salah satu kelompok mafia yang pernah dirinya ratakan dengan tanah itu terlibat jual beli hewan ilegal. Cici saat itu juga ditemukan ketika masih kecil. Kemungkinan induknya dijual atau bisa saja mati. Chacha kembali membawa bayi harimau putih itu ke kediamannya. Mengurus kembali surat ijinnya, awalnya agak susah. Namun, mungkin sudah jalannya Chacha harus merawat dua bayi kucing besar itu. Harapannya terkabul saat keduanya dapat hidup berdampingan dan akrab. Sebisa mungkin Chacha menghilangkan sifat predator dari kedua peliharaannya itu.
Keduanya akan menjadi sangar pada yang lain. Namun, akan menjadi kucing besar yang menggemaskan ketika bersama Chacha. Seperti saat ini, saat sampai dihalaman samping markas Death Rose, tampak cici berguling-guling di samping Chacha. Sedangkan koko menjadi tempat Chacha bersandar. Bulu halusnya layaknya sandaran sofa bagi Chacha. Perawatan keduanya bisa dikatakan begitu mewah berkat Chacha.
"Bagaimana jika kalian pindah ke rumah ku saja? " Chacha berbicara pada keduanya. Mendengar Chacha bersuara, cici berhenti melakukan kegiatannya dan memilih meletakkan kepalanya dipangkuan Chacha.
"Kalian tahu, aku memliki tiga orang bayi kembar. Kalian harus berkenalan dengan dia, ah iya juga dengan suamiku. Kalian mau? " Tampak keduanya menggesekkan kepalanya pada tubuh Chacha yang bisa mereka jangkau.
"Jadilah baik jika bertemu mereka, hmm"
Kelakuan ketiganya tak lepas dari banyaknya pasang mata yang mengawasi mereka. Mereka hanya mampu menelan ludahnya kasar. Meskipun sudah tahu bahwa dua hewan menyeramkan itu adalah milik sang Queen. Nun, melihat secara langsung membuat nyali mereka ciyt seketika.
Keempat sahabat Chacha juga melotot tak percaya melihat Chacha dengan santainya bersandar di tubuh koko. Belum lagi ditambah cici yang tidur dengan berbantalkan pahanya.
"Itu anak bisa cari yang normal dikit gak sih buat dipelihara? " Gerutu Karin.
"Heran, dia suka banget nantangin maut" Tambah Zeze.
"Gak usah heran, bukankah dia pernah bilang jika. kematian adalah temannya setiap hari" Ujar Fany.
"Emang pemimpin mafia se mengerikan itu, ya? " Tanya Nena.
__ADS_1
"Maksudnya? "
"Melihara hewan buas gitu"
"Kita gak tau"
...****************...
Seluruh keluarga besar Izhaka kini berkumpul. Mereka membahas persiapan acara yang sudah di depan mata. Keluarga Izhaka termasuk salah satu keluarga yang sprotif. Mereka memilih pewarisnya seperti sesepuh mereka dahulu. Siapa saja yang memiliki tanda lahir khusus dan darahnya bisa membuka kotak kuno milik keluarga Izhaka, maka dia sah menjadi pewaris selanjutnya hingga datang generasi penerusnya.
Malam ini semuanya berkumpul untuk melakukan pemilihan itu. Meskipun sudah ada beberapa yang tahu jika Chacha yang akan menjadi jadi pewaris selanjutnya. Namun, tidak ada salahnya mengulang, agar keluarga yang lain tidak membuat pemberontakan.
"Memangnya tanda lahir khusus macam apa yang menjadi penerus keluarga Izhaka, Kek? " Tanya Fina, salah satu sepupu Chacha yang berusia satu tahun di bawahnya.
"Mahkota dan lambang bunga mawar hitam. Tapi Kakek yakin jika beberapa dari kalian memiliki tanda lahir mahkota bukan? " Tanya Tuan Ibra. Sang pemilik marga Izhaka. Semua yang memiliki marga Izhaka dibelakang namanya kini boleh angkat suara, sedangkan para menantu hanya akan menjadi penonton berjalannya acara tersebut.
"Fina punya, terus katanya Kak Ela juga punya" Jawab Fina, Fina termasuk salah satu gadis yang cukup cerewet jika sedang berkumpul seperti ini.
"Berarti cukup banyak yang memiliki tanda mahkota. Kita akan memilih posisi tertinggi sebagai penerus. Tapi tidak hanya itu, jika memiliki tanda mawar hitam dan darahnya bisa membuka kotak kuno keluarga, maka seluruh kekuasaan keluarga Izhaka ada dalam genggaman nya. Dengan kata lain, dia kepala keluarga yang selanjutnya. Kalian paham? "
"Kalian bisa tunjukkan tanda mahkota kalian satu per satu" Ucap Tuan Ibra.
Yang pertama maju adalah Elang dan Erland. Dua saudara itu memiliki tanda mahkota berada di tengah-tengah punggung mereka. Begitu juga dengan yang lain, ada yang di perut, bahkan di bokongnya. Hanya Chacha dan Fina yang memiliki tanda mahkota di pundak mereka. Merujuk jika keduanya bisa menjadi pewaris selanjutnya.
"Cha, yang semangat dong" Teriak Yuna saat melihat keponakannya itu terlihat lesu.
"Ngantuk Bu Dhe Yun. Ini ra kuat melek aku loh" Mendengar jawaban Chacha semuanya terkekeh pelan. Namun, acara ini harus selesai malam ini juga, karena besok adalah pengumuman siapa pewaris Izhaka selanjutnya pada didepan publik.
"Kita lanjutkan ke tahap selanjutnya. Coba Fina, kamu memiliki tanda mawar hitam di tubuh mu? " Tanya Tuan Ibra, tampak Fina mengingat lalu kepalanya menggeleng.
"Nggak ada tuh, Kek. Fina cuma punya tanda mahkota aja" Jawabnya polos.
Tuan Ibra mengangguk, kini semua harapan ada pada Chacha. Setelah kematian Rania sebagai penerus selanjutnya, sampai saat ini mereka tidak mengetahui apakah ada penerus selanjutnya atau tidak.
"Chacha? " Panggil Tuan Ibra pada Chacha yang masih asik memejamkan matanya.
__ADS_1
Chacha tampak melepaskan sandal jepitnya, lalu dengan pelang mengangkat kakinya dan diletakkan di atas paha Fina.
"Ya ampun, berat loh Kak" Pekik Fina kaget saat dengan tiba-tiba Chacha meletakkan kakinya. Berbeda dengan Fina yang kaget saat melihat kaki Chacha, yang lain dibuat kaget dengan tanda di kakinya.
"Ya Tuhan, apa ini yang nenek dulu ucapkan. Jika akan ada masanya mawar hitam akan tercetak dibawah telapak kaki sang penerus" Tampak beberapa orang shock melihat itu.
"Iya, itu artinya kekuasaan berada dibawah kuasanya. Dia yang mampu menggerakkan dunia sesukanya"
"Tanda itu berada pada orang yang tepat"
Semuanya menarik nafas lega, ketika tanda yang mereka anggap hilang dan tidak akan pernah muncul lagi. Yang berarti kehancuran keluarga Izhaka. Namun, siapa sangka jika Chacha sudah memiliki tanda lahir itu sejak lahir. Namun, sengaja ditutupi agar tidak mendatangkan bahaya.
Tes terakhir dilakukan. Dimana Chacha harus menyayat kecil tangannya agar mengeluarkan darah, lalu diletakkan di atas penutup kotak kayu kuno yang sudah lama tidak terbuka itu. Bahkan Tuan Ibra yang menjadi pemimpin sekarang pun tidak bisa membukanya.
Chacha membuka matanya saat kotak kayu kuno itu diletakkan dihadapannya. Seluruh keluarga nya mengelilingi dirinya. Mereka menatap ngeri saat Chacha memegang belati untuk melukai tangannya.
Mata mereka melebar secara bersamaan saat melihat Chacha malah menyayat telapak kaki yang memiliki tanda mawar hitam. Chacha tampak menyayat mengikuti pola tangkai yang ada. Beberapa dari mereka bahkan menutup matanya, sedangkan para sepupunya sudah banyak yang berlari karena histeris.
Setelah selesai, Chacha langsung mengangkat kakinya di atas kotak kayu kuno itu. Aura pemimpin Chacha keluar begitu saja. Mereka seperti dejavu, seperti melihat sang nenek dulu melakukan hal yang sama. Dimana Chacha duduk di atas kursi dan kotak kayu kuno diletakkan di lantai. Bedanya jika nenek terdahulunya meletakkan kotak kayu kuno di atas meja.
"Aku Queen Danisha Izhaka, mulai saat ini adalah penerus sekaligus pemimpin dari seluruh keturunan Izhaka selanjutnya. Tunduk lah padaku, bimbing aku menjadi pemimpin sejati seperti leluhur ku sebelumnya" Ucap Chacha tegas sambil memperhatikan darahnya yang terus menetes dari telapak kakinya dan memenuhi seluruh ukiran kotak kayu kuno itu.
Cklek...
Kotak kayu kuno itu terbuka dengan sendirinya. Mereka takjub, setelah sekian lama ada yang bisa membuka kotak kayu kuno itu. Bahkan Chacha membuka hingga lapisan terbawah nya. Kotak kayu kuno itu terdiri dari beberapa lapis. Semuanya berisi kunci tempat semua harta dari leluhur terdahulunya, berikut juga peta menuju ketempat itu.
...****************...
Halo epribadeh saya Koko, si sandaran empuk sang Queen 🤣
Kenalkan ini Cici, si comel nan manja 😅
__ADS_1
Jangan lupa tunggu kita beraksi di lain episode ya❤