Call Me Queen

Call Me Queen
Itu kenyatannya


__ADS_3

Setelah beristirahat mereka berkumpul lagi di ruang keluarga mansion Izhaka. Suasana masih setegang sebelumnya, karena Nyonya Besar Izhaka masih mempertahankan raut dinginnya.


"Sekarang Mama tanya sama kalian berdua, kenapa kalian bisa tak tau nama anak kalian sendiri? "


"Bukan salah mereka, Ma" sela Tuan Ibra.


"Lalu? "


"Princess lahir karena Ratu terpeleset di kamar mandi, saat itu Gunawan juga sedang di luar kota. Jadi hanya Papa yang menemani persalinan Ratu. Sesaat setelah princess lahir Mama tau apa yang terjadi? "


"Apa? " yang lain hanya mampu menyimak tabir yang menutupi identitas Chacha selama ini.


"Dia sama persis dengan kelahiran Rania. Awalnya Papa pikir ini wajar, namun melihat tanda lahir yang sama dengan milik Mama, Papa tertegun"


"Apa, dia memiliki tanda lahir itu? "


"Iya, Ma. Diam-diam Papa melakukan tes untuk pewaris selanjutnya dan hasilnya menunjukkan lima puluh persen kecocokan. Papa kaget saat itu namun memilih diam. Untuk menyembunyikan identitas nya Papa mengubah namanya, membiarkan dia memakai marga ayahnya. Bahkan Papa mengawasinya dari jauh selama dia bersama dengan orang tuanya. Hingga akhirnya dia memilih tinggal bersama kakek neneknya di luar negeri saat itu juga Papa melihatnya lagi"


"Melihatnya lagi? "


"Papa menarik diri dari publik, tujuannya agar Papa leluasa menyembunyikan Nisha"


"Setelah Papa bertemu apa reaksinya"


"Dia tersenyum ramah, Nyonya Effendy membantu Papa untuk memperkenalkan diri padanya hingga dia mengerti. Lalu secara perlahan Papa mulai mengenalkan Nial padanya. Satu yang tak Papa habis pikir"


"Apa pa? "


"Dia genius diantara yang genius. Dia bahkan dengan mudah menemukan semua informasi yang tertutup rapat. Bahkan Mama tahu, dia sudah menyusun rencana penyelamatan Mama sejak dia berumur lima belas tahun"


"Bagaimana bisa? "


"Mungkin dia tak sengaja menemukan surat yang mereka kirim, ketika Papa bertanya dia hanya tersenyum tanpa menjawab, tapi Papa tau itu strategi penyelamatan. Hingga Papa sadar jika dia sudah mengantongi seluruh informasi musuh Mama"


"Lalu apa yang terjadi? "


"Papa membuat peraturan, jika mereka harus melewati beberapa tes untuk menjadi penerus keluarga ini dan melepas marga yang mereka sandang saat ini. Tapi mereka boleh memilih saat umur mereka genap dua puluh tahun"


"Hanya ada dua orang yaitu Elang dan Nisha"


"Ya karena kakak-kakak mereka tak ada yang tertarik Papa rasa. Hingga akhirnya Gunawan mengeluarkan Nisha, mau tak mau, siap tak siap dia harus bersiap melakukan tes. Namun siapa sangka dia malah pergi menyelamatkan Mama"


"Anak nakal itu"


Drrt... Drrt... Drrt


Ponsel Chiara bergetar membuat semua mengalihkan perhatiannya.


"Chia kirim seseorang untuk menjemput ku sekarang"


"Abang dimana? "


"Bandara. Jangan banyak protes langsung kirim saja"


"Iya" jawab Chiara dengan malas.


"Siapa? "


"Nanti kalian akan tahu sendiri"


"Jadi, nama asli Chacha itu Danisha bukan Salshabila? " tanya Karin memastikan.


"Ya, itu adalah nama yang kakek berikan sementara. Namun, akta kelahiran dan lainnya asli dengan nama aslinya" jawab Tuan Ibra.


"Haih, pantas saja dia tak mendengarkan kita dan memilih langsung berangkat tadi" dengus Nena.


"Ada apa? " tanya Chiara.


"Entah gue ngerasa ada janggal aja gitu. Kepulangan nenek yang tahu hanya kita, bahkan bawahan kita tak ada yang tahu bukan? " mereka mengangguk serempak saat mendengar pertanyaan Zeze.


"Poinnya sekarang kenapa kita bisa diserang? "

__ADS_1


"Satu kata, penghianat" jawab Chiara santai.


"Tapi siapa? "


"Salah satu ponsel kalian disadap tanpa kalian sadari" jawab Caesar yang sejak kedatangannya hanya diam tanpa suara.


"Ah, iya kah? "


"Emmm, Cila sudah membereskan" jawabnya lagi.


"Cila siapa? " tanya Fany menaikkan sebelah alisnya.


"Bawahan Chacha"


Para orang tua hanya menyimak pembicaraan mereka, mereka juga masih terlarut dalam kenyataan yang mengejutkan. Dimana ayah mereka berperan besar dalam kelanjutan keluarga Izhaka, bahkan melindungi penerusnya.


"Bagaimana bisa penerus keluarga Izhaka bisa dipilih begitu saja? " tanya Audy memecah keheningan.


"Kamu Audy? " tanya Nyonya Besar Izhaka. Audy hanya mengangguk. "Kenapa tak ada mirip-miripnya dengan keluarga Izhaka? " pertanyaan ini memukul telak Audy. "Tapi kamu lebih mirip Gunawan sih" tambahnya dengan santai.


"Audy mungkin kamu tak tau jika penerus keluarga Izhaka hanya bisa diteruskan oleh mereka yang memiliki tanda lahir khusus" jelas Ratih.


"Maksudnya? "


"Setiap keturunan Izhaka yang terpilih mereka memiliki tanda khusus, entah itu tanda lahir yang mengikuti kakek besar atau nenek besar yang pasti salah satu dari mereka, jika memiliki keduanya sudah dipastikan jika keluarga Izhaka menjadi miliknya sepenuhnya" tambah Ratih dengan sabar.


"Jika ingin mendapat tanda itu, harusnya menikah sesama dari keluarga Izhaka saja" kesal Audy karena dirinya tak memiliki satu tanda lahir pun, atau dia yang tak menyadari.


"Kata siapa dua anak ku memiliki tanda dari kakek besar" jawab Ratih membuat Audy melotot tak percaya.


"Danial juga punya" tambah Tuan Ibra.


"Gunawan, Ratu, Mama meminta hak asuh Nisha pada kalian" permintaan ini mengalihkan perdebatan tanda lahir yang diusung Audy.


"Tapi Ma" Bu Ratu sedikit malu jika harus jujur sudah mengeluarkan Chacha dari daftar kartu keluarga.


"Kalau kamu bisa merawat putri mu dengan baik hal ini tak akan terjadi. Ingat Ratu Mama tak pernah mengajarkan kamu untuk berpikir negatif, Mama mendidik kamu dan saudara mu agar menjadi pribadi yang lembut, bukan seperti ini"


"Nial" lirih Nyonya Besar Izhaka melihat cucu yang dulu sekarat kini berdiri tegak dihadapannya. Bahkan wajah tampannya khas sekali keturunan Izhaka. Rahang yang tegas, mata biru yang memiliki sorot tajam itu. Sangat kontras dengan kulit putihnya.


"Nial rindu" Danial atau yang lebih akrab disapa King itu langsung memeluk neneknya.


"Nenek juga sayang" mengelus punggung kokoh dalam pelukannya.


"Danial" panggil Ayah Gun dan Bu Ratu bersamaan.


"Sesuai ucapan ku saat itu. Aku akan benar-benar mengakui kalian adalah ayah dan bunda ku saat adik tersayang ku kembali"


"Tapi.. " ucapan Bu Ratu terpotong oleh pertanyaan King.


"Dimana dia? "


"Abang ngapain disini? " bukannya mendapat jawaban dia malah disuguhi pertanyaan.


"Pertanyaan macam itu, aku pulang lah"


"Masalahnya Chacha itu nyusul Abang ke Manhattan" King melotot tak percaya dengan jawaban Elang.


"Ya ampun ini salah ku, aku lupa menghubungi nya kemarin"


"Kenapa Nial? " tanya Tuan Ibra yang heran melihat seorang King ini panik.


"Nial tak mau princess ikut merebut lencana itu kek"


"Memangnya kenapa? "


"Masalahnya, nek. Semua peserta menargetkan princess" King kalang kabut sendiri sekarang.


"Chia, Queen bersama siapa? "


"Pandu"

__ADS_1


"Lalu siapa lagi? "


"Hanya Pandu"


"Siapkan penerbangan sekarang. Kita terbang ke Manhattan sekarang juga"


"Ada apa, Bang? "


"Chacha pergi naik apa? "


"Pesawat pribadi"


"Sial, Cepat cari penerbangan tercepat Chiara" Chiara yang diteriaki langsung mengutak-atik ponselnya.


"Memangnya kenapa Nial? " tanya Tuan Ibra yang masih kebingungan, lainnya juga terdiam.


"Princess sudah ditunggu kedatangannya bahkan kali ini tempat bertarungnya adalah bandara dimana princess akan mendarat" mereka semua melotot tak percaya mendengar penuturan King.


Chiara bangkit dari duduknya, menghela napas ringan lalu menelpon seseorang.


"Siapkan pasukan. Lady Rose dalam bahaya" satu perintah membuat semua orang dalam sebuah markas di negara asing sana kalang kabut.


Chiara kembali menekan ponselnya ditelinga, cukup lama akhirnya teleponnya terhubung.


"Baba tuan putrimu sedang berangkat kesana, namun Chia tak yakin jika dia akan pulang dengan tenang"


"Apa maksudmu nak? "


"Perebutan lencana mafia tertinggi, Queen menginginkan itu. Lokasi pertarungan bandara tempat Queen mendarat"


"Baba akan cek lokasi sekarang juga"


"Tidak, pinjamkan Chia anak buah Baba. Biarkan Chia yang mengurus sisanya"


"Pasukan kita tetap kurang meskipun kita membantu" ucap Caesar yang sejak tadi fokus pada ponselnya. Itu mampu membuat Chiara membeku.


"Setidaknya kita masih berusaha bukan"


"Chia? "


"Ya? "


"Kita tak akan bisa menembus masuk, kita hanya bisa berharap tuan putri Baba selamat"


"Apa maksud Baba? "


"Baba sudah dapat info, pertarungan kali ini hanya menunggu putri Baba, mereka benar-benar tak menduga jika akan secepat ini, setalah putri Baba mendarat mereka akan langsung bertarung" penjelasan ini membuat Chiara terdiam. "Tapi kalian bisa tenang, Baba akan menghubungkan siaran langsung nya pada kalian disana" sambungnya.


Brukk...


Chiara terduduk lemas saat ini, bahkan King kaget melihat Chiara yang duduk dengan tatapan kosong.


"Caesar, nanti Baba akan mengirim siaran langsung nya langsung hubungkan agar aku bisa menentukan langkah selanjutnya" ucap Chiara pelan yang diangguki Caesar.


"Ada apa Chiara? " tanya King.


"Kita tak bisa berbuat apa-apa"


"Maksudnya kalian bahkan tak bisa mendampingi? " tanya Nyonya Besar Izhaka langsung.


"Bahkan Pandu juga akan langsung dikirim keluar saat mendarat nanti"


"Ada yang tidak benar disini, gak mungkin kan seratus pemimpin mafia terkuat mengincar cucuku semua? "


"Itu kenyataannya"


Jawaban Chiara memukul telak rasa khawatir mereka. Ratih bahkan sampai pingsan mendengarnya, dia cukup tahu dunia mafia dan sebagainya. Sebagai keturunan Izhaka dia dan Ratu sudah dilatih sedemikian rupa, namun tak menyangka bahwa akan ada kejadian seperti ini.


Bu Ratu langsung terdiam dengan tatapan kosongnya, pikirannya tiba-tiba blank saat mendengar setiap ucapan yang keluar dari Chiara. Anak bungsunya, anak manjanya bertarung hidup dan mati demi keluarganya.


Audy hanya cuek saja karena sejak tadi dirinya tak mengerti apa yang mereka bahas.

__ADS_1


__ADS_2