
"Sayang, jas aku dimana? " Teriak Levy dari dalam kamar.
Di dapur Chacha hanya memutar bola matanya malas. Ini menjadi rutinitas setiap pagi sepasang suami-istri. Dimana Chacha akan menyiapkan sarapan di dapur, dihiasi dengan teriakan Levy yang mencari perlengkapan untuk ke kantor yang tak ditemukan.
"Sayang? " Teriaknya lagi.
"Mas, lain kali mbok yo turun aja tuh, jangan teriak-teriak gitu ih. Berasa jadi pembantu akunya" Jawab Chacha dengan kalem setelah memasuki kamar mereka.
Levy hanya nyengir, ada perasaan bersalah dalam hatinya saat Chacha mengatakan dirinya layaknya pembantu yang diteriaki.
"Maaf ya sayang. Gak maksud gitu loh"
"Aku ngerti kok, Mas. Kalo cari apapun gak ketemu, turun ke bawah bilang sama aku, nanti aku yang cari di atas" Levy hanya mengangguk.
Chacha mulai membuka lemari khusus jas Levy di tempatkan. Mulai mencari jas apa yang cocok dengan suaminya kali ini.
"Hari ini kamu ada meeting apa nggak, Mas? "
"Ada, nanti jam sembilan. Kenapa? "
"Jam makan siang aku ke sana ya? "
"Beneran? Aku tunggu loh, Yang"
"Mau dimasakin apa? "
"Apapun, kalo itu masakan kamu mah aku makan, Sayang"
"Halah, gayamu Mas. Ayo turun, ini jasnya aku bawa aja, pakai dibawah aja. Aku udah siapin sarapan"
"Sarapan apa kita kali ini? "
"Aku cuma buat sandwich doang"
"Tumben? "
"Salah siapa semalem minta nambah?"
"Hubungannya aku nambah sama sarapan apa? "
"Astaga, suami aku, gak nyadar gara-gara kamu minta nambah semalem aku bangun kesiangan, jadi jangan salahkan aku kalau buat sarapan seadanya" Levy hanya nyengir.
"Kamu tau persamaan kamu sama nikotin? "
"Apa? "
"Sama-sama bikin candu" Bisik Levy di telinga Chacha, lalu berlalu keluar begitu saja.
Chacha hanya bisa mengembangkan senyumnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dasar big bos bucin. Batinnya.
__ADS_1
Mereka memulai ritual sarapan dengan tenang dan hening. Mereka sibuk dengan piring dan pikiran masing-masing. Hingga keduanya menyelesaikan sarapannya disaat yang bersamaan pula. Itu adalah hal yang biasa.
"Mas berangkat dulu. Hari ini ada kegiatan apa bu bos cantikku? "
"Mungkin aku ke perusahaan bentar, tanda tangan berkas. Habis itu langsung masakin buat kamu"
"Hati-hati dijalan ya, Sayang"
"Kamu juga hati-hati dijalan, Mas"
Chacha menyalami tangan suaminya, dibalas dengan Levy yang mengecup kening dan bibir istrinya.
Siapa yang menyangka jika hubungan keduanya yang terlihat kaku dan seakan berjarak. Kini berubah seperti lem dan perangko, semenjak kejadian dimana dengan bantuan keusilam Karin mereka bersatu, saat itu pula hubungan keduanya berubah.
Sesuai janjinya pada suaminya pagi tadi. Kini Chacha sudah siap dengan penampilan sederhananya menuju kantor Levy dengan membawa bekal makan siang. Chacha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena memang dirinya tak lagi terburu-buru.
Melihat dari cara bersikap dan berpenampilan Chacha sekarang, dirinya hanya bisa menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, dirinya yang tak begitu suka berpenampilan anggun, sekarang secara naluriah berpenampilan anggun demi suaminya. Meskipun masih ada kebiasaan yang Chacha susah ubah. Bermake-up dan memakai sepatu heels. Chacha lebih suka berpenampilan sederhana dan apa adanya, tanpa balutan make-up. Karena tanpa bermake-up pun dirinya sudah cantik dan terlihat fresh.
Tak terasa mobil Chacha memasuki wilayah perusahaan Levy, dengan cepat Chacha memarkirkan mobilnya. Ini pertama kalinya dirinya menginjak perusahaan Levy, seperti apa sambutannya. Mari kita lihat?
"Loh, nona muda mau ketemu tuan muda? " Sapa langsung sang resepsionis yang kebetulan sepupu Levy.
Chacha hanya menepuk jidat saat melihat sepupu suaminya itu.
"Mbak ih, jangan gitu. Panggil Chacha aja"
"Ini di kantor, aku aja panggil si ikan Lele itu tuan muda"
"Suka-suka Mbak lah"
"Iya mau ketemu sama Mamas"
"Mau aku antar? "
"Gak usah lah, Mbak disini aja lanjut tugas. Lantai paling atas kan? "
"Iya. Hati-hati sekertaris Levy itu ular betina" Bisiknya pada Chacha.
"Ya udah aku biar jadi pawang ularnya" Jawab Chacha dengan candaan.
Chacha berjalan menuju lift. Setiap orang yang berpapasan akan menunduk hormat. Padahal mereka tidak tahu siapa Chacha, namun keramahan Chacha yang merespon dengan tersenyum membuat yang lain menghormatinya.
Low profile itu lebih baik menurutnya.
Chacha sampai di lantai teratas. Ruangan milik suaminya itu. Chacha berjalan dengan anggun menuju meja sekertaris, dari kejauhan Chacha dapat melihat bagaimana bentukan sekertaris suaminya itu. Respon Chacha hanya bisa menggelengkan kepala. Apa maksud dan tujuan sekertaris Levy itu berdandan seperti itu.
Saat hendak masuk ke dalam ruangan Levy, Chacha dihadang oleh sekertaris tersebut.
"Heh, mau kemana kamu? " Bentuknya sambil bertanya.
"Kalau saya berdiri di depan pintu, itu tandanya saya mau masuk"
__ADS_1
"Kamu gak liat ada saya? Gak tau aturan perusahaan ini ya? " Chacha hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Saya melihatnya, tapi saya rasa tak perlu izin kamu buat masuk ke dalam"
"Cih, gak usah sombong. Emang kamu siapanya Pak Levy sampai masuk tanpa melewati sekertaris? "
"Aku temannya"
"Hahaha. Teman ranjang maksud kamu. Kelihatan sih, murahan"
"Kebalik kali, bukannya penampilan kamu yang murahan? Aku rasa gaji sekertaris di perusahaan ini besar deh, masa kamu beli baju kurang bahan. Atau gajinya kurang gede? Nanti aku kasih tau sama atasan kamu ya, *****" Chacha menekan kata terakhirnya.
"Sialan, aku laporin pak Levy kamu seenaknya ngatain sekertaris kesayangan pak Levy *****"
"Uhh sekertaris kesayangan ya? "
"Apa? Iri? Inget ya, nama gue Putri Nabila, sekertaris sekaligus calon tunangan Pak Levy" Chacha hanya manggut-manggut mendengar penuturan sekertaris yang memperkenalkan dirinya sebagai Putri itu.
"Calon tunangan pak bos ya? "
"Kenapa takut kamu sekarang? Mending kamu pergi deh, gak usah coba godain calon tunangan aku. Kamu itu gak selevel sama kita"
"Gak selevel ya? "
"Iyalah, kamu itu hanya dari kalangan bawah, gak usah mimpi buat manjat jadi kalangan atas dengan cara godain si bos"
"Gak level lah, kan saya cantiknya natural, jadi kita beda dong ya" Balas Chacha sambil terkekeh. "Giliran saya dong yang memperkenalkan diri"
"Mau memperkenalkan diri sebagai apa? Wanita penggoda? Sugar baby si bos? Rakyat jelata aja bangga" Chacha menggelengkan kepalanya.
"Queen Danisha Izhaka, nyonya muda Rahardian alias istrinya Levy Rahardian"
"Apa? Apa? Coba ulang, mimpi jangan ketinggian" Jawab Putri dengan nada merendahkan.
"Sayangnya saya bicara fakta tuh"
Cara menghadapi calon pelakor tuh ya gini, pakai cara halus dulu. Kalo ngelunjak baru kita baku hantam. Batin Chacha terkekeh.
"Jangan ngomongin level ataupun status di hadapan saya. Kamu gak bisa dibandingkan dengan saya"
"Iyalah saya itu wanita terhormat gak kayak kamu, murahan"
"Putri kemasi barang-barang kamu, detik ini juga saya kamu pecat" Suara bariton menghentikan perdebatan mereka.
Putri mematung di tempat, menoleh ke samping, ternyata si pemilik ruangan sudah bersandar dengan santainya pada daun pintu.
"Ta... Tapi salah saya apa, Pak? "
"Kamu mau tahu salah kamu? " Putri mengangguk. "Pertama, kamu menghalangi istri saya masuk ke dalam dan membiarkan saya kelaparan. Kedua, berulang kali kamu menghina istri saya dengan mengatakan dirinya wanita murahan. Ketiga, berani sekali kamu membuat rumor bahwa kamu calon tunangan saya, sedangkan istri saya saja berdiri di hadapan kamu"
Putri menelan salivanya dengan susah payah. Hancur sudah harapannya untuk menjadi pendamping Levy, bahkan sebelum melangkah dirinya sudah di depak terlebih dulu.
__ADS_1
"Kamu cantik, tapi kamu tak bisa menempatkan kecantikan kamu sebagaimana mestinya. Cobalah ubah cara berpakaian kamu, jangan pakai baju kurang bahan lagi. Apalagi ini ke kantor. Perbaiki sikap kamu, jangan selalu mendongak. Adakalanya seseorang harus menundukkan kepalanya. Bukan karena kalah atau hina. Tapi, seperti kata pepatah. Hormatilah seseorang, seperti kamu ingin dihormati"
Setelah mengatakan kalimat cukup panjang itu Chacha langsung menarik Levy ke dalam ruangannya. Tak peduli dengan Putri yang masih mematung di luar.