
"Hah kok gue biasa aja" ucap Zeze yang saat itu sedang berkumpul dengan formasi lengkap di kantin.
"Maksud lo?" tanya Karin.
"Bentar lagi kan ujian ya gue ngerasa biasa aja gak ada yang perlu dicemaskan"
"Emang apa yang mau dicemaskan sih?" tanya Nena.
"Kalo kumpulan orang pinter mah beda ya. Ini ujian akhir tapi mereka nyantainya gak ketulungan" tambah Kinos melihat tingkah absurd para FF GIRL.
"Emang harus gimana sih, yang bener itu ketika akan menghadapi ujian kek gini kita tuh harus tenang biar pikiran kita sejalan sama logika pas jawab soal ntaran" jawab Elang.
Zeze hanya mengacungkan jempol pada Elang.
"Habis ujian sekolah ada rencana apa?" tanya Chacha setelah hening beberapa saat.
"Entahlah" jawab Putra diikuti lainnya dengan mengangkat bahunya acuh.
"Tapi kalo gak salah pengumuman kelulusan kita kali ini dibuat beda deh kayaknya"
"Beda gimananya?" Nena menanggapi ucapan Putra.
"Pengumuman gak dilakukan disekolah"
"Lah terus"
"Katanya nih ya katanya, kita bakal liburan beberapa hari. Nah, disana pengumuman akan dilakukan"
"Lu dapet info dari mane tentang begituan?" tanya Karin.
"Heboh para betina di kelas" jawab Putra dengan malas.
"Bakal kuliah dimana habis ini?" tanya Chacha lagi.
"Maunya QI University tapi lo tau sendiri masuknya aja susah" jawab Elang.
Chacha mengangkat sandaran kepalanya dibahu Levy yang sejak tadi sedang sibuk dengan ponselnya. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkan diatas meja.
"Ini undangan masuknya selanjutnya kalian usaha sendiri"
Lainnya melotot tak percaya melihat apa yang Chacha keluarkan.
"Lu nyolong dimana Cha?" tanya Karin asal.
"Kampusnya punya gue" jawabnya sinis.
Yang lain hanya tertawa menanggapi candaan Karin tersebut.
"Lu sendiri kuliah dimana?" tanya Fany yang sejak tadi hanya diam.
"Gak tau"
"Sengklek nih anak, ngasih kita undangan masuk tapi dia sendiri bingung mau kuliah dimana" tambah Kinos.
"Kalo punya temen pikun ya gini" ujar Elang.
"Maksud lo?"
"Lo lupa apa yang lo dengar di rooftop waktu itu" Elang menaikkan sebelah alisnya menanggapi Kinos.
"Ya ampun lupa gue. Gak usah kuliah juga lu dah tajir Cha"
"Gue ntar masuk disana juga tapi cuma main doang kok kalo bisa"
"Maksud lo kalo bisa?"
__ADS_1
"Ya kalo kerjaan gue gak banyak kita ngumpul di kampus" jawabnya santai.
"Gue kira lu bakal ngikutin si Levy ke LA Cha" kekehan kecil keluar dari mulut Fany setelah mengucapkan tersebut.
"Emang boleh?" tanya Chacha pada Levy yang sejak tadi terus fokus pada ponselnya.
Levy tak memberi jawaban dia masih asik dengan ponselnya Chacha yang memperhatikan Levy mengerutkan alis hanya bisa diam tanpa ingin mendengar jawabannya karena dirinya yakin Lelenya sedang mengurus sesuatu, terbaca dari dalam keadaan ekspresinya.
"Lev" tegur Elang tapi Levy tetap asik dengan dunianya.
Chacha menggeleng agar Elang tak melanjutkan niatnya untuk menganggu Levy.
"Oh iya soal liburan yang lo omongin tadi emang kemana tujuannya?"
"Kagak tau gue"
"Ah Putra gak asik. Cari info setengah-setengah" cibir Nena.
"Gue geplak juga lu lama-lama. Kan gue bilang katanya tadi"
"Ampun bang jago" semunya tertawa melihat kelakuan Nena.
"Kena virus tiktok rupanya temen gue"
"Tiktok palalu kotak" sinis Nena menanggapi Kinos.
"Lah itu barusan"
"Gue sering denger anak tetangga nyanyi gituan"
...****************...
"Bentar lagi Chacha ujian kan?" tanya Ayah Gun ketika makan malam usai. Chacha hanya mengangguk menanggapi sang ayah.
"Rencana bakal kuliah dimana nak?"
"Balik lagi ke luar negeri. Kan udah perjanjian sama kakek kalo Chacha harus kuliah disana"
"Jadi Chacha terima tawaran kakek?" Bu Ratu angkat suara setelah membereskan meja makan.
"Sekalian nemenin kakek kan bun"
"Iya sih" jawab Bu Ratu sendu.
"Gak usah melow bun, jaman udah canggih juga atau nanti Chacha pinjam pintu kemana saja milik doraemon deh"
"Ada-ada aja kamu ini"
"Ya kan biar bunda bisa langsung nyamperin Chacha kalo kangen" jawab Chacha sambil cengengesan.
"Ayah gak liat Audy sejak tadi bun, dia juga gak turun makan malam"
"Audy kerumah mertuanya, orang tua mama mertuanya datang jadi Audy dikenalkan yah"
"Iya ya waktu itu para kakek dan nenek gak ada yang hadir"
"Papa sama mama kita jauh dari negara ini bukan, sedangkan orang tua mereka ada di desa katanya" terang Bu Ratu.
Ayah Gun dan Chacha hanya mengangguk dengan apa yang disampaikan oleh Bu Ratu.
"Chacha ke kamar dulu yah bun" pamitnya pada kedua orang tuanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Bun" Bu Ratu menoleh ketika sang suami memanggilnya.
"Beberapa tahun lagi pemilihan penerus Izhaka kan?" Bu Ratu mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kita berdua tau siapa yang mama mertua ucapkan saat itu sebelum mama menghilang"
"Lalu?"
"Dia bahkan belum dewasa"
"Bukan masalah dewasa atau tidaknya tapi sulitnya menentukan siapa penerusnya dan bahayanya"
"Maksud bunda?"
"Ayah pikir kematian adikku karena apa?"
"Kecelakaan"
"Itu direncanakan karena adikku merupakan pewaris satu-satunya"
"Bukannya masih ada bunda dan kakak ipar?"
"Tak semudah itu, mama memiliki caranya tersendiri untuk menemukan penerus yang tepat menurut dirinya"
"Mama mertua memang diluar nalar"
"Begitulah mama. Adikku menuruni semua yang ada pada mama itu kenapa dia mampu menjadi penerus"
"Bunda juga menuruninya bukan?"
"Ya tapi tak sekomplek dia"
"Kenapa harus menunggu keturunan selanjutnya jika keturunan sendiri mampu"
"Mama tak ingin anak-anaknya terpecah belah hanya karena harta"
"Tapi itu tak menutup kemungkinan untuk cucunya kan"
"Ayah bisa lihat sendiri bukan bagaimana kedekatan mereka, bunda yakin semuanya aman"
"Audy bahkan belum tau siapa kake dari pihak bunda bukan"
"Biarkan dia tau nanti"
"Tapi kenapa bunda memilih menyembunyikannya"
"Identitas bunda rawan bukan. Papa masih sering mengingatkan untuk berhati-hati"
"Sebenarnya ada apa?"
"Bunda juga gak tau, ketika bunda bertanya papa hanya menjawab nanti ada masanya kalian mengetahui semuanya"
"Penuh misteri"
"Mama. Bahkan papa juga tak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh mama"
"Papa sekarang menjauh dari publik"
"Sejak kehilangan mama, ayah tau sendiri bahkan jasad mama masih belum kita temukan sampai sekarang bukan"
Ayah Gun hanya mengangguk, mereka menghentikan pembahasan mereka ketika mendengar langkah kaki dari arah tangga.
"Mau kemana?"
"Supermarket bentar cemilan Chacha habis"
"Udah malem masih ngemil ntar gendut loh" goda Ayah Gun.
Chacha hanya mendelik lalu mencebik berlalu dari kedua orang tuanya.
__ADS_1