Call Me Queen

Call Me Queen
Mas


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan diri Levy langsung masuk ke dalam kamar tamu. Tanpa mempedulikan para sahabatnya yang sejak tadi menunggunya. Levy hanya melirik sekilas, tampak Nena mengangguk disana. Rupanya gadis itu sudah menjelaskan duduk perkaranya pada lainnya.


"Kalo gue jadi Levy, mungkin lo udah jadi gelandangan kali, Put" ujar Kinos kesal.


"Gue gak habis pikir sama lo, Put. Kurang baik apa sih selama ini Chacha sama kita? " tanya Elang membuat Putra menunduk.


"Gue tau lo kalut, Put. Di satu sisi ada perusahaan yang lo harus selamatkan. Di sisi lain nyawa nyokap lo terancam" ucap Fany setelah cukup lama hening.


"Harusnya lo cerita sama kita kalau ada masalah, Put. Meskipun tak membantu, kita bisa kasih jalan keluar buat lo. Untung belom kejadian, kalau sampai itu terjadi gue gak yakin lo selamat dari amukan bawahan Chacha" Putra meneguk ludahnya kasar mendengar pernyataan Zeze.


"Masalah mama lo, kita bisa bantu. Kalau masalah perusahaan lo bisa omongin sama Elang atau Kinos" ucap Pandu. "Bukannya gue gak mau bantu, tapi perusahaan gue adanya di luar negeri. Kenapa gue gak nyuruh lo minta bantuan ke Levy? Dengan perbuatan lo gue yakin Levy hanya akan memalingkan mukanya melihat proposal lo"


Putra menunduk dalam, kini ia sadar jika dirinya salah. Kekalutan dan ketakutan membuat dia salah jalan hampir menumbalkan sahabatnya. Sahabat terbaiknya.


"Kita disini gak bermaksud menghakimi lo, meskipun lo pantes dapetin itu Put. Kita tutup berita ini sampai disini, jangan ada orang lain yang tahu lagi. Yang gue takutin bukan Chacha, tapi lo Put. Gue takut bawahan Chacha ada yang gak terima" Putra mengangguk mengerti.


"Ke kantor gue besok, Put. Bahas disana masalah perusahaan lo" ucap Elang langsung berdiri menuju dapur.


Putra menatap kepergian Elang dengan tatapan rumit, namun ada binar harapan didalamnya.


Di kamar Levy masih setia memandangi istrinya yang terpejam. Diva sudah kembali saat Levy masuk tadi. Menggenggam tangan mungil istrinya sambil menunduk dalam.


"Mas"


Levy tersentak kaget saat mendengar suara Chacha memanggilnya. Levy mengangkat pandangannya, langsung bertemu netra biru istrinya.


"Mas, kapan pulang? Katanya semingguan? " tanya Chacha dengan suara lemah.


"Makan ya sayang? " alih-alih menjawab pertanyaan istrinya Levy lebih mengutamakan makanan untuk sang istri.


Chacha tersenyum samar, dia mengangguk lemah.


"Mau makan apa? "


"Apa aja yang ada di meja makan deh"


"Yakin lagi gak pengen apa-apa? " Chacha hanya menggeleng lemah.


Levy bangkit dari duduknya, mengecup kening sang istri lalu keluar dari kamar tamu. Tampaknya para sahabatnya masih berkumpul dan enggan pulang.


"Kalian sudah makan malam? " tanya Levy sambil berlalu ke arah dapur tanpa menunggu jawaban dari para sahabatnya.


"Ya kali nunggu ditawari, bisa kelaperan gue" ucap Karin cemberut.


"Bumil mah beda, makannya banyak" Zeze langsung mengejek Karin.


"Kan gue gak sendiri, ada bocil nih di dalam perut"


"Tapi nih ya Rin, setau gue Chacha yang hamil kembar 3 gak kayak lo deh nafsu makannya. Lo gak liat badan lo sekarang" tambah Zeze.


"Emang kenapa? "

__ADS_1


"Lo pernah timbang gak sih selama hamil? "


"Nggak hehehe" Karin hanya nyengir.


"Kenapa? "


"Gue ngeri kalo liat angka di timbangan ntar"


"Hahahaha"


"Kalian kalau mau pesen makan, pesen aja nanti gue yang bayar. Gak ada snack, Chacha lagi gak makan itu" Levy berkata sambil berlalu masuk kembali ke dalam kamar tamu dengan nampan ditangannya.


"Tuh anak, tiba-tiba nongol langsung ngomong, untung gue gak punya riwayat jantung" kata Karin.


Yang lain hanya memutar bola matanya malas.


"Kuat bangun nggak, Yang? " tanya Levy sambil meletakkan nampan yang dibawanya tadi di atas meja.


Chacha mengangguk lemah. Dengan sigap Levy membantu Chacha untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal yang sudah dirinya susun sebelumnya.


Dengan telaten Levy menyuapi istrinya, sedikit demi sedikit. Levy hanya bisa tersenyum saat memikirkan jika istrinya hanya bisa makan jika dengan atau disuapi dirinya. Levy tak habis pikir, apakah anaknya nanti akan segitu manjanya pada dia.


"Aku taruh ini di belakang sekalian buat susu kamu dulu ya, habis itu aku pindahin kamu ke kamar atas. Biar Karin tidur disini"


"Karin? "


"Anak-anak ada disini semua. Temui mereka besok aja, kamu banyak istirahat dulu"


"Susunya langsung aku taruh di atas aja ya, sekalian mau buah nggak? "


"Salad buah di kulkas, Mas" Levy hanya mengangguk.


Setelah menutup pintu kamar tamu, Levy menatap sahabatnya yang mulai berubah haluan. Karin tiduran dengan kepala dipangkuan suaminya. Fany yang menyandarkan kepalanya di bahu Pandu. Zeze yang masih asik bermain game bareng Nena. Kinos dan Putra terlibat obrolan ringan.


"Rin, nanti lo bareng para cewek lainnya tidur di kamar tamu aja. Kalian ambil kasur di kamar belakang. Terserah mau tidur dimana" ucap Levy.


"Emang Chacha kuat kalau pindah ke atas? " tanya Kinos.


"Nanti gue gendong, masa iya Karin suruh tidur di sofa. Dia lagi hamil"


"Aduh, sodara ipar memang the best" Karin mengangkat jempolnya.


"Mbak Ida kemana? "


"Ke supermarket 24 jam bareng supir gue" jawab Elang.


"Bumil ngidam? " Karin hanya mengangguk mendengar pertanyaan Levy. "Mending kalian ambil dulu deh kasurnya, nanti enak tinggal tidur" tambah Levy langsung berlalu ke dapur.


Kinos dan Putra langsung menyusul Levy untuk menanyakan tempat kasurnya. Karena memang hanya mereka berdua yang terabaikan.


Setelah selesai membuat susu, Levy langsung meletakkan diatas nampan lagi. Lengkap dengan salad buah pesanan Chacha. Melewati ruang tamu langsung menaiki tangga. Para sahabatnya hanya diam melihat Levy yang berlalu lalang melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


"Fan, bantu gue pegang infus" Fany langsung bangkit saat mendengar perkataan Levy.


Fany dan Levy masuk ke dalam kamar tamu disambut dengan senyuman manis Chacha. Tampaknya bumil yang satu ini sudah menemukan energinya kembali. Fany hanya menggelengkan kepala.


"Tiati, Lev. Bumil berat" kelakar Fany.


"Kagak ya" Chacha mendelik sinis pada Fany.


Levy menggendong Chacha dengan perlahan. Fany dengan sigap memegang tiang infus yang masih terpasang di tangan Chacha. Dengan perlahan Levy menaiki tangga. Setelah sampai didalam kamarnya, langsung meletakkan Chacha di ranjang king size milik mereka.


Fany dibuat takjub dengan dekorasi kamar milik Chacha dan Levy. Simple, elegan dan mewah menjadi satu kesatuan yang pas jika Chacha yang mengatur. Chacha memang paling pintar mengatur tata letak barang satu dengan yang lainnya. Fany yakin, kamar ini tak seluas kamar Chacha di mansion Izhaka. Tapi berkat tangan ajaibnya kamar ini bisa terlihat begitu luas.


"Gue keluar ya" pamit Fany.


"Kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa langsung telfon aja" pesan Levy sebelum Fany meninggalkan kamar.


"Mas, mana salad nya? "


"Ini" Levy menyodorkan semangkuk salad pada Chacha. Dengan semangat Chacha menyendok dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Levy hanya memperhatikan istrinya yang menyantap salad buahnya dengan lahap. Padahal dirinya baru saja makan. Mood ibu hamil memang beda, tiada tanding.


"Mas mau? " tanya Chacha karena sadar sejak tadi Levy memperhatikan dirinya.


"Habiskan, Sayang" jawab Levy sambil menggeleng.


"Mas" Chacha menatap intens suaminya.


"Hmm. Kenapa? "


"Mas kok pucet? Mas sakit" Chacha langsung meletakkan tangannya di dahi Levy.


"Nggak sayang" Levy mengambil tangan Chacha dan mengecupnya.


"Mas gak telat makan kan? " tanya Chacha penuh selidik.


Levy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dan tatapan penuh selidik itu.


"Sejak kapan Mas belum makan? "


"Semalem, sayang" Levy memilih jujur, karena percuma jika berbohong pada panda cantiknya ini. Dia terlalu lihai untuk dikelabui.


"Kenapa gak makan"


"Et et et, mau kemana? " Levy langsung menahan Chacha yang hendak turun dari ranjang.


"Mau buatin kamu makan, masa aku sudah makan kamunya belum"


"Istirahat aja sayang. Mas udah pesen makan sama Mbak Ida. Kebetulan Mbak Ida lagi di luar. Sekarang minum susunya, habis itu langsung istirahat" Chacha hanya mengangguk patuh.


"Beneran makan ya Mas"

__ADS_1


"Iya cinta"


__ADS_2