Call Me Queen

Call Me Queen
Sugar Baby


__ADS_3

"Bangun lah, Mas. Hari ini ulang tahun pertama si kembar" Ucap Chacha lirih di telinga suaminya.


Waktu berjalan 4 bulan setelah peperangan berakhir. Namun, Levy masih betah dengan tidur panjangnya. Luka-luka ditubuhnya bahkan sudah sepenuhnya sembuh berkat Chacha yang merawatnya secara pribadi.


"Apa ada perkembangan? " Tanya Fany yang baru masuk disusul lainnya. Mereka berniat merayakan ulang tahun si kembar hari ini.


Chacha menoleh ke belakang, tampak tiga keluarga besar sedang berkumpul di ruangan itu. Chacha hanya menghela napas panjang sebagai jawaban untuk pertanyaan yang Fany ajukan.


"Kalian bisa merayakan ulang tahun Mahavir dan si kembar terlebih dahulu, aku akan menyusul setelah berdiskusi dengan Charles" Ucap Chacha.


Yang lain hanya mengangguk patuh, Chacha kembali menjadi pribadi dingin dan tak tersentuh, Chacha hanya hangat ketika bersama si kembar.


"Cha jemari Levy bergerak" Pekik Karin yang sejak tadi menatap kosong ke arah Levy.


Chacha langsung menoleh ke arah Levy, benar saja jemari suaminya itu bergerak perlahan. Diikuti dengan bola matanya yang ikut bergerak.


"Mbak bawa si kembar ke luar dari ruangan ini"


"Tapi, Cha? "


"Bawa saja, Mbak" Para pengasuh mengikuti perintah Chacha dengan patuh. Apalagi saat Chacha memerintah dengan nada dinginnya.


Mereka sanggup melawan siapapun, tapi tidak dengan sang ratu. Yang mereka takutkan bukan murkanya seorang Chacha, namun kecewanya. Yang mereka pikirkan bukan tentang marahnya seorang Chacha, namun sedihnya wanita tangguh itu. Seperhatian itu mereka pada sang ratu yang mereka anggap sebagai adik, bahkan beberapa dari mereka menganggap Chacha adalah anaknya.


Bu Ratu dan keluarga lainnya mengikuti si kembar yang dibawa keluar, sedangkan anggota keluarga Levy memilih menetap di ruangan itu guna melihat keadaan Levy sebelum menyusul si kembar.


"Queen" Charles masuk ke dalam ruangan cukup kaget saat melihat banyak orang didalam. Dirinya pikir Chacha hanya akan berdiskusi berdua dengannya.


"Siapkan mobil untuk membawanya ke rumah sakit" Ucap Chacha membuat lainnya terkejut.

__ADS_1


"Hah? "


"Turuti saja apa kataku. Anak-anak ku belum saatnya diekspos, dia harus keluar dari kediaman ini sampai ingatannya pulih"


"Apa Levy akan lupa ingatan, nak? " Tanya Lena dengan suara bergetar menahan tangis.


"Chacha tidak tahu, Ma. Tapi menurut hasil penelitian Chacha selama Mas Levy koma dia akan amnesia. Kita tinggal menunggu dia sadar, sebanyak apa dia melupakan ingatannya" Jelas Chacha.


Para sahabatnya menahan tangis melihat Chacha yang begitu dingin. Tak dipungkiri, selama 4 bulan Levy tertidur, Chacha sudah menyiapkan mentalnya untuk segala sesuatu yang bisa saja terjadi. Chacha bahkan siap jika Levy tak mengenalinya sebagai istrinya. Baginya cukup Levy sadar dan sembuh sudah kebahagiaan bagi Chacha. Masalah anak dan pernikahannya itu bisa diurus belakangan. Tapi, benarkah Chacha akan sanggup ketika hal itu terjadi?


Tampak mata Levy bergerak perlahan dan mulai terbuka. Namun, dia tampak memejamkan kembali matanya, mungkin kaget dengan pencahayaan yang menyapa matanya.


Chacha sedikit memundurkan langkahnya dan membiarkan Lena maju. Membiarkan ibu mertuanya yang menjadi orang pertama suaminya lihat saat membuka matanya. Bukannya tak ingin menjadi yang pertama dilihat, namun Chacha tidak sanggup jika suaminya menatap aneh pada dirinya.


"Ma.. " Suara serak Levy terdengar untuk pertama kalinya.


Chacha menatap suaminya dalam diam. Dia bahkan membentang jarak cukup jauh. Membiarkan anggota keluarga suaminya untuk menemuinya, lalu sahabatnya. Setelah itu baru dirinya untuk membuktikan apakah Levy benar-benar amnesia atau tidak.


Lena dengan sigap memberi Levy air menggunakan sedotan. Setelah selesai minum secara perlahan Levy melihat seluruh anggota keluarganya dan para sahabatnya yang ada di sana. Dia tidak melihat Chacha, karena Chacha menyembunyikan tubuh mungilnya dibalik badan kekar Pandu.


"Angel ada jadwal, Ma? "


"Angel? " Beo Lena.


Layaknya bom waktu yang baru saja meledak, mereka dibuat kaget secara mendadak oleh pertanyaan Levy. Diam-diam mereka melirik ke arah Chacha yang sibuk dengan ponselnya. Lebih tepatnya dia menyibukkan diri, Chacha jelas mendengar semua perkataan Levy barusan.


"Ada apa? Bukankah Angel tunangan ku? Bukannya Mama sendiri yang meminta ku untuk bertunangan dengannya? " Tanya Levy bertubi-tubi.


Lena menahan nafas saat mendengar pertanyaan putra sulungnya itu. Apa yang harus dia katakan sekarang? Lena melirik ke arah Chacha yang tengah menatapnya datar. Tampak Chacha mengangguk, namun Lena tidak paham apa maksud dari itu semua.

__ADS_1


Melihat gelagat Lena yang seperti menanyakan sesuatu, membuat yang lainnya mengikuti arah pandang Lena. Termasuk Levy yang sedang mengernyitkan alisnya. Chacha masih tak terlihat di matanya, tubuh mungilnya masih tertutup Pandu yang tak bergeser sedikitpun.


"Dia siapa, Fan?" Tanya Levy saat melihat Pandu. Fany cengo beberapa saat mendengar pertanyaan yang Levy lontarkan.


"Pandu, tunangan gue" Jawab Fany singkat.


"Oh, lo udah tunangan? " Fany hanya mengangguk saja.


"Aku keluar sebentar" Ucap Pandu menepuk pelan kepala Fany, Fany hanya mengangguk membiarkan Pandu pergi.


Perginya Pandu dari tempatnya berdiri secara otomatis membiarkan Chacha terlihat oleh Levy. Chacha masih tidak menyadari jika Pandu sudah tidak berada di depannya, dia masih fokus memberi kode pada Lena, ibu mertuanya.


Levy terdiam mematung melihat Chacha dalam balutan jas putih kebanggaan seorang dokter itu. Chacha tampak tenang menatap Lena yang sedang menatapnya risau.


"Gimana sukses jadi sugar baby? " Levy bersuara secara tiba-tiba, membuat yang lain kaget. Kaget karena ucapannya.


Chacha langsung menoleh ke arah suaminya itu. Menatapnya datar. Sesuai prediksinya, Levy akan melupakan jika dia adalah istrinya. Levy melupakan kejadian satu tahun kebelakang. Dia hanya mengingat semua sebelum dia kembali dari perjalanan panjangnya. Chacha menghela napas sejenak, dia mengumpulkan tenaganya yang tiba-tiba hilang entah kemana setelah mendengar pertanyaan Levy.


Daripada meladeni Levy, Chacha lebih memilih memerintah anak buahnya. Melihat pandangan Levy yang sama, seperti saat dirinya pertama kali bertemu dengan Levy setelah lima tahun berpisah. Membuat dirinya sesak sendiri.


"Siapkan keberangkatannya, aku sudah mengurus ruangannya. Panggil tunangannya, mungkin itu akan mempercepat pemulihannya" Perintah Chacha dengan wajah datarnya.


"Kalian, kawal dia sampai tempat tujuan" Perintah Chacha pada para sahabatnya, mereka hanya menunduk mendapat perintah Chacha. Mereka tak sanggup menatap mata biru yang terlihat sok tegar itu.


"Charles, hubungi ketua tim obat di tim elit. Aku akan menetap di laboratorium selama seminggu, siapkan diri mereka untuk membantu ku" Perintah Chacha lagi.


"Tapi Queen? " Charles seakan melarang Chacha untuk mengurung dirinya di laboratorium. Karena Charles tahu, segila apa Chacha jika sudah bertekad untuk melakukan penelitian di dalam laboratorium. Tidak ada yang tahu bagaimana rapuhnya seorang Chacha kecuali 4 tangan kanannya. Caesar, Charles, Chiara, dan Chila.


"Kau ikut untuk memantau dirinya, laporkan apapun padaku"

__ADS_1


"Jangan ada yang mencari ku selama tiga hari ke depan, aku akan menghabiskan waktu dengan para malaikat ku" Setelah mengatakan itu, Chacha langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan satu kata apapun.


__ADS_2