Call Me Queen

Call Me Queen
Obat?


__ADS_3

Andai yang kau lakukan


Dapat ku kembalikan kepada mu


Ku pastikan dirimu


Lebih rapuh dari ku


Levy terdiam saat mendengar suara yang begitu ia kenali. Suara yang terdengar merdu ditemani petikan gitar. Bahkan Levy merasa sesak saat gadis itu terus menyanyikan lagunya dengan wajah tersenyum.


Siapa lagi yang membuat Levy sesak kalau bukan Chacha. Gadis yang mampu menjungkirbalikkan suasana hati Levy. Sejak kejadian dimana Chacha menghalangi peluru yang harusnya mengenai dirinya, Levy mulai menemukan titik terang permasalahan Chacha. Memang terkesan lambat karena semuanya seperti dibuka perlahan. Bahkan penyesalan dan rasa bersalah terus menyeruak dihatinya. Levy merasa malu untuk bertemu dengan Chacha. Apa dirinya masih bisa menerima maaf dari gadisnya? Benarkah masih gadisnya? Levy harap masih seperti itu.


Lalu bagaimana dengan Angel? Sebenarnya sejak kemarin Levy mulai merasa aneh dengan sikap Angel. Biasanya Angel akan bersikap lembut, kemarin pertama kali Levy melihat sisi lain dalam diri Angel. Syok, tentu saja. Levy merasa tertipu selama ini. Salahkan dirinya yang terbawa amarah karena tidak bisa menemukan kebenaran tentang Chacha hingga berakhir dengan Angel.


"Ada apa? " Levy kaget saat Chacha berada didepannya.


"Eh.. Dipanggil Umi" Chacha mengangguk dan meninggalkan Levy yang masih berdiri di tempatnya.


"Masuk lah, mereka ada di ruang tamu" Chacha kembali lagi menyuruh Levy bergabung dengan lainnya sedangkan dirinya bersiap-siap untuk pergi ke rumah bu kades.


"Sendiri Lev? " Levy hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kinos.


"Tumben? "


"Angel lagi sama Tia"


"Gue harap kali ini Angel gak berulah"


"Maksud lo apa, Lang? "


"Kita liat aja nanti"


"Kalian udah siap, emang mau kemana? " Levy heran dengan sahabatnya yang sudah siap dengan pakaian santainya pagi ini.


"Niat kita jalan-jalan pada awalnya, hingga bu bos putar haluan mau tidak mau kita ikutin" Levy hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Yang dimaksud Nena putar haluan itu, kita bakalan bantuin ibu-ibu di sana"


"Yakin? "


"Yakin" jawab mereka kompak.


"Queen mana? " tanya Chiara yang baru nongol diruang tamu.


"Lo darimana aja kampret? " bukannya menjawab Karin malah bertanya balik.


"Ke rumah Nilam, semalem gak sempet ke sana kan, jadi Queen nyuruh gue pagi-pagi buat kesana"


"Nilam? "


"Anaknya yg ngurus rumah ini. Ada yang harus Queen berikan" mereka mengangguk saja mendengar perkataan Chiara.


"Chi belanja ke pasar dulu ya. Gue langsung ke rumah bu kades, yang lain ikut. Lo ntar nyusul kalo nggak di rumah aja"


"Belanja apa aja? "


"Terserah lo. Udah dikasih ke Nilam? " Chiara mengangguk saja.


"Ayo berangkat" semuanya berdiri mengikuti langkah Chacha keluar dari rumah.


"Kita jalan kaki aja, gak jauh juga rumah umi kan? " usul Zeze langsung diangguki lainnya.


"Lo berangkat duluan deh, Lev"

__ADS_1


"Gak papa? "


"Emang lo mau dorong tuh motor" Levy mengangguk lalu meninggalkan para sahabatnya yang berjalan menyusulnya.


Setelah sampai mereka langsung disambut hangat oleh tuan rumah.


"Ayo sarapan kalian udah siap"


"Agenda hari ini apa, Mi? " tanya Chacha sambil melangkah mengikuti yang lain masuk ke dalam rumah.


"Buat bumbu. Mau bantu di dapur? " Chacha hanya mengangguk. Bukan rahasia lagi jika ada waktu Chacha mampir ke desa ini, dan tetangga ada repot ataupun ada acara, Chacha tak segan untuk turun langsung membantu.


"Teman kalian yang satunya mana? " tanya Abah.


"Ke pasar, Bah. Hari ini dia mau di rumah Mak Nem katanya, besok baru kesini"


"Ya sudah ayo makan" Mereka memulai sarapan pagi mereka dengan beberapa obrolan ringan.


Setelah selesai makan bu kades menyuruh ibu-ibu lainnya untuk membereskan sisa makanan dan piring kotor. Yang lain menyingkir membiarkan ibu-ibu melakukan tugasnya. Mereka melotot tak percaya saat Chacha juga ikut membantu bahkan tanpa canggung langsung mengangkat sisanya ke dapur.


"Gila bu bos cakep banget pake daster" Putra malah salah fokus. Dirinya malah kaget melihat Chacha menggunakan daster.


"Fokus lo kemana, Samsul" Kinos memberikan jitakan di kepala Putra membuatnya meringis kecil.


"Eh iya baru sadar Chacha pake daster"


"Tadi dia kan pake jaket" mereka terus memperhatikan Chacha yang keluar masuk membereskan sisa makan mereka.


"Gue bantu di belakang. Kalo mau ikut ayo kalo nggak disini aja" mereka hanya mengangguk, mereka memilih menyusul karena sekarang lagi kekenyangan.


"Teo? "


"Ya Mbak? "


"Mboh nang ndi, ngurusi opo kae jenenge, lali aku" Teo nampak berfikir dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Chacha tertawa geli melihat tingkah Teo.


"Yo wes, sekolah seng pinter" Teo mengangguk dan menyalami tangan Chacha.


"Gue kebelakang dulu" mereka mengangguk mengiyakan.


"Gila, Chacha masih sama kayak dulu"


"Maksud lo? "


"Gak bisa diem" mereka tertawa bersamaan.


"Iya semalem aja tuh anak lembur kerja pas kita tidur" Nena menggelengkan kepalanya mengingat Chacha yang semalaman bekerja ditemani Chiara.


Chacha sampai di dapur. Bukan dapur sesungguhnya, karena ini halaman belakang rumah bu kades yang disulap menjadi dapur. Karena disini jika ada acara besar tak menggunakan jasa catering, namun gotong royong antar tetangga. Ibu-ibu akan bahu membahu membuat apa saja yang akan dihidangkan pada acara nanti. Kekeluargaan begitu terasa saat ini. Chacha selalu senang jika sudah bersatu dengan mereka. Canda tawa akan mengalir begitu saja tanpa membedakan status. Semua sama saja.


Namun, hari ini Chacha melihat ada yang berbeda. Tatapan ibu-ibu disini berbeda dengan biasanya. Hingga Chacha mendengar bisik-bisik yang membuat dirinya menghela napas.


"Gak nyangka ya cucunya Tuan Ibra gitu"


"Iya padahal kelihatannya polos loh"


"Baik lagi kan"


"Kasian aku sama Mbak Angel"


"Iya, percuma aja cantik tapi jadi pengganggu hubungan orang"


Chacha langsung menarik garis besar permasalahan disini. Salah paham atau difitnah. Chacha hanya menggelengkan kepalanya ringan. Chacha masih terdiam di tempatnya memperhatikan ibu-ibu yang sedang menggosipkan dirinya tanpa sadar objeknya ada didekatnya.

__ADS_1


"Cha? " ibu-ibu tadi terlonjak kaget saat menoleh ke belakang melihat Chacha berdiri tak jauh dari mereka.


"Apa? "


"Kita bantu apa? "


"Tanya sama mereka. Gue ketemu Umi dulu" mereka hanya mengangguk. Lalu mulai bergabung dengan ibu-ibu yang lain tanpa merasa canggung.


"Ini Mbak Karin kan ya" salah satu dari mereka bertanya pada Karin.


"Iya bu, saya Karin"


"Wah hebat, nikahannya Mutia dihadiri artis" heboh ibu itu, dan meminta foto bersama dengan Karin. Bahkan sekarang dapur sudah disulap seperti acara meet and greet.


Chacha tak menemui bu kades melainkan duduk di halaman depan. Sendiri atau menyendiri.


"Biarkan aku bahagia Tuhan" bisiknya dalam hati. Chacha memejamkan matanya bersandar pada dahan pohon. Dirinya lelah, ingin sekali rasanya menyudahi ini semua. Dirinya lelah bersikap tegar didepan lainnya. Hingga bunyi ponselnya membuyarkan lamunannya.


"Ya? "


"Kau tak meminum obat mu? "


"Obat mulu Bang"


"Ayolah sayang, Abang hanya ingin melihat kamu sehat"


"Chacha selalu sehat, Bang"


"Kau berbohong pada siapa? "


"Aku tak berbohong"


"Minum atau Abang kasih tau kakek? "


"Ish, gak asik anceman mainnya" Chacha mengerucut sebal.


"Abang hanya ingin kamu sehat, kamu keras kepala sekali. Kamu boleh tak minum obat itu dan hilangkan mimpimu untuk bertarung mendapatkan lencana terakhir. Kita hadapi bersama. Abang tak perduli berapa nyawa yang harus dikorbankan"


"Oke, Chacha minum obatnya nanti"


"Good"


"Bang? "


"Ya? "


"Sampai kapan Chacha harus bertahan dengan obat-obatan itu? "


"Kau lelah sayang?"


"Hmmm"


"Kemarilah dua minggu sebelum kau melakukan pelatihan tertutup. Kita coba obat terakhir, jika masih gagal kau akan tergantung dengan obat selamanya, Queen"


"Aku mengerti. Jika seandainya gagal boleh aku meminta sesuatu"


"Apapun sayang"


"Chacha minta Abang rahasiakan ini selamanya. Anggap Chacha tak pernah sakit"


"Baiklah"


"Thank you, Bang" Chacha mematikan sambungan telepon dengan sepihak.

__ADS_1


Tanpa Chacha sadari Levy juga berada ditempat itu. Levy kaget saat tau Chacha harus bergantung pada obat. Pikirannya langsung kacau seketika, hatinya sesak. Sakit apa gadisnya ini? Kenapa harus bergantung pada obat? Apa ini penyebab dirinya menghilang lima tahun tanpa kabar? Pikiran-pikiran buruk langsung menghampirinya. Membuat dirinya kalang kabut sendiri.


__ADS_2