Call Me Queen

Call Me Queen
Terimakasih


__ADS_3

Halo guys, hayo siapa yang gak sadar kalau Call Me Queen beneran tamat🤭. Jangan lupa cek tandanya ya guys💜💜


...****************...


Jika di ruangan Chacha terlihat penuh hari karena ketegaran Chacha meyakinkan Levy jika ini semua takdir akan keguguran yang dialaminya. Berbeda dengan di ruangan Chiara, keadaan di ruangannya cukup mencekam karena Caesar yang sejak tadi tak berhenti menatap datar pada Narendra. Apalagi ada Maya dan Angel disana yang cukup membuat emosinya terpancing.


"Caesar? " Mami Anna memanggilnya.


"Ya? " Caesar bukanlah sosok hangat pada siapapun, namun jangan ditanyakan jika pada ketiga wanita kesayangannya, dia akan memanjakan tanpa banyak membantah. Salah satunya adalah Chiara, meskipun jarang berbicara dan terkesan sering beradu mulut. Namun, Chiara diperlakukan sama hangatnya dengan Chacha oleh Caesar. Karena Caesar tau seroyal apa Chiara pada Chacha.


"Dimana Pandu? " Mami Anna cukup terkejut melihat siapa saja yang ada di ruangan anak gadisnya itu.


"Menjemput Fany, Nyonya" jawab Caesar formal.


"Jangan formal padaku, panggil aku Mami seperti anak-anak ku memanggilku. Kamu juga putra ku" Mami Anna mengelus kepala Caesar layaknya anak kecil.


Caesar yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam mematung. Mendiang ibunya sering melakukan itu padanya, berbeda dengan Charles yang tidak suka di sentuh kepalanya. Caesar sangat senang jika kepalanya dielus, itu alasan kenapa Chacha akan memanjakan dirinya dengan cara mengelus kepalanya. Mungkin Chacha memang lebih muda dari segi umur, namun cara berpikirnya yang dewasa membuat siapa saja nyaman berada di dekatnya.


"Saya permisi keluar dulu" Caesar langsung bangkit dan keluar dari ruangan Chiara. Mami Anna hanya mengangguk, dia tau masalah yang menimpa keluarga kakak beradik itu.


Mengabaikan orang lain yang ada di dalam ruangan itu, Mami Anna lebih memilih duduk di kursi yang ditinggalkan oleh Caesar.


"Cantiknya Mami kapan bangun? " tangan lembutnya mengelus perban yang ada di kepala sang anak.


"Chia mimpi apa sampai gak mau bangun, nak? " Chiara tak mengalami luka serius, hanya benturan cukup keras di kepalanya.

__ADS_1


"Padahal kemarin Chia masih bilang kangen Mami, terus kenapa sekarang masih tidur anak cantik? " Mami Anna tak mampu menahan air matanya lagi.


Kemarin dengan terpaksa dirinya harus ke luar kota karena ada sedikit kendala dengan event yang dia adakan. Namun siapa sangka jika malamnya dia akan mendapat kabar, anak gadisnya kecelakaan.


"Ma? " Pandu yang langsung masuk juga tak menyadari keberadaan Narendra dan yang lainnya di ruangan itu.


"Adik mu tak apa kan, nak? " tanya Mami Anna dengan suara bergetar. Dengan sigap Pandu mendekap Mami Anna. Fany juga dengan spontan mengelus bahu ibu mertuanya itu.


"Dia gadis kuat, Ma. Percayalah dia hanya lelah"


"Mami tau, yang Mami khawatirkan kondisi dia, Pan"


"Tidak ada luka serius, Ma. Dia hanya terbentur cukup keras. Dia shock hingga pingsan. Pandu semalam bilang apa sama Mami, Chia naik mobil Chacha bukan naik mobilnya sendiri. Mobil Chacha semua memiliki tingkat keamanan yang tinggi, Ma" jelas Pandu dengan pelan-pelan.


"Terus keadaan Chacha gimana? " tanya Mami Anna lagi.


"Ya Tuhan, gimana sekarang keadaannya" Mami Anna semakin panik, dirinya takut jika Chiara disalahkan dalam hal ini.


"Mam tenang"


"Tapi Pan... "


"Mi" Fany mengelus pelan Mami Anna dan menariknya ke dalam pelukannya. "Chacha udah tau kalau dia hamil sebelum kejadian itu terjadi. Ini juga bukan salah Chiara, karena murni kecelakaan. Mobil Chacha di sabotase, Mami gak usah panik atau takut Chiara bakal disalahkan. Bahkan keluarga Chacha beruntung karena Chiara yang bawa mobil, mereka gak bisa bayangin gimana kalau Chacha yang bawa mobil, kita semua tahu gimana nekatnya Chacha bermain dengan nyawanya sendiri" Fany menjelaskan dengan pelan dan terus mengelus punggung Mami Anna.


"Jadi Mami gak usah panik, sekarang yang harus kita pikirin gimana cara ngadepin Chiara. Dia pasti bakal terpukul atau bahkan malah menyalahkan dirinya sendiri terus menerus. Mami tahu se posesif apa Chiara sama Chacha. Tenangin diri Mami untuk memeluk Chiara nanti, karena Fany yakin Chiara lebih terguncang saat tahu nanti"

__ADS_1


Pandu menatap teduh tunangannya itu. Gadis dingin nan cuek ini bisa hangat dan memperlakukan sang mama dengan begitu lembut. Hingga matanya tak sengaja melirik ke arah sofa yang diisi oleh anggota keluarga Narendra. Pandu hanya tersenyum sinis tanpa menyapa keluarga itu.


Bahkan Chiara sudah tak tinggal lagi di rumah keluarga Narendra. Chiara dan Pandu muak dengan drama yang terjadi di keluarga Narendra. Bagaimana tidak, ketika Narendra hendak menggugat Maya, dengan santainya Mila, yang notabenenya adalah ibu kandung Narendra malah melarangnya. Dengan alasan jika keluarganya terikat bisnis cukup kuat dengan keluarga Maya. Mila takut jika bisnis keluarga Narendra oleng.


Chiara yang mengetahui itu bahkan tanpa berpikir dua kali langsung menarik saham di perusahaan Narendra. Tampaknya Chacha memang sengaja membuat Chiara memimpin salah satu usahanya yang menjadi tempat Narendra bernaung. Cukup membuat kelabakan di keluarga Narendra, begitu juga usaha Maya yang sempat Chiara buat kalang kabut. Bahkan hingga saat ini mereka masih mengemis agar Chiara mau membantunya bangkit kembali. Namun Chiara tak sebodoh itu bukan.


"Bisakah setelah ini kita tinggal di luar negeri saja? Mami tak tahan jika terus disini" Mami Anna menatap Pandu dengan tatapan memohon. Mami Anna hanya tak ingin menambah porsi kebenciannya pada Narendra, yang sialnya justru dirinya semakin tak bisa menghilangkan rasanya pada Narendra.


"As you wish, Mom. Tapi biarkan aku menikahi bidadari ku dulu" semburat merah muncul di pipi Fany.


"Ah, iya kapan kalian akan menikah? " tanya Mami Anna buru-buru mengubah moodnya.


"Bisakah kau menunggu agar aku memastikan Chiara bahagia dulu? " Tanya Pandu pada Fany.


"Bisakah jika kita yang memastikan kebahagiaan Chiara, bukan hanya kamu. Tapi kita, Chiara juga saudaraku bukan? " Fany bertanya dengan senyum manis di bibirnya.


Mami Anna kembali menitikkan air matanya. Entahlah dia merasa sangat beruntung bertemu dengan Chacha, dikelilingi orang-orang baik berhati tulus. Bahkan mengirimkan banyak malaikat untuk menjaganya.


"Bagaimana jika pernikahan kita disatukan? "


"Tapi Zeze? "


"Aku akan bicara pada Zeze jika kita akan mencari kebahagiaan Chiara dulu, aku yakin jika Zeze akan setuju. Atau bahkan kita akan berburu jodoh untuk Chiara" Fany tergelak akan ucapannya sendiri.


"Maaf jika aku terkesan egois, aku hanya ingin memastikan jika saudara kembar ku tak lagi merasakan sakit apapun itu. Aku ingin memastikan jika dirinya benar-benar bahagia, aku juga ingin dia mendapatkan laki-laki yang pantas melindunginya seperti yang selalu Queen lakukan untuknya, aku bahkan bukan Abang yang baik buat dia. Dan terima kasih mau mengerti segala kekurangan ku selama ini, bahkan mau menemani ku hingga sejauh ini. Aku yang tak kunjung membawa hubungan ini ke pelaminan masih kamu pertahankan sejauh ini, ini janji ku yang terakhir. Setelah Chiara menemukan jodohnya, kita akan langsung menikah " Fany hanya mengangguk, entah mengapa dia menaruh harapan besar pada laki-laki yang mampu mendobrak pintu hatinya ini.

__ADS_1


...~END~...


🤭🤭🤭


__ADS_2