
Levy mengepalkan tangannya dengan kuat saat melihat pipi Chacha yang memerah karena tamparan. Dirinya bahkan memalingkan wajah, emosinya benar-benar memuncak kala melihat istrinya diperlakukan seperti itu. Bukan tak bisa melindungi, namun Chacha belum mau membuka identitasnya sebagai istrinya.
Sedangkan Chacha masih menampilkan senyum smirk nya. Ini ayahnya, ayah kandungnya, namun entah kebencian apa yang membuat dirinya begitu tega menganak tirikan bungsunya ini.
"Bunda juga tak percaya padaku? " tanyanya sambil menoleh ke arah Bu Ratu.
"Bu... Bunda" Bu Ratu bingung harus menjawab apa.
"Baiklah, aku memang bukan anak kalian rupanya" Chacha terkekeh saat mengatakan itu. "Terimakasih bunda telah mau menampung ku di rahimmu dan mau menggadaikan nyawamu untuk melahirkan ku"
Chacha kembali menegakkan badannya dengan wajah seriusnya. Berhadapan langsung dengan sang ayah dan kakaknya.
"Anda meminta bukti bukan? "
"Ya"
"Kali ini video asli nona Audy bukan lagi cuplikan" Audy langsung gugup saat Chacha mengatakan itu. "Ohohoho tak perlu gugup nona, aku harap kau akan menikmati nya"
Brugh...
Audy bersimpuh didepan Chacha. Membuat semua orang kaget, Chacha hanya diam melihat apa yang akan dilakukan Audy selanjutnya.
"Kakak salah dek, maafkan kakak"
"Kamu salah apa? " tanya Chacha dengan wajah polosnya. Sedikit memiringkan kepalanya, jika bukan karena situasi yang tegang ekspresi Chacha kali ini sangat menggemaskan.
"Meski kakak gak tau kakak punya salah apa sama kamu, tapi kakak mohon maafkan kakak. Hentikan membuat kekacauan, hentikan membuat malu nama keluarga"
"Keluarga ya? " Chacha mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. "Apa itu keluarga? Dan keluarga mana kau sebut tadi"
"Keluarga Effendy, dek. Bagaimanapun kamu bagian dari keluarga Effendy. Kamu adek kakak, anak ayah sama bunda" jelas Audy dengan linangan air mata. Dan itu sukses membuat orang bersimpati padanya.
"Anda melupakan satu hal nona. Aku bukan lagi bagian dari keluarga Effendy, bukankah namaku sudah dicoret dari kartu keluarga? "
"Cukup. Kamu semakin lama semakin gak tau sopan santun" teriak Ayah Gun.
"Jangan berteriak pada adikku, Tuan Gunawan Effendy yang terhormat" suara berat menghentikan tangan Ayah Gun yang hendak menampar Chacha kembali. "Dan jangan sekalipun anda menyakiti adik saya dengan tangan anda itu" suaranya pelan dan dingin, namun begitu menusuk siapapun yang mendengar. Tersirat ancaman yang nyata dalam setiap perkataannya.
"Danial"
"Cukup. Aku kecewa dengan kalian. Kemari sayang" King mengulurkan tangannya pada sang adik.
Chacha yang melihat Abangnya datang dan mengulurkan tangan, langsung berlari menghamburkan dirinya ke pelukan sang Abang. Sungguh Chacha bukan gadis kuat jika sudah dihadapkan dengan kedua orang tuanya. Apalagi melihat bundanya yang sejak tadi diam melihat dirinya bertengkar tanpa niat membela atau melerai.
Chacha memeluk King erat, seakan mengisi ulang energi tubuhnya. Sedangkan King menatap sekelilingnya dengan tajam. Bahkan ayah dan bundanya juga tak luput dari tatapan dinginnya.
"Aku akan menyelesaikan ini, Bang"
"Kau yakin sanggup"
"Aku harus membersihkan nama baikku"
"Baiklah, ingat Abang di belakang mu"
"Ya"
__ADS_1
Chacha melepaskan pelukannya langsung berbalik dengan tatapan yang lebih dingin dari tadi.
"Baiklah tak ada basa-basi lagi. Gue cuma minta satu hal sama lo Audy. Akui kalau berita buruk tentang gue itu adalah ulah lo"
"Kamu jangan menuduh kakak kamu tanpa bukti"
"Lo gak punya mulut Audy? "
"Kamu"
"Cukup, bawa masuk" Chacha sedikit berteriak.
Dari pintu masuk terlihat satu orang yang didorong paksa oleh dua orang berpakaian pengawal. Orang itu terlihat babak belur entah karena apa. Hingga dua pengawal itu melemparkan dirinya tepat di hadapan kaki Chacha.
"Katakan sesuatu"
"Tidak"
"Siapa yang menginterogasinya? "
"Tuan Ardan, My Lady"
"Kak Ardan terlalu baik hati. Baiklah karena kau tak mau mengakui, kita gunakan dengan caraku"
Chacha duduk menjajarkan tubuhnya dengan pria yang dilempar oleh anak buahnya tadi.
"Gue tahu lo sayang banget sama anak bini lo. Gue bisa jamin keselamatan anak bini lo"
"Awalnya juga gitu, tapi apa yang gue dapet"
"Baik"
"Bisa bicara sekarang? "
"Apa jaminan yang gue dapet? "
"Apa yang lo mau? "
"Tubuh lo"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Tiga pukulan mendarat begitu cantik menyentuh tubuhnya. Siapa lagi jika bukan Levy sang suami yang sudah menahan emosinya sejak tadi, cukup tersalurkan dengan kebodohan orang ini. King sang Abang, mendengar dia mempersulit sang adik saja darahnya sudah mendidih ditambah dengan pemikiran bodohnya. Terakhir Elang, dia yang selama lima tahun memantau perkembangan sepupunya itu tak rela jika harus melihat orang yang dia jaga dianggap sebelah mata.
"Lo tau, harusnya lo ngomong kayak gini pas di markas gue. Kan asik tuh mereka dapat samsak hidup buat latihan" Chacha mengutak-atik ponselnya sesaat kemudian dirinya menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Tak perlu bebaskan dua orang itu, cukup tanam bom saja ditempat itu. Aku yang akan meledakkan nya dari sini"
Pria yang masih berlutut didepan Chacha membulatkan matanya tak percaya. Dirinya salah menilai gadis cantik dihadapannya ini.
"Aku mohon nona jangan sakiti mereka" Chacha hanya diam tak menggubris pria itu sama sekali.
__ADS_1
"Aku mohon nona mereka hidupku nona, mereka duniaku"
"Lalu apa kau pernah berpikir sebelum melakukan tindakan untuk membuat nama baikku hancur. Aku kehilangan kasih sayang kedua orang tuaku, aku kehilangan duniaku, aku kehilangan pegangan, aku kehilangan hidupku. Apa kau tau itu. Kenapa kau sekarang memohon padaku. Bukankah kita akan impas? "
"Aku mohon nona, jangan sakiti mereka"
"Apa aku membuat penawaran denganmu? "
"Baiklah nona baiklah, aku mengaku sekarang. Aku memang disuruh oleh nona yang memakai baju pengantin itu" tunjuk nya pada Audy.
Semua orang yang ada didalam ruangan itu kaget bukan main. Tak menyangka lebih tepatnya.
"Kau berbohong, penipu. Atas dasar apa kamu menuduhku. Tidak ayah, bunda dia berbohong"
"Jelaskan"
"Aku dan dia adalah teman seangkatan, kita satu sekolah yang sama saat SMA dulu. Kami lost contact beberapa tahun, namun dia kembali menemuiku dan meminta bantuan"
"Dia meminta aku mengedit wajah seseorang, saat kutanya untuk apa dia tak mengatakan alasannya dengan jelas. Dia cuma memberiku bayaran yang cukup fantastis. Aku tergiur dengan bayarannya maka aku lakukan apa yang dia mau"
"Tiap tahun aku selalu mengedit foto atau video itu dengan wajah yang sama. Tapi aku benar-benar tak tau untuk apa dia melakukan itu"
"Cukup. Mengelak apa lagi kali ini, Nona muda Effendy? "
"Dia berbohong ayah, aku bahkan tak mengenalinya"
Ayah Gun diam, dirinya bingung harus bersikap seperti apa kali ini. Jika memang benar apa yang dikatakan oleh pria itu, bukankah dirinya sangat bersalah pada gadis kecilnya itu.
"Kau menantang ku Audy" geram Chacha.
Chacha memberi kode entah pada siapa. Lalu lampu kembali dimatikan, beberapa video ditayangkan secara bersamaan.
"Mengelak lah Audy. Bukankah beberapa orang divideo ada disini"
Diam-diam beberapa orang keluar dari acara pesta tersebut. Namun tanpa sepengetahuan mereka jika, acara itu tak bisa ditinggalkan sampai acara selesai.
Bahkan kakek dan neneknya sudah Chacha minta untuk tidak ikut campur masalah ini.
"Tidak ayah itu bukan aku, itu fitnah ayah" Audy menangis memohon pada sang ayah yang tetap diam terpaku ditempatnya.
"Cukup Audy. Sekarang kamu tahu bagaimana jika publik membencimu, memandang remeh dirimu, menatap jijik padamu. Sekarang kamu tau apa yang selama ini aku rasakan"
"Kenapa lo lakuin ini ke gue, hah? " teriak Audy.
"Gue cuma mau mengembalikan nama baik gue. Apa gue salah. Sekarang gue balik tanya ke lo. Kenapa lo lakuin itu ke gue? "
"Lo memang ja*ang, apa yang harus ditutupi"
"Ja*ang teriak ja*ang. Lo iri sama gue Audy, karena apa gue lebih segalanya dari lo. Karena gue bibit unggul. Gue anak bunda dan ayah gue"
"Tapi lo tetep ja*ang"
Plak..
"Shut your fu*king mouth, Audy. Gue bukan ja*ang, gue lahir dari rahim wanita terhormat. Bukan seperti lo, yang lahir dari rahim seorang ja*ang"
__ADS_1
"Maksud lo apa? " Chacha hanya menampilkan senyum smirknya.