Call Me Queen

Call Me Queen
Meet Up


__ADS_3

"Ini beneran ketemu Chacha, kan? " Karin memastikan sekali lagi pada sahabatnya yang lain.


"Kata Elang gitu, Chacha ngajakin ketemu disini"


"Biasanya tuh anak ngajakin nya di VIP room ini kok beda" Nena heran karena biasanya Chacha akan berkumpul di ruangan VIP FF resto itu.


"Lima tahun kita pisah tanpa kabar, mungkin kebiasaannya udah berubah" tambah Fany.


"Ini kita kumpul semua? " tanya Zeze saat melihat Kinos dan Putra dari pintu masuk.


"Hai" sapa Putra.


"Udah lama kalian"


"Baru juga sih, ngapain? "


"Ketemu Chacha, kalian? "


"Sama"


"Elang nyuruh kita kumpul disini tapi tuh anak malah lambat"


"Biasa lah dia beda sama kita"


"Ya iyalah, wakil direktur emang beda"


Mereka menunggu cukup lama kehadiran Elang dan Chacha. Mereka berpikir apa gadis itu banyak mengalami perubahan, setelah lima tahun terakhir tak berjumpa.


"Tunggu si Levy sekalian" Elang yang baru datang langsung berbicara.


"Kaget gue kampret" Nena langsung menggeplak Elang karena kaget.


"Si Levy lo ajak juga? "


"Dia juga sahabat kita"


"Dia udah ada pawangnya, masa iya mau ketemu sama cewek lain. Bisa geger ini"


"Dianya mau, palingan dia bawa tunangan posesif nya"


"Kenapa sih, Lang? "


"Apanya kenapa? "


"Sejak Levy tunangan lo kayak gimana gitu sama tuh anak"


"B aja kok. Nah orangnya dateng. Bener kata gue kan" mereka sontak menoleh kearah pintu masuk. Tampak Levy berjalan dengan sang tunangan.


"Duh iye yang udah punya tunangan, mesra amat" sindir Zeze membuat Levy menaikkan sebelah alisnya.


"Udah ayok ke VIP 1 Queen udah tadi disini" ajak Elang.


"Lah kenapa gak bilang sih, kan kita bisa langsung masuk" Karin dengan kesal mendahului mereka.


Mereka berjalan menuju ruangan VIP 1 dimana ruangan itu khusus untuk pemilik. Sesampainya didepan pintu mereka berniat mengejutkan Chacha tapi siapa sangka mereka terkejut dengan seseorang keluar terlebih dahulu.


"Kak Shiro" Elang langsung menyapa orang tersebut.


"Tuan muda"


"Ngapain? "


"Biasa Queen butuh asupan obat" jawabnya sambil terkekeh.


"Sakit? perasaan kemaren aman-aman aja deh"


"Tidak tuan muda. Nona kecil butuh asupan vitamin dan pil pemulihannya saja"


"Pil pemulihan? "


"Tanyakan padanya, saya tidak berhak memberi tahu masalah ini. Saya permisi" Shiro langsung meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan.


Karin membuka pintu perlahan, tampak di sana seorang gadis tidur dengan posisi tengkurap di sofa panjang.


"Jangan rame, Chacha lagi istirahat. Masuk perlahan aja" mereka mengangguk mendengar instruksi Karin.


Mereka masuk secara perlahan dan duduk dimana saja yang membuat mereka nyaman. Menunggu sang putri tidur terbangun. Hingga lima belas menit kemudian ponsel milik Chacha berdering. Sang empu meraba-raba mencari letak ponselnya masih dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Hmm"


"... "


"Gue lemes kampret"


".... "


"Kagak gue gak bisa jemput, telfon yang lain kenapa sih"


"... "


"Salah lo sendiri, gue udah bilang mau pulang besok sekarang lo telfon gue ini malah seenak jidat"


"... "


"Taksi banyak ya Tuhan, jangan manja"


"... "


"Gue tunggu" Chacha langsung mematikannya sepihak.


Chacha bangkit dari posisinya berubah menjadi duduk sambil memijat pangkal hidungnya. Dirinya masih tak menyadari jika menjadi pusat perhatian sejak tadi.


"Udah bangun putri tidur" Akhirnya Elang buka suara.


"Eh... " Chacha melihat sekelilingnya, ia tersenyum kikuk. Para sahabatnya sudah berkumpul semua.


"Chacha kangen" Chacha langsung merentangkan tangannya, membuat keempat sahabatnya langsung memeluknya.


"Kalian apa kabar? "


"Kita baik. Lo yang apa kabar? " tanya Fany.


"Gue baik lah buktinya gue balik"


"Gimana selama lima tahun? " Karin penasaran.


"Cukup menyenangkan" Chacha terkekeh menjawab pertanyaan si petakilan. Jika dirinya jujur apa yang terjadi selama lima tahun terakhir, ia yakin sahabatnya akan menganga tak percaya.


"Seperti yang lo lihat" jawab Putra sekenanya.


"Ini tunangan pak bos? " tanya Chacha pada yang lain melihat sosok wanita di samping Levy. Mereka mengangguk serempak.


"Manis sekali" tambahnya dengan senyum manisnya. Jangan tanya Levy sedari tadi ia hanya diam dengan wajah datarnya. Jika bukan paksaan Elang dirinya enggan datang.


"Kenalin gue Chacha" Chacha mengulurkan tangannya.


"Angel Narendra" jawab wanita itu menerima uluran tangan Chacha.


"Pak bos apa kabar? " Chacha menekan sesuatu saat menanyakan kabar orang yang satu ini.


"Baik" jawab Levy dingin.


Chacha menghela nafas mendengar jawaban Levy. Apa salah dirinya hingga Levy seperti ini. Apa karena tak berpamitan? Apa karena tak ada kabar? Dirinya akui ia salah karena tak memberi kabar terlebih dahulu Tapi tiba-tiba dirinya bertunangan dengan orang lain, disaat statusnya masih berpacaran dengannya. Ah sungguh ia pusing memikirkan ini.


"Lo gak sarapan tadi? " tanya Elang pada Chacha.


"Sarapan kok"


"Jangan bohong muka lo pucet, nona kecil"


Chacha cemberut dengan gaya bertanya Elang yang mengintimidasi. "Kurang istirahat doang"


"Kan kemarin siang yang sampek, ngapain aja sampek kurang istirahat? "


"Kepo lo"


"Cha... "


"Bukannya dipesenin makan malah diajak debat" satu juta kan manis mendarat di kening Elang, jangan tanya siapa pelakunya pastinya Karin.


"Maaf deh"


"Pesen deh gue ke kamar mandi dulu" Chacha beranjak langsung ke kamar mandi, kepalanya masih berdenyut dirinya berniat mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


"Chacha berubah ya" Nena bersuara.

__ADS_1


"Apanya? "


"Makin cantik"


"Iya, gue rasa kalo dia jadi artis langsung melejit karirnya. Liat aja body nya bak model"


"Tapi kayaknya dia capek banget deh. Salah gak sih kita ngajakin dia ketemu hari ini" Karin ragu bertanya pada Elang.


"Dia yang mau jadi santai aja. Ayo pesen dulu"


Mereka membuka buku menu yang ada dan langsung memesan apa yang mereka inginkan. Sembari menunggu Chacha keluar dari kamar mandi mereka saling bertukar cerita hanya Levy dan tunangannya yang lebih banyak diam.


"Angel gabung sini. Betah banget sama manusia es satu itu" seru Zeze mengajak Angel.


"Emang gak papa Angel gabung kak? "


"Gak papa udah sini"


Angel bergabung dengan mereka meninggal Levy dengan kesendiriannya. Dengan pemikirannya. Apa selama ini dirinya salah menilai Chacha. Apa informasi yang ia dapat salah. Dirinya bingung, marah, kecewa dan rindu menjadi satu saat menatap Chacha.


Cklek...


Chacha keluar dengan tampilan yang berbeda saat memasuki kamar mandi tadi. Jika dirinya tadi memakai jeans kali ini ia memakai dress selutut berwarna mustard, Kontras dengan kulit putihnya.


"Udah pesen? " suara Chacha menyadarkan mereka dari kekagumannya menatap Chacha saat keluar dari kamar mandi.


"Udah kok tinggal lo doang yang belum" jawab Fany.


"Makanlah gue ambil makanan gue dulu"


"Eh kok ambil kenapa gak pesen? " tanya Karin.


"Tadi gue sempet buat cake buat kalian, gue lihat dulu sekalian ambil makan" Chacha langsung berlalu begitu saja.


Mereka langsung menyantap apa yang mereka pesan tadi. Hingga Chacha kembali lagi dengan makanannya dan beberapa pelayan yang membawa cake dibelakangnya. Tanpa bicara Chacha langsung duduk dan makan dengan tenang hingga menghabiskan lemon tea miliknya.


"Emm.. Maaf kak Chacha" Angel ragu untuk bersuara.


"Ya? "


"Kakak ini kayak mirip nona muda Effendy" Chacha terkekeh mendengar ucapan tunangan kekasihnya itu. Ah kekasih, itu dulu sekarang sudah milik orang lain. Miris sekali.


"Bukan mirip itu emang gue"


"Jadi... "


"Gue bukan j****g, percya gak percaya itu hak lo" putusnya langsung.


"Cih..." Levy mendesis sinis. Membuat yang lain menatapnya heran.


"Lo kenapa Lev? " tanya Kinos.


"Nginep di rumah ya" Chacha langsung memotong agar Levy tak menjawab pertanyaan Kinos. Sungguh dirinya masih tak sanggup mendengar alasan Levy.


"Nah ini baru Chacha" ucap Zeze.


"Eh... " Chacha terkesiap.


"Manja" ucapnya serempak lalu mereka tertawa bersama.


"Apa rencana lo kedepannya? " tanya Putra.


"Kuliah aja kali ya"


"Gue setuju sih"


"Daripada lo gabut gak ada kerjaan ya, Cha" tambah Kinos membuat Chacha manggut-manggut.


"Kalian lanjut S2? "


"Iya masih di Universitas yang sama" jawab Putra.


"Kenapa gak coba ke luar negeri? "


"Lebih asik di sini. Lagian pak bos juga lanjut di sini kok" Chacha melirik sebentar ke arah Levy saat mendengar jawaban Kinos.


Mereka melanjutkan obrolan tak jelasnya hingga kadang tertawa terbahak-bahak, saling ejek. Kembali mengenang masa putih abu-abu. Tak peluk disisi lain Levy jarang menanggapi obrolan, dia tetap dalam diamnya dengan ekspresi datar dan dingin. Sedangkan Angel sudah geram sejak tadi. Biasanya dirinya selalu menjadi pusat perhatian jika sedang berkumpul dengan sahabat Levy. Kali ini malah berbalik pada gadis yang baru ia kenal. Bahkan acap kali dirinya kesal pada Chacha karena begitu disayang oleh lainnya.

__ADS_1


__ADS_2