
Mau dilihat dari mana pun, hubungan mereka memang tidak sehat. Meskipun terlihat mesra, pasti semua orang akan terkejut saat mengetahui bahwa Levy belum pernah meniduri Chacha sama sekali.
Chacha masih memikirkan bagaimana sabarnya Levy dalam menghadapi Chacha. Bahkan setelah satu bulan mereka tinggal bersama, Levy tidak pernah mendesak Chacha untuk melakukan hubungan suami istri. Mereka satu rumah, satu ranjang tapi belum melakukannya.
Konon katanya, hal itu sangat sulit dilakukan oleh laki-laki manapun. Kecuali kalau laki-laki itu gay. Namun Chacha ragu jika Levy seorang gay, mengingat terakhir kali Levy menyentuh tubuhnya dengan bibirnya.
Chacha membayangkan sentuhan Levy dan matanya terpejam secara otomatis. Levy yang begitu menggoda dan mengecupnya penuh cinta, Chacha dapat terbuai dalam itu semua, semalaman.
"Wah, mulai gila nih gue" Kata Chacha sambil menggeleng. Demi apapun, Chacha tak percaya bahwa baru saja memikirkan lanjutan adegan itu di dalam kamar mandi! Dan tanpa busana!
Fantasi Chacha sudah makin meliar. Ia tidak sadar bahwa kadang kenyataan tidak sesuai dengan khayalan. Ia tahu banyak yang kecewa dan menganggap bahwa malam pertama tidak sehebat apa yang mereka pikirkan sebelumnya.
Bagaimana jika itu terjadi pada Chacha dan Levy? Bagaimana jika mereka melakukannya, lalu Levy merasa biasa saja dan kecewa pada Chacha?
Kegiatan mandi sungguh kegiatan yang mendukung overthinking umat manusia. Chacha tak ingin terlalu berlarut dalam pikirannya itupun langsung menyegerakan mandinya. Setelah itu, ia mengambil handuk di luar area shower dengan mata tertutup karena wajahnya masih dipenuhi air.
Tapi karena buru-buru, Chacha pun menarik handuk dengan kasar sehingga handuk yang ditariknya menyenggol piyama yang tadi ia gantung.
"Yaaah... " Ujat Chacha saat melihat piyama biru muda kebesarannya itu jatuh dengan sukses ke lantai kamar mandi yang basah. Chacha buru-buru mengangkat satu pasang baju dan celana itu, tapi ternyata percuma. Piyama itu tak mungkin dipakai malam ini, terlalu basah.
"Basah ya, Cha? "
Celetukan jahil Karin pun spontan kembali di kepala Chacha.Diikuti dengan pukulan tangannya sendiri di dahinya.
"Karin sialan, otak kotornya udah mulai nularin gue.. " Rutuk Chacha dengan kesal.
Ya, semua pikiran kotornya tadi tidak lebih dari hasil menghabiskan waktu dengan Karin seharian. Tidak ada penjelasan lain. Pasti begitu!
Chacha pun meletakkan piyama yang sudah menyerap banyak air tersebut ke dalam kantong baju kotor yang berada di bawah meja kaca yang besar. Ia mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk sampai kering. Setelah itu, Chacha berniat keluar untuk mengambil baku tidur lainnya.
"Yang? Kamu kok lama banget mandinya? " Suara Levy dari luar membuat Chacha yang tadinya mau memutar gagang pintu langsung mundur dan membatalkan niatnya. Ternyata Levy sudah masuk ke kamar. Chacha melihat sekelilingnya. Tak ada yang bisa digunakan sebagai pakaian.
Chacha lalu melihat handuknya. Ia pun kebingungan, mengapa handuk ini kecil sekali? Terlalu kecil untuk dililitkan ke tubuhnya.ang Chacha sedang tidak beruntung, bisa-bisanya dia lupa mengambil handuk untuk tubuh dan kini sedang memakai handuk untuk mengeringkan rambut yang ukurannya jauh lebih kecil itu.
Chacha mengadah dengan tatapan minta dikasihani. Inikah cara Tuhan menghukum Chacha yang tidak mau memberi jatah suaminya sejak mereka menikah?
"Sayang kamu bikin aku khawatir" Ucap Levy dengan nada suara yang mulai tidak sabar. Chacha baru sadar kalau sejak tadi ia belum menjawab Levy.
__ADS_1
"Aku gak papa kok, Mas" Ucap Chacha gugup. Kalau kali ini Levy melihatnya tanpa busana, pria itu pasti tidak akan dapat menahan dirinya lagi.
Apakah malam ini akan menjadi malam pertama mereka?
Chacha melotot, lalu menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar kencang, tanda bahwa ia sedang merasa sangat tegang saat itu. Tiba-tiba Chacha memiliki ide.
"Mas, Mas... Tolong ambilin baju tidur buat aku dong. Piyamaku jatuh terus basah nih" Kata Chacha dari dalam kamar mandi. Daripada pusing dengan keberadaan Levy, lebih baik memanfaatkannya untuk membantu Chacha.
Chacha tersenyum, seolah dengan kecerdikannya mampu mencurangi takdir.
"Baju yang mana? "Tanya Levy sambil membuka lemari.
Chacha mendengar samar-samar suara lemari dibuka. Chacha tahu bahwa Levy tak memahami sistemnya dalam merapikan pakaian. Chacha lebih memilih menumpuk atasan dengan sesama atasan dan bawahan dengan sesama bawahan. Hal ini membuat piyama yang seragam menjadi terpisah.
Chacha yakin kalau Levy mengambil piyama Chacha, Levy hanya akan mengambil atasan dan bawahan secara asal-asalan dan tidak berseragam. Bayangan itu membuat Chacha merasa tidak nyaman.
"Ambil yang baru aja. Itu yang tasnya ada di atas kasur" Kata Chacha memberi instruksi. Mungkin memang saatnya daster yang ia beli tadi mulai dipakai. Toh kata tokonya, pakaian yang mereka jual itu sudah bersih. Namanya juga toko premium.
Sementara itu, diluar kamar mandi Levy mencari baju yang Chacha inginkan sesuai instruksi. Tapi setelah membuka tas belanja yang Chacha maksud, jantungnya serasa meletup dan nafasnya tertahan. Ia terdiam melihat satu-satunya pakaian yang menyembul dari dalam tas pakaian tersebut.
Levy mengangkat pakaian itu perlahan dan ternyata tebakannya tidak salah. Saat ini ia tengah merentangkan sebuah baju tipis dengan bahan yang ringan itu dan merentangkannya ke udara. Levy menelan ludah dengan berat.
"Yang, yang warna maroon bukan? " Tanya Levy gugup, mencoba mengkonfirmasi. Siapa tahu Chacha salah.
"Iya bener Mas yang itu" Ucap Chacha yang tidak tahu menahu apa yang suaminya temukan. Satu hal yang ia tahu adalah tadi dirinya mengambil satu daster manis berwarna maroon.
Wajah Levy pun memerah melihat lingerie transparan berwarna maroon yang sangat pendek. Levy dapat melihat ****** ***** tipis yang tergantung dibalik lingerie itu. Sedangkan bagian dadanya dipenuhi brokat dengan bagian yang sangat dalam. Bentuk brokat itu menyerupai kupu-kupu. Sungguh indah di mata Levy.
Levy pun menurunkan pakaian yang ia pegang erat-erat itu. Dilihat darimana pun, lingerie itu tak ada bedanya dengan pakaian dalam dengan tambahan kain transparan yang menjuntai indah di bagian perut dan punggung. Alih-alih membuat penampilan perempuan menjadi lebih tertutup dan sopan, baju itu malah menimbulkan fantasi terliar Levy akan istrinya.
Bayangan Chacha dengan kaki mulianya yang tak tertutup celana biru bergambar doraemon membuat nafas Levy menjadi tak beraturan.
"Ka-kamu... Yakin mau pakai ini, Yang? " Levy berulang kali mengusap wajahnya, menahan debaran dadanya yang sulit dikontrol. Sesuatu timbul dari dalam tubuhnya dan kini ia merasa kepanasan. Bayangan Chacha dalam balutan lingerie ini terlanjur memenuhi dan mengacaukan otaknya.
"Iya aku udah nggak punya baju tidur lagi nih" Kata Chacha.
Entah mengapa Levy sekilas mendengar ucapan Chacha barusan menjadi, "iya aku udah gak pakai baju lagi nih"
__ADS_1
"Mungkin karena saat ini Levy sedang membayangkan hal itu. Ia lalu menggeleng cepat. Chacha tak mungkin bertindak genit padanya. Ini sama saja cari mati.
"Tapi kok gak kayak biasanya? " Tanya Levy lagi, mencarinya jawaban kira-kira apa maksud Chacha dengan semua ini. Apakah ini tanda dari istrinya itu? Apa itu artinya Chacha telah siap untuk melakukannya? Kalau Chacha melakukan ini semua pada Levy hanya untuk menguji, sungguh Chacha tega sekali.
Sementara itu, dari dalam kamar mandi Chacha berpikir bahwa Levy sedang mengacu pada model daster yang ia pilih tadi setelah biasanya memakai piyama bercelana. Chacha pun menjawab Levy dengan ringan.
"Iya biar lebih praktis aja pakenya, Mas. Simple kan modelnya? "
Tubuh Levy mulai menegang. Wajahnya sudah sangat merah dan penuh keringat dingin.
"A-aku.. Su-suka sih mo-modelnya" Ujar Levy terbata. Chacha pun bertanya-tanya, Levy yang biasanya tegas kenapa sekarang suaranya jadi begitu kaku dan gugup.
"Huaatssyimmm! " Keheranan Chacha buyar karena dirinya baru saja bergidik. Ternyata dingin juga rasanya kalau malam-malam tidak pakai baju sehabis mandi.
"Mas... Buruan dong, dingin nih" Seru Chacha mulai tak sabar.
Levy menatap kamar mandi dengan wajah tak percaya. Apa ini petunjuk lain dari Chacha? Setelah sebelumnya ia bermanja pada Levy, menggoda dan mengajak suaminya itu bermesraan secara tanggung, lalu ini?
Tidak. Terakhir mereka bicara, Chacha berkata bahwa saat siap dirinya akan mengatakannya pada Levy.
Tapi disisi lain, Chacha buka tipe perempuan yang suka memendam apa yang ia inginkan. Apalagi jika ia merasa tak nyaman. Jadi bisa saja ini adalah cara Chacha untuk menyampaikannya pada Levy secara tidak langsung.
Levy menggeleng. Dia tahu istrinya. Levy tidak percaya bahwa itu adalah baju yang dimaksud Chacha. Ia pun berniat mencari sekali lagi ke dalam tas belanja yang berisi pakaian seksi tersebut. Tapi lagi-lagi Levy membatu ketika melihat satu pemandangan yang lebih memacu jantungnya.
Sebungkus alat kontrasepsi yang nampaknya baru dibeli.
Ini sih kalau bukan tanda dari Chacha si pasif-agresif, Levy tidak tahu lagi apa namanya. Seluruh petunjuk meneriakkan satu hal. Chacha sudah siap.
Nafas Levy pun menjadi memburu membayangkan bahwa malam ini akan menjadi malam pertama bagi mereka. Dengan perlahan ia menuju ke dekat kamar mandi.
"Yang, ini bajunya" Ucap Levy sambil menahan seluruh gejolak yang tengah memberontak di sekujur tubuhnya. Bayangan Chacha dengan pakaian tidur itu kini kembali. Tapi kali ini, Levy tak menolaknya sama sekali.
"Makasih sayang" Ujar Chacha sambil mengambil bajunya dari balik pintu.
Senyum Chacha pun hilang saat mendapati dirinya tengah memegang sebuah lingerie super seksi berwarna maroon.
...****************...
__ADS_1
Lanjut gak nih?
Tak tunggu di komentar ya😌