Call Me Queen

Call Me Queen
Permintaan Bunda


__ADS_3

Setelah drama yang cukup menguras emosi, akhirnya mereka sampai di parkir khusus pemilik rumah sakit. Namun, Chacha menghentikan gerak Levy ketika akan turun dari mobil.


"Kenapa? " Tanya Levy menghadap ke arah istrinya.


"Pengen jus mangga" Punya Chacha dengan binar mata penuh harap.


"Ayo ke kantin" Ajak Levy, namun Chacha menggeleng dengan keras. Levy hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Mau yang di seberang jalan sana" Levy mengerjap beberapa kali. Tak salahkah istrinya ini. Dari parkir khusus ke seberang sana lumayan jauh.


"Di kantin kan ada juga sayang" Bujuk Levy pada Chacha, bukankah mereka sedang buru-buru untuk melihat bayi Audy, lalu apa ini sekarang?


"Mau yang di sana, Mas" Chacha merengek layaknya anak kecil pada orang tuanya, menggoyangkan lengan Levy.


"Pulang nanti kita beli, sekarang beli di kantin dulu. Katanya gak sabar mau lihat anaknya Kak Audy" Chacha masih menggelengkan kepalanya keras. Levy hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.


"Oke, Mas belikan tapi, Mas antar kamu dulu ke dalam" Levy mengalah, sebelum mood bumil yang satu ini berantakan.


"Mas langsung beli aja, aku bisa sendiri kok ke dalam" Rupanya Chacha sudah benar-benar tak sabar untuk menikmati jus mangga.


"Mas antar dulu, cinta"


"Mas langsung beli aja, aku bisa sendiri ke dalam. Lagian ini wilayah aku sendiri kan, gak bakal ada yang macam-macam"


"Mas gak mikir ke situ, Mas cuma takut kamu kenapa-napa" Perasaan Levy tak tenang sejak Chacha menanyakan sesuatu yang membuat emosinya naik turun tadi.


"Ish, aku bakal hati-hati jalannya, janji deh janji" Chacha masih ngotot. "Buruan Mas pengen banget ini" Mohon nya pada Levy.


"Beneran hati-hati ya sayang" Levy akhirnya menyerah, rupanya sang istri ngidam lagi kali ini.


"Mas, kalau ada mangganya yang agak asam sedikit ya. Gak usah dikasih susu" Pesannya pada Levy, Levy hanya mengangguk saja.


"Ada lagi yang mau di beli? " Tanya Levy, Chacha menggeleng pelan. "Aku pesenin pakai gofood aja ya, sayang? "


"Gak mau, pokoknya harus papa yang beliin" Lagi-lagi Levy menghembuskan napasnya pelan, orang ngidam pasti akan ngotot agar ngidamnya terpenuhi. Levy sering kalo dibuat pusing dengan keinginan istrinya ini. Namun apa boleh buat, bukankah Chacha begini juga karena ulahnya.


"Ya udah, sekarang mama turun pelan-pelan. Ingat hati-hati, kalau nggak tunggu aku di lobby rumah sakit aja. Kita naik bareng nanti" Chacha hanya mengangguk patuh pada ucapan suaminya. "Tunggu di lobby aja" Pesan Levy lagi.


Chacha mengangguk sambil berjalan menjauhi mobil Levy yang terparkir. Setelah Chacha tak nampak lagi di penglihatannya barulah Levy menjalankan mobilnya menuju ke arah luar rumah sakit.


Sedangkan Chacha sendiri sudah berjalan memasuki area lobby rumah sakit. Banyak sekali perawat dan dokter yang menyapanya ketika berpapasan dengannya.


Ketika sampai di lobby Chacha cemberut karena tak menemukan satu pun kursi kosong. Rupanya hari ini pasien sangat banyak, lihat saja kursi di lobby penuh. Entah apa saja yang akan mereka lakukan di rumah sakit ini. Chacha melangkahkan kakinya menuju lift khusus, dia berniat langsung menuju ke kamar Bu Ratu. Daripada menunggu Levy dengan berdiri, mending dia langsung ke kamar sang bunda.

__ADS_1


Chacha hanya menaikkan sebelah alisnya ketika melihat beberapa suster berlarian, dia memilih meneruskan langkahnya menuju lift. Namun, matanya masih mengawasi beberapa suster yang berlarian, hingga..


Brakk...


Bugh...


Akh...


...****************...


Di ruangan Bu Ratu seluruh keluarga Effendy berkumpul menyambut anggota baru keluarga tersebut. Meskipun Audy terlahir sebagai anak tidak sah keluarga Effendy, namun karena permintaan Bu Ratu untuk menutup rapat masalah ini. Audy akan tetap menjadi anaknya sebagaimana yang tertulis di akta kelahirannya, bahwa Ratu Izhaka lah yang menjadi ibu dari Audy.


Audy duduk di bangsal dengan menggendong anaknya. Rupanya bayi itu sedang menyusu kepada ibunya. Bayi Audy berjenis kelamin laki-laki. Bayi tampan itu seperti duplikat Audy sejak kecil. Bahkan Bu Ratu tak berhenti untuk menggodanya sejak tadi.


"Dia mirip sekali dengan Audy" Ucap Bu Ratu.


"Ya kalau mirip aku nanti dikira anak aku, Bunda" Ujar King dengan wajah datarnya. Akhir-akhir ini, King senang sekali menganggu bundanya.


"Nial, bisa tidak kamu diam. Bunda sakit kepala jika kamu sudah mulai bersuara"


"Istirahat bunda, ayo. Anak Audy gak bakal kemana-mana, dia belum bisa jalan. Jadi nanti bunda masih bisa melihatnya lagi" Ucap King lagi.


Kondisi Bu Ratu langsung membaik saat pertama kali membuka matanya. Setelah melakukan seluruh tes pada tubuhnya, dia dinyatakan sembuh dari serangan racun pelumpuh saraf yang ditelannya. Ramuan yang Chacha berikan benar-benar menumpas habis yang ada di tubuhnya. Bahkan selang infus pun sudah di lepas dari punggung tangannya. Harusnya siang ini dia sudah diperbolehkan pulang. Namun tiba-tiba Audy merasakan tanda-tanda akan melahirkan, mengurungkan niat semua orang untuk pulang ke rumah.


"Apa bunda ku sayang? "


"Kamu cerewet banget sih, heran bunda. Kenapa orang sering bilang kamu itu dingin kayak es batu, tapi lihat tingkah kamu gini bunda jadi gak yakin sama perkataan orang"


"Nial gak mau dibilang durhaka kalau bersikap seperti itu pada bunda"


"Jadi kamu gak mau jadi anak durhaka? "


"Iyalah bunda, aku mau jadi anak yang berbakti sama ayah dan bunda. Bukankah selama ini kita terpisah, anggap saja ini bakti ku yang tertunda"


"Heleh tertunda, lagumu Bang" Cibir Audy. Sejak kejadian Tiara saat itu, Audy mampu mendekatkan diri pada King. Meskipun tak sedekat Chacha, namun dirinya sudah bersyukur jika anak pertama ayahnya mau menerima keberadaan dirinya.


"Diem bocil"


"Mana ada bocil gendong bayi gini" Cebik Audy.


"Jadi Nial mau berbakti sama bunda? " Tanya Bu Ratu lagi.


"Iya bunda cantikku"

__ADS_1


"Mau dong kalau nuruti permintaan bunda"


"Asal bisa Nial penuhi, pasti akan Nial turuti"


"Janji ya? "


"Janji bunda"


Semua orang yang ada di sana hanya menjadi penonton berdebatan ibu dan anak yang berdebat layaknya sepasang kekasih itu. Bahkan Ayah Gun juga hanya diam melihat interaksi anak dan istrinya.


"Nial kapan kenalin cewek ke bunda, bunda juga pengen gendong cucu dari kamu. Audy sudah kasih bunda cucu. Si bontot bentar lagi juga lahiran. Tinggal kamu nih" Bu Ratu menyeringai tipis melihat raut wajah King berubah.


"Gak cuma Nial yang belum kasih bunda cucu. Noh, Si Reyhan masih asik pacaran sama angka dan kertas. Entah ada di negara mana lagi itu anak sekarang"


"Gak usah bawa-bawa Reyhan, Rey sudah kenalin calonnya sama bunda. Dia sepakat untuk langsung menikah tanpa tunangan. Ayah dan Bunda masih cari waktu yang pas buat ketemu sama keluarga Pratama. Sekarang yang bunda tanya itu kamu, bukan Reyhan"


Yang lain hanya bisa menahan tawa saat Bu Ratu mengomeli King, kapan lagi mereka melihat pemimpin perusahaan besar ini bertekuk lutut. Jika bukan pada sang bunda, maka King tak akan pernah menundukkan kepalanya.


"Tak banyak yang bunda minta, nak. Kita tak pernah tau sampai kapan umur kita, bunda hanya ingin melihat kalian semua bahagia. Berkeluarga dan memiliki anak. Bunda tak tenang sebelum kalian memiliki kebahagiaan kalian masing-masing. Jujur bunda trauma, bunda takut kejadian Audy terjadi lagi. Bunda kira cukup bunda saja yang dikhianati, namun ternyata Audy memakan karma Ayah. Maka dari itu bunda ingin memastikan betul kali ini, jika pasangan yang akan mendampingi kalian benar-benar tulus berada disisi kalian, benar-benar mampu berada disisi kalian apapun keadaannya "


"Bunda gak bakal kemana-mana, bunda bakal baik-baik saja. Bukan Nial tak ingin memperkenalkan calon Nial pada keluarga, tapi Nial ingin menyelesaikan semuanya bunda. Persaingan di keluarga Izhaka belum usai. Aku tak ingin dia jadi korban keserakahan orang-orang, karena selain bunda dan Chacha, dia juga salah satu kelemahan ku bunda" Ucap King pelan. Kepalanya tertunduk sempurna.


Bu Ratu tersenyum, cukup menekan King dengan perasaan membuat pria tampan nan dingin ini akan mengatakan semuanya. Tak perlu emosi berlebihan, hanya perlu sedikit memainkan kelemahan King terhadap sang Bunda sudah membuatnya mengeluarkan rahasia yang dia simpan selama ini.


"Bunda akan tunggu, nak. Bunda harap dia perempuan baik-baik" Tak sembarang kata Bu Ratu berkata demikian, karena seringnya King keluar masuk klub malam membuat Bu Ratu was-was sendiri.


"Dia dari keluarga baik-baik, bunda. Nial yakin bunda akan menyukainya"


"Ratu sudah jangan mencecar jagoan ku lagi, dia bisa tak tahan dan mengambil cuti untuk menemui kekasihnya nanti"


"Kakek kau tak bisa menjaga rahasia" Kesal King.


...****************...


yuhuu akhirnya bisa double up 😂, maunya triple tapi apalah daya, bocil author lagi suka gangguin. HP di rebut buat lihat para panda gemoy di tiktok, 😂.


Audy lahiran guys, ada yang punya saran nama buat anak si Audy. Yok bisa chat author, kita bisik-bisik aja🤣


Buat Kak Ningsih Gustia terimakasih amunisinya. Bikin tambah semangat deh buat up🥰 jangan bosen-bosen buat vote ya.


Dan tolong LIKE nya ya dear❤


LIKE, KOMEN, dan VOTE kalian adalah amunisi semangat dan ide ku, sayang😁

__ADS_1


HAPPY READING ALL 💙


__ADS_2