
Dorr...
"Oh ****" Umpat Chacha saat lengannya terserempet peluru musuh.
Chacha hanya tersenyum miring saat musuh mulai angkat senjata. Mereka tidak menyadari jika dalam posisi terkepung. Saat mereka mengangkat senjata, saat itu juga anak buah yang dipimpin Pandu ikut menempelkan senjata di balik kepala musuh.
"Sudah ku katakan bukan, jangan bermain curang dengan ku. Kalian sedang bertamu di wilayah ku, jangan sok menjadi penguasa di sini. Seharusnya kalian menunduk saat melihat ku"
"Bukankah kalian tahu apa posisiku di organisasi mafia tertinggi dunia? "
"Aku bisa saja meratakan kalian dengan tanah hanya dengan memberi perintah. Tapi itu bukan gayaku memerintah, aku lebih suka jika diriku yang bermandikan darah para musuh ku"
"Turunkan senjata kalian. Kalian berempat bangun, kita adu senjata kali ini"
"Kalian semua merapat pada dinding. Jika ada peluru nyasar bukan salah ku"
Chacha langsung menarik katana yang ada di tangan Chiara dengan santainya. Tak peduli senjata apa yang akan digunakan oleh musuhnya. Chacha memilih menggunakan katana.
Anak buahnya segera berseru saat Chacha menarik katana itu, mereka cukup lama menantikan saat-saat sang ratu beraksi dengan katana ditangannya. Hasil dari latihan di ruang gelap akan dia perlihatkan sekarang di hadapan para anak buahnya.
Jika perang seharusnya identik dengan banyak korban yang gugur, berbeda jika perang jatuh di tangan Chacha. Dia lebih suka langsung menantang pemimpinnya daripada harus mengorbankan banyak nyawa. Mungkin bisa saja memunculkan pemberontak lainnya. Bukankah tadi sudah dikatakan jika Chacha suka mandi darah musuhnya. Jadi para pemberontak hanya akan menjadi tempat uji coba hasil latihannya saja.
Mereka bingung saat Chacha melihat ke arah Chiara seakan memberi kode. Benar saja, Chiara langsung membuka pita hitam yang melilit di rambutnya dan digunakan untuk menutup mata Chacha.
Keempat musuhnya menaikkan sebelah alisnya saat melihat Chacha menutup matanya menggunakan pita hitam.
"Aku sengaja menutup mataku agar pertarungan kali ini impas. Kalian sudah cidera karena ku, sedangkan aku masih aman-aman saja" Ucapnya sambil mengayunkan katana di tangannya ke kiri dan ke kanan.
Mereka menatap Chacha dengan horor. Bagaimana bisa dirinya akan melawan mereka berempat dengan mata tertutup, bukankah itu mencari kematian namanya. Jangan lupakan jika kematian adalah teman hidupnya setiap hari.
Semua anak buah merapatkan diri ke arah tembok. Dengan diapit setiap anak buah Chacha mereka tidak bisa bergerak. Chacha menggesekkan ujung katananya pada lantai, membuat bunyi khas tersendiri.
...****************...
__ADS_1
"Kalian bisa masuk sekarang ke dalam kamar. Mbak, persiapkan senjata kalian. Om Bastian, maaf jika bisa om berjaga disini saja biar Nena yang menghadang di pintu. Kalian tetap di dalam kamar" Nena langsung mengeluarkan pernyataannya saat mendapat kode dari Karin.
Mereka langsung bergegas ke kamar si kembar, tidak terkecuali. Hanya para anak buah Chacha yang bersiap di lantai bawah untuk penyerangan yang akan terjadi.
Sedangkan koko dan cici sudah digiring kembali ke kandang mereka. Dua kucing besar itu tidak bisa ikut andil dalam pertempuran jika bukan Chacha yang memanggilnya. Lagipun mereka tidak memiliki keberanian untuk menggunakan dua kucing besar itu.
Karin sendiri berada di balkon kamar Chacha, dia memantau sekitar. Mendapati pergerakan yang mencurigakan dia segera menghubungi Chila untuk memastikan apa yang dilihatnya, hingga Chila memberi kabar bahwa sang musuh telah bergerak membuat Karin langsung mengirim info pada Nena.
"Kak Caesar, jumlah mereka tiga kali lipat dari milik kita" Suara Chila terdengar dibalik earpiece yang digunakan oleh Caesar.
Caesar terdiam, ini lewat dari pengawasan Chacha. Caesar tidak khawatir sedikitpun jika harus adu otot dan adu tembak. Dirinya yakin jika akan memenangkan pertempuran ini. Yang dia khawatirkan bagaimana jika mereka menggunakan cara licik. Sedangkan anggota terbaik sedang dibawa oleh Chacha.
"Mereka menuju ke arah sana dalam waktu satu jam" Suara Chila kembali terdengar.
"Pastikan jika mereka tidak berbuat curang" Perintah Caesar, yang artinya mutlak seperti perintah Chacha jika sang Queen tidak berada di tempat.
"Terlambat, jika aku menurunkan pasukan ku sekarang, kita mencari mati. Karena mereka bergerak menjadi tiga bagian. Waspadai senjata mereka. Mereka juga menggunakan racun pada senjatanya" Jelas Chila membuat Caesar menghela napasnya pelan.
"Pantau terus pergerakan mereka Chila"
Caesar menatap seluruh anak buah Chacha yang siap bertempur digarda depan bersama dirinya. Dengan tegas Caesar memberikan perintahnya. Bahkan menyuruh salah satunya untuk memberitahu ke adaan di luar sana.
Bagaimana jika mereka memecah konsentrasi kita. Itu bisa bahaya. Batin Caesar bermonolog.
Karin sendiri tampak gelisah melihat banyaknya pasukan yang menuju ke kediaman Chacha, diam-diam Karin meminta anak buahnya menyiapkan helikopter dan seluruh senjata yang biasa dirinya pakai. Apapun yang terjadi dirinya harus tampil all out kali ini. Tidak hanya keselamatan si kembar, namun anak, suami dan keluarganya juga ada di sini. Nyawa mereka dalam bahaya kapan saja.
Nena yang mendapat informasi dari Karin langsung bersiap di samping Bastian. Dia menyerahkan keamanan si kembar pada pengasuhnya. Jangan lupa jika pengasuh si kembar juga ahli dalam bermain senjata api dan bela diri.
"Kenapa kau di sini, Na? "
"Musuh datang lebih banyak, Om. Di pastikan jika informasi ini tidak Chacha dapatkan. Informan kita entah berkhianat atau tertangkap, kita tidak bisa melacak dalam keadaan genting seperti ini" Jelas Nena.
"Siapkan diri kalian. Keluarkan seluruh jiwa mafia kalian" Teriak Bastian menyemangati para bawahan anak buahnya yang merupakan rekam dan juniornya di dunia bawah.
__ADS_1
...****************...
Dorr..
Trang...
Chacha mampu menepis setiap peluru yang diarahkan pada dirinya. Keempat musuhnya tertegun sejenak melihat kemampuan yang dimiliki Chacha. Mereka tidak menyangka jika wanita muda di depannya ini begitu menakutkan. Bahkan dengan menutup mata dia bisa menghindari setiap serangan yang dilayangkan padanya.
Dengan langkah pasti sambil menahan hujan peluru yang menghampiri dirinya, Chacha mendekat ke arah salah satu musuhnya.
Sret..
Tanpa perasaan Chacha menggores dada musuhnya, membuat darah mengalir deras dari luka yang ditorehkan. Mereka yang kaget namun tidak bisa bergerak, kala Chacha makin menyerang dengan brutal.
Tanpa alasan pasti Chacha menyerang dengan brutal, hanya saja perasaannya semakin tidak nyaman. Wajah Levy dan si kembar terus saja melintas di kepalanya. Tidak membiarkan dirinya fokus pada pertarungan.
Trang...
Sreet...
"Akh"
"Menembak ku dengan jarak sedekat ini, kau bodoh. Peluru mu mungkin bisa saja sampai terlebih dahulu, namun katana milikku lebih cepat meluncur" Ucapnya sinis.
Dua musuh lagi yang harus Chacha selesaikan. Mungkin kali ini Chacha harus melenyapkan banyak nyawa jika sampai feelingnya benar.
"Kau tidak membunuhnya, pemimpin seperti mu tidak berani membunuh musuh mu, maka kau yang akan terbunuh" Ejek salah satunya.
Tak...
Glup..
Mereka semua serentak menelan ludah mereka dengan kasar saat dengan sekali kedip Chacha memisahkan kepala dari tubuhnya. Bahkan ekspresinya tetap datar meskipun dengan mata yang tertutup.
__ADS_1
"Jangan pernah mempertanyakan kekejaman dan kebengisan ku dalam medan perang. Karena kau tak akan pernah menandingi apa yang aku lakukan. Ingat satu hal, kalian berada di posisi puncak dunia mafia itu bukan dari hasil kerja keras kalian. Tapi orang tua kalian. Kalian bertanya bagaimana kejamnya aku, nikmatilah"
Mereka mematung di tempat karena perkataan Chacha. Sedangkan seluruh anak buah Chacha sudah berlari keluar dengan cepat. Mereka segera menjauh dari gedung hotel tersebut.