
"Cha"
"Apa" jawab Chacha jengah. Pasalnya sejak tadi sahabatnya hanya memanggilnya tanpa mengatakan alasan memanggil dirinya.
"Ya ampun kamar gue" pekik Chacha tertahan. Kamarnya berantakan, empat sahabatnya hanya nyengir kuda.
"Kalian pulang lagi atau langsung? " tanya Chacha pada mereka yang sedang bermalas-malasan ria di kamarnya.
"Langsung" jawab singkat Nena.
"Baju? "
"Udah dibawa sayang" jawab Zeze kali ini.
"Jam berapa sekarang? " tanya Fany.
"Ya ampun ini udah siang" Karin kaget saat melihat ponselnya.
"Turun makan" ucap Chacha datar membuat sahabatnya menoleh serempak., tapi tak urung mereka langsung keluar dari kamar Chacha.
"Sial" Chacha langsung berteriak ketika para sahabatnya sudah tak ada di kamarnya.
"Lacak lokasinya setelah ketemu langsung ke markas. Kita bahas plan selanjutnya" perintah Chacha pada seseorang diseberang sana melalui sambung telepon. Tatapan matanya berubah dingin. Mata birunya kian menggelap.
"Chacha kenapa? " tanya Karin heran.
"Ekspresi Chacha langsung berubah saat melihat ponselnya" terka Nena.
"Bisa jadi iya bisa jadi juga nggak"
"Maksud lo, Ze? "
"Gini lo, Rin. Lo tau gimana Chacha dia orangnya rapi banget, dan liat kamarnya jadi kayak kapal pecah gara-gara kita" terang Zeze.
"Apa mungkin sebenernya dia marah cuma gak enak sama kita? " tambah Nena.
"Bukan ada sesuatu yang lain. Chacha gak bakal marah masalah kamar berantakan doang" jelas Fany.
"Tapi apa, Fan? "
"Kita gak tau dan sebaiknya jangan mencoba cari tahu dulu untuk saat ini. Setelah acara ini selesai fokus kita hanya kembangin usaha yang Chacha titipkan pada kita, fokus tempa diri kita menjadi lebih kuat. Kita harus jadi tameng transparan buat bokap kita yang dikasih kepercayaan mengelola perusahaan dia" ketiganya mengangguk serempak mendengar penjelasan Fany.
"Cha"
"Engh.. " Chacha enggan membuka matanya saat sahabatnya kembali ke kamarnya.
"Jam berapa" masih dengan mata terpejam.
"Udah sore" jawab Zeze.
"Lo belum makan siang" tambah Nena. Saat mereka selesai makan siang dan kembali lagi ke kamar Chacha, sang pemilik kamar sedang terlelap dengan posisi telungkup.
"Gue ke kamar mandi dulu" Chacha bangkit sambil menahan kantuk.
Setelah membasuh mukanya untuk memberikan efek menyegarkan pada wajahnya Chacha keluar dan melihat sahabatnya sedang merapikan kamarnya.
"Gue ke bawah dulu cari makan. Setelah itu kalian mandi dan bersiap" mereka mengangguk menjawab Chacha.
"Kamu kemana tadi, kenapa gak makan siang, hmm" Bu ratu langsung menanyai bungsunya itu.
"Ngantuk Bunda, ketiduran" jawab Chacha seadanya sambil mencomot bolu yang ada didepannya.
"Mau makan apa,? Bunda masakin ya"
Chacha menggeleng " Selesai acara Chacha akan makan sekarang ini aja sudah cukup"
"Tapi nak... "
"Nanti kalo Chacha kenyang balik kamar bukannya siap-siap malah tidur lagi, Bunda"
"Baiklah" Bu Ratu menyerah bungsunya ini cukup merepotkan jika sudah berkata tidak.
Setelah selesai dengan urusan perut Chacha kembali ke kamarnya dia harus bersiap-siap untuk acara nanti.
"Udah? " tanya Chacha pada sahabatnya.
"Belom"
"Gue mandi dulu kalian lanjutin"
"Lo pake baju yang mana? " Tanya Karin.
"Pilihin di lemari ya" jawab Chacha sambil berlaku kearah kamar mandi.
Karin menyelesaikan make-upnya tapi belum mengganti bajunya. Dia berjalan menuju lemari Chacha yang ada dikamar itu. Kenapa tak membuat walk ini closet pikirnya. Saat membuka lemari Chacha, Karin dibuat menganga tak percaya.
"Rin lo kenapa bengong? " tanya Zeze.
"Gila gak sih tuh anak" Karin menekan pelipisnya.
"Kenapa? " tanya Zeze yang masih asik membenarkan riasan diwajahnya.
__ADS_1
"Chacha cuma punya gaun dua warna. Hitam dan putih doang"
"Serius lo? " tanya Zeze tak percaya. Karin mengangguk.
Karena penasaran mereka berlari ke arah Karin dan benar saja, di lemari itu tertata rapi banyak gaun dan warnanya hanya hitam dan putih.
Cklek...
"Kenapa? " Chacha bingung melihat sahabatnya berdiri di depan lemarinya.
"Gaun lo kenapa cuma ada dua warna. Model sih boleh yang terbaru kenapa cuma dua warna" cecar Karin.
"Ntar gue beli warna yang lain saat ini itu dulu" jawabnya santai menuju meja riasnya
"Kenapa? " Fany tak basa-basi seperti yang lain, dia yakin ada sesuatu kenapa Chacha hanya menggunakan dua warna itu.
"Hidup gue masih diantara hitam dan putih. Belum berwarna. Ambilkan yang warna hitam" Chacha langsung mengeringkan rambutnya.
"Maksudnya, Cha? " Nena tak paham.
"Gak ada maksud apa-apa" yang lain memandang Chacha dengan tatapan tak percaya. "Ntar kalian kalah cantik sama gue, kalo gue pake gaun berwarna lain" Chacha terkekeh melihat sahabatnya mendelik bersamaan.
Mereka melanjutkan apa yang harus dilanjutkan, hingga keempatnya selesai terlebih dahulu dan berpamitan untuk turun terlebih dahulu. Chacha hanya mengangguk sambil mengganti bajunya.
...****************...
"Gila gue gak nyangka kalo Chacha bakal ngundang banyak orang" Karin tak percaya dengan apa yang dilihat sekarang.
"Mansion hampir penuh ini. Gila gue kira cuma temen sekelas ini mah hampir seangkatan, man" tambah Putra sambil menepuk bahu Kinos.
Keempatnya langsung berkumpul dengan Putra dan Kinos ketika turun dari lantai atas. Tepatnya kamar Chacha.
"Gak cuma itu. Liat bahkan ada beberapa pengusaha juga dateng. Sebenernya ini ulang tahun anak remaja apa gimana sih" bingung Kinos.
"Gak usah bingung lo lupa sahabat kita siapa" Zeze menimpali ucapan Kinos.
"Iya ya. Kok gue bisa lupa"
Mansion Izhaka mulai penuh dengan tamu yang diundang Chacha tak hanya teman sekolahnya saja beberapa pengusaha turut hadir. Mereka berpikir tak ada salahnya hadir di acara ulang tahun salah satu anak jenius ini. Bahkan mereka seolah berpikir hubungan rumit apa yang sebenarnya terjadi antara kedua keluarga besar ini.
Ayah Gun dan Bu Ratu tampak menyapa beberapa tamu. Sedangkan Audy, jangan ditanya dia sudah bak koala yang terus menempel pada tunangannya.
Chacha menuruni tangga dengan wajah datar dan tenang, hingga membuat para tamu menoleh pada sang bintang malam ini. Dengan gaun hitam pilihan Karin. Flat shoes menutupi kaki mungilnya. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai. Mata bulat dengan bulatan biru dikelilingi putih jernih, bak telaga yang diam dan dalam. Mama Levy pernah mengatakan Chacha memiliki tatapan mata yang tajam dan dalam. Seperti punya daya magis yang mampu menghipnotis yang menatapnya. Namun, karunia itu seolah diimbangi lubang kecil lembut pada pipinya saat ia tersenyum. Saat diam menatap, Chacha seperti elang. Namun begitu tersenyum, daya magis matanya berubah menjadi rindang dahan yang menyejukkan dan semburan mata air yang menyejukkan. Di ujung Chacha tersenyum menghampiri orang tuanya. Banyak yang menahan nafas saat melihat senyumannya mereka terpesona.
"Anak bunda cantik sekali" Bu Ratu membawa Chacha kedalam pelukannya. Chacha mendekap bundanya lama merasakan hangatnya pelukan sang bunda, hingga membuat Bu Ratu mengernyitkan dahi. Hingga pelukannya terlepas Bu Ratu menatap wajah bungsunya dengan lekat. "Ada apa? " Chacha menggeleng sembari tersenyum. Matanya melirik tamu yang baru datang dari pintu depan.
"Mami" Chacha berlari kecil menghampiri tamu tersebut. Langsung menghambur memeluknya.
"Mami kangen" rengeknya saat sang tamu ingin melepas pelukannya.
"Mami doang yang dipeluk Papi enggak nih" Chacha memutar kepalanya guna melihat siapa pemilik suara bariton tersebut.
"Aaa... Papi" Chacha melepas pelukannya dan berganti memeluk lelaki disampingnya. Lelaki tersebut hanya tersenyum melihat tingkah manja gadis satu ini.
"Kakak kapan tiba? " tanya Bu Ratu sambil memeluk wanita yang Chacha panggil dengan sebutan mami.
"Kapan hari cuma baru sempat sekarang" jawabnya santai.
"Kau memperlakukan gadisku dengan baik adik ipar? " tanyanya pada Ayah Gun.
"Tentu saja, Kak. Dia putriku" Jawab Ayah Gun.
"Baguslah" responnya.
"Kakak kenal dengan Chacha? " Bu Ratu heran, pasalnya Chacha tak pernah muncul di publik hanya sejak kembali lagi dia baru menampakkan dirinya sebagai nona bungsu keluarga Effendy.
"Mana mungkin gak kenal, dia gadisku. Kakak sering kumpul sama dia dan papa"
"Maksudnya? " Bu Ratu masih tak mengerti.
"Jangan bilang kamu bahkan tak tau jika papa dan ayah mertuamu bertetangga" Bu Ratu gelagapan. Dirinya memang tak tau soal itu.
"Haish, Ratu apa yang ada dipikiran kamu"
"Sudah jangan emosi, Mi. Ratih ini udah kayak perangko kalo sama Chacha, kemana-mana pasti berdua. Hingga dia umur sepuluh tahun baru jarang ikut entah udah kayak orang sibuk aja dia" Chacha tersipu malu mendengar perkataan laki-laki itu.
"Kamu tau Ratu, kadang Erland bilang gini 'anak mami sebenernya ini siapa? Aku apa adek? gitu. Seakan protes, tapi denger dia sakit langsung bolos sekolah buat jagain anak manja ini"
"Papi udah ih malu" yang lain hanya terkekeh melihat respon yang Chacha berikan.
"Itu Tuan Richard Anderson bukan? "
"Iya iya itu istrinya"
"Sedang apa disini? "
"Mungkin anaknya teman nona muda Effendy liat pria yang berdiri di sana"
"Ah iya bisa saja"
"Ada apa sebenarnya ini? Hubungan dengan Keluarga Izhaka saja belum terjawab sekarang ditambah Keluarga Anderson" bisik-bisik para tamu dengan keheranan mereka.
__ADS_1
Anderson adalah salah satu keluarga pebisnis sukses dan terkenal. Selain kesuksesan yang melejit sempurna, keluarga mereka juga terkenal dengan keramahan tuan dan nyonya Anderson. Jika ditanya soal hubungan, jelas ada hubungan. Wanita yang Chacha panggil mami sejak tadi adalah putri sulung keluarga Izhaka. Kakak Bu Ratu. Ratih Izhaka.
"Lah itu si Elang kan ya"
"Mana ada, Elang lagi ke acara sepupunya"
"Beneran Elang oi" para sahabat Chacha itu berdebat dengan apa yang mereka liat hingga akhirnya menghampiri kerumunan Chacha.
"Kok gak keliatan dari tadi, ngumpet dimana kalian? " tanya Elang setelah kaget karena Kinos menepuk pundaknya. Kinos menunjuk tempat mereka berkumpul tadi.
"Masih suka dipojokan lo, Nos"
"Sialan lo"
"Hahahaha"
"Katanya lo ke acara sepupu lo" tanya Zeze.
"Lah ini acaranya"
"Jadi... " mereka serempak.
Elang mengangguk kalem. "Chacha sepupu gue, karena mami gue kakak bunda. Jangan bahas ini lagi"
"Kenapa? "
"Bisa digeplak gue sama mami"
Hahahahahaha " mereka tertawa melihat ekspresi Elang.
Setelah berhasil mengendalikan tawanya mereka bersalam satu per satu sambil memperkenalkan diri pada orang tua Elang.
"Erland mana kak? " tanya Bu Ratu.
"Masih di luar negeri. Tapi dia titip kado buat princess" jawab Ratih.
"Mana? "
"Ketinggalan di mobil nanti Mami antar ke kamar kamu"
"Spesial kah? "
"Maybe yes"
"Boleh intip dikit gak? "
"Kan ada di mobil sayang"
"Chacha ambil ya. Penasaran"
"Erland itu siapa? " Karin memotong percakapan Chacha dan Ratih.
"Abang gue" jawab Elang.
"Diakui apa lo? Bang Erland cakep banget loh, Lang"
"Kayak pernah ketemu aja lo, Cha"
"Sampai sekarang abang kamu masih sering bertukar kabar dengan Chacha, Lang. Gak kayak kamu, sepupu sendiri aja gak kenal" sinis Ratih pada putranya
"Mami udah dong, kan udah minta maaf" Elang memohon.
Yang lain tertawa melihat Elang memohon pada yang ditanggapi delikan sinis dari sang mami.
"Cha, emang lo tau kalau Elang sepupu lo" tanya Fany melihat ekspresi Chacha yang tak kaget seperti Elang sang tau mereka ternyata saudara.
"Darimana lo tau, dari kecil bahkan kita tak pernah tatap muka" tanya Elang penasaran.
"Semua keturunan Izhaka wajib gue tau. Mereka memiliki tanda lahir khusus dan lo punya juga" terang Chacha.
Elang menatap Chacha serius.
"Jangan bilang lo juga gak tau kalo lo salah satu keturunan Izhaka? " kejar Chacha.
Elang kalang kabut menghindari tatapan tajam Chacha. Yang lain menunggu, termasuk krang tua Elang sendiri.
"Jangan terlalu cuek jadi orang, Lang. Bahkan lo gak tau identitas mami lo sendiri"
"Maafin Elang Mi" sesal Elang. "Mami terlalu rapat menyembunyikan jati dirinya, Cha"
"Mami yang terlalu rapat atau lo yang bodoh amat?" tanya Chacha pada Elang. "Bang Erland aja tau masak lo nggak"
"Jangan bandingin gue, Cha" lirihnya sambil menunduk.
"Gue gak bandingin, Elang. Cuma kedepannya lo harus lebih peka sama sekitar lo, lo terlalu cuek jadi orang"
Elang enggan mengangkat kepalanya. Tak ada gunanya mendebat gadis mungil satu ini.
"Jadi Elang juga keturunan Izhaka? " Fany menarik kesimpulan.
Elang mengangguk lemah.
__ADS_1
"Terus kenapa waktu itu lo bilang kalo lo penerus satu-satunya Keluarga Izhaka, Cha? "
"Itu akan terjawab dengan berjalannya waktu. Soal penyembunyian identitas juga" jawabnya.