Call Me Queen

Call Me Queen
Terbuka Perlahan


__ADS_3

Ruang makan Keluarga Effendy


"Sampek jam berapa semalem, Bang? " tanya Chacha membuka percakapan.


"Tadi subuh" Rey menjawab dengan wajah lelahnya.


"Sukses tapi kan?"


"Lancar kok, tinggal tahap lanjutan aja" jelas Rey. Chacha hanya mengangguk menanggapinya.


"Bang ada kado gak buat aku?" tanya Audy, alih-alih menanyakan kondisi Rey.


"Audy abangnya masih capek loh nak" tegur Ayah Gun. Audy hanya mencebik kesal.


"Ada di mobil. Ambil sendiri" jawab Rey sekenanya. Matanya masih ngantuk tapi perutnya meminta hak untuk diisi.


"Ngantuk ya, Bang?" Rey hanya mengangguk.


"Ngelayap dulu sih, gak langsung pulang" ejek Chacha.


Tuk...


Rey menyentil jidat Chacha. "Sok tahu"


"Bang makasih loh ya" teriak Audy sambil menenteng tas edisi terbaru salah satu brand terkenal yang banyak digilai para selebritis.


Rey hanya mengangguk. "Hadiah Bunda ada di kamar"


"Nanti. Sekarang sarapan dulu, Audy duduk dulu" tegas Bu Ratu.


Mereka melakukan ritual pagi itu tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang terdengar. Setelah sarapan mereka pindah berkumpul di taman depan rumah. Kebetulan hari ini akhir pekan.


"Queen jadi bikin pesta ulang tahun di mansion? " Rey memecah keheningan. Pasalnya mereka sedang sibuk. Yang satu sibuk dengan majalah, yang lain sibuk dengan ponsel.


"Jadi kok Bang"


"Berapa banyak yang diundang sampai harus disana? " tanya Rey dengan raut wajah khawatir.


Chacha menatap abangnya sesaat. "Chacha ngerti kekhawatiran Abang. Tapi kali ini harus di sana"


"Tapi kenapa harus?"


"Karena ada yang harus Chacha mulai dan Chacha akhiri, Bang" jawab Chacha sambil memandang ke kejauhan.


"Di mansion siapa kamu mau rayain pesta ulang tahun kamu, Cha?" tanya Bu Ratu yang sejak tadi menyimak pembicaraan Rey dan Chacha.


"Mansion Izhaka"


Dua kata yang Chacha lontarkan mampu membuat tubuh Bu Ratu menegang. Bu Ratu menunduk. Kenangan ditempat itu bagaikan video yang terus berputar di kepalanya.


"Tapi Cha. Kita tak bisa sembarangan masuk. Papa mertua tak tinggal disini. Kakek mu menetap di luar negeri. Dan, hanya beliau yang memiliki kuncinya" Terang Ayah Gun.

__ADS_1


Chacha mengangkat ponselnya. Menggantung kunci sebagai aksesoris ponselnya. Bu Ratu sangat mengenali kunci itu. Kunci yang didesain khusus oleh sang mama. Nyonya Besar Izhaka.


"Tak selamanya kita akan bersembunyi kan, Bunda?"


Chacha menembak langsung Bu Ratu tanpa basa basi, dirinya langsung menukik pada inti permasalahan. Bu Ratu mendongak dengan linangan air mata.


Diantara mereka semua hanya Audy yang bingung dengan topik pembicaraan kali ini. Ada hubungan apa antara keluarganya dan keluarga Izhaka. Ia tahu sejarah salah satu keluarga kalangan atas yang satu ini.


"Hentikan bermain petak umpet. Masalah menahun ini harus segera diakhiri"


"Tapi, nak. Masalahnya bukan soal petak umpet... "


"Aku mengerti, Bunda" potong Chacha. "Tapi sampai kapan kita terus menghindar. Hadapi apa yang ada didepan kita. Kita harus maju jangan terus menerus menoleh kebelakang, Bunda" lanjutnya.


"Bunda belum siap menerima kehilangan lagi" isak Bu Ratu.


"Tak akan ada yang hilang, Bunda. Percayalah"


"Cukup mereka yang jadi korban, jangan ada lagi" Bu Ratu masih dengan isakannya menjawab setiap perkataan bungsunya. Yang lain hanya diam menyimak pembicaraan antara ibu dan anak ini.


"Sejarah Bunda tau, selalu dipahami terlambat. Kita tidak pernah bisa mendahului esok hari" Chacha berbicara sambil menatap keatas. Menenangkan batinnya yang mulai bergejolak lagi. Lagi.


"Pengorbanan nenek dan apapun yang kita lakukan tidak akan mengubah masa lalu. Chacha kira, tidak seorangpun yang punya otak berani untuk menyuruh nenek berkorban demi hal yang akhirnya sia-sia. Itu bukan yang ada dalam benak Bunda dan keluarga lainnya. Apakah akan ada aku bila Abang dan nenek masih ada? Itu sama saja menjawab pertanyaan apakah aku akan disini seandainya ayahku bernama Soekarno atau ibuku bernama Ratu Hemas? "


Bu Ratu menatap tak percaya bungsunya itu. Yang lain menatap Chacha dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Benarkah ini gadis yang umurnya akan menginjak delapan belas tahun beberapa hari lagi. Sedang yang ditatap masih asik menatap dedaunan yang bergerak akibat angin.


"Jika kamu ingin mengakhiri masalah ini, berarti kamu harus melepaskan marga yang kamu sandang kali ini bukan?" tanya Ayah Gun setelah hening beberapa saat.


"Tidak, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi bagian dari Keluarga Effendy, Cha. Ayah tidak akan melepaskan marga mu"


"Ayah" suara Chacha berubah selembut kapas. "Bagaimana jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi dan Ayah mengusir ku?" tanya Chacha sambil menatap sang ayah.


"Kau tetap anak Ayah. Ini janji Ayah"


"Janji?"


"Janji, Cha"


Chacha bangkit dari duduknya, lalu menghampiri ayahnya dan memeluknya.


"Apa hubungan keluarga kita dan Keluarga Izhaka?" tanya Audy yang sejak tadi tak mengerti dengan pembicaraan ini.


"Bundamu adalah salah satu keturunan Izhaka, Audy" jawab Ayah Gun.


"Jadi... "


"Ya. Nama Bunda, Ratu Izhaka, Audy. Putri kedua dari Keluarga Izhaka" Jawab Bu Ratu membenarkan pikiran Audy.


Audy bingung harus beraksi seperti apa. Ini terlalu mendadak untuk dicerna oleh otaknya. Perasaan senang dan bangga bercampur jadi satu. Dan, satu hal yang pasti, pamornya akan meningkat dikalangan teman-temannya. Ia sudah membayangkan bagaimana temannya akan memuji dan memuja dirinya. Otaknya dipaksa untuk memikirkan sesuatu untuk kedepannya hingga senyum miring terbit di bibirnya.


"Kau yakin, Queen?" tanya Rey sekaligus menyeret kembali ke topik awal.

__ADS_1


"Aku yakin, Bang"


"Tapi Abang rasa kakek tak akan setuju dengan rencana ini, terutama... " Rey tak menggantungkan kalimat terakhirnya dan memberi kode lewat matanya pada Chacha.


"Aku tak tau harus menjelaskan dengan cara apa. Tapi aku merasa akan ada sesuatu yang besar akan terjadi, Bang"


"Kamu mirip sekali dengan Rania, Cha. Mama kamu Rey" Bu Ratu masuk kembali dalam percakapan setelah berhasil memenangkan diri.


"Iyakah, Bunda" Rey memastikan.


Bu Ratu mengangguk. "Rania berkata seperti itu tepat satu minggu sebelum kecelakaan itu terjadi" Bu Ratu menghela nafas dengan kasar.


"Bunda, hukum Tuhan berlaku, siapa yang kehilangan akan mendapatkan".


" Maksud kamu, Cha?"


"Nanti Bunda akan tau saat waktunya tiba" jawab Chacha penuh teka-teki.


"Tapi, kursi kepemimpinan Izhaka dipegang oleh King. Dia siapa bagi Keluarga Izhaka?" tanya Audy tiba-tiba.


"Lo gak ada hak buat nanya siapa dia dalam tatanan Keluarga Izhaka" jawab Chacha seraya mengendalikan emosinya yang mulai terpancing.


"Kalau Bunda gue keturunan Izhaka secara otomatis gue juga keturunannya. Jadi gue berhak tau" kejar Audy tak mau kalah.


"Dih pede amat" Chacha dengan senyum mengejek. "Bahkan masuk salah satu kriteria calon penerus Izhaka aja lo enggak" cibir Chacha.


"Lo... "


"Sudah cukup" tegas Ayah Gun melerai perdebatan antara kakak beradik ini


"Tapi, Yah"


"Cukup Audy" tegas Ayah Gun.


"Cha, kamu pasti tau resiko apa yang akan kita tanggung jika tau kamu adalah salah satu keturunan Izhaka"


"Aku tau Ayah"


"Kamu akan mengancam keselamatan keluarga ini dan lainnya"


"Jangan berpikir untuk berkorban lagi, Cha"


"Maaf, Queen. Abang juga tak setuju dengan rencana ini. Kita belum membicarakannya pada kakek bukan? Dan lagi pula umur kamu belum genap delapan belas tahun, setidaknya tunggu hingga kamu berumur dua puluh tahun"


"Abang mu benar, nak" ucap Bu Ratu lembut. "Ketika umur mu genap dua puluh tahun, Bunda akan mendukung apapun keputusan mu" tambahnya.


Chacha menunduk meredam bom yang siap meledak kapan saja di dadanya. Menahan air matanya agar tak jatuh di pangkuannya. Batinnya semakin bergejolak tak tenang. Rencana ini sudah ia tanamkan dalam diri dan tekadnya semenjak ia masih salah memegang pistol saat belajar dengan sang kakek.


Mungkin benar kata Rey, ini belum saatnya karena dirinya masih terbilang remaja. Atau mereka memikirkan hal lain yang tak Chacha pikirkan. mungkin ia harus menunggu dirinya dewasa dulu agar tak salah mengambil keputusan, itu yang ada dipikirannya.Pelan tapi pasti, tabir misteri yang menaungi Keluarga Izahaka selama ini akan terbuka secara perlahan.


Sayang sekali, Chacha tidak melihat sayap-sayap takdir di langit sedang bersiap mengepakkan angin yang akan mengubah semua yang pernah dan akan direncanakan para perencana Sang Perencana sedang berencana. Para perencana tak bisa apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2