Call Me Queen

Call Me Queen
About Chiara


__ADS_3

Malam itu tepat keluarnya Chacha dari Mansion Izhaka, tepat hari ulang tahunnya. Dia tak langsung benar-benar pergi. Dirinya lebih memilih berkeliling mengendarai mobilnya seorang diri, guna menenangkan pikirannya. Kecewa, sedih dan marah menjadi satu. Kecewa pada orang tuanya yang tak mempercayainya, padahal selama ini dia berusaha yang terbaik, rela hidup terkekang demi kebahagiaan ayah bundanya. Sedih, ayahnya mengingkari janjinya untuk tak mencabut nama Effendy dari namanya. Namun nyatanya dia tetap terusir. Marah, karena berita itu harus mencuat disaat yang tidak tepat. Terjawab sudah kenapa akhir-akhir ini dirinya sering merasa gelisah. Chacha menghembuskan napasnya kasar. Chacha harus membuktikan bahwa dia mampu berdiri dengan kakinya sendiri, bahkan menjadi pelindung untuk keluarganya.


Chacha terus melajukan mobilnya membelah malam tanpa tujuan pasti. Hingga dirinya melewati jalan sepi. Entah kenapa dirinya ingin melewati jalan ini. Biasanya juga ini bukan rute yang selalu ia ambil. Dirinya hanya mengedikkan bahunya acuh. Hingga setelah berjalan sekitar lima ratus meter Chacha mengerem mendadak. Dirinya menabrak atau ditabrak? Chacha keluar dengan cepat untuk mengecek keadaan orang tersebut.


"Chiara" Chacha melotot saat tahu siapa yang tertabrak mobilnya. Ah salah, lebih tepatnya Chiara yang menabrak mobil Chacha.


"Tolongin gue"


"Lo kenapa?"


"Tolongin gue dulu, please" mohon Chiara.


"Masuk ke mobil gue" Chiara langsung masuk disusul Chacha yang langsung melajukan mobilnya. Chacha melihat beberapa orang seperti bodyguard yang sedang mencari sesuatu. Chacha melirik Chiara yang sedang gemetar hebat melihat beberapa orang tersebut.


Chacha melajukan mobilnya menuju salah satu apartemennya saat ini. Saat sampai Chacha langsung menyuruh Chiara turun dan mengikutinya. Chiara hanya bisa diam menunduk mengikuti langkah Chacha.


"Duduk dulu, gue ganti baju dulu" jelas Chacha langsung meninggalkan Chiara begitu saja.


Tak selang berapa lama Chacha kembali namun langsung melewati Chiara dan kembali dengan dua gelas teh hangat di tangannya.


"Minum, awalnya gue mau buat coklat panas. Tapi males, ya udah teh aja ya" Chiara hanya mengangguk.


"Bisa lo cerita sekarang" setelah mendiamkan sejenak Chacha langsung menanyai Chiara.


"Gu... Gue" Chiara dengan terbata.


"Gue gak maksa kalo lo gak bisa cerita. Cuma gue yakin lo gak bisa keluar dengan bebas setelah ini"


"Kenapa lo mau nolong gue" Chiara akhirnya tenang.


"Chiara kalo lo kira gue jahat lo salah dan kalo ngira gue baik lo juga salah"


"Terus? "


"Gue orangnya kondisional. Lo baik ya gue baik, lo jahat? Sorry gue kejam. Lo munafik, sorry gue gak bisa bermuka dua. Satu aja ribet apalagi dua" Chacha masih sempat bercanda. Membuat Chiara merasa tak enak hati.


"Gue minta maaf"


"Buat? "


"Semuanya yang udah gue lakuin ke lo"


"Cerita Chiara. Gue yakin ada alasan dibalik semua sikap lo itu" Chiara melotot tak percaya dengan penuturan Chacha.


"Gimana lo tahu? "


"Tatapan mata lo bicara semua Chiara. Berbagilah, gue gak pernah anggap lo musuh gue selama ini. Lo hanya pemanis cerita di masa putih abu-abu gue"


"Gue bingung harus mulai dari mana"


"Pelan-pelan aja gue punya banyak waktu"

__ADS_1


"Lo pikir gue siapanya pak kepala sekolah? "


"Narendra ya, emmm yang gue tau lo anaknya, lebih tepatnya anak sulungnya"


"Lo bener, tapi bukan dari istri yang saat ini"


"Maksudnya? Narendra punya istri lain"


"Papi sama mami kandung gue nikah duluan hingga akhirnya prahara datang. Mereka menikah saat masih menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama di kota kelahiran mami gue. Awalnya keluarga papi nerima mami gue. Tapi setelah tau mami gue ternyata yatim piatu, perlakuan mereka berubah. Mami gue terima aja, karena udah bucin sama papi"


"Hingga akhirnya nenek, meminta papi menceraikan mami dengan segudang alasan kehormatan dan sebagainya. Papi menolak keras, apalagi keadaan mami saat itu sedang mengandung gue"


"Hingga papi diancam dengan nyawa mami"


"Lalu akhirnya? "


"Papi menerima persyaratan dari nenek dengan tidak menceraikan mami" Chacha menaikkan sebelah alisnya.


"Tapi mami disembunyikan, dan papi menggelar pernikahannya lagi"


"Pernikahan yang lalu? "


"Hanya kerabat dekat. Hingga istri papi yang baru mengetahui keberadaan mami, dan mencoba melenyapkan nya lagi"


"Lagi? "


"Sebelumnya juga pernah. Namun, tanpa papi ketahui. Hingga akhirnya mami tiri gue tahu papi masih berhubungan dengan mami kandung gue. Disitu dia marah. Apalagi saat tau ternyata dia hanya madu. Ya meskipun yang mami kandung gue gak diakuin semua orang"


"Gue hadir karena dia terpaksa menerima gue setalah tahu mami hamil, papi memilih mami daripada dia. Hingga pertengkaran tak terelakkan, mami gue ngalah dan menyerahkan gue karena waktu itu dia keguguran"


"Sekarang mami lo dimana? "


"Setelah Angel lahir mami berubah sama gue. Yang awalnya sayang berubah menjadi benci. Padahal gue udah nuruti semua kemauan dia"


"Jika selama ini lo ngira gue ja***g itu salah besar, karena pada kenyataannya i'm still virgin. Gue dijual sama mami gue, lebih tepatnya istri papi yang sekarang. Untungnya lagi, gue bukan terjual ke pria hidung belang. Gue dibeli oleh seseorang baik hati, dia tak meniduri gue, dia cuma nyuruh gue ngurus mamanya yang sakit dengan syarat gue masih bisa sekolah. Bisa dikata dibeli gue hampir setahun. Hingga dia memilih pindah keluar negeri dan gue kembali ke mami tiri gue "


"Itu alasan kenapa lo dikejar-kejar? " Chiara mengangguk menjawab pertanyaan Chacha.


"Gue mau dijual lagi sama mami, lebih parahnya kini Angel juga turun tangan. Mau menolak tapi gue gak bisa, karena mami gue ditawan sama mereka" Chiara menunduk sedih.


"Gue tanya lagi, sekarang mami lo dimana? "


"Mami juga dijual jadi pemuas ***** disalah satu barisan ternama di kota ini"


"Narendra tak bertindak? " Chiara menggeleng.


"Papi mengira mami menjadi ja***g karena hasutan wanita itu. Gue kabur karena perintah mami"


"Jadi lo ketemu mami kandung lo gitu? "


"Ya. Mami bantu gue kabur karena setelah masuk gue gak bakal bisa keluar lagi. Itu kata mami, mami masih cari cara biar bisa kabur dari tempat itu"

__ADS_1


"Lo tau tempatnya? " Chiara mengangguk lemah.


"Antar gue kesana"


"Mau ngapain? "


"Gue bisa bebasin mami lo, tapi ada syaratnya"


"Apa syaratnya? "


"Gue mau lo bertaruh nyawa demi gue dalam keadaan apapun. singkat kata lo bawahan gue. Setelah lo jadi bawahan gue, gue gak bakal renggut kebebasan lo. Cuma setiap kali gue hubungi lo selalu ada. Pikirkan lagi gue gak maksa" Chiara menunduk dalam, memikirkan setiap perkataan Chacha.


"Apa jaminan yang gue dapat dengan gue bertaruh nyawa demi lo? "


"Apapun lo mau" kini Chacha mulai menunjukkan kuasanya.


"Maksudnya? "


"Harta, tahta atau jadi sodara gue juga gak papa" Chacha terkekeh. "Pikirkanlah jika iya, maka kita akan berangkat malam ini juga buat bebasin mami lo" Chiara menggigit bibir bawahnya. Bimbang. Hingga akhirnya Chiara memilih mengiyakan. Chiara merasa tak akan rugi ikut Chacha, jadi dirinya berani bertaruh dengan logikanya yang menentang.


...****************...


Mereka terdiam mendengar Chacha menceritakan tentang Chiara. Selesai makan malam di rumah bu kades tadi mereka terus mendesak Chacha untuk menjelaskan hubungannya dengan Chiara. Mereka menatap tak percaya pada Chiara yang sedang asik mengunyah.


"Chi"


"Gue gak papa kalian santai aja. Justru gue mau bilang makasih sama Queen kalo gak karena dia, gue gak bakal bahagia gini"


"Kenapa lo balik lagi ke keluarga Narendra? "


"Gimanapun gue masih anaknya, Nena. Papi gak tau apa yang sebenernya terjadi, gue harus yakinin papi"


"Lo mau nyatuin mami papi lo lagi? " Chiara mengangguk mengiyakan Karin.


"Dia ngejelekin mami gue, nanti gue balas gimana rasanya dihina, dicemooh dan dibuang"


"Terus Angel? "


"Gue sebenernya gak peduli sama dia. Gue udah mau lenyapin dia, ya berhubung gue punya bos yang baiknya diatas rata-rata. Jadinya Angel masih aman sampai sekarang" mereka menoleh ke arah Chacha yang asik dengan laptopnya.


"Kematian terlalu baik buatnya" Chacha berbicara tanpa melihat lawan bicaranya.


"Lo dendam banget kayaknya deh, Cha"


"Kalian pasti lebih dari gue kalau tau kelakuannya selama ini. Kalo juga bukan karena permintaan mami tuh anak cengeng gue juga udah lama runtuhin keluarga Narendra"


"Bukannya di bawahan lo? "


"Justru karena bawahan gue, jadi gue bisa dengan mudah mendepak dia dari kekuasaannya"


"Jangan bilang Angel gak tau kalau lo atasan bokapnya"

__ADS_1


"Angel emang gak tau. Gue nunggu dimana saat dia tau gue itu siapa"


__ADS_2