
"Kenapa gak langsung masuk aja sih, Sayang? "
"Kasih pelajaran dulu dong sama ular betina itu"
"Suka banget ngusilin orang sih, istri aku ini"
"Karena jika calon pelakor atau pelakor sekalipun dihadapi dengan kekerasan maka dirinya akan membalikkan fakta bahwa kita yang salah. Cara menghadapi pelakor itu harus main cantik"
"Ya udah terserah kamu aja lah, makan apa kita siang ini? "
"Aku masakin ayam rica-rica"
"Wih enak nih, bawa lalap apa buat teman makannya? "
"Ada timun, kubis sama terong"
"Mantap"
"Cuci tangan dulu, Mas" Chacha menepis tangan Levy yang hendak mengambil makanannya.
Levy hanya nyengir lalu berlalu ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Setelahnya dirinya langsung makan karena sudah disiapkan oleh istri cantiknya.
"Kamu gak makan sayang? Atau mau Mas suapi? " Chacha hanya menggeleng.
"Pulang dari sini aku ke FF resto ya, Mas. Anak-anak minta kumpul di sana"
"Yang lain ikut? "
"Nggak cuma FF girls aja" Levy mengangguk.
"Kamu bawa mobil sendiri atau mau Mas antar? "
"Bawa mobil aja deh, nanti pulangnya kalau mau jemput aja, takutnya aku lupa waktu kalau main" Ucap Chacha sambil nyengir.
"Ya udah sekalian kita makan malam di luar, gak usah masak kan jadinya. Lama banget kayaknya aku gak ngajak kamu dinner"
"Roman-romannya ada udang di balik bakwan ini" Ucap Chacha dengan tatapan penuh selidik.
Levy hanya nyengir mendengar perkataan istrinya. "Ya namanya juga usaha cinta. Harus rajin dan sering. Harus rajin disiram biar cepet gede"
"Mesum ih"
"Beneran loh, Sayang. Namanya juga bercocok tanam, harus rajin disiram dan di pupuk, biar cepet tumbuh"
"Iya, nanti lahirannya keluar pohon pisang puas" Jawab Chacha sambil mendelik sinis. Levy tergelak mendengar nada sinis istrinya.
"Udah ada tanda-tanda belum sih, Sayang? "
"Belum, Mas. Sabar ya, mungkin belum rejeki kita" jawabnya dengan nada sendu.
"Hei, kok sedih. Aku gak papa, kalo rejeki kita dapat baby cepet ya kita juga cepet dapetnya, kalo nggak ya belum rejeki namanya. Nikmati aja waktu kita berdua dulu, karena kalau sudah ada krucil diantara kita, dijamin deh bakalan riweuh" Chacha nyengir, membayangkan bagaimana hebohnya dirinya dan Levy saat memiliki anak.
"Katanya Karin udah isi loh, Yang"
"Serius kok aku gak tau? "
"Elang tadi chat di grup FF boys, katanya Karin isi. Coba nanti kamu tanya"
"Siap pak bos bucin ku"
"Perkembangan Fany sama Pandu gimana? "
Ya, Pandu sedang gencar mendekati Fany. Namun, jika ditanya kapan akan melamar gadis tomboy itu, Pandu akan terdiam. Pandu merasa belum siap untuk melamar Fany, bukan dari segi mental namun dari segi materi. Dirinya tak ingin Fany diolok-olok oleh lainnya karena keadaan Pandu yang terbilang jauh dengannya.
"Aku masih belum tau, ini nanti sekalian mau tanya sama Fany. Pandu sendiri masih di luar kota" jawab Chacha sambil membereskan peralatan makan yang digunakan Levy.
"Kenapa sih mereka berdua gak langsung aja, udah sama-sama siap juga"
__ADS_1
"Pandu punya alasan tersendiri, Mas. Kita hanya bisa menuntun keduanya jika ingin melihat mereka bersatu"
"Iya, tapi terlepas dari itu. Fany seorang wanita yang membutuhkan akan sebuah kejelasan, Sayang"
"Nanti aku ngomong lagi sama Pandu, boleh? "
"Kenapa harus minta ijin segala, Sayang? "
"Karena bagaimana pun aku dan Pandu berbeda gender, aku bukan membicarakan soal pekerjaan, ini soal perasaan. Lagi, aku hanya akan berbicara empat mata dengannya. Jadi aku butuh ijinmu untuk berbicara dengannya, Mas. Jika kamu mengijinkan maka aku akan bicara dengan Pandu, jika tidak maka ya tidak"
Levy mengembangkan senyumnya, istrinya begitu menjaga perasaan dan kehormatan nya sebagai seorang istri. Ini nilai plus seorang Chacha, terlihat cuek dengan sekitar namun jika tentang urusan menjaga perasaan orang terdekatnya dirinya akan melakukannya, bahkan dirinya akan mengalah meskipun dirinya harus menahan sakit.
"Aku ijinkan, Sayang. Kelanjutan hubungan Fany dan Pandu ada ditangan mu. Semoga berhasil istriku" ucap Levy menyemangati.
Karena mereka semua tau bagaimana kerasnya dua manusia yang tengah menjalin hubungan ini.
"Nanti malam makan di rumah Bunda aja ya" mohon Chacha.
"Kangen Bunda, hmm? " Chacha mengangguk. "Suee ratuku. Nanti malam kita ke rumah Bunda. Kamu hubungi dulu, jika kita akan ke sana. Mas juga sudah siap menerima amukan Ayah"
"Kenapa Ayah? "
"Karena menikahi anak gadisnya tanpa ijin padanya" Levy nyengir.
"Nanti aku bantu jelasin, Mas"
"Abang udah tinggal sama Ayah Bunda? " Chacha mengangguk.
"Haruslah, biar Ayah ada yang ngawasin. Enak aja udah dikasih kesempatan kedua sama Bunda dibiarkan begitu saja"
"Pantes istri aku baik banget, ternyata Bunda begitu baik orangnya" Chacha hanya tersenyum manis saat Levy mengelus kepalanya.
"Baik tidaknya seseorang itu tergantung pada pribadi sendiri, Mas. Aku juga tak sebaik yang orang lihat diluar, karena tak ada orang baik yang menjadi pemimpin organisasi mafia"
"Gak peduli kata orang, yang penting kamu yang terbaik di mata Mas" Levy menarik Chacha kedalam pelukannya. "I love you, panda cantikku"
"I love you too, pak bos bucin ku"
Mereka berkumpul dengan formasi lengkap dengan berbagai ekspresi saat ini. Chacha dengan wajah bingungnya, Fany dengan wajah sendu nya. Karin dengan senyum mengembang nya, Nena dengan wajah santainya. Jangan lupakan Zeze yang tampil dengan wajah datar kali ini.
"Ada apa, kenapa beragam gini ekspresi nya? " tanya Chacha yang kebingungan.
"Gue punya kabar bahagia" ucap Karin.
"Lo hamil? " tebak Chacha langsung.
"Ish, gak asik lo mah, kok tau sih. Kan gue belum kasih tau" Karin menjawab Chacha dengan cemberut.
"Laki lo tadi pagi pengumuman di grup"
"Grup mana gak ada tuh" celetuk Nena.
"FF boys, Na"
"Oh"
"Btw, selamat ya calon hot mommy" Mereka lantas berpelukan layaknya teletubbies.
"Sekarang gue tanya Fany, lo kenapa? Ini bukan gaya Fany banget kalau galau" Chacha memulai interogasi nya.
"Gak tau, dari sampai dia sudah gitu" jawab bumil yang mulai mengunyah.
"Tiati mengembang loh, Rin" peringatan Nena.
"Bodo amat, gue juga lagi hamil, mengembang itu hal yang wajar. Gue aja yang belum mengembang lo ingetin. Noh sahabat lo, yang mulai berisi aja gak ada yang ngeh"
"Siapa? "
__ADS_1
"Si Chacha, lo gak liat tuh pipi makin bulat"
"Gue tampol lo kalo gak diem, Rin. Sekarang fokus dulu sama Fany ah"
"Ampun bu bos"
"Jawab Fan, lo kenapa? " tanya Chacha lagi.
"Pandu lagi? " tebak Nena, langsung diangguki oleh Fany.
"Gara-gara Pandu belum siap lamar kamu? " Fany mengangguk lagi.
"Apa pula mau si Pandu itu, kenapa tak langsung lamar aja"
"Gue kasihan sama Zeze, dia gak bisa nikah kalau gue belum ada calon atau pendamping"
"Kenapa? "
"Kata Papa, Zeze gak boleh ngelangkahin kakaknya"
"Kalian itu kembar, jadi gak ada istilah ngelangkahin. Jodoh, maut dan rejeki semua ada yang mengatur. Lo udah coba ngomong sama Pandu, Fan? " tanya Chacha lagi.
"Udah, tapi Pandu selalu bilang tunggu sebentar lagi. Sampai kapan? Gue bakal dijodohin kalau Pandu gak datang dalam tiga hari ke rumah buat lamar gue" sendu Fany.
"Gue bakal tarik Pandu pulang. Nanti gue kirim anak buah gue yang lain buat nanganin masalah di sana. Sorry, gue gak tau kalau masalahnya gini"
"Ini bukan salah lo, Cha. Kalau emang serius harusnya Pandu bisa luangin waktu buat ketemu orang tua gue"
"Sabar lah, Fan. Pasrahkan semuanya pada pemberi hidup. Jika Pandu memang jodohmu sekuat apapun rintangannya kalian akan tetap bersama, meskipun harus melalui jalan yang berliku"
"Gue mundur aja deh, Fan. Lo boleh nungguin Pandu"
"Jangan Ze, biar gue sebagai kakak yang ngalah"
"Terus apa? Lo nyuruh gue liatin lo yang gak bahagia di atas kebahagiaan gue, sorry Fan, gue gak bisa" isak Zeze.
Ya ampun kenapa jadi ribet gini sih. Batin Chacha.
"Lo tau sama calon yang bakal dijodohkan sama lo? " tanya Nena. Fany menggeleng.
"Lo udah kasih tau Pandu tentang masalah ini? " tanya Karin.
"Udah"
"Apa katanya? "
"Pandu ikhlas jika gue gak bisa tunggu dia"
"Pandu kok gitu sih, pengen tak tabok deh" ucap Karin sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Sekarang lo nya gimana? "
"Gue bisa apa? Pandu seakan tak memperjuangkan gue, gue cuma bisa pasrah"
"Gue bakal mundur Fany"
"Jangan Ze"
"Kasih waktu gue sebulan, gue selesaikan masalah Pandu. Lo bisa ulur waktu sampai sebulan? " tanya Chacha.
"Sayangnya gak bisa, Cha. Papa udah buat keputusan"
"Jalani aja dulu, gue rasa ada yang gak beres disini. Perjodohan lo seakan terburu-buru, pasti ada sesuatu dibaliknya"
"Tapi, Cha? "
"Percayalah Fan, Pandu sayang sama lo, bukan tak ingin memperjuangkan lo, tapi masih ada yang lebih penting saat ini. Ini tentang hak dan masa depannya" ucap Chacha penuh teka-teki.
__ADS_1
"Maksudnya? "
"Nanti kalian akan tau saat waktunya tiba"