Call Me Queen

Call Me Queen
Berdamai


__ADS_3

"Rin, volumenya kurangi dikit kek kaget gue" Gerutu Fany pada Karin.


"Sorry, Fan gue kaget aja si Chacha udah sadar"


Mereka masih dalam mode terkejutnya mendapati kesadaran Chacha.


"Apa luka tembakan ini serius?" tanya Chacha pada Shiro.


"Menurutmu?"


"Tak terlalu serius" jawabnya dengan mode santainya membuat yang lain menganga tak percaya.


"Itu peluru rakitanmu sendiri Queen, untung saja King dan bocah ini mampu mengeluarkan semua pecahan peluru itu dari dalam tubuhmu" jawab Shiro.


"Siapa yang kau panggil bocah?" tanya Levy dengan nada dingin.


"Eh.." Shiro dibuat kaget dengan dinginnya Levy.


"Sudahlah pindahkan aku ke VIP 1, malah dibawa kesini, ini pula kenapa coba pake topeng identitas Izhaka segala" ucap Chacha ngedumel.


"Tapi Queen.."


"Ntar yang ada gue ketahuan kak. Pindahin cepet ih" perintah Chacha dengan muka imutnya.


"Iya iya" jawan Shiro pasrah.


Jangan tanyakan kenapa yang lain tak bersuara sama sekali, mereka masih dalam mode terkejut dan syok.


Chacha langsung dipindahkan keruangan yang dia minta. Karena jika tidak usahanya menutup diri sebagai penerus tunggal keluarga Izhaka bisa sia-sia.


Setelah dipindahkan keruangan yang dia mau Chacha juga menyuruh anak buah yang sebelumnya menjaganya diluar untuk kembali, karena itu terlalu mencolok menurut Chacha. Yang lain hanya bisa pasrah dengan keputusan gadis kepala batu yang satu ini.


Pagi harinya semua sahabat Chacha termasuk Levy kembali ke rumah masing-masing dan akan kembali sore nanti. Kini diruangan Chacha hanya ada dirinya dan kedua orang tuanya.


Sejak kepergian para sahabatnya hingga sekarang suasana ruangan itu hanya diliputi keheningan karena tak ada satupun yang membuka suara.


"Cha" pada akhirnya Ayah Gun membuka suara.


"Hmn" Chacha hanya menggumam tak jelas menanggapi panggilan ayahnya.

__ADS_1


Ayah Gun mendekat kearah brankar Chacha dan duduk dikursi yang disediakan dalam keadaan menunduk.


"Maafin ayah" satu kalimat yang sejak semalam ingin diucapkan akhirnya lolos.


"Untuk?" Chacha menaikkan sebelah alisnya.


"Semuanya. Maaf ayah salah, maaf ayah tak pernah ada untuk Chacha, maaf ayah tak pernah memberikan kasih sayang ayah untuk Chacha, maaf untuk segalanya Cha, maaf ayah bukan ayah yang baik buat Chacha" Ayah Gun tetap menunduk dengan rasa bersalahnya tak terasa buliran bening lolos begitu saja di pipinya.


"Hmm" lagi-lagi Chacha hanya menggumam tak jelas.


Sedangkan Bu Ratu sudah menangis melihat suaminya menunduk rapuh didepan bungsunya. Tampak guratan penyesalan terlukis jelas diwajahnya.


"Maaf ayah pernah sakiti Chacha. Kembali lah nak, ayah mohon"


"Atas dasar apa anda meminta saya kembali?" ucapnya dingin.


"Cha" suara serak Bu Ratu mengalihkan pandangannya.


"Maafkan ayahmu nak. Cukup ayahmu menyakiti dirinya dengan kepergian Chacha dari rumah nak" ucap Bu Ratu.


Chacha hanya mengernyit tanda tak paham.


"Dia terlalu memanjakan kakakmu dan memiliki ego yang tinggi nak. Maafkan ayahmu biarkan dia menebus kesalahannya sayang" ucap Bu Ratu dengan air mata yang terus mengalir sambil mengelus kepala bungsunya itu.


"Maafin ayah nak. Ayah terima hukuman apapun dari Chacha" ucap Ayah Gun tetap menunduk.


"Apakah pantas seorang anak menghukum orang tuanya. Sesalah apapun ayahnya seorang putri hanya kecewa namun perubahan sikap adalah hukuman buat ayahnya. Membenci itu tak pantas karena tanpanya dia tak akan pernah menginjakkan kakinya didunia ini. Maafin Chacha ayah"


Ayah Gun mengangkat pandangannya menatap putri bungsunya itu.


Grreebb...


Ayah Gun langsung memeluk erat Chacha. Chacha membalas pelukam hangat yang ia rindukan sejak kecil. Sedangkan Bu Ratu hanya mampu menangis dengan kebesaran hati Chacha yang mau memaafkan segala sikap ayahnya.


"Chacha tak perlu minta maaf ayah yang seharusnya minta maaf dan terima kasih Chacha mau maafin ayah, terima kasih Chacha rela ngorbanim nyawa buat ayah"


"Melindungi ayah dan bunda adalah tugas Chacha"


Ayah Gun melepas pelukannya dan menghapus sisa air mata yang ada dipipinya lalu dirinya mengecup lama kening anaknya tersebut.

__ADS_1


"Cha"


"Ya bunda"


"Darimana Chacha tau menggunakan pistol dan bahkan merakitnya?" tanya Bu Ratu lembut namun ada jejak ketegasan disana.


Mati gue. Batin Chacha.


"Ehm.. itu anu bun..." Chacha mulai gelagapan menjawab pertanyaan bundanya.


Tok... Tok... Tok...


Selamet... Batinnya sambil menghela napas lega.


"Permisi" muncullah Shiro setelah pintu terbuka.


"Eh silahkan dok" ucap Bu Ratu.


"Ganti perban dulu ya" Chacha hanya mengangguk menanggapi ucapan Shiro.


Bu Ratu dan Ayah Gun dibuat takjub karena Chacha seakan tak merasakan sakit bahkan meringis pun tidak.


Bu Ratu tak kaget bagaimana Chacha bisa akrab dengan dokter tersebut karena Bu Ratu sering mendapat laporan dari bawahannya yang mengawasi Chacha kalau bungsunya sering bermain di rumah sakit ini.


"Sudah. Obatnya jangan lupa diminum ya. Pemulihan disini aja kamu kalo pemulihan dirumah pasti banyak ini itu bisa lama pulihnya dengan segala tingkah kamu itu" ucap Shiro tanpa memandang Chacha, sedangkan Chacha hanya menggembungkan pipinya membuat Bu Ratu dan Ayah Gun gemas sendiri dengan bungsunya itu.


"Kau mendengar ku anak manis" ucap Shiro menoleh kearahnya.


"Aku mendengarnya pak dokter cerewet" ledeknya.


"Aissh. Sudahlah aku sudah selesai, aku akan keluar bisa darah tinggi jika terus bersamamu"


"Keluarlah aku juga sudah bosan melihat wajahmu itu"


"Haishh" Shiro hanya menggelengkan kepalanya.


"Saya permisi tuan dan nyonya" ucapnya sopan.


"Terima kasih dokter" balas Ayah Gun yang hanya dihadiahi anggulan serta senyum manis dari Shiro

__ADS_1


__ADS_2