Call Me Queen

Call Me Queen
Menuju Akhir


__ADS_3

Satu bulan berlalu begitu cepat, mereka berkumpul lagi di mansion Izhaka guna bisa menyaksikan dan melihat bagaimana penerus keluarga Izhaka memperebutkan lencana itu.


Waktu yang harusnya lima bulan kini sudah sampai diakhir penentuan. Mereka ngeri melihat bagaimana cara Chacha bertarung


Chacha sendiri juga tak menyangka akan jadi seperti ini, padahal dirinya baru keluar dari pesawat namun langsung dipasangi alat di pergelangan tangannya, awalnya Chacha juga bingung. Namun melihat musuh di depan mata, dirinya seakan mampu menarik kesadarannya secara instan. Sialnya lagi saat itu dirinya tak membawa senjata apapun. Lari pun tak bisa hanya bisa maju dan menyerang meskipun dengan tangan kosong.


Yang membuat Chacha kaget adalah, mereka semua menargetkan Chacha. Alih-alih bertarung seperti tahun lalu, malah menyerang Chacha secara bersamaan. Untung Chacha memiliki refleks yang sangat baik, jadi dirinya mampu menghindar dengan akurat setiap serangan.


Chacha yang notabenenya adalah orang yang usil, sekelebat memikirkan ide jahil di otak cantiknya. Sebenarnya ini hanya untuk membuktikan argumennya saja, bahwa mereka menargetkan dirinya.


Chacha membawa semua musuhnya berlari mengelilingi landasan karena mengejarnya, mereka yang rata-rata berusia dua puluh lima sampai tiga puluh lima jelas saja langsung ngos-ngosan setelah Chacha bawa berkeliling sepuluh putaran dengan panjangnya landasan itu.


Melihat ada kesempatan Chacha berbalik secepat kilat berlari, mengambil pistol yang tersarung di pinggang musuhnya, tak hanya satu dirinya mendapat dua sekaligus. Tanpa basa-basi lagi, Chacha langsung mengarahkan pada betis dan paha beberapa musuhnya.


Mereka segera tersadar bahwa Chacha mulai menyerang, lalu mereka menyerang Chacha. Sungguh konspirasi yang sangat apik, itu pikirnya. Namun, itu malah membangkitkan kegilaan Chacha dalam bertarung.


Mereka para musuh Chacha hanya bengong melihat ketenangan gadis yang bisa menjadi boomerang bagi kelompok mereka itu, bisa dibilang Chacha adalah yang paling muda diantara mereka. Namun, yang tak habis pikir Chacha mampu menduduki posisi kedua tahun lalu. Memikirkan itu saja mereka sudah sakit kepala.


Satu hal kenapa mereka menargetkan Chacha, mereka ngeri melihat bagaimana Chacha membantai satu kelompok mafia kuat dengan tangannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Itu saat ayah angkatnya menjadi tameng hidup bagi dirinya. Dalam pikiran mereka jika Chacha sampai mendapat lencana itu, bisa jadi kelompok mereka akan di ratakan olehnya. Padahal sebenarnya Chacha sudah membuat tujuan lain, jauh seperti yang mereka pikirkan.


Seperti hari ini, tinggal tiga peserta lagi yang harus Chacha tundukkan. Ini merupakan tiga peserta terkuat, Chacha hanya bisa menghela napas mengingat sebentar lagi akan bertarung. Selama sebulan ini cukup merepotkan menundukkan mereka. Tak urung juga kadang Chacha mendapat tembakan atau luka sayatan. Saat menerima itu Chacha hanya mencebik tak suka. Itu sukses membuat musuhnya melongo, alih-alih berteriak karena sakit Chacha malah mencebik sebal.

__ADS_1


"Mikirin apa, hmm? " tanya seseorang yang memeluk Chacha dengan mesra dari belakang.


"Tak ada, hanya lelah"


"Kamu bisa mundur sekarang juga"


"Sudah sejauh ini, gak asik dong"


"Tapi ini lebih bahaya"


"Aku tau, tapi yakinkan aku jika aku bisa"


"Aku yakin kamu bisa, tapi aku tak yakin keadaan mu setelah ini"


"Aku menunggumu"


"Ya tunggu aku lalu kita kembali bersama"


"I love you, My Queen"


"Emmm, I love you too, My Lord"

__ADS_1


Levy langsung membalik tubuh Chacha dan menyatukan bibir mereka. Dengan senang hati Chacha menerima serangan suaminya itu.


Chacha yang awalnya kecewa karena Levy benar-benar tak bisa memberi semangat dari dekat, namun siapa sangka saat pertarungan dihentikan dirinya malah melihat sang pujaan hati di pintu gerbang. Menunggu kedatangan dirinya dengan senyum khasnya. Namun tak urung pancaran matanya menyiratkan ke khawatiran. Bahkan Levy rela bolak-balik Amerika -Indonesia demi menemani sangat istri, itu membuat Chacha tersentuh melihat dia begitu diperjuangkan. Salahkah dirinya selama ini menilai Levy.


Chacha masih ingat saat mendengar berita pertunangan Levy dan Angel, diluar tampak tak ada emosi. Namun setelah sampai di tempat latihan, dirinya membabi buta menyerang setiap partner yang menjadi teman latihannya saat itu. Tak memikirkan kesehatannya, hanya menempa tubuhnya terus menerus. Hingga akhirnya benar-benar tumbang dan harus dirawat. Mereka yang tak tau apa-apa cuma heran kenapa nona yang mereka sayangi mengamuk secara liar.


Namun siapa sangka, benang takdir menyatukan mereka dengan cara yang tak terduga. Mereka menikah. Setelah menjadi kekasih halal, Levy benar-benar menunjukkan rasa cintanya pada Chacha, tak peduli apapun dia mengusahakan semuanya demi sang istri. Padahal awalnya Chacha berpikir Levy sama dengan lainnya. Berpikiran sempit dan mendahulukan emosi. Namun siapa sangka bahwa lima tahun terakhir, tanpa diketahui oleh siapapun dirinya meretas apa saja jika mendapatkan petunjuk dirinya. Chacha merasa bersalah selama ini. Meskipun setelah kembali dirinya dihina habis-habisan oleh Levy, tapi satu yang Chacha yakini. Levy hanya meluapkan amarahnya saja. Tanpa berniat menghina Chacha. Namun caranya saja yang salah.


"Berjanjilah untuk kembali, Yang" lirih Levy ditelinga Chacha.


"Aku berjanji, By. Jika tidak nenek akan menjadi tawanan mereka lagi"


"Emmm, aku tau"


"Bergabunglah bersama Baba nanti, aku bisa jamin kali ini tak akan sekondusif biasanya, setelah keluar bisa saja langsung ada penyerangan. Jadi kamu bisa bergabung dengan Baba"


"Ya, aku mendengar mu"


Chacha bersiap-siap untuk menuju tempat pertarungan terakhirnya kini. Hanya tersisa empat orang termasuk dirinya. Kini mereka hanya perlu mencari dimana lencana itu berada, memperebutkan dan tak peduli apapun. Bisa saja mereka saling membunuh satu sama lain, namun Chacha hanya bersikap santai. Ide hantu sudah muncul di otaknya. Percayalah Chacha hanya menganggap pertarungan ini hanya sebuah permainan belaka.


Saat sampai ditempat yang menjadi tujuannya Chacha langsung turun. Disana tiga musuhnya sudah datang dan sedang menggunakan perlengkapan masing-masing. Mulai dari senjata, pengaman dan apa saja yang sekiranya membantu mereka nanti.

__ADS_1


Berbeda dengan Chacha yang santai, dirinya hanya mengantongi empat pistol. Dua di pinggang dan dua lagi di paha. Chacha rasa itu sudah cukup. Bukan meremehkan, namun sebagai seorang dokter yang mempelajari pengobatan tradisional China kuno dirinya sudah cukup untuk melawan kali ini. Berbekal beberapa jarum yang diselipkan di rambutnya yang diikat ekor kuda itu sudah cukup membunuh lawan. Namun sayang Chacha malam membunuh hari ini, jadi dirinya lebih memilih bermain-main.


Seperti yang ada dipikirannya, Chacha membiarkan ketiganya mencari lencana itu ke setiap sudut tempat. Chacha hanya diam memainkan ponselnya. Sebenarnya dia sedang meretas CCTV untuk melihat pergerakan tiga orang lainnya. Chacha akan merebut langsung lencana yang mereka temukan. Curang memang. Namun, bukankah semuanya sah dalam perang.


__ADS_2