Call Me Queen

Call Me Queen
Tumbang


__ADS_3

Levy yang kaget karena tingkah genit Chacha masih mematung di tempatnya. Samar-samar bayangan kegiatan panas berputar di otaknya. Dia hanya bisa memejamkan matanya, menahan sakit yang mulai menyerangnya.


Satu minggu terakhir banyak potongan-potongan ingatan yang menghampiri Levy. Levy masih menyusun setiap kepingan itu, namun karena samar membuat Levy cukup kesusahan. Namun, dia tak berhenti untuk berusaha.


Para sahabatnya yang melihat tingkah Chacha hanya bisa menahan tawanya. Apalagi saat melihat wajah Levy yang cengo saat digoda oleh istrinya sendiri.


"Itu nona besar Izhaka, bukan? " Tanya host yang sejak tadi mematung karena melihat Chacha. Bahkan kini pandangannya juga tak beralih dari Chacha.


Chacha yang terlihat seksi ketika berlari di atas treadmill itu memang mampu membuat fokus beralih sepenuhnya ke arah dirinya. Dengan celana pendek yang menampilkan sebagian paha mulusnya, dipadukan dengan hoodie yang sengaja belum dirinya lepas itu membuat kesan seksi tersendiri pada ibu tiga anak ini.


"Ya, itu dia" Jawab Nena dengan bangga.


"Cantik banget ya"


"Cewek aja muji dia cantik ya, apalagi cowok? " Karin terkekeh mendengar ucapan Zeze.


"Tapi sepertinya dia bukan pribadi yang hangat, benarkah? "


"Dia pribadi yang hangat sebenarnya. Hanya saja ada kejadian beberapa bulan lalu yang memaksanya untuk bersikap dingin lagi"


"Kejadian? "


"Privacy"


"Oh oke"


"Kita gabung sama mereka dulu, kalian masih bisa wawancara sekalipun kita lagi olahraga kok" Ucap Karin, lalu dirinya berdiri menyusul Chacha.


Setengah jam berlalu begitu cepat, Chacha hanya menatap malas pada Angel yang berusaha mencari perhatian Levy. Lain dengan sahabatnya yang sudah terbakar amarah melihat itu.


"Samsak gue dimana? " Tanya Chacha tiba-tiba.


Fany langsung menunjuk ke arah samsak yang sudah berpindah tempat. Bisa dipastikan mereka akan melihat kengerian Chacha sebentar lagi.


Levy heran saat melihat semua sahabatnya berhenti melakukan kegiatannya dan malah mengikuti langkah Chacha. Kebetulan Chiara juga masuk ke tempat itu. Gadis itu cukup kaget saat melihat tempat gym milik Chacha ramai. Sekalipun ramai biasanya hanya para member yang terdaftar, tapi kali ini ramai karena proses syuting.


"Queen? " Panggil Chiara saat Chacha berdiri di depan samsak.


"Letakkan di dalam ruangan aja"


"Oke, sekalian ganti baju gak papa kan? " Tanya Chiara saat Chacha menyuruh membawa belanjaannya kedalam ruangan pribadinya.


"Lo mau nge-gym pakai dress? " Tanya Chacha balik, karena Chiara tidak sempat mengganti pakaiannya tadi.


Tanpa menjawab Chiara langsung meninggalkan tempat itu. Sekilas dirinya melihat Angel di sana, itu yang membuat Chiara segera mengganti bajunya.

__ADS_1


"Sarung tinju gue dimana? " Tanya Chacha lagi saat tak melihat sarung tinju miliknya.


"Lah disitu emang gak ada? " Karin balik bertanya pada Chacha.


"Kalo ada gue gak bakal nanya. Kalo langsung dipukul lecet gak tangan gue nantinya? "


"Mau gue bogem duluan lo? " Elang tiba-tiba bersuara.


"Yakin lo bisa bogem gue? " Tantang Chacha.


"Setidaknya tangan lo gak bakal lecet kalo mukul gue, gue babak belur dikit gak papa. Lama gak baku hantam sama lo" Jelas Elang.


"Kangen ya baku hantam sama gue? " Chacha menaik turunkan alisnya menggoda Elang.


"Enggak juga, kalo imbang sih gak papa. Ini gue malah jadi samsak hidup buat lo" Chacha hanya tergelak mendengar ucapan Elang.


Sedangkan para staf yang lain jangan ditanya. Mereka cukup kaget dengan obrolan yang terjadi diantara para sahabat Karin yang bisa di sebut sultan itu. Mereka kaget saat melihat langsung bagaimana cara mereka mengatasi kejenuhan, salah satunya dengan baku hantam.


Levy yang penasaran terpaksa mendekat ke arah sahabatnya. Begitupun dengan Angel. Angel terus mepet pada Levy karena melihat Chiara di sana. Saat ini, daripada memikirkan rasa takutnya pada Chacha, dia lebih mementingkan rasa takutnya pada Chiara. Chacha mungkin tidak akan bertindak gegabah ditempat umum, apalagi di depan Levy. Lain halnya dengan Chiara yang tak akan melihat tempat dan situasi jika sudah marah.


"Kalian ngapain disini? Gue gak butuh penonton" Ucap Chacha dengan wajah datarnya saat melihat Levy mendekat diikuti Angel.


"Kangen kali mereka liat keganasan lo" Celetuk Chiara yang tiba-tiba muncul dengan meminum susu kotak di tangannya.


"Olahraga Chi, ngapain lo duduk disitu? " Tanya Nena saat melihat Chiara duduk bersila tak jauh dari samsak yang akan Chacha pukul.


"Makan teros lo, ngembang tau rasa"


"Nggak lah, bentar lagi juga langsung bakar kalori. Gila mainan gue di atas atap, ya kali gue ngembang" Ucap Chiara.


Levy hanya memperhatikan semua sahabatnya yang berinteraksi dengan Chiara. Dia hanya mengernyitkan dahinya saat melihat para sahabatnya akrab dengan Chiara. Hingga matanya tak sengaja beralih pada Chacha yang sedang membuka hoodie nya. Levy kaget saat melihat Chacha membuka hoodie nya dengan santai, apa Chacha lupa jika para sahabatnya sedang syuting.


Setelah melemparkan hoodie nya ke lantai tepat di samping Chiara yang sedang duduk. Menyisakan tanktop hitam yang membalut tubuh indahnya. Chacha mencepol rambutnya yang sejak tadi diikat ekor kuda.


Levy melotot saat Chacha hanya mengenakan tanktop. Fokusnya beralih pada tanda mahkota yang ada di punggungnya. Mirip dengan milik Angel, namun milik Chacha seperti terlihat natural bukan seperti tato. Levy tahu jika milik Angel adalah tato, Levy pernah menyentuhnya karena penasaran. Namun sayang tak ada reaksi apapun pada ingatannya. Namun, melihat milik Chacha malah membuat jantungnya berdegup kencang. Belum lagi saat tanda yang selama ini Chacha sembunyikan dibalik rambutnya sekarang dengan beraninya ia ekspos. Ingatan samar kini mulai berputar di kepala Levy. Dia memegang kepalanya karena sakit, namun dia tak ingin menyerah untuk mengingat kali ini.


Chacha hanya melirik saat suaminya memegang kepalanya. Bukan tak peduli. Namun, Chacha sedang menekan rasa khawatirnya. Ditambah dengan Angel yang langsung menempel pada Levy, membuat api dalam tubuh Chacha bergejolak. Setelah mengenakan sarung tinjunya, Chacha langsung memukul samsak di depannya dengan gerakan brutal.


Chiara menaikkan sebelah alisnya saat melihat Chacha yang seakan siap kehilangan kendalinya saat ini. Baru sepuluh menit Chacha sudah mandi keringat, ditambah kilat amarah di matanya. Sepertinya Chiara tahu apa penyebabnya. Tanpa basa-basi lagi, Chiara langsung melayangkan tatapan membunuh pada Angel, dan kebetulan pula Angel sedang meliriknya.


Para sahabatnya menatap ngeri ke arah Chacha. Mereka tahu jika Chacha akan lepas kendali sebentar lagi, namun mereka tidak berani menghentikan itu. Yang bisa menghentikan Chacha harus memiliki tingkat kegilaan yang tak jauh berbeda dengan Chacha. Mereka serempak melirik ke arah Chiara.


Chiara berdiri dan menghela napas panjang. Jika Chacha tak segera sadar, bisa dipastikan dirinya babak belur kali ini.


"Chi? " Karin menatap Chiara dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Levy aja deh, gue agak ngeri lihat Chacha kek gitu" Chiara menatap ngeri ke arah Chacha yang semakin brutal memukul samsak di depannya.


"Lev tolong bantu" Karin menatap dengan tatapan memohon pada Levy.


"Kenapa gue? " Levy menaikkan sebelah alisnya, Levy tahu jika Chacha sudah mulai lepas kendali kali ini. Entah kenapa Levy bisa merasakan emosi yang Chacha rasakan, belum lagi tanda mahkota dan tanda lain di tengkuknya itu, membuat jantung Levy bergedup semakin kencang.


Brugh...


Levy melotot saat keempat sahabat wanitanya itu berlutut di depannya. Bahkan mereka rela menunduk demi Chacha, Levy menaikkan sebelah alisnya tanda bingung.


"Gue mohon, hentikan dia. Kondisinya tak seperti yang terlihat di luar. Gue mohon Lev, gue mohon"


Jujur tak hanya Karin, ketiga lainnya pun menatap Chacha dengan tatapan yang sulit diartikan. Pasalnya selama Levy lupa ingatan Chacha bahkan tak memperdulikan kesehatannya yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Dia hanya akan memeriksa tubuhnya ketika Charles mengomel panjang lebar agar memperhatikan kondisi tubuhnya.


Levy bimbang, dia juga bisa melihat jika nafas Chacha sudah mulai tak teratur. Namun, Chacha masih terus memukul dan menendang samsak itu dengan brutal. Para sahabatnya juga sudah berteriak agar Chacha menghentikan kegiatannya namun tetap tak digubris nya. Dan kini Chiara membulatkan tekadnya untuk maju.


"Hubungi Kak Shiro, gue yakin setelah ini gue gak bakal baik-baik aja. Buat lo Lev, jangan sampai menyesal kalau Queen kenapa-napa" Levy hanya menatap Chiara sekilas.


Baru selangkah Chiara berjalan mendekat ke arah Chacha, Levy sudah melesat dengan cepat ke arah Chacha. Melingkarkan lengannya di perut ramping sang istri itu. Menariknya menjauh dari samsak yang hampir jebol karena saking kerasnya pukulan Chacha.


Chacha sepenuhnya sadar jika Levy yang memeluk tadi, wangi khas tubuh Levy langsung mengembalikan kesadarannya. Chacha langsung tergeletak begitu saja di lantai. Nafasnya naik turun, matanya terpejam. Dia menggigit bibir bawahnya guna mengatur emosinya. Dengan sigap Chiara mengangkat kepalanya dan diletakkan di pahanya.


Chiara meminta yang lain diam, mereka menurut. Membiarkan Chiara yang menanyai Chacha. Karena ini pertama kalinya Chacha lepas kendali.


"Lo kenapa? " Tanya Chiara sambil mengelus kepala Chacha kayaknya seorang kakak. Chacha masih terpejam dengan nafas yang naik turun.


"Lo tau Chiara, orang lain taunya gue lagi berjuang. Orang lain taunya gue lagi sibuk ngurusi Izhaka dan ambisi gue yang lainnya. Orang lain taunya gue bahagia. Padahal aslinya gue lagi digebukin dunia. Padahal aslinya dunia gue lagi runtuh, gue pengen nyerah sama semuanya" Chacha mulai menumpahkan semuanya. Para sahabatnya menunduk, mereka tahu seberat apa beban yang Chacha pikul seorang diri.


"Bahu gue berat Chiara, kepala gue sering sakit, impian gue juga banyak yang hilang, jam tidur gue juga semakin berantakan" Ucapnya lagi.


"Lo tau Chiara, malam hari, kalau gue pamit kerja, kerjaan gue cuma ini. Tiba-tiba gue nangis, tiba-tiba gue diem, gue cuma mikir hidup gue berat banget, kayak gak ada habisnya. Gue bukan mau ngeluh, tapi gue pengen istirahat aja, tapi masalah selalu ngepung gue dari berbagai sisi"


"Lalu paginya, gue bisa jadi orang yang paling ceria di depan semuanya. Dan setiap ditanya, jawaban gue cuma gak papa. Karena apa? Gue gak mau bikin mereka khawatir. Lo tau Chiara harusnya hari ini gue jemput si kembar di Paris. Tapi, gue ngerasa gak punya tenaga Chia" Nafas Chacha mulai teratur, begitu juga dengan suaranya yang semakin lirih.


Chiara melotot saat melihat wajah pucat Chacha. Chiara menatap Chacha dengan lekat. Tampak sang ratu membuka matanya yang satu, sedikit senyum tersimpul disana.


"Tolong jemput si kembar ya, gue kangen" Setelah mengatakan itu Chacha langsung memejamkan matanya. Chiara langsung berteriak karena Chacha pingsan.


Bertepatan dengan pingsannya Chacha, ribuan ingatan seakan menyerbu pikiran Levy. Levy berteriak tertahan saat merasakan kepalanya seakan terasa pecah. Para sahabatnya bingung harus mengutamakan yang mana.


Levy masih berusaha menjaga kesadarannya, dia tak mungkin menahan ini lebih lama. Dia juga penasaran dengan wanita yang selalu muncul dalam ingatannya walau samar. Kini Levy bertekad untuk mengetahuinya.


Elang segera menahan tubuh Levy yang hampir tumbang itu, dia menghembuskan nafas lega saat Levy membuka matanya. Tampak Levy menatap tubuh Chacha yang sudah Kinos gendong keluar dari tempat gym itu.


"Cinta" Lirih Levy sebelum dirinya tumbang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ya elah pingsan juga. Serasi banget sih kalian, yang satu pingsan yang satunya ikutan. Gemes deh" Ucap Elang kesal.


__ADS_2