
Jika di kediaman Chacha dipenuhi canda tawa akibat berkumpulnya para balita. Berbeda dengan kediaman Narendra yang saat ini begitu mencekam. Hanya satu orang yang terlihat santai, bahkan saking santainya dia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Tidak terusik dengan aura yang lainnya keluarkan.
"Jelaskan apa itu tadi, Maya? " Hardik Narendra. Dia benar-benar tak habis pikir dengan keberanian Maya. Bukankah selama ini Anna banyak mengalah padanya, bahkan Anna yang notabene nya adalah istri pertama malah diperlakukan seperti selingkuhan oleh suaminya sendiri.
Mengingat itu semua Narendra hanya bisa tersenyum miris. Kebodohannya yang tak bisa bersikap tegas membuat wanita yang dia cintai harus menanggung beban begitu berat, belum lagi anaknya. Entah apa jadinya jika Chiara tidak bertemu dengan Chacha, mungkin Narendra juga akan membenci darah dagingnya sendiri. Atau bahkan dirinya bisa dibunuh oleh anak laki-lakinya yang merupakan saudara kembar Chiara.
Sampai saat ini, baik Narendra maupun keluarganya masih tidak menyangka jika Anna berhasil melahirkan dua orang bayi kembar saat itu. Bahkan dengan begitu apiknya Anna menyembunyikan Pandu. Namun, masih menggunakan identitas dari keluarganya.
"Aku kira kau wanita baik-baik, Maya. Berasal dari keluarga terpandang membuat ku rela mendepak menantu pertama ku" Cerca ibu mertua Maya.
"Bukankah Mama juga mendukungku untuk menyingkirkan Anna, lalu kenapa sekarang kesalahan semua dilontarkan padaku? " Maya tak terima ketika dia dipojokkan.
"Mama hanya meminta kamu memisahkan mereka berdua, bukan menjualnya. Mama masih punya nurani pada sesama manusia, Maya"
"Apapun itu Mama juga salah. Bukankah aku sudah bilang, jika Mama tidak suka pada Nana cukup abaikan dia. Jangan ikut campur dengan rumah tangga ku, bukankah itu syarat yang aku ajukan untuk menuruti permintaan Mama menikah lagi. Bahkan karena ingin menyenangkan Mama, Nana rela di madu. Pernah Mama berpikir bagaimana jika Mama diposisi Nana dan aku menjadi Papa? " Pertanyaan Narendra membungkam sang ibu.
"Kamu Maya, sebenarnya kamu ini manusia jenis apa sih? Kenapa tega sekali. Kamu kurang apa selama jadi istri aku, hah? Bukankah dulu selama kau menjadi istri kedua ku, aku selalu memprioritaskan kamu? Kenapa kamu malah berbuat curang? "
Narendra benar-benar tidak habis pikir dengan keduanya. Disisi lain dia begitu marah pada Maya, namun saat sang Mama juga terlibat dia dihantam rasa kecewa yang begitu besar.
__ADS_1
"Kamu tau, Mas. Aku tidak pernah mau berbagi"
"Kalau kamu tidak mau berbagi, lalu kenapa kamu mau menikah dengan ku yang sudah beristri, hah? Apa sebenarnya motif kamu dan keluarga mu? " Teriak Narendra membuat Chiara yang sedang memejamkan matanya terlonjak kaget. Chiara baru saja mengetuk pintu alam mimpi, namun dikagetkan dengan suara sang papi yang menggelegar.
"Kamu menginginkan harta keluarga Narendra, silahkan ambil jika kamu mampu. Bukankah kamu tau jika selama ini perusahaan Narendra masih dipegang orang tuaku. Jika kamu berpikir aku menerima mu karena takut hidup miskin, kamu salah Maya. Alasan aku menjadi kepala sekolah karena Mama tak merestui aku dan Nana. Aku meninggalkan semua kemewahan yang selama ini aku rasakan demi wanitaku, dan bodohnya aku melepasnya hanya demi wanita ular seperti dirimu"
Maya bungkam, bahkan anggota keluarga nya juga bungkam. Mereka tahu perjuangan Narendra saat meminta restu menikahi Anna dulu. Dia tak menyerah meskipun ditolak berkali-kali, bahkan seluruh rekeningnya dibekukan. Fasilitas yang selama ini ia pegang di cabut oleh sang Mama. Ingin melawan namun Anna selalu melarangnya. Karena Anna tidak ingin Narendra dianggap anak durhaka karena dirinya.
"Apa kau pantas disebut sebagai wanita terhormat Maya. Jika selama ini kamu juga menjajakan tubuhmu pada laki-laki lain. Kamu istri ku Maya, istri sah ku, satu-satunya. Jika kau mencintai pria lain kenapa kau tak bicara dari awal. Aku bisa menceraikan kamu"
Maya melotot, kepalanya menggeleng tak percaya. Dia tidak ingin diceraikan oleh Narendra. Hangusnya bar milik kekasihnya beberapa tahun yang lalu membuat dirinya harus bergantung pada Narendra.
Narendra menatap tajam putrinya itu, sejak tadi dia melupakan keberadaan Angel yang tengah duduk di dekat Chiara. Bagaimana dia bisa lupa dengan kelakuan putri bungsunya itu.
"Sekarang jelaskan pada Papi, Angel. Berapa lama kamu sering bermain di luar sana? " Narendra mulai menurunkan nada suaranya.
Angel menundukkan kepalanya saat melihat raut kecewa di mata sang papi. Selama ini dia begitu di manja dibanding Chiara. Dia mendapatkan semuanya dibanding Chiara, namun pergaulannya memang bebas dan Angel tidak bisa mengantisipasi rasa penasaran tentang free se*. Hingga dengan nekat dia terjun dan malah menjadi player handal saat ini.
"Angel, Papi kurang apa nak? Apa yang kamu mau selalu Papi turuti bukan? Bahkan kakak mu saja masih Papi anggap sebelah mata. Kenapa lakukan ini, kamu lahir dan besar dengan adat desa yang sengaja kami ajarkan. Agar kamu menjadi wanita yang baik, anggun dan mampu menjaga kehormatan kamu. Karena Papi tahu, jika di kota besar seperti ini pergaulan bebas begitu menakutkan. Rupanya Papi salah, kakak kamu yang tidak begitu Papi perhatikan malah mampu membuat Papi bangga. Sedangkan kamu? "
__ADS_1
"Berapa banyak laki-laki yang kamu tiduri, nak? "
"Apa kamu tidak pernah berfikir dampak dari free se* yang kamu lakukan? "
"Papi kecewa sama kamu, Angel. Lihat, Ma. Ini buah dari hasil didikan Mama yang selalu memanjakan Angel. Sekarang lihat bagaimana kelakuannya. Aku rela mengabaikan Chiara demi Angel, tapi ini balasannya. Mama pernah mengatakan jika Angel memiliki bibit, bebet dan bobot yang jelas, jadi mereka tidak akan mencoreng nama baik keluarga kita. Sekarang apa Ma, apa? " Teriak Narendra, dia benar-benar frustasi kali ini. Fakta tentang anak dan istrinya begitu membuatnya shock.
Chiara masih setia duduk di sofa tunggal. Gadis itu terlihat menikmati dua wajah pucat yang tidak bisa menjawab setiap emosi yang Narendra keluarkan. Jangankan menjawab, mengangkat kepala saja mereka tidak berani. Diam-diam Chiara mencibir dalam hatinya.
"Kenapa kalian tidak membunuhku saja sekalian, beban malu ini begitu menyiksa. Belum lagi beban rasa bersalah pada Nana. Apa kalian pernah berfikir bagaimana jika berada di posisi ku, hah? " Teriak Narendra. Air matanya lolos begitu saja mengalir di pipinya.
Chiara tersenyum tipis, Papinya berada di titik terendah rasa penyesalannya. Chiara hanya ingin melihat ini, jika benar Papinya tulus dengan sang Mami, maka Narendra akan jatuh ke lubang terpuruk karena rasa bersalahnya. Namun, Chiara tak akan membiarkan itu terjadi. Kali ini dia akan egois untuk kebahagiannya, kebahagiaan Pandu, kebahagiaan Maminya.
"Papi" Dengan lembut Chiara mengelus punggung Narendra. "Papi tidak sendiri, disini ada Chia yang akan selalu menemani Papi, yang akan mengerti Papi"
"Papi malu Chia, Papi malu. Kamu lihat tingkah adik mu itu. Benar-benar memalukan Chiara"
"Biar masalah ini jadi urusan Chiara, nama baik Angel akan tetap aman jika dia mau mematuhi syarat yang aku ajukan" Ucap Chiara enteng.
"Mau bantu ya bantu aja, ngapain pake syarat segala sih"
__ADS_1
"Lo gak bisa nolak, karena gue yakin sebentar lagi berita lo akan pecah. Syarat gue gak susah kok, lo cukup klarifikasi hubungan lo sama Levy, buat konferensi pers tentang itu. Syarat lainnya akan gue kasih tahu nanti. Chia pamit ke kamar, ngantuk" Chiara langsung berlalu begitu saja menuju kamarnya. Meninggalkan banyak pertanyaan dibenak anggota keluarga lainnya.