Call Me Queen

Call Me Queen
Menuju Ultah Bunda


__ADS_3

Pagi ini Chacha sudah rapi dengan setelan casulnya. T-shirt berwarna putih menempel cantik dibadannya yang dipadukan dengan jaket berwarna hitam ditangannya. Celana jeans diatas mata kaki. Flat shoes yang membungkus kakinya menambah kesan manis pada dirinya.


"Cantik sekali anak Bunda, mau kemana? "


"Nganter Levy ke bandara, Bun"


Bu Ratu hanya manggut-manggut mendengar jawaban bungsunya. Chacha tak sarapan hanya meminum susunya lalu berangkat setelah berpamitan pada sang bunda.


Chacha mengendarai mobilnya membelah jalanan pagi ini dengan suasana hati yang tak menentu. Perasaannya tak karuan. Bukan karena ia akan berpisah dengan Levy. Ini tak ada hubungannya. Ia hanya merasa akan ada sesuatu yang besar akan terjadi. Tapi, dirinya enggan menanggapi rasa itu. Semua akan baik-baik saja. Itu pikirnya.


"Cha, lo gak papa kan? " tanya Karin setelah Chacha sampai di rumah Levy.


Ya. Mereka sudah sepakat untuk berkumpul di rumah. Dan Chacha termasuk yang terakhir datang.


"I am okay"


"Kalian pada duduk disini gak dibukain pintu sama tuan rumah? "


"Kita lagi nunggu tuan rumah ini"


"Lah emang Si Lele kemana? "


"Kagak tau, ditelfon dia bilang lagi dijalan katanya"


"Katanya siapa? "


"Cha, Lama-lama lo gue pites ya" jawab Karin dengan gemas.


"Apa salah dan dosaku sayang"


"Ya ampun mimpi apa gue semalem liat Chacha beginian"


Mereka masih saja ribut dengan hal-hal sepele. Tak lama setelahnya Levy datang.


"Lo darimana Sulaiman" tanya Kinos pada Levy.


"Sulaiman siapa, Nos? " tanya Zeze pada Kinos.


"Au ah gelap"


"Gak jelas lu"


"Darimana? " tanya Chacha penuh interogasi.


"Nganter oma dulu ke rumah tante" jawab Levy sambil mengusap rambut Chacha lembut.


"Mesra-mesraan tau tempat dong bos ku" sindir Putra.


Yang disindir hanya cuek bebek menanggapinya.


"Ayo berangkat, Lev. Lo bisa ditinggal pesawat" sering Fany.


"Koper lo mana? " tanya Nena yang sejak tadi lebih banyak diam.


"Di mobil, ayo"


"Lele se mobil bareng Chacha aja ya" pinta Chacha dengan puppy eyes-nya.

__ADS_1


Levy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Gemas sendiri dia dengan pujaan hatinya bertingkah seperti itu.


"Aku bareng Elang"


Chacha mencebik. Tatapan matanya memancarkan kesedihan. Tapi ditutup dengan senyum manis dibibirnya. Chacha langsung masuk ke mobilnya dan menutup pintu dengan sedikit kasar.


"Lev, apa tak apa seperti ini? " tanya Elang.


"Gue gak mau liat dia nangis, Lang"


"Gue paham. Ayo ntar lo telat"


Setelah masuk ke mobil masing-masing. Mereka melaju menuju bandara. Hanya Chacha yang sendiri dengan mobilnya. Air matanya jatuh tanpa diminta.


"Rasa kehilangan ini hanya sementara, Cha. Percayalah" monolognya menenangkan diri.


Chacha tak mengerti mengapa batinnya tak tenang. Bukan karena Levy tak ingin semobil dengannya. Bukan. Tapi dirinya tak menampik kalau ia ingin satu mobil dengan Levy agar bisa menenangkan batinnya. Ia ingin menceritakan segalanya. Tapi sayang Levy menolak dan ia tahu apa alasannya.


"Kita antar lo sampai disini" ujar Elang setelah mereka turun dari mobil.


"Ya kali lo anter ke dalam pesawat" Levy menanggapi dengan candaan. Yang lain tertawa melihat ekspresi kesal Elang.


Chacha maju langsung memeluk Levy. Tak ada kata, Chacha hanya diam. Levy membalas pelukan Chacha.


"I love you, my queen" bisiknya ditelinga Chacha.


"Sukses disana my lord" balas Chacha dengan berbisik pula.


"Jiwa jomblo ku meronta-ronta" Kinos dengan gaya lebaynya.


"Alay kampret" Putra menggeplak Kinos.


"Masuk gih ntar telat" ucap Chacha setelah melepaskan pelukannya.


"Ngusir nih ceritanya, entar kangen loh" goda Levy.


"Dah lah jadian woy jadian" provokasi Kinos.


Chacha hanya memutar bola matanya malas menanggapi candaan Kinos dan Levy. Andai Kinos tau kalau dirinya dan Levy sepasang kekasih pasti lain lagi ceritanya.


"Gue berangkat. See you on top, guys" pamit Levy


"Jangan nangis gembul"


"Levy" teriak Chacha ketika Levy lagi-lagi menggodanya.


Levy tertawa sambil memeluk Chacha untuk terakhir kalinya. Benarkah ini terakhir. Batinnya menolak. Ia akan kembali dengan sejuta kejutan untuk gadis yang satu ini.


" Jangan lupa kabari kita, Lev" Elang mengingatkan saat Levy berpamitan dengan memeluk satu per satu sahabatnya.


Chacha membuang nafas kasar saat tubuh Levy tak terjangkau penglihatannya.


" Cha... " Fany dengan lembut menyentuh pundak Chacha.


"Gue gak papa"


"Lo yakin? "

__ADS_1


"Gue yakin. Ke rumah gue bantu gue hias rumah buat ultah Bunda besok"


"Yok lah, kita bantuin asal kita diundang"


cekrek...


"Ape lo foto-foto gue, ngefans ya? " Kinos memainkan alisnya.


"Mau gue pajang di online shop siapa tau ada yang minat beli" jawab Zeze kalem.


"Ribut mulu. Gue kawinin tau rasa lo bedua" Lerai Chacha sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya.


Zeze mendelik pada Kinos. Sedangkan Kinos hanya bengong menatap Chacha yang masuk mobilnya.


"Nos, lo mau balik apa kagak? " tanya Putra.


Kinos yang tersadar langsung menyusul masuk ke dalam mobil. Mereka menuju pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan ulang tahun Bu Ratu.


...****************...


"Cha, lo gak kenapa-napa kan? " tanya Fany untuk kesekian kalinya.


"Gue gak papa, Fany" jawab Chacha seraya tersenyum.


Mereka tiba di rumah Keluarga Effendy menjelang makan siang.


"Kalian istirahat dulu disini, gue keatas bentar" ucap Chacha meninggalkan para sahabatnya.


"Fan, lo kenapa sih?" tanya Karin penasaran.


"Emang gue kanapa? "


"Dari tadi lo nanya Chacha dengan pertanyaan yang sama" yang lain hanya menyimak karena mereka juga penasaran.


"Entah, tapi gue rasa Chacha gak lagi baik-baik aja. Tatapan matanya tak seceria biasanya, senyumnya pun tak semanis biasanya"


"Gue rasa juga gitu. Tapi, kita bukan Levy yang dengan mudah menebak Chacha. Dia terlalu misterius buat kita pahami" tambah Elang. yang lain mengangguk setuju.


"Gosipin gue bayar limapuluh juta" seru Chacha sambil menuruni anak tangga dengan pakaian yang berbeda. baju tidur bergambar doraemon. Chacha terlihat seperti anak kecil, bukan remaja yang sebentar lagi akan berusia delapan belas tahun.


"Gue masak dulu buat makan siang, setelah itu kita kerja"


"Gue ikut"


"Ikut semua la, biar cepet kelar. Kalian para jantan tunggu disini aja ya"


"Dikira kita ayam kali" timpal Kinos pada Chacha.


"Cha rumah sepi, tumben? " tanya Nena setelah mereka sampai di dapur.


"Bunda gak tau kemana, tadi pas berangkat masih ada. Ayah jam segini masih di kantor. Audy ntah ngelayap kemana tuh manusia"


"Si Mbok mana? "


"Si Mbok udah gak kerja lagi, udah tua kasian gue"


"Terus gak ada ART sekarang? " giliran Fany.

__ADS_1


"Ada Mbak Marni, yang menurut kalender sekarang seharusnya Mbak Marni belanja bulanan" jawab Chacha santai.


Mereka meneruskan acara memeasak untuk makan siang.


__ADS_2