Call Me Queen

Call Me Queen
Menegang


__ADS_3

Chacha melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dirinya harus segera tiba ditempat Pandu. Anak buah yang ia tugaskan kali ini. Chacha bukan khawatir pada Pandu, namun pada orang butiknya. Pandu jelas bisa melindungi dirinya sendiri, namun kali ini dia harus menjaga beberapa orang sekaligus dan dia juga dikepung dengan belasan musuh. Sialnya lagi, Pandu tak membawa senjata apapun. Karena dirinya berpikir tak akan ada hambatan. Setelah cukup lama berkendara Chacha melihat sekelompok orang sedang adu mulut dengan seorang pemuda, yang Chacha yakini pemuda itu adalah Pandu.


"Ck, ini bahkan masih disekitar rumah warga. Apa jadinya mereka mau nyerang disini, gak takut babak belur apa ya" Chacha heran dengan orang-orang yang menghadang Pandu dan lainnya. Mereka masih disekitar rumah warga dan berani berulah.


"Apa mau kalian? " Chacha langsung berdiri di samping Pandu. Membuat yang lain terkejut karena kedatangannya.


"Wah, gadis cantik nih"


"Pesta besar kita kali ini bos"


"Gue tanya sekali lagi mau apa kalian? "


"Itu bukan urusan lo gadis kecil, lebih baik lo serahin mobil box itu sama kita dan kalian bisa pergi dengan selamat"


"Pan, perintahin mereka buat jalan duluan. Hubungi Chia buat jemput mereka" Pandu hanya mengangguk mendengar perintah Chacha.


"Emmm, kalo kita main dulu gimana. Gue udah lama nih gak main" Chacha mengerlingkan sebelah matanya pada musuh didepannya.


"Wah wah wah, gadis ini merelakan dirinya. Baik baik mati kita bermain gadis. Tenanglah kita akan bermain dengan lembut" perkataan salah satu dari mereka disambut tawa oleh lainnya. Chacha hanya mampu tersenyum tipis.


"Anggap aja latihan sebelum bertempur" gumam Chacha tanpa didengar siapapun.


Tanpa aba-aba Chacha maju menyerang yang terdekat dengan dirinya. Membuat lainnya kaget. Tak membiarkan mereka sadar dari rasa kaget yang Chacha berikan, dirinya langsung meninju dan menendang lawannya satu per satu. Mereka yang sadar langsung menyerang Chacha bersamaan. Namun, bukan Chacha namanya jika tak lihai mengelak.


Pandu juga ikut bergabung membantu Chacha setelah selesai menjalankan perintah Chacha. Musuh mereka cukup tangguh kali ini. Chacha yakin dia bukan perampok atau begal biasa. Karena melihat dari cara menyerangnya mereka cukup terlatih, atau mungkin mereka juga tergabung dalam dunia bawah. Chacha hanya menepis pikiran-pikirannya. Fokusnya kali ini adalah kembali dengan cepat. Hingga tak Chacha sadari jika ada yang membokongnya. Memukul tengkuknya dengan keras membuat dirinya terduduk seketika karena menahan sakit. Kesempatan itu diambil oleh pihak musuh yang langsung memegang kedua tangannya. Pandu yang masih melawan terpaksa menghentikan tindakannya melihat Chacha yang terpejam.

__ADS_1


"Hahahaha, jika kau menurut dan tak bermain curang kau tak akan berakhir seperti ini cantik" ucap salah satunya pada Chacha yang masih terpejam.


"Habisi laki-laki itu, biarkan gadis ini kita bawa, hahahaha" Pandu memberontak saat tangannya dipegang oleh kedua anak musuh tersebut.


"Lepasin dia sialan" teriak pandu yang hanya dibalas tawa oleh mereka.


"Oh apa kau ingin melihat aku mencumbu gadis ini di depanmu? " tanya dia yang Pandu yakini adalah ketua dari kelompok tersebut.


"Jangan sentuh dia" teriak Pandu lagi saat dirinya melihat salah satu dari mereka merobek paksa baju yang Chacha kenakan. Pandu melemas dirinya bahkan tak bisa bergerak saat empat orang membekuk nya dengan paksa.


"Oh apa kau bilang, cepat sentuh dia. Kau tau saja aku sudah tak sabar untuk menikmati gadis ini. Lihatlah wajah cantiknya, uhh sial kenapa dia begitu cantik. Hahahaha"


"Gue mohon lepasin dia" bahkan Pandu terlihat begitu memohon kali ini. Dirinya tak peduli saat beberapa orang terus memberikan bogeman atau tendangan pada dirinya.


"Ck, kau berisik sekali rupanya. Baiklah mari kita akhiri" pemimpin dari kelompok tersebut mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya dan langsung mengarahkan pada kepala Pandu. Saat hendak menarik pelatuknya dirinya kaget saat pistolnya berpindah tangan dengan cepat dan kini tengah menempel di keningnya.


Sedangkan di rumah bu kades mereka harap-harap cemas saat Levy, Chiara dan Fany sedang melacak keberadaan Chacha. Kemungkinan besar ponsel Chacha kehabisan baterai karena saat ini mereka tidak bisa menghubunginya.


"Ah sial" teriak Chiara. Chiara memejamkan matanya menahan emosi yang bergejolak dihatinya.


"Angel kalo ada apa-apa sama Queen, malam ini juga lo habis ditangan gue. Sekalipun lo adek gue" Chiara berbicara dengan wajahnya yang berekspresi datar dan nada yang dingin membuat Angel tergagap seketika.


"Maksud lo apa, Chi? " tanya Putra karena merasakan atmosfir mulai tak nyaman. Untung saja mereka sudah berpindah tempat ke gazebo yang ada didepan rumah pak kades.


"Gue gak tau sejak kapan lo kenal orang-orang itu, Angel. Tapi satu hal yang harus lo tau, jangan pernah usik Queen saat dia tak mengusik lo lebih dulu"

__ADS_1


"Sorry, Chi. Kalau dia ketahuan berbuat seperti ini lagi, gue gak harus minta ijin lo kan buat nanam satu timah panas di kepalanya? " tanya Fany seolah pertanyaannya hal biasa.


"Terserah lo aja. Kali ini gue gak bakalan bela dia lagi. Gue masih sayang nyawa gue"


"Maksud lo? "


"Queen udah kasih peringatan"


"Tunggu emang dua orang yang kalian tangkap tadi ada kaitannya dengan Angel? "


"Tanya sendiri aja deh, Nos. Gue sama Fany juga udah interogasi tuh manusia. Pengennya sih tak sikat langsung. Tapi apa daya, gue takut ditampol sama Queen"


"Angel lo bisa jelaskan maksud semua ini? " kali ini Levy bersuara. Levy mengeluarkan aura pemimpinnya membuat yang lain merinding. Kecuali kelima gadis lainnya, karena menurut mereka aura Chacha lebih mencekam daripada milik Levy.


"Angel... " Angel tertahan saat ingin menjelaskan karena Chiara berteriak saat menerima telfon.


"Kenapa, Chi? " tanya mereka panik.


"Gue pinjem mobil kalian dulu" Chiara langsung menyambar kunci mobil yang ada didekatnya membuat yang lainnya bingung, karena Chiara tak menjelaskan apapun dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Gue yakin ada sesuatu yang buruk terjadi"


"Jangan bikin kita takut deh, Lang"


"Gue cuma nebak doang"

__ADS_1


Levy tanpa permisi juga meninggalkan mereka yang sedang bergelut dengan pikirannya. Entah kenapa sejak tadi dirinya terus memikirkan Chacha. Ada apa dengan gadis itu? Bahkan kali ini perasaannya merasa gelisah. Perasaannya tak karuan, ada ketakutan yang mendominasi. Hatinya berdoa agar tak terjadi apa-apa pada gadisnya itu. Levy akan menyesal sekali jika tak sempat mengucapkan maaf pada Chacha. Setelah mendapat laporan mendetail dari bawahannya tentang kasus Chacha lima tahun silam. Dia langsung merutuki kebodohannya. Karena terbawa emosi dirinya melukai hati gadis kecilnya, membuatnya hancur. Dan yang paling sakit Chacha terlihat menerima dengan apa yang Levy lakukan selama ini. Maaf, love maaf. Sekali lagi maaf, bertahanlah. Lirih nya, bahkan tanpa sadar dirinya menitikkan air matanya.


__ADS_2