Call Me Queen

Call Me Queen
Emosi Chiara


__ADS_3

Chacha dan Levy keluar bersamaan, membuat beberapa orang yang melihatnya berbisik-bisik. Namun keduanya tak menghiraukan bisikan-bisikan itu.


Chacha dan Levy langsung berpencar. Chacha bergabung bersama sahabatnya dan Levy bergabung pada bapak-bapak yang sedang menguliti sapi.


Hingga tak terasa hari sudah sore, Chacha dan lainnya hendak berpamitan pulang, namun langkahnya terhenti saat mendengar bisik-bisik warga yang beberapa hari ini mengusiknya.


"Maaf Bu, apa kita punya masalah sebelumnya? " tanya Chacha langsung pada intinya.


"Eh, nggak kok Mbak Chacha"


"Kalo saya ada salah tegur saya langsung Bu. Jangan ngomongin saya dibelakang, kalau yang ibu omongin itu gak bener jatuhnya fitnah" Ibu-ibu tadi langsung terdiam mendengar ucapan Chacha.


"Tapi kan bener lo calon pelakor" entah dari mana datangnya Angel, langsung saja menodong Chacha dengan ketusnya.


"Maksud lo apa? "


"Cih sok bego lagi" beberapa ibu-ibu yang kebetulan belum pulang langsung mengerumuni mereka.


"Gue emang gak tau"


"Terus apa kalo lo emang bukan pelakor, goda-goda tunangan gue, hah" bentak Angel.


"Ya ampun. Lo mencak-mencak cuma gara-gara Si Levy? Gue kira apaan" Chacha tersenyum sinis menanggapi Angel. Chacha langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Dengerin ya ibu-ibu kalo pada dasarnya pelakor ya pelakor, murah kok bangga" hina Angel. "Ibu-ibu hati-hati bapak-bapaknya dijagain" tambahnya.


Para sahabat Chacha hanya melongo tak percaya apa yang diucapkan Angel. Mereka serasa ingin menghajar Angel saat ini juga, namun sayang mereka tak ingin membuat keributan. Beda dengan Chiara yang menatap Angel dengan tatapan membunuh. Hingga sedetik kemudian Chiara membuat Angel menghentikan hinaan demi hinaan yang dilontarkan Angel pada Chacha. Chiara mencekik Angel.


"Ulangi sekali lagi" ucap Chiara dengan nada yang dingin. Chiara hanya mampu menepuk-nepuk tangan Chiara tanpa mengeluarkan suaranya.


"Lo emang adek gue, tapi orang yang lo hina itu atasan gue" Chiara mulai kehilangan fokusnya karena dikuasai amarah.


"Lo ngatain dia ja***g tanpa berkaca bahwa lo ja***g yang sesungguhnya" Chiara mulai mengencangkan tangannya dileher Angel, membuat muka Angel memerah.


Kebetulan Levy dan lainnya baru kembali, Kinos tadi memaksa ingin berkeliling sebentar. Alhasil, Levy mengikuti permintaan sahabatnya itu. Elang, Putra dan Pandu juga ikut. Kini mereka kembali dengan pemandangan yang mengejutkan. Mereka melihat Chiara yang sedang mencekik Angel, dan sahabat Chacha berusaha memisahkan Chiara dan Angel. Sadar akan hal itu Pandu langsung berlari sekuat tenaga menghampiri mereka.


"Lepasin Chiara"


"Tapi Pan, dia bisa bunuh Angel"

__ADS_1


"Lepasin Chiara, kalian bisa luka"


"Maksud lo? "


"Gak ada waktu buat jelasin, mending salah satu dari kalian cari Queen" Pandu menjawab dengan sedikit berteriak.


Fany langsung mencari Chacha kedalam, karena dirinya sempat melihat Chacha kembali lagi ke dalam. Setelah menemukan Chacha di dapur, Fany langsung menarik tangan Chacha sambil menjelaskan apa yang terjadi. Mendengar penjelasan Fany Chacha menghempaskan tangannya dan berlari ke depan. Sesampainya di depan Chacha melotot kaget melihat aksi Chiara. Chacha mendekati Chiara dan langsung menarik kerah bagian belakang Chiara. Melempar tubuh Chiara begitu saja di tanah. Yang lain shock melihat bagaimana cara Chacha menyelamatkan Angel.


Bugh...


Tanpa perasaan Chacha langsung melayangkan tinjunya pada Chiara. Ketika Chiara mulai bangun lagi, seketika itu pula Chacha akan melayangkan tinjunya lagi dan lagi. Ketika yang lain hendak menghalangi Chacha yang menghajar Chiara, Pandu malah menghentikan mereka.


"Tapi, Pan. Chacha bukan lawan Chiara"


"Gue tau, Put. Kenapa gue biarin Queen ngehajar Chiara? Karena cuma dia yang bisa pulihin kesadaran Chiara yang dipenuhi amarah"


"Tapi dia bisa celaka"


"Chiara jika dipenuhi emosi akan susah dikendalikan, dia tak tau mana lawan mana kawan. Dia begitu keras, beberapa tahun Queen coba mengendalikan dan ini cara yang tak sengaja ditemukan ketika dia sudah lelah menghadapi Chiara dengan kelembutan"


"Gue gak tau gimana ceritanya, tapi yang pasti Chacha tak akan membuat Chiara terpancing emosinya. Dibilang altar ego bukan, entahlah emosi Chiara yang bisa menelan habis kesadarannya masih misteri untuk diungkapkan. Dan setelah kita coba hanya Chacha yang mampu menenangkan Chiara dengan kekerasan. Kita pernah coba pancing emosinya, ketika dia sudah emosi kita mencoba menyerangnya. Namun lagi-lagi kita dibuat terkejut karena Chiara mampu mengalahkan kita. Hingga Chacha akhirnya turun tangan untuk meredam emosinya" mereka melotot tak percaya. Semengerikan itu Chiara ketika sedang emosi.


Plak...


"Sadar gak, kalo apa yang lo lakuin ini salah, hah"


Plak...


"Lo boleh ngebela gue, tapi bukan dengan kekerasan"


Plak...


"Lo hampir ngebunuh dia, sadar nggak? "


Plak...


"Gue udah pernah bilang, cukup gue yang jadi iblis lo jangan, Chiara"


Chacha mengangkat wajah Chiara dengan mengapit dagunya dengan kedua jarinya. "Jangan diulangi lagi Chiara, sekali lagi gue tau lo lepas kontrol gara-gara itu anak, jangan lagi halangi gue buat lenyapin dia, atau lo juga gue lenyapin" ucap Chacha pelan.

__ADS_1


"Maaf" cicit Chiara yang mulai kembali menguasai kesadarannya. Chacha menghembuskan nafas kasar, memejamkan matanya. Ingin sekali dirinya menghajar Angel kali ini.


Chiara menatap Chacha dengan mata berkaca-kaca saat melihat sudut bibir Chacha yang berdarah. "Maaf ini pasti sakit" Chiara hendak menyentuh luka Chacha namun ditepis halus oleh Chacha.


"Obati luka lo dulu, gue harus tenangin diri. Pandu"


"Ya Queen" Pandu mendekat sejak tadi, dimana saat Chacha menjatuhkan dirinya bersama Chiara.


"Obati luka Chiara, gue mau besok dia terlihat baik-baik saja saat acara berlangsung atau lo korban selanjutnya"


Glek...


Pandu hanya meringis mendengar ucapan Chacha. Sedangkan Chacha sudah berlalu menaiki mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah akan kemana hanya dirinya dan Tuhan yang tau.


Pandu menggendong Chiara menuju teras dimana yang lain berkumpul. Tanpa perintah keempat sahabat Chacha langsung mengobatinya. Jangan ditanya, Angel sendiri langsung terdiam. Dirinya masih shock dengan apa yang terjadi. Hampir saja dirinya mati.


"Sekarang bisa jelasin kenapa ini bisa terjadi? " tanya Levy.


"Angel... " Angel berhenti saat hendak menjelaskan pada Levy, setelah mendapat tatapan tajam dari Chiara.


"Ada apa Angel? " Angel hanya menggeleng pelan. Levy dan lainnya hanya mengernyit bingung.


"Karin" kini Elang memanggil Karin untuk menjelaskan.


Karin mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dimana Chacha sudah mengalah dengan meninggalkan Angel yang terus menghinanya. Levy mengeraskan rahangnya saat mendengar penjelasan Karin.


"Angel jaga sikap lo kalo gak mau gue pulangin sekarang juga" ucap Levy dingin.


"Tapi Kak... "


"Sekali lagi lo berulah, jangan bermimpi menyandang gelar nyonya muda Rahardian" Levy membisikkan kalimat terakhirnya pada Angel. Membuat Angel bungkam seketika.


"Untuk ibu-ibu saya harap kalian bisa menilai gimana sikap Chacha selama ini. Terlepas dari gosip yang tunangan saya buat. Dia hanya cemburu pada Chacha. Bagaimanapun Chacha adalah orang spesial dalan hidup saya" setelah mengatakan itu Levy langsung masuk kedalam. Dirinya hendak menghubungi istrinya yang sedang emosi itu. Levy yakin jika Chacha meninggalkan tempat ini dengan emosi yang memuncak. Terlihat sekali dari gestur tubuhnya.


"Sikap kalian ini, apa yang harus saya katakan sama Tuan Ibra jika Chacha mengadu. Apa kalian pernah berpikir bagaimana Tuan Ibra membantu kita semua tanpa pamrih. Beliau hanya menitipkan cucunya saja, tapi sikap kalian ini" Bu kades tak melanjutkan bicaranya dia hanya memijat pelipisnya. Sedangkan ibu-ibu yang menggosipkan Chacha kini sudah pucat pasi. Bagaimana mereka melupakan siapa Chacha di desa ini. Bagaimana mereka bisa melupakan kontribusi Chacha untuk warga sekitar. Mengingat itu saja sudah membuat mereka merasa bersalah pada Chacha. Mereka juga menatap Angel dengan tatapan tak percaya. Angel yang selama ini terkenal lembut dan sopan, memiliki etika yang jauh dengan yang dirumorkan.


...****************...


Jangan lupa like, coment and vote sayang. Biar author makin semangat upnya. Jangan jadi ghost reader yang tak meninggalkan jejak 🤣

__ADS_1


Miss you all


__ADS_2