
"Jadi kan jenguk Bunda?" tanya Karin selepas pulang sekolah.
"Jadi kok, langsung aja ya gue males balik dulu" jawab Chacha.
"Yok princess" seru Levy dari dalam mobil.
"Gue bareng Lele kalian bawa kendaraan sendiri kan?" intruksi Chacha.
Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban dari Chacha. Lalu mereka mulai meninggalkan parkir sekolah menuju rumah sakit milik Chacha.
"Gimana jadi dateng ke acara tunangan itu?" tanya Levy memecah keheningan.
"Entahlah, aku bingung prince"
"Tak perlu bingung kita lihat keadaan Bunda terlebih dahulu, jika Bunda sudah baikan kamu boleh gak dateng. Tapi, kalo Bunda belum baikan dan memaksa hadir dia cara besok kamu wajib hadir buat jagain Bunda" Chacha mengangguk tanda setuju dengan ucapan Levy.
"Aku tau kamu sebenernya gak mau jauh dari orang tua kamu, princess. Tapi resikonya adalah nyawa" batin Levy.
"Oh ya. Papa sama Mama sudah tau kalo kamu ketemu aku?' tanya Chacha.
"Ketemu langsung aja biar surprise" jawab Levy santai.
"Masih lama Lele. Chacha kangen mama sama papa" rengeknya membuat Levy gemas.
"Selesaikan satu persatu urusan kamu dulu ya, sweety. Tau kan gimana hebohnya mama kalo ketemu kamu" jawabnya lembut sambil membelai rambut Chacha.
"Hmmm... Baiklah"
Tak lama kemudian rombongan Chacha memasuki kawasan rumah sakit. Chacha memilih parkir rumah sakit daripada parkir khusus miliknya. Karena menurut dirinya itu akan terlalu mencolok.
"Kita gak bawa buah tangan nih ketemu Bunda?" tanya Fany.
"Gak sempet beli" jawab Karin.
"Ceila palingan Bunda ntar sembuh liat bungsunya dateng" timpal Kinos.
"Nah ini baru betul" tambah Putra.
__ADS_1
"Ya udah ayo masuk" potong Chacha.
Lalu Chacha memimpin jalan untuk menuju kamar bundanya. Tanpa bertanya pada receptionis Chacha sudah mengetahui kamar bundanya, karena pada dasarnya setiap keluarga Izhaka memiliki lantai tersendiri untuk keluarganya.
"Cha lu gak nanya dikamar berapa bunda lo dirawat?" celetuk Kinos saat berada didalam lift.
"Lo lupa ini rumah sakit punya sapa?" tanya balik Zeze. Kinos hanya cengengesan karena dia melupakan fakta bahwa temannya bukan dari kalangan atas biasa
"Cari ruangan bernama Ratu Izhaka itu ruangan Bunda, kalian masuk duluan, gue ada urusan sebentar" setelah mengatakan itu Chacha memisahkan diri dari rombongannya menuju arah yang berlawanan.
Lalu mereka mencari nama ruangan yang Chacha sebutkan. Mereka terkejut karena setiap kamar memiliki nama masing-masing mulai dari King Izhaka, Ratu Izhaka, dan terakhir seperti ruangan paling mewah bernama Princess Izhaka yang mereka yakini itu milik Chacha.
Tok... Tok... Tok...
Fany mengetuk pintu bertuliskan Ratu Izhaka dengan hati-hati.
Cklek
Pintu terbuka, tampak sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan nan gagah itu berdiri didepan pintu.
Mereka semua masuk kedalam ruangan luas terkesan anggun itu. Disana mereka melihat Audy tampak santai memainkan ponselnya sama dengan Kevin yang duduk disampingnya. Tak luput juga kedua orang tua Kevin yang kebetulan datang menjenguk Bu Ratu.
"Gimana keadaan Bunda, Yah?" tanya Fany memberanikan diri.
"Belum membaik, Bunda belum sadarkan diri dari kemarin" jawabnya dengan nada sendu.
"Kenapa Bunda bisa drop yah?" tanya Karin.
"Ayah juga gak tau, kemarin Ayah pulang dari luar kota Bunda sudah tak sadarkan diri dikamar Chacha"
"Kamar Chacha kan pake keamanan tinggi gimana ceritanya Bunda bisa pingsan didalam" tambah Zeze.
"Ayah juga gak tau, yang Ayah tau Bunda sudah digendong Rey" jawabnya dengan wajah tertunduk.
Hening sesaat setelah Ayah Gun menjelaskan kejadiannya. Hingga
Cklek
__ADS_1
Pintu kembali terbuka kali ini tanpa terketuk terlebih dahulu. Dari balik pintu berjalan gadis muda dengan membawa nampan berisi obat-obatan dan beberapa suntikan berjalan dengan tenang ke arah Bu Ratu tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan berbeda-beda.
"Ngapain lo kesini hah" bentak Audy ketika melihat Chacha sudah semakin dekat ke ranjang Bu Ratu.
Chacha tak menghiraukan Audy terus menuju ranjang Bu Ratu dan memeriksa keadaannya setelah meletakkan nampan di samping brankar. Setelah beberapa menit memeriksa Chacha mengambil telepon yang menggantung di samping brankar Bu Ratu.
"Antarkan Laporan pemeriksaan atas nama Ratu Izhaka ke ruangannya sekarang. Dokter yang menanganinya juga saya tunggu di ruangan ini segera" selesai memberi instruksi Chacha memeriksa Bu Ratu sekali lagi.
"Apa yang mau lo lakuin sama Bunda gue, hah" teriak Audy pada Chacha. Dirinya sudah berada di samping brankar Bu Ratu bersebrangan dengan Chacha.
Chacha tetap diam seribu bahasa dan fokus pada pekerjaannya. Tak lama kemudian seorang dokter dan dua perawat masuk dengan nafas tersengal-sengal membuat mereka semua heran.
Chacha langsung menerima laporan tersebut dan membacanya. Sekilas alisnya berkerut dan kemudian wajahnya berubah tenang kembali.
"Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?" tanya dengan tenang membuat dokter tersebut makin gugup.
"Itu permintaan dari nyonya langsung, nona muda"
"Kau yakin?" dokter mengangguk sebagai jawaban.
"Bundaku pingsan karena kekurangan cairan setelah dibawa ke rumah sakit ini dia diberi obat tidur olehmu dokter. Lalu harusnya dia sudah sadar tapi kau menambahkan dosis obat tidur lagi agar dia tak terbangun" Chacha menjelaskan dengan tenang membuat dokter itu banjir keringat dingin.
"Berikan aku alasan yang jelas untuk apa kau melakukan ini semua" Chacha mengalihkan pandangannya pada infus sang bunda lalu menyuntikkan sebuah cairan kedalamnya.
"Kau masih mendengar ku dokter?" tanya Chacha masih dengan ketenangan yang sama sambil memberikan beberapa suntikan lagi.
"Kau tau bukan dokter. Kau digaji untuk menolong bukan mencelakai. Tapi kau melanggar sumpah seorang dokter. Jika kau berpikir dengan mudah membunuh bundaku karena suruhan tuan mu itu, katakan padanya sudah siapkah dia bertemu dengan raja neraka karena sudah berani mengusik orang tersayang ku"
Dokter tersebut menegang ditempat mendengar kata-kata yang Chacha lontarkan. Bahkan semua yang ada di ruangan itu tak percaya Chacha akan mengucapkan hal seperti itu.
"Katakan pada tuan mu hentikan rencananya yang membuatku geli, atau aku ratakan kekuasaannya dengan tanah dan untukmu, ambil surat pindah mu dan ubahlah sikapmu yang mementingkan uang daripada nyawa seseorang atau keluargamu yang akan menjadi sasaran"
"Pergilah dan ingat keselamatan dirimu dan keluargamu ada di tanganmu sendiri. Jangan ulangi lagi karena aku yakin kau tau siapa aku. Aku tak pernah membiarkan siapapun yang berani menyentuh keluarga ku pulang dengan selamat"
"Pergilah selagi aku berbaik hati" perintahnya masih dengan ketenangannya.
Semua yang didalam ruangan dibuat terkejut dengan semua ucapan Chacha.
__ADS_1