
"Lev, Chacha mana? " Tanya Audy yang baru sampai di kediaman mewah milik adiknya itu.
"Di ruang kerjanya, masih ada urusan sama yang lain" Jawab Levy sekenanya.
"Kakak titip Mahavir ya, kakak mau ke dapur dulu" Ucap Audy pada Levy dan lainnya yang kebetulan sudah dalam formasi lengkap.
"Turunkan aja, biar main sama si kembar"
Audy menurunkan Mahavir, tampak bayi tampan yang satu itu langsung merangkak ke arah saudaranya yang lain. Bergabung bermain dengan Baby Akmal dan Baby Atha. Jangan tanyakan si montok, dia sibuk mengunyah di pangkuan si Papa. Baby Geffie juga tidak kalah sibuk dengan menyedot susu dari dot. Karena Karin tidak mengeluarkan ASI, 4 bulan Karin menggunakan segala cara agar memiliki ASi. Namun, hingga sekarang juga tak kunjung keluar, akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan susu formula seterusnya.
"Kakak gak sama Kak Ardan? " Tanya Levy saat melihat Audy masuk seorang diri.
"Diantar sampai depan doang tadi, ada urusan katanya" Setelah menjawab itu Audy langsung berlalu ke arah dapur.
Setelah kepergian Audy ke dapur tampak para wanita mulai keluar satu per satu dari ruangan Chacha. Mereka langsung menghampiri pasangan mereka masing-masing.
"Lev, gue mau dong gendong si cantik" Pinta Chiara.
"Adik mau sama tante Chia? " Tanya Levy pada si montok, Baby Al hanya menatap Chiara dengan mata bulatnya. Namun tak urung juga dirinya merangkak ke arah Chiara.
"Unch, gemes banget tante sama kamu tuh" Chiara langsung mencium pipi bakpau si montok, membuatnya tertawa geli.
"Mamanya anak-anak kemana? " Tanya Levy saat tak melihat sang istri kembali dari ruang kerjanya.
"Disini, Pa" Belum juga mereka menjawab, Chacha sudah nongol dari balik punggung Levy dan duduk di samping sang suami.
"Anak ganteng mama yang satu ada disini juga. Sini" Chacha merentangkan tangannya pada Mahavir, tampak bayi itu merangkak ke arahnya. Chacha langsung mengangkatnya ke dalam pangkuannya.
Mahavir sedikit tenang dibanding Baby Atha, namun jangan dibandingkan dengan Baby Akmal yang begitu tenang meskipun keadaan disekitarnya sedang ricuh sekalipun dia akan tetap diam.
Mahavir tampak berceloteh ria, seolah-olah dia sedang bercerita pada Chacha. Dengan tatapan lembutnya Chacha menatap mata bulat bayi tampan kakaknya itu. Namun, Chacha kaget saat dot susu melayang ke arah Mahavir yang sedang berceloteh. Mereka serempak menoleh ke arah Baby Geffie yang memasang wajah cemberut nya.
"Ya ampun, gue kira Si Geffie ini bakal kayak Elang. Adem ayem gitu, eh malah gen emaknya juga ngikut" Ceplos Chiara membuat Karin mendelik sinis. Sedangkan yang lain hanya tertawa geli.
__ADS_1
"Ya iya lah, Elang kan buatnya sama gue. Jadi mau gak mau ya gen gue bakal ngikut meski dikit"
"Lo kan kerja keras ya, Rin" Tambah Kinos.
"Iyalah, kalau Elang capek ya gue yang pegang kendali. Aww" Karin langsung meringis saat botol susu itu mengenai keningnya. Ingin marah, namun sang pelempar memasang wajah datarnya. Siapa lagi yang berani menghentikan Karin dengan cara ekstrim jika bukan Chacha.
"Ngomong disaring dulu, jangan asal ceplos. Udah jadi orang tua juga" Chacha berbicara dengan nada tenang dan wajah datarnya. Elang hanya diam saat sepupunya memperingati sang istri. Elang maklumi jika bersama sahabatnya mereka sering lepas kontrol jika sedang bergurau.
Levy mengelus lembut punggung sang istri. Dia hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan frontal Karin. Bukan apa-apa Chacha menghentikan Karin. Chacha hanya tak ingin anak-anak ketularan toxic yang Karin buat. Karena Chacha yakin jika salah satu atau bahkan ketiga anaknya akan menuruni kecerdasan miliknya.
"Audy kemana, Mas? " Daripada mengomel pada Karin, Chacha masih lebih memperdulikan Audy.
"Di dapur" Jawabnya santai.
"Mahavir sama Papa dulu ya, nak. Mama mau samperin Bunda" Chacha langsung mengalihkan Mahavir dalam pangkuan Levy. "Makan siang mau menu apa? " Tanya Chacha saat hendak ke dapur.
"Apa aja lah, Cha. Kapan kita pernah pilih makanan sih" Jawab Putra mewakili semuanya.
"Pa nanti sore bisa temenin belanja? " Tanya Chacha sambil menatap Levy. Karena memang kebiasaan Chacha sering berbelanja sendiri untuk urusan dapur.
"Bisa, Ma" Jawab Levy tanpa mengalihkan pandangannya dari Mahavir yang bergerak di atas pangkuannya.
Setelah mendengar jawaban Levy, Chacha langsung bergegas ke arah dapur. Hanya untuk mengecek bahan makanan untuk siang nanti.
Setelah beranjak nya Chacha dari ruang tengah itu. Tampak Baby Al langsung turun dari pangkuan Chiara dan merangkak ke arah papanya. Kejadian itu membuat Chiara cukup kaget, karena Baby Al langsung turun dengan cukup cepat.
Baby Al langsung memukul Mahavir setelah sampai dihadapan sang Papa. Matanya bulatnya melotot ke arah Mahavir. Mahavir menatap Baby Al dengan wajah polosnya.
"Princess, ini Abang nak, gak boleh pukul" Namun, Baby Al malah memukul Mahavir lagi.
Levy menghela napas pelan, kini dia mengerti. Putri kecilnya ini cemburu, tak ingin papanya dikuasai oleh yang lain. Levy akhirnya menurunkan Mahavir dari pangkuannya dan menarik si montok ke dalam pelukannya. Mahavir masih memperhatikan kegiatan yang Levy lakukan. Namun mereka melongo saat Baby Al menjulurkan lidahnya seperti sedang mengejek ke arah Mahavir.
"Kenapa? " Tanya Chacha saat melihat para sahabatnya menatap Baby Al dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
Zeze yang sadar terlebih dahulu menceritakan semuanya. Chacha menatap Baby Al dengan menaikkan sebelah alisnya, Chacha tahu jika si montok ini memiliki jiwa usil melebihi Baby Atha. Namun, dia bertindak ketika dirinya sedang tidak ada saja. Chacha bisa pastikan jika si montok ini jenius.
"Minta maaf sama Abang" Titah Chacha. Mereka semakin melongo saat melihat tingkah Chacha.
Apa Chacha habis terbentur, mengapa memerintah anak bayi dengan begitu. Apa mereka mengerti? Itu yang ada dipikiran mereka.
Namun kejadian berikutnya membuat mereka semakin tak percaya. Baby Al turun dari pangkuan Levy menghampiri Mahavir dan mencium pipinya. Mahavir masih menatap polos ke arah Baby Al yang sudah kembali kedalam tempat ternyaman nya.
"Gak usah kaget, gitu cara minta maaf si cantik kalau berbuat salah" Tambah Audy saat melihat wajah cengo lainnya.
"Audy? " Panggil Chacha, namun Audy menaikkan sebelah alisnya saat mendengar nada seriusnya kali ini.
"Ya? "
"Surat cerai lo sudah keluar beberapa bulan yang lalu. Gue cuma mau bilang siapkan mental lo, gue bakal ambil haknya Mahavir di keluarga Pandey. Siapkan jiwa raga lo apapun yang terjadi"
"Bisa gak usah lakukan itu? "
"Tidak. Pantang bagi gue mengingkari ucapan yang gue buat. Hasil tes DNA sampai sekarang masih di gue, belum ada yang tahu bagaimana hasilnya karena gue masih belum buka hasil tes itu"
"Terus kalau lo belum tahu kebenarannya, kenapa lo begitu yakin kalau Mahavir anak Kevin. Bukan maksudnya merendahkan Kak Audy ini loh ya" Tanya Karin.
"Oon lo kambuh, Rin? Lo gak liat nih anak mirip bapaknya, emaknya kebagian matanya doang" Jawab Chacha sekenanya. Ingin sekali dia melempar botol susu Geffie pada kepala Karin.
"Hehehe, gue gak terlalu ingat sama Kevin. Pikiran gue dipenuhi Elang"
"Halah, bucin" Kompak para sahabatnya.
"Menurut lo mungkin ini gak penting Audy. Tapi masa depan Mahavir penting. Harta memang bisa dicari, namun harga diri gak baia Audy. Anak lo akan diinjak nantinya jika statusnya gak jelas. Mungkin lo bisa menikah dan memberikan status baru buat anak lo, tapi bagaimana jika ada yang membuat rumor jika dia dewasa nanti. Lo belum tahu sepicik apa mantan suami lo itu" Audy diam saat mendengar perkataan Chacha.
"Jika lo takut dibilang ini itu. Ingat, jika lo takut sekarang, maka anak lo yang akan merasakannya nanti. Sebenarnya gue sudah lama ingin mendepak Kevin dan keluarganya, tapi lo selalu membuat alasan. Kali ini tidak lagi Audy, gue juga punya banyak urusan yang harus gue selesaikan. Andai setelah perceraian Kevin meminta maaf pada lo, mungkin gue gak akan sampai berbuat seperti ini, karena bagaimanapun Kevin adalah ayah kandung Mahavir"
"Jangan terlalu lama berpikir, Audy. Kevin sedang menyusun rencana untuk menyerang lo" Ucapan Chacha membuat Audy melebarkan matanya, menatap Chacha tak percaya.
__ADS_1