
Pagi ini merupakan pagi yang sibuk untuk Chacha dan lainnya. Karena untuk acara empat bulanan Mutia mereka memilih memasak sendiri, tidak menggunakan jasa catering. Karena sudah menjadi kebiasaan warga di kampung ini, jika salah satu tetangganya mengadakan acara, mereka akan mengerjakannya secara gotong royong.
"Sayang" Levy sampai di dapur dan melihat istrinya yang sibuk memotong sayuran.
"Dhalem, Mas"
"Jangan capek-capek loh ya"
"Mas Levy gabut ya? " tanya Mutia.
"Apa sih, Mut. Diem deh gak usah ikut-ikut"
"Wes Mbak, temani mas Levy saja. Iki biar Tia yang lanjutin"
"Sek diluk ngkas mari iki wes" jawab Chacha masih memotong sayuran.
"Sayang? " Levy masih memanggil Chacha, dirinya enggan memberitahu kenapa sejak tadi memanggil istrinya itu. Karena terlalu banyak orang.
"Sek Mas" menoleh ke arah Levy. "Ya ampun, ayo-ayo ke kamar dulu" Levy hanya nyengir melihat istrinya kaget.
"Mas duluan ya"
"Aku cuci tangan dulu, kotak obatnya tanya sama Abah, Mas. Bawa ke kamar"
"Ono opo, nduk? " tanya salah satu ibu-ibu di sana.
"Mau ganti perban, Bu. Monggo saya ke dalam dulu" Chacha langsung beranjak mencuci tangannya dan menyusul Levy ke dalam kamar.
"Lah siapa yang luka? Aku lihat Mbak Chacha kui orapopo? " tanya salah satu ibu-ibu di sana.
"Mas Levy, Bu Dewi" jawab Mutia.
"Ooo, Chacha kae bojone Levy tha, Tia? " tanya nya lagi.
"Nggih Bu RT, nyapo tak jodohne karo anak sampean nopo? "
"Awale iyo, tapi lek saingane Chacha yo ora lah"
"Lah nyapo Bu RT? "
"Anakku kalah ayu karo Chacha, kalah pinter karo Chacha. Mbuh lah opo meneh"
"Kabeh wes enek takarane Bu Rt"
"Lah Iyo, mangkane aku mundur alon-alon, ben ora isin"
"Hayo gosipin apa? "
"Eh Bu Kades, sudah belanjanya Bu? "
"Ini ikannya tolong di cuci di belakang dulu ya. Tia mana Mbak mu? "
"Diceluk Mas Levy"
Sedangkan di dalam kamar Chacha dengan telaten mengganti perban Levy.
"Papa sama mama gak kesini, Mas? "
"Kesini kok, harusnya bentar lagi mereka sampai. Mungkin masih istirahat di rumah Abah"
"Ini udah gak pusing, kan? "
"Pusing dikit, mungkin butuh suntikan“
" Suntikan apa? "
"Vitamin lah"
"Vitamin apa yang disuntikkan? " tanya Chacha dengan wajah bingungnya.
"Jatah cintaa" bisiknya tepat di telinga istrinya, lalu berlari kabur dari kamar.
"Mas Levy mesum" teriak Chacha dalam kamar.
Sedangkan di luar kamar Levy sedang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili istrinya, Levy sudah membayangkan jika istrinya itu sudah mengomel gak jelas karena kelakuannya. Hingga Levy dikagetkan dengan suara yang menyapanya.
"Loh Lev kamu disini juga? "
"Eh mama, kapan sampai? "
__ADS_1
"Barusan, mama istirahat sebentar di rumah Umi kamu. Kamu kok disini? "
"Lah terus Levy harus dimana? "
"Bukannya kamu mau cari Chacha? "
Cklek....
Chacha membuka pintu kamar dengan wajah cemberut nya, langsung dihadapkan dengan mertuanya yang menginterogasi suaminya.
"Mama" pekik Chacha saat melihat mertuanya pertama kali. "Ih kangen tau" Chacha langsung memeluk wanita yang menjadi mertuanya itu.
"Mama juga kangen, kamu disini juga? "
"Sini aja ma, Chacha cerita biarin Mas Levy diluar, dia nakal. Mas kamu kasih tau Umi kalau mama sudah disini" Chacha langsung menarik tangan Lena untuk masuk ke dalam kamar, meninggalkan Levy yang melongo diluar.
Levy hanya bisa menghela napas melihat kelakuan istrinya itu, tapi tak urung juga dia melakukan apa yang istrinya perintahkan.
Malamnya acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun, karena acaranya dibuat sederhana jadi hanya kerabat dan tetangga dekat saja yang diundang.
Selepas acara selesai mereka berkumpul ditempat yang sama dengan tempat acara digelar tadi. Mereka semua duduk lesehan tanpa melihat status. Hanya para orang tua dan orang dewasa yang duduk beralaskan karpet bulu itu. Karena anak-anak sedang bermain entah apa yang dimainkan, lihat saja Leon dan Teo terlihat tertawa terpingkal-pingkal setelah berhasil menjahili saudaranya yang lain.
Seperti biasa Levy akan bermanja-manja pada istrinya membuat yang lain geleng-geleng kepala, karena Levy tak malu untuk mengumbar kemesraannya dengan sang istri.
"Jadi, udah masuk berapa bulan kehamilan mu, nduk? " tanya salah satu sanak saudara Pak Kades.
"Eh, kita belum USG yang sayang?" celetuk Levy tiba-tiba.
"Belum tau Bu De, karena memang taunya juga baru beberapa hari yang lalu" jawab Chacha.
"Coba diingat dulu kapan terakhir kedatangan tamu bulanan"
"Harusnya sih, dua bulanan Bu Lek, tapi kok keliatannya perutnya besar gitu ya? Apa karena Chacha gendut ya? " Chacha malah heran sendiri.
"Di USG aja biar tau, dari pada menebak-nebak"
"Nggih Bu De, nanti pulang dari sini langsung USG" jawab Chacha.
"Gak usah buat janji dulu, Mbak. Kan biasanya kalau di kota gitu? " tanya Mutia penasaran
"Hehehehe, dokter kandungannya kan istri dari sepupunya, Mbak"
"Oh iya, Lev. Kamu habis nabrak orang? " tanya Lena penuh selidik.
"Ditabrak lebih tepatnya ma. Bukan aku yang nabrak" Levy menjawab dengan malas.
"Beneran, Lev? "
"Sejak kapan aku nabrak orang, Ma? "
"Iya juga sih"
"Mama dapet laporan dari siapa? "
"Kamu apakan yang nabrak kamu? " Lena masih terus memberikan pertanyaan membuat Levy memutar bola matanya malas.
"Laporin ke pihak berwajib lah, dia tak mematuhi peraturan lalu lintas. Dikira jalan punya neneknya kali"
"Berarti nenek kamu juga dong" celetuk Lena.
"Maksud mama apa sih? "
"Cabut tuntutannya"
"Enak aja, biarin dia jera dan gak ugal-ugalan lagi di jalanan"
"Kamu gak kasian sama tante kamu kalo anaknya masuk penjara gara-gara kamu laporin? "
"Maksud mama? "
"Yang nabrak kamu itu Tiara, sepupu kamu sendiri Levy, ya ampun"
"Hah? "
"Kamu tau nggak tante kamu nangis-nangis ke rumah minta cabutkan laporan kamu"
"Besok Levy urus, ma. Lagian salah tuh anak sendiri kan, kalo mau balapan kenapa gak di sirkuit aja"
"Udah gak usah ngomel, Lev"
__ADS_1
Levy masih menggerutu tak jelas di pangkuan Chacha, hingga istrinya memanggil barulah dia diam.
"Mas"
"Hmmm"
"Ish"
"Apa sayang, mau apa? " Levy bangkit dari tidurannya dan menangkup wajah istrinya.
"Mau mie ayam" Levy mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Mau apa? "
"Mie ayam"
Levy melirik sekilas pada jam yang terpasang di tengah ruangan. Jam setengah sepuluh.
"Tunggu sini ya, Mas yang cari. Semoga masih ada"
"Ndak mau"
"Ndak mau apa? Ndak mau mie ayamnya? "
"Mau"
"Terus? "
"Ikut"
"Udah malem, angin malam gak baik buat ibu hamil"
Mata Chacha langsung berkaca-kaca. Levy melotot kaget melihat istrinya akan menangis. Yang lain memperhatikan drama suami dan istri itu hanya bisa menahan tawanya.
"Loh loh kenapa mau nangis sih sayang? "
"Kamu mau genit kan di luar sana, makanya gak mau aku ikut"
"Eh, bukan gitu sayang. Aduh" Levy kebingungan cara menjelaskan pada istrinya.
"Apa pasti iya, biasanya banyak anak perempuan jam segini baru pulang kerja dari pabrik. Kamu sengaja kan mau keluar sendiri? "
"Nggak sayang nggak, beneran cuma cari mie ayam buat kamu, serius nih"
"Kan aku cuma mau ikut doang" Chacha sudah terisak.
"Tapi angin malam gak bagus, cinta"
"Tuh kamu mah gitu"
"Ya udah ayo ayo, Mas ambil kunci mobil dulu sekalian ambil dompet sama jaket buat kamu"
Setelah mengatakan itu Levy melihat senyum manis terbit di hibur istrinya. Mau tak mau dia juga ikut tersenyum melihat binar bahagia di mata istrinya. Levy bangkit dan menuju kamarnya untuk mengambil dompet dan jaket.
"Ada yang mau titip, mumpung bos besar traktir? " tanya Chacha usil malah menanyakan yang lain.
"Boleh kah? Ntar ngamuk suami mu? "
"Aman Bu De"
"Bu De mau mie ayam juga lah nduk"
"Sip, yang lain piye? "
"Manut ae lah kita" jawab Mutia.
"Mama gak titip apa? "
"Belikan terang bulan pisang coklat sama martabak spesial diujung gang sana ya"
"Siap mama ku"
"Ayo" Levy langsung keluar setelah membawa apa yang dia mau, berjalan mendahului Chacha yang entah sedang mendiskusikan apa dengan yang lain.
...****************...
Do'akan semoga bisa crazy up tepat malam tahun baru ya guys.
yuk mampir di karya author yang lain, jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
author coba-coba buat Chat story, siapa tau suka. Yuk diintip dulu, judulnya Bad In Fairy ya.