Call Me Queen

Call Me Queen
Tragedi Durian


__ADS_3

Brakk...


"Aw"


"Dek, gak papa kan? " Ardan panik saat Audy memekik.


"Gak papa kejedot doang" sahut Audy sambil memegang keningnya yang memerah.


"Kamu tunggu disini sebentar"


Tanpa menunggu jawaban Audy, Ardan langsung turun. Ardan langsung mengecek siapa yang menabrak mobilnya, hanya sekedar ingin tahu ini sengaja atau tidak sengaja. Ardan tersenyum mengejek saat melihat mobil yang telah menabraknya akan melarikan diri. Tak semudah itu, pikirnya. Ardan langsung mengambil pistol yang tersembunyi dibalik jaketnya. Mengarahkan tepat pada ban mobil.


Dorr... Dorr...


Dua tembakan tepat mengenai sasaran. Tampak mobil yang hendak melarikam diri itu tampak oleng sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan. Akibat bunyi dari tembakan yang Ardan lepaskan, dan sebuah mobil yang menabrak pembatas jalan. Membuat beberapa orang menghampiri nya dan menanyakan ada apa. Secepat kilat Ardan menyembunyikan pistolnya. Mengatakan jika dirinya ditabrak dan mobil itu hendak lari.


Ardan berbalik dan memeriksa mobilnya sendiri. Saat melihat badan mobil bagian belakangnya penyok Ardan hanya mencebik. Lalu dirinya kembali masuk ke dalam mobilnya lagi, dirinya tak peduli dengan mobil yang sudah ia tembaki tadi.


"Gimana? "


"Gak papa, sekarang kita pulang"


"Boleh mampir ke supermarket dulu. Ada yang mau dibeli" Ardan hanya mengangguk sambil mengemudikan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di supermarket. Audy segera turun dan mencari keperluan dirinya. Ardan juga ikut turun, sekedar mengawal Audy. Bisa juga membantu membawakan barang belanjaan Audy, itu pikirnya.


Sesampainya di dalam Ardan mencari keberadaan Audy. Tampak Audy sedang memilih buah-buahan. Tanpa bersuara dirinya langsung menghampiri Audy dan berdiri di belakangnya. Layaknya seorang bodyguard pada umumnya.


Audy terus berkeliling mencari semua kebutuhannya. Dari kebutuhan dapur hingga kamar mandi, semuanya Audy beli. Ardan tanpa diminta langsung merebut keranjang belanjaan Audy dan membawanya. Audy hanya tersenyum manis saat Ardan membawakan belanjaannya.


Audy merasa hatinya sedikit ngilu, harusnya Kevin lah yang ada di posisi Ardan saat ini. Audy hanya bisa mengelus perut buncit nya dengan pelan.


Sabar ya nak, Bunda janji kamu gak bakal kekurangan kasih sayang meskipun hanya dari Bunda. Batinnya bermonolog.


"Lanjut atau gimana ini? " tanya Ardan saat melihat Audy hanya diam mematung sambil mengelus perutnya.


"Eh, udah kok, Kak" Audy yang tersadar dari lamunannya, dan tanpa sadar memanggil Ardan dengan sebutan kakak. Sama seperti dulu saat masih menjadi sepasang kekasih. Audy memanggil kakak pada Ardan.


"Ya udah ayuk ke kasir" Ardan mendahului Audy, dengan senyum yang mengembang dia berjalan membawa keranjang yang berisi barang belanjaan Audy. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Ardan, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Setelah membayar seluruh belanjaannya, Audy bergegas pulang bersama Ardan. Dirinya tak mungkin terlalu lama berada di luar, jika tidak adiknya akan mengomel layaknya rumus volume balok. Panjang kali lebar kali tinggi. Audy juga heran, semenjak hamil Chacha jadi lebih cerewet dibanding biasanya.


"Jalan pelan-pelan gak usah buru-buru. Inget kamu gak sendirian lagi, kakak taruh belanjaan kamu di bagasi dulu. Kalau capek duduk aja dulu di kursi tunggu kakak selesai nyusun ini baru kita pulang" Audy hanya mengangguk saja melihat Ardan yang berlalu dari hadapannya.


Audy terus menatap Ardan yang sedang menyusun barang belanjaannya di bagasi mobil. Memang belanjaannya cukup banyak, karena Audy membeli semua kebutuhan rumahnya. Tak mungkin jika dirinya terus merepotkan adiknya, Audy cukup tahu diri kali ini.


Hingga tanpa Audy sadari ada dua pasang mata yang sejak tadi mengawasi dirinya dan Ardan.


"Jadi gini kelakuan kamu di belakang suami kamu? " tampak suara wanita yang cukup familiar di telinga Audy. Karena penasaran Audy menoleh ke samping kanannya. Benar saja, di samping kanannya berdiri sepasang kekasih layaknya suami istri. Sialnya lagi itu suaminya. Kevin Pandey.


"Gak salah dong kalau aku ragu itu anak aku atau bukan. Secara kelakuan kamu aja gini" ucap Kevin.


"Belum cerai loh, udah jalan sama yang lain aja"


"Sekali ja*ang ya tetap ja*ang"


Ardan yang sudah selesai sejak tadi hanya diam menonton. Ardan dapat melihat Audy memendam kesal, amarah bahkan tangis jadi satu. Dia hanya bisa menghela napas pelan.


Diluar kamu terlihat licik, dalemnya asli polos banget. Batin Ardan mengomentari.


"Nona Tiara Rahardian bukan? " sapa Ardan langsung.


Tiara langsung menoleh, menatap Ardan lekat. Seperti kenal namun dirinya masih belum mengingatnya. Kevin hanya terdiam saat melihat Ardan mendekat.


"Saya, Ardan Al Farizi. Senang bertemu dengan anda, anda sudah berhasil masuk dan merusak rumah tangga seseorang bukan? Bahkan suaminya juga sedang anda peluk di depan istri sah nya bukan? Bersikaplah layak nya seorang wanita terhormat pada umumnya nona, dan anda tuan ajari selingkuhan anda ini cara berbicara. Jangan ganggu nona muda saya lagi kedepannya. Ingat nona Tiara, saya bisa menggulingkan bisnis keluarga anda kapan saja saya mau. Kami permisi " Ardan langsung menarik tangan Audu agar mengikuti dirinya menuju mobil.


Tanpa mengatakan apapun Ardan langsung menginjak gas dan meninggalkan parkiran supermarket itu.


"Kamu kenal pria itu? "


"Rekan kerja papa, beib" Kevin hanya mengangguk saja.

__ADS_1


*


Ngidam adalah hal biasa yang terjadi pada ibu hamil pada umumnya, terutama di usia kehamilan yang masih muda. Berbagai jenis ngidam, ada yang biasa ada juga yang aneh. Nah, Chacha termasuk jenis ngidam yang aneh, karena saat ini dirinya sangat ini memakan buah durian padahal sudah tengah malam. Pasalnya Chacha tadi sedang bermimpi memakan buah durian, hingga terbangun dan menginginkannya.


Melihat Levy yang tertidur pulas, Chacha tak segan-segan untuk membangunkan suaminya itu. Dia menggoyang punggung Levy berkali-kali.


"Mas... " panggil Chacha.


Levy yang sedang tidur memunggungi Chacha pun segera berbalik dan memicingkan mata. Melihat istrinya sedang duduk, ia langsung menyalakan lampu dan ikutan duduk.


"Kenapa, sayang? " tanyanya kaget bercampur cemas.


"Pengen durian" rengek Chacha dengan kedua bibir mengerucut ke depan.


"Hah, durian? " ulang Levy.


Chacha mengangguk.


Levy reflek menoleh ke arah jam dinding dan melihat jarum pendek berada di angka satu.


"Nyari dimana, Yang? " tanyanya menoleh pada Chacha kembali.


"Dimana kek. Supermarket 24 jam atau pasar"


"Ini durian sayang, bukan jeruk. Belum tentu ada. Lagi gak musim banget" ujar Levy.


"Usaha dulu. Aku benar-benar pengen makan itu. Emang kamu mau anak-anak sedih? "


Levy menghela napas pelan.


Mulai deh bawa-bawa anak. Batinnya.


Tapi seorang Levy mana bisa menolak, semustahil apapun itu. Ini bukan yang pertama Chacha minta yang aneh-aneh ditengah malah, permah ice cream yang harus di langganan kerusakannya yang jelas-jelas sudah tutup jam 10 malam. Alhasil Levy pulang dengan tangan kosong dan Chacha ngambek.


"Ya udah aku cariin" Levy pun turun dari ranjang.


Chacha bersandar di kepala ranjang sambil mengusap perutnya. Dia mengamati Levy yang sedang memasang jaket. "Harus yang kuning ya" katanya memerintah.


Setelah selesai mempersiapkan diri, Levy mendekati Chacha yang sedang menatapnya. Dia menaikkan satu lututnya ke atas ranjang, menciun kening Chacha dengan lembut.


"Nggak usah nunggu, tidur aja. Nanti kalau Mas udah pulang, Mas bangunin"


Chacha tersenyum dan mengangguk.


Setelah Levy pergi, Chacha kembali membaringkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut. Dia memang masih mengantuk, matanya sudah mau tertutup dengan sendirinya.


...****************...


"Sayang" Levy dengan lembut membangunkan istrinya yang tidur sangat pulas. Dia menciumi pipi Chacha dengan lembut.


"Hmmm" Chacha membuka setengah kelopak matanya menatap Levy. Dia masih mengantuk, hingga rasanya malas untuk bangun.


"Aku dapetin duriannya, ini" kata Levy sambil menunjukkan plastik berisi durian kupas dalam cup.


Hidung Chacha seketika mencium aroma menyengat durian. Wajahnya berubah aneh. Tak lama kemudian, Chacha membekap mulutnya menahan muntah.


Chacha berlari ke kamar mandi, dengan cepat dia memuntahkan isi perutnya yang sudah bergejolak. Bau durian itu seketika membuatnya mual.


Levy dengan setia menepuk-nepuk punggung Chacha. "Kok malah muntah sih? " tanyanya prihatin.


Chacha mendelik ke arah Levy melalui bayangan cermin. "Kok malah nanya? Ngapain kamu bawa durian ke kamar kita? Baunya nggak enak, Mas! " sentak Chacha.


"Loh loh loh, kan kamu yang minta aku beli itu" protes Levy, tidak terima disalahkan.


"Kapan aku minta? Aku kan gak suka durian, Mas"


Levy sampai melongo menatap Chacha.


"Kamu sengaja mau bikin aku mual? " tanya Chacha dengan serius.


"Astaga, nggak mungkin lah. Kamu bangunin aku bilang pengen durian, jadi aku cari"

__ADS_1


"Nggak mungkin" kata Chacha sambil melenggang meninggalkan Levy. "Aku tidur di kamar tamu aja" ucapnya lagi tanpa memperdulikan kebingungan suaminya.


Levy benar-benar tak bisa bergerak. Stres melanda seketika, makin hari Chacha makin aneh-aneh saja. Sekarang penyakit Chacha bertambah, selain cemburuan yang mampu dirinya atasi ditambah lagi pelupa.


Oh My God! Levy menepuk jidatnya dan terduduk lesu di tepi ranjang. Dia menatap plastik berisi durian yang sudah susah patah iya dapatkan.


...****************...


Keesokan harinya, Chacha masuk ke kamarnya kembali. Dilihatnya Levy sedang tertidur memeluk guling. Namun bukan itu yang menjadi fokus Chacha, melainkan plastik durian yang semalam membuat dirinya sensitif dan marah-marah.


Chacha mendekati Levy. Duduk di tepi ranjang dan membelai rambut suaminya.


"Maaf ya" ucapnya pelan.


Entahlah Chacha merasa dirinya seperti bunglon. Terkadang dia sulit mengontrol emosinya, meski ia tahu dirinya salah. Tapi setelah itu dia akan menyesalinya, seperti sekarang.


Chacha pun mengambil plastik berisi durian dan membawanya ke sofa. Melihat durian itu membuatnya membayangkan perjuangan Levy saat mencarinya. Pasti sangat sulit, apalagi tengah malam.


Chacha mengeluarkan cup durian dan membuka tutupnya. Kali ini rasanya berbeda, sangat harum. Dia juga tidak mual.


Saat Chacha sedang menikmati butiran buah durian itu, Levy bangun. Pria itu menatap istrinya dengan senyum tersungging di wajah.


"Makannya gak usah banyak-banyak" ucap Levy mengingatkan.


Chacha menoleh ke arah Levy, dia tercengir. Dia tau batasan kok, durian tidak baik untuk wanita yang sedang hamil bila dimakan secara berlebihan.


Levy mendekati Chacha, lalu mencoum pucuk kepala istrinya dan duduk di sampingnya.


"Good morning" sapa Levy berbisik.


Chacha meletakkan biji durian di plastik dan menatap Levy. "Maafin aku ya" ucapnya. "Terkadang aku gak tau kenapa aku susah banget nahan diri, selalu aja gampang emosi. Aku... "


Levy menggeleng. "Aku ngerti, itu hormon" setelah mengucap kan itu, dia terkekeh geli.


"Kenapa? " tanya Chacha dengan kening berkerut.


Levy masih saja terkekeh geli. "Sebentar" ucapnya sambil berdiri. Dia berjalan ke meja rias Chacha dan mengambil cermin kecil yang biasa Chacha gunakan untuk berdandan.


Levy kembali duduk di samping Chacha dan mengarahkan cermin itu ke wajah istrinya.


Mata Chacha terbelalak lebar, terkejut melihat sisa-sisa durian yang menempel di bibirnya. Dia benar-benar seperti anak kecil, sungguh kehamilan ini banyak merubahnya.


Saat tangan Chacha bergerak cepat hendak mengambil tisu, Levy langsung menahannya. "Biar aku yang bersihin" katanya kemudian.


Levy mendekati wajah Chacha, membuat Chacha memejamkan mata. Bibir Levy mengecup setiap bagian yang kotor, mengambil sisa durian itu dengan kecupan-kecupannya.


Perlakuan lembut Levy memancing hormon Chacha di pagi hari, dia tersenyum dan membuka mata. Levy terkesan menempel-nempelkan bibir mereka seperti sapuan, tapi efek dari itu semua adalah detakan jantung yang tidak terkendali.


"Bersih" kata Levy setelah menjauhkan wajahnya sedikit. Dia tersenyum, menatap Chacha begitu dalam.


Chacha menggelengkan kepala, lalu dia menyibak rambutnya ke sebelah kanan. "Masih ada disini" tunjuk nya pada bawah daun telinga.


Levy mengerutkan kening, menatap leher jenjang Chacha yang bersih. Namun kemudian dia mengerti akan maksud istrinya itu, sesuatu yang tak akan mungkin bisa ditolak.


"Disini? " tanya Levy tepat di telinga Chacha.


Hembusan nafas Levy membuat tubuh Chacha bergidik geli. Terutama saat bibir Levy mulai membelai di area yang sangat diinginkan, bergerak penuh kelembutan.


Adegan itu terus berlanjut hingga ke atas ranjang, dimana mereka melakukan suatu hubungan yang menjadi ibadah untuk dua orang yang sudah terikat dengan kata halal untuk saling menikmati.


...****************...


Part ini cukup panjang ya menurut author. Maaf bukannya gak mau double up seperti waktu itu, tapi author terkendala dengan bocil yang baru belajar jalan, ditambah sekarang sakit. jadi author masih atur waktu buat ngetiknya. Ini aja harus begadang author biar gak buat kalian semua nunggu. mohon di maklumi.


Maaf juga untuk komentar belum author balasan karena memang terkendala untuk membalas satu per satu.


Sebelumnya makasih buat kak Gustia Ningsih. matur sembah nuwun kak koinnya.


Jangan lupa like dan tinggalkan komentar kalian.


Happy Reading All💕

__ADS_1


__ADS_2