Call Me Queen

Call Me Queen
Se-crazy apa?


__ADS_3

Pagi itu terasa sangat santai dan tenang. Setelah malam yang panjang dan melelahkan, dua tubuh yang lelah meringkuk rapat di balik selimut. Chacha membuka matanya perlahan dan rasa pegal memenuhi tubuhnya. Tapi hatinya begitu damai ketika mendapati dirinya berada dalam dekapan Levy.


Chacha mengecup dada Levy, lalu naik ke tulang selangka dan lehernya. Sentuhan bibir Chacha itu membuat Levy terbangun. Ia tersenyum menatap Chacha yang sedang mengadah menatapnya balik.


"Pagi nyonya bidadari" Ucap Levy pada Chacha dengan sangat lembut dan manis. Jauh berbeda dari suaranya beberapa jam yang lalu ketika ia meneriakkan nama istrinya berkali-kali.


"Pagi monster baik hati" Balas Chacha yang mengundang tawa Levy. Levy tahu bahwa ucapan Chacha itu mengacu pada kebuasan Levy semalam. Tapi Chacha tidak menyalahkan Levy dan sikapnya yang menggeragas. Chacha tahu bahwa itu adalah buah dari pergolakan batin Levy dalam menghadapi Chacha selama ini.


Chacha ikut dalam tawa Levy sebelum akhirnya mereka bercumbu dan kembali berpelukan. Nampaknya baik Chacha maupun Levy tidak memiliki rencana untuk buru-buru untuk melepaskan pasangannya dan memulai aktivitas.


"Makasih untuk semalam ya, Sayang" Kata Levy seraya mengecup ubun-ubun Chacha. Perempuan itu pun menggigit bibirnya ketika mengingat kembali momen mereka sepanjang malam. Ucapan terima kasih itu dirasa berlebihan mengingat Chacha pun ikut bersenang-senang di dalamnya.


"The pleasure is mine" Ucap Chacha mengingat suara Levy semalam yang mampu memancing seluruh gairahnya keluar. Jauh dari jinak-jinak merpati seperti saat ini.


Tak ada yang lebih Chacha nikmati dari Levy yang begitu tergila-gila padanya, memujanya dengan memanggil namanya berkali-kali sambil bergerak mencari kenikmatan. Tapi favorit Chacha adalah setelah mereka berdua mencapai puncak secara bersamaan untuk yang kesekian kalinya. Chacha masih ingat hangatnya nafas Levy yang tersengal ketika membisikinya...


"Aku cinta kamu, istriku... "


Malam pertama Chacha berakhir indah. Chacha baru menyadari betapa haus tubuhnya akan sentuhan Levy setelah aksi mereka benar-benar berakhir. Seumur hidup Chacha, belum pernah ia merasakan kenikmatan yang mampu memuaskan jiwa dan raganya seperti setelah melakukannya dengan Levy.


Sakit yang sempat ia takuti pun ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan perasaan yang ditimbulkan selama Chacha dan Levy melakukan hubungan yang menggairahkan itu. Semua karena kepekaan Levy yang mengerti kapan Chacha harus diperlakukan dengan lembut, kapan mereka dapat bergerak kasar, lincah dan buas.


Ya, setelah Chacha dapat menikmati apa yang mereka lakukan, 'pelan-pelan' tidak lagi cukup. Apalagi gerakan luwes Levy mampu menyerang titik-titik sensitifnya, membuatnya ingin terus memanjat agresif sampai mencapai titik kepuasan.


"Last night was amazing... " Levy merangkum seluruh reka ulang yang ada di kepala Chacha dengan sangat baik.


"It was... We're not bad first-timer, aren't we? "Balas Chacha menyepakati. Ia memeluk mesra suaminya dan mengusap rahang tegas pria itu.


"I don't care. I love last night so much. Told you it will be great" Kata Levy pada Chacha.

__ADS_1


"Iya. Ternyata rasa cinta yang mau kamu tunjukkin ke aku tuh GEDE BANGET ya" Ujar Chacha melempar candaan nakalnya. Levy terkekeh sambil merangkul erat Chacha.


"Kami nih bunglon ya? Untuk urusan satu ini aja sikap kamu bisa berubah-ubah dari ketakutan, malu-malu kucing, sampai akhirnya jadi kucing liar begini. Memang kamu itu perempuan paling gak bisa ditebak" Kata Levy yang tergelitik ingatannya ketika Chacha memarahinya karena mereka nyaris berbuat sebelum Chacha siap.


"Tapi serius, Mas" Chacha menggulingkan Levy sehingga kini tubuhnya berada di atas tubuh Levy. "Cinta yang kamu kasih ke aku... I never thought that I deserve a love this huge from a person"


Ucapan Chacha terdengar sangat komplek di telinga Levy. Tatapan perempuan itu menyiratkan perasaan putus asa Chacha alam adanya laki-laki yang mampu mencintainya seutuhnya. Mungkin sampai sebelum semalam pun ia belum percaya sepenuhnya pada Levy. Levy menyesali karena pernah menduakan nya dengan bertunangan dengan Angel.


Levy menyisir rambut Chacha yang jatuh ke dadanya dengan jemarinya.


"Kalo kamu berpikiran kayak gitu, berarti selama ini kamu udah berpikiran konyol" Kata Levy. Chacha mengernyit.


"Konyol" Tanya Chacha. Levy mengangguk.


"You know? What I feel about you, I feel it effortlessly. Mencintaimu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan" Kata Levy lembut. Chacha tak dapat menahan dirinya untuk mengecup hangat bibir Levy sekali lagi.


"Aku juga bahagia bahwa perempuan secantik dan se hot ini yang jadi pengalaman pertama ku. Adek bohay" Balas Levy sambil melirik ke bagian bawah tubuh Chacha dengan senyum yang mengembang.


"Ih, apaan sih! "


"I am serious, Cha. I love everything about you"


Chacha tidak habis pikir. Laki-laki yang satu ini bilang dirinya bahwa dirinya tidak mudah ditebak. Tapi Levy sendiri juga tak kalah bunglonnya. Bisa berubah dari jahil ke manis dan menggemaskan. Chacha pun tak ingin kalah dalam menggoda suaminya.


"I'm crazy about all of you" Kata Chacha sambil mengecup singkat dada bidang Levy.


"Se-crazy apa? " Tantang Levy.


"Se-crazy... Lagi? " Balas Chacha, mereka ulang satu kata yang Levy ucapkan berkali-kali semalam.

__ADS_1


Levy membuka matanya lebar-lebar. Senyumnya mengembang, apalagi saat Chacha kembali menciumi dan bergerak turun.


"Yang... Aku suka kegilaan kamu! " Seru Levy dengan kepala mengadah, membiarkan Chacha sibuk di bawahnya. Mereka berada di posisi masing-masing untuk beberapa saat sampai akhirnya Levy merasakan hasrat yang kuat untuk kembali menikmati seluruh tubuh istrinya.


"Ukh! " Levy tidak mampu menahan diri lagi seteleh begitu digoda oleh istri nakalnya. Ia mengangkat tubuh Chacha dan menahan kedua tangan perempuan itu di samping kepala. Levy kembali menindih Chacha. Sementara itu, Chacha tersenyum puas melihat Levy yang siap menggila karena ulahnya.


"Tanggung jawab" Seru Levy sambil melahap bibir Chacha dan mulai beraksi kembali. Ia masuk dalam satu kali gerakan dengan begitu dalam, membuat Chacha melenguh nikmat. Chacha kembali meliuk di atas kasur, mencari lagi kenikmatan yang udah dituntut tubuhnya. Tapi Levy malah tidak bergerak.


"Mas... " Ucap Chacha tak sabar.


"Say that you love me... " Kata Levy sambil menatap sayu Chacha sebelum memberikan rentetan kecupan di wajah cantik istrinya itu.


"Kan udah semalem.. "Kata Chacha menahan geram. Ia ingin dimainkan habis-habisan oleh Levy, bukan hanya dengan kecupan-kecupan tanggung seperti ini.


" Aku suka... Bilang lagi dong" Kata Levy sambil bergerak turun dan mengarahkan kecupan-kecupannya ke bagian-bagian sensitif Chacha.


Nafas Chacha menderu. Ia tahu Levy sedang mempermainkannya. Dengan tubuh mereka yang telah bersatu, Chacha menjadi sulit berpikir. Ia hanya ingin Levy kembali ke versi buasnya, menikmatinya sampai puas.


"I love you so much, Mas Levy" Seru Chacha tak tahan. Ia benamkan kepala Levy ke tubuhnya. Levy tersenyum penuh kemenangan.


"Say that you want me" Levy belum puas menggoda Chacha. Ia ingin melihat Chacha bertekuk lutut di hadapannya.


Chacha mengerang frustasi, "I want you, Mas. Please do it! "


Permohonan Chacha pun menggerakkan aliran darah Levy dengan cepat. Gairahnya naik lagi melihat Chacha begitu menginginkannya. Seluruh hormon Levy memacu dirinya untuk menyerang Chacha tanpa ragu.


Pagi itu tidak ada persiapan untuk pekerjaan ataupun menyiapkan sarapan. Baik Chacha maupun Levy sibuk di atas ranjang. Chacha melayani Levy cukup lama sampai laki-laki itu kembali menyerukan namanya.


Siapa sangka bahwa melayani suami bisa terasa senikmat ini.

__ADS_1


__ADS_2